Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Rencana Bulan Madu


__ADS_3

"Ain, sepertinya anak sulung kamu itu sering pergi dengan madumu, ya? Aku perhatikan setiap dua kali dalam seminggu mereka pasti keluar. Apa kamu tidak takut anakmu itu terus nempel sama dia," ucap Yuni semakin memperkeruh suasana hati Ain.


Ia yang belum menemukan ketenangan semakin menjadi gelisah manakala mengingat kelakuan Ruby yang sering pergi bersama Nadia. Ketakutan pun muncul dengan sendirinya. Ikram saja tak dapat ia kendalikan lagi, ditambah Ruby yang mulai membangkang. Semua itu karena Nadia, madu tidak tahu malu dan tidak tahu diri itu. Lalu, apa kabar dengan Yuni? Haruh ....


"Apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri bingung, kenapa semuanya jadi kacau begini?" keluh Ain dengan raut gelisah yang kentara di wajahnya. Ia memainkan jemarinya yang lembab, sesekali akan menggigit bibir bawahnya yang sekarang selalu dipoles lipstik merah merona. Oh ... membuat mata Ikram silau karenanya.


"Yah ... kamu harus merebut kembali hati mereka, Ain. Buat mereka tidak menyukai wanita itu. Bagaimana pun caranya?" sahut Yuni semakin mengobarkan api dalam diri Ain.


"Kamu benar. Aku harus bisa membuat mereka jauh darinya. Harus!" Tekad Ain kembali membulat. Entah apa yang ada di pikirannya. Ia mudah sekali terhasut karena sifat iri dalam hatinya. Sayang sekali memang selama sepuluh tahun lebih ia menjelma sebagai wanita sempurna, dan semua itu harus hancur hanya karena kehadiran seorang Nadia. Wanita lemah dan tak berdaya di matanya.


Obrolan demi obrolan mereka terus berlanjut hingga sore datang dan saatnya Ikram pulang ke rumah. Ia memutuskan kembali ke rumah Ain karena ada sesuatu yang harus diambilnya.


Ketukan langkah kaki menghentikan desas-desus antara Ain dan Yuni.


"Eh ... Ikram datang," ucap Yuni saat ia melihat bayangan suami mereka memasuki rumah. Akting dimulai.


Yuni duduk dengan raut sedih dan murungnya. Ia seolah menjadi istri teraniaya oleh suaminya. Ain masih pada sikapnya semula, sedih karena Ikram tak lagi melirik kepadanya.


"Assalamu'alaikum!" sapa Ikram seraya memasuki rumah tanpa minat. Tak ada jawaban. Ia terus berjalan tanpa mengindahkan kedua wanita yang sedang duduk berhadapan di sofa.


Bukanya ia tak tahu, ia tahu keduanya sedang memperhatikan dirinya yang melintas dan masuk ke kamar. Hanya sebentar saja, Ikram lantas kembali keluar dengan membawa sebuah buku di tangan.


Merasa tak diacuhkan, Ain semakin menjadi. Ia sigap berdiri memapak langkah suaminya.


"Tunggu, Bi! Umi mau bicara, bisakah Abi duduk dulu?" pinta Ain dengan sikap yang lembut.


Ia memegangi tangan Ikram menyerah pada sikap kerasnya sendiri. Ikram melirik Yuni, wanita itu menunduk seperti seekor kucing yang jinak.


Ikram menurut mengikuti Ain duduk di sofa bersama Yuni.

__ADS_1


"Maafkan atas sikap Umi beberapa hari ini, Bi. Umi sadar tidak seharusnya Umi begitu, apa Abi benar-benar marah pada Umi?"


Yuni beranjak meninggalkan Ikram dan Ain.


"Aku permisi," katanya seraya meninggalkan tempat itu menuju dapur. Entah apa yang akan dilakukannya.


Ikram memandangi Ain yang berkaca. Ia sadar Ain sebenarnya hanyalah wanita lemah. Ia tak mampu menata hatinya yang sakit karena kehadiran Nadia hingga melakukan hal-hal yang diluar kendalinya.


Ikram mengusap kepala Ain, ia memeluk tubuh istrinya itu. Ikram tidaklah marah, ia hanya ingin Ain tahu bahwa tindakannya itu tidak hanya menyakitinya, tapi juga Ikram.


Ain melingkarkan tangan di perut Ikram. Benar, ia sangat merindukan sentuhan itu. Sudah lama rasanya ia tidak merasakannya.


"Abi tidaklah marah. Abi hanya butuh ketenangan saja, kenapa di rumah Nadia? Karena di sana tak ada siapa pun lagi selain dia. Umi mengerti, bukan?" sahut Ikram sembari mengusap pipi Ain dengan lembut.


Ain mengerti ke mana arah tujuan Ikram. Ia meneguk ludah, apa semua ini adalah salahnya? Memaksa Ikram menikahi Yuni demi balas dendamnya pada Nadia.


"Sekarang semuanya sudah terlanjur. Abi harus bagaimana? Bingung dengan situasi saat ini. Toko benar-benar tidak ada pemasukan, sudah dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari saja Abi sudah sangat bersyukur. Sekarang ditambah satu orang lagi yang harus Abi tanggung hidupnya. Apa Umi tidak pernah memikirkan itu? Abi rasa uang bulanannya harus dibagi tiga kali ini. Apa Umi tidak masalah?" Ikram mengeluh.


Ia menatap nanar iris coklat istrinya dengan mengiba. Ain semakin dihantui rasa bersalah, tapi ketika bayangan Nadia melintas pikiran buruknya kembali datang menepis semua rasa bersalahnya.


"Umi tahu dan Umi mengerti, tapi semuanya sudah terjadi. Dan itu karena keegoisan Umi. Umi minta maaf untuk itu," ungkap Ain benar-benar menyesali semuanya.


"Tapi, Bi, Yuni itu sekarang istri Abi juga. Dia punya hak yang sama seperti Umi dan Nadia-"


"Abi tidak ingin melakukan apa pun dengannya. Cukup Umi saja di rumah ini yang akan melayani Abi. Tidak orang lain!" tegas Ikram lagi.


Yuni yang memegang gelas, mencengkeram gelas di tangannya dengan erat. Rahangnya ikut mengeras sekeras hatinya yang merasa tak dianggap oleh Ikram.


Tunggu saja, kalian!

__ADS_1


Ain terharu dengan ucapan Ikram. Ia benar-benar menyesal sekarang. Ain memeluk tubuh Ikram dengan erat. Teringat akan rencana lanjutannya, ia kembali melepas pelukan dan menatap Ikram.


"Tapi kalau Abi tidak memberinya nafkah itu akan berdosa untuk Abi," ucap Ain lagi.


"Abi akan memberinya nafkah lahir, tapi tidak nafkah batin. Umi harus mengerti itu," tegas Ikram lagi.


"Baiklah, terserah Abi, tapi rasanya Umi rindu suatu tempat. Sudah lama sekali kita tidak mengunjunginya, Abi," lirih Ain sembari menundukkan kepala dalam-dalam.


"Tempat apa itu, Mi? Kalau kita bisa pergi, kita pergi saja bersama anak-anak," sambut Ikram antusias. Ain menegakkan kepala masih dengan raut sedih di wajah.


"Umi rindu Ka'bah, Bi. Bagaimana kalau kita pergi umrah bersama Yuni, sekalian Abi dan dia berbulan madu. Tentunya Abi ingin menambah anak, bukan? Nadia tak kunjung hamil padahal sudah lima tahun menikah dengan Abi."


Ain cemberut, Ikram mendesah. Baru saja dia mengatakan mengerti, malah kumat lagi.


"Tapi biayanya dari mana, Mi? Abi belum punya uang untuk kita pergi ke sana," ucap Ikram mencoba membuka kesadaran Ain.


Istrinya itu justru tertawa mendengar Ikram, dan Ikram mengernyit tidak mengerti.


"Abi tenang saja kalau masalah biaya. Pokoknya, semuanya beres. Umi yang akan mengurus semuanya, kita akan pergi bertiga. Umi, Abi, dan Yuni," sahut Ain ringan terdengar.


"Anak-anak? Nadia?" Ikram mengingatkan.


Ain mendesah sebelum menjawab, "Kalau semua pergi siapa yang akan di sini. Bagaimana kalau ada tamu datang dan tak salah satu dari kita? Repot, Bi. Untuk anak-anak ada Nadia yang akan menjaganya."


Ikram pasrah, kalah lagi dengan keinginan Ain. Yuni datang membawakan secangkir kopi untuk Ikram.


"Diminum, Mas!" katanya dengan sopan.


"Terima kasih." Ikram meminumnya sedikit hanya untuk menghargai usahanya saja, tidak lebih. Ada yang aneh dengan rasa kopi itu. Ia pamit karena sore ini ada pengajian yang harus ia isi diikuti Ain yang tak pernah absen di pengajian. Ikram mulai merasa aneh.

__ADS_1


__ADS_2