Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ruby Mencari Nadia


__ADS_3

"Ruby? Kamu mau ke mana?" tanya Ain saat melihat Ruby dengan penampilan rapi dan tas selempang yang menyampir di pundaknya.


"Ruby sudah izin, kok, Mi sama ustadz. Ruby mau keluar dulu," sahut Ruby sembari mengenakan sepatunya. Ia berdiri dan menyalami Ain juga Ikram yang terus berdiam diri sejak kepulangannya. Namun, tidak pada Yuni.


Ain tidak bertanya lagi, ia hanya menatap punggung putri sulungnya yang semakin dewasa. Dia sudah besar sekarang. Ruby melengos pergi keluar rumah tak ingin ada yang bertanya lagi tentang tujuannya pergi.


"Kakak!" panggil Nafisah dan Bilal bersamaan dari dalam gerbang yayasan. Ruby menghentikan langkah berbalik menemui mereka.


"Apa Kakak mau mencari Bunda?" tanya Nafisah. Raut keduanya masih menampakkan kesedihan meskipun kedua orang tua mereka telah kembali.


"Iya, Kakak mau ke pabrik Bunda. Doakan, ya, semoga Bunda ada di sana dan baik-baik saja," jawab Ruby lagi sambil tersenyum. Kedua adiknya mengangguk tersenyum melepas kakaknya yang akan mencari Nadia.


Ikram memandang sedih ketiga anaknya, ia merasa jauh dengan mereka. Dalam hati meratap alangkah buruknya dia sebagai suami dan Ayah.


Ruby menaiki ojek pergi dengan cepat menuju pabrik konveksi Nadia. Jalanan sedikit ramai mengingat hari ini adalah hari Minggu jalanan di depan mall rabinza memang selalu ramai.


Ia membayar ongkos, uang pemberian dari Ibu. Ruby berlari mendekati pabrik. Secara kebetulan Rima keluar dengan membawa kertas di tangan.


"Tante Rima!" panggil Ruby seraya berlari mendekati.


"Ruby? Ada apa? Kamu datang sendirian?" tanya Rima terkejut melihat Ruby yang datang sendiri ke pabrik.


"Iya, Tante. Aku mau mencari Bunda. Apa Bunda ada di sini?" Langsung bertanya pada intinya.


"Mbak Nadia?" Ruby mengangguk cepat.


Rima berpikir, kerutan di dahinya membentuk beberapa lapis. Seingatnya sejak dari pulang liburan itu Nadia belum datang ke pabrik atau pun ke butik. Tunggu, jika Ruby datang mencarinya ke pabrik itu artinya Nadia tidak ada di rumahnya.


"Ayo, ikut Tante!" ajaknya menarik tangan Ruby memasuki kantor di mana Sarah berada.


"Bu, ada Ruby. Dia datang mencari Mbak Nadia," lapor Rima yang membuat Sarah mengerutkan dahi bingung saat mendengarnya.


"Ruby? Nadia?" ulangnya. Rima mengangguk.


"Nenek!" panggil Ruby dari balik punggung Rima. Sarah tersenyum, ia berdiri menghampiri anak itu dan memeluknya.


"Bagaimana kabarmu, Nak? Adik-adikmu juga?" tanya Sarah seraya melepas pelukan dan mengajak Ruby duduk di sofa.

__ADS_1


"Alhamdulillah, baik, Nek. Mereka juga baik."


"Bu, ini saya letakkan di sini!" ucap Rima seraya keluar setelah Sarah menganggukkan kepalanya.


"Nenek, aku datang mencari Bunda. Apa Bunda ada di sini? Atau mungkin di rumah Nenek?" tanya Ruby langsung sebelum Sarah bertanya lagi. Mulutnya yang sudah terbuka kembali mengatup setelah mendengar Ruby bertanya.


"Bukannya Bunda ada di rumahnya?" Sarah balik bertanya dengan menautkan kedua ujung alis. Dia sendiri tidak yakin.


Ruby menggeleng cepat sebelum menyahut, "Bunda tidak ada di rumahnya, Nek. Sudah dua hari Bunda tidak di rumah. Aku pikir Bunda ada di sini atau di rumah Nenek. Bilal dan Nafisah setiap hari merengek memanggil Bunda," jawab Ruby yang semakin membuat Sarah bingung.


"Bunda kalian belum datang ke sini sejak pulang dari berlibur. Dia juga tidak pulang ke rumah Nenek. Kalau dia tidak ada di sini dan rumah, di mana Nadia? Nenek juga bingung," ucap Sarah seketika rasa sesak menjalar di dadanya.


Ia takut. Takut anak semata wayangnya mengalami hal buruk. Gelisah mulai merambat memenuhi wajahnya. Keringat kasar bahkan sudah bermunculan di dahinya.


"Jadi Bunda di mana, Nek? Aku takut terjadi sesuatu pada Bunda," rengek Ruby sudah hampir menangis.


"Kamu sudah menelponnya?" tanya Sarah.


"Sudah, Nek, tapi Bunda tidak mengangkatnya. Kemarin ponselnya tidak aktif," jawab Ruby semakin menambah kecemasan dalam diri Sarah.


"Sebentar, Nenek yang telepon," katanya seraya berdiri mendekati meja dan mengambil ponselnya. Belum juga melakukan panggilan, sebuah panggilan masuk membuat Sarah semakin cemas.


"Kita pergi!" ajaknya pada Ruby setelah menutup sambungan telepon. Dengan Winda sebagai supirnya mereka meninggalkan pabrik.


*******


Brak!


Pintu ruangan Nadia terbuka dengan kasar. Ia yang sedang berbaring memandang jendela terkejut karenanya.


"Bunda!"


Suara Ruby membuat Nadia membelalak tak percaya. Ditambah raut wajah Sarah yang memerah padam saat kedua kakinya mengayun cepat memasuki ruangan Nadia bersama Ruby dan Winda.


"Ma-mamah? Ruby?" Suaranya tercekat di tenggorokan. Ia meneguk ludah manakala mata tajam Sarah melotot ke arahnya. Ia juga melihat Ruby yang menangis sebelum memeluknya. Winda merasa terharu dengan pemandangan di depan matanya.


"Kenapa kalian ada di sini?" tanya Nadia lemah.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu bilang kenapa? Apa kamu sudah tidak memiliki Mamah hingga sakit tidak ada menghubungi Mamah? Apa kamu tidak memiliki keluarga hingga Ruby dan kedua adiknya uring-uringan mencari kamu." Sarah naik pitam melihat Nadia yang biasa saja.


Namun, saat mengingat kondisinya Sarah menangis histeris. Nadia menggigit bibir bawahnya merasa bersalah pada mamahnya itu.


"Bu-bukan begitu, Mah. Aku-"


"Apa? Kamu mau buat alasan apa lagi? Kamu masih punya Mamah, Nadia. Kamu tidak bisa menanggungnya sendiri seperti ini. Ada Ruby yang juga bisa kamu beritahu, setidaknya itu bisa membuat mereka merasa lega. Kamu anggap apa Mamah ini?" Tangis Sarah semakin menjadi.


"Sudah, Mah. Jangan menangis! Malu kalau sampai terdengar keluar. Lagi pula aku sudah baik-baik saja, kok," ucap Nadia tak kuasa melihat air mata Sarah yang berjatuhan.


Ia beranjak duduk dibantu Ruby. Memeluk Sarah lemah tak bertenaga.


"Kamu selalu bilang kamu baik-baik saja. Padahal, kamu sakit. Mamah tahu itu. Mungkin kalau dokter tidak menelpon, Mamah akan tidak pernah tahu kondisi anak Mamah sendiri," sungut Sarah lagi semakin merasa sedih.


"Maaf, Mah. Inilah sebabnya kenapa aku tidak memberitahu Mamah. Aku tidak mau Mamah banyak pikiran. Akhir-akhir ini Mamah sering sakit, aku tidak mau menambah beban pikiran Mamah dengan mencemaskan keadaanku ini," jawab Nadia terus memeluk tubuh Sarah ikut menangis.


"Kamu bukan beban bagi Mamah, Nadia. Kamu anugerah terindah dalam hidup Mamah. Harta satu-satunya yang Mamah punya. Jangan pernah berpikir kamu sendirian di dunia ini. Ada Ruby yang merasa kehilangan saat kamu tidak ada," ucap Sarah lagi dengan lembut.


"Maaf, Mah." Nadia membenamkan wajah di pundak Sarah. Tempat ternyaman di dunianya yang kelabu.


Sarah melepas pelukan tersenyum memandangi wajah anaknya meski hatinya perih melihat kondisinya yang semakin nemburuk setiap harinya.


"Kamu tahu tidak? Ruby sampai datang ke pabrik mencari kamu. Belum lagi Bilal dan Nafisah juga anak-anak di yayasan yang setiap hari mencari-cari kamu. Dari sini saja kamu harusnya sadar ada banyak orang yang menyayangi kamu. Kamu tidak sendirian, sayang," ucap Sarah lagi sembari membenarkan rambut Nadia yang berantakan.


Nadia menoleh pada Ruby. Remaja itu tengah mengusap pipinya yang dibanjiri air mata. Ia membentangkan tangan meminta Ruby memeluknya. Ruby berhambur memeluk Nadia.


"Aku kangen sama Bunda, sudah tiga hari Bunda tidak ada di rumah. Bilal dan Nafisah setiap hari datang ke rumah Bunda, duduk di teras rumah berharap Bunda akan pulang. Mereka juga sering mengigau menyebut nama Bunda," lapor Ruby yang membuat hati Nadia menghangat.


Dia pun rindu. Hatinya merindukan mereka juga anak-anak asuhnya di yayasan. Dia bertekad untuk sembuh. Harus cepat sembuh agar bisa bertemu lagi dengan mereka.


Nadia melepas pelukan, mengusap pipi Ruby yang masih terdapat jejak air mata.


"Doakan Bunda semoga lekas sembuh. Bunda juga ingin cepat pulang," ucap Nadia pilu. Ruby mengangguk pelan.


"Bagaimana? Apa kamu masih mau menyembunyikan keadaanmu dari semua orang? Ada banyak orang yang mengkhawatirkan kamu, Nadia." Suara dokter menyeruak ke dalam indera pendengaran semua orang.


"Dokter! Ini pasti ulah Dokter, tapi terima kasih. Dari sini aku tahu bahwa ada mereka yang menyayangiku. Terima kasih, Dokter," sahut Nadia memandangi Sarah dan Ruby penuh syukur.

__ADS_1


Mereka bercengkerama dengan riang. Nadia tak menampik ia merindukan suasana ini. Ia merindukan kehangatan ini. Rindu celoteh manja Ruby, Bilal dan Nafisah yang menceritakan sekolahnya. Juga anak-anak di yayasan yang selalu mengerubunginya setiap hari. Itulah rumahnya, itulah hidupnya. Ada banyak orang yang akan kehilangannya jika ia pergi begitu saja.


__ADS_2