
"Bunda!"
Nafisah terbangun dari tidurnya. Ia menangis sesenggukan sembari mengusap-usap matanya.
"Nafisah, ada apa?" Ruby ikut terbangun karena terkejut dengan suara jeritan Nafisah. Anak itu tidak menyahut, ia memeluk tubuh Ruby sambil terus menangis.
"Cup ... cup! Jangan menangis, apa kamu bermimpi? Mimpi apa? Mungkin kamu lupa berdoa," ucap Ruby dengan lembut.
"Aku bermimpi Bunda sedang dalam kesulitan. Aku takut Bunda kenapa-napa, Kak," ucap Nafisah sesenggukan. Suaranya terbata karena isak tangisnya yang semakin menjadi.
Ruby mengusap-usap punggung adiknya yang berguncang. Secara tiba-tiba, hatinya pun ikut merasa gelisah. Ada apa dengan bundanya itu?
"Sudah, itu hanya mimpi jangan terlalu dipikirkan. Mimpi itu, 'kan, cuma bunga tidur. Kalau Nafisah merasa kangen sama Bunda hanya doakan saja supaya semua urusan Bunda cepat selesai dan Bunda bisa cepat pulang. Kita beroda bersama-sama semoga Bunda selalu berada dalam lindungan Allah. Aamiin!" Ruby menasihati adiknya.
Nafisah mengurai pelukan, ia menghapus air matanya sebelum menengadah ke langit, "Ya Allah ... lindungi Bunda di mana pun berada. Aamiin!"
"Aamiin! Sekarang, kamu tidur lagi, ya. Allah akan melindungi Bunda di mana pun berada sesuai doa kamu tadi." Nafisah menganggukkan kepala.
Ia tersenyum mendengar penuturan sang Kakak meskipun hatinya tetap gelisah tak tenang. Ruby membantunya merebahkan diri, ia menepuk-nepuk bagian belakang tubuh adik bungsunya agar ia kembali terlelap.
Mereka bertiga ikut tinggal di rumah baru yang disediakan Nadia untuk kepindahan anak-anak asuhnya di yayasan. Rumah yang mereka tempati kini jauh lebih besar dari rumah mereka yang di yayasan. Sangat nyaman dan tertata dengan rapi. Ada taman bermain anak-anak di bagian belakang rumahnya. Tempat itu disulap seperti taman kanak-kanak dengan Winda dan Rima yang bertindak sebagai guru.
Nafisah terlelap dalam dekapan hangat Ruby.
Di kamar Rima dan Winda pun terdengar suara jeritan yang sama. Rima terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal.
"Rima? ada apa?" Winda yang mendengar segera mendatangi kamar Rima. Ia melihat wanita itu sedang duduk di atas ranjang dengan baju yang sudah basah oleh keringat.
__ADS_1
Mata Rima yang sudah basah menatap Winda dengan cemas. Rekannya itu datang mendekat dan duduk di tepi ranjangnya.
"Ada apa? Apa kamu bermimpi?" tanya Winda sembari memperhatikan Rima yang masih mengatur napasnya dengan susah payah.
"Win! Aku bermimpi ... mbak Nadia, Win! Mbak Nadia ...!" Lisan Rima terjeda. Bibirnya berkedut-kedut menggumamkan sesuatu, tapi tidak jelas apa.
"Mbak Nadia? Mbak Nadia kenapa, Rim? Kamu bermimpi apa?" Tak sabar Winda ingin segera mengetahui apa yang dia impikan hingga terbangun dalam keadaan menangis.
"Aku bermimpi mbak Nadia dalam kesulitan. Dia ada di tempat gelap, Win. Kita harus memberitahu Kak Harits, Win. Kita pinta dia kembali ke sana dan memastikan keadaan mbak Nadia baik-baik saja. Ayo, Win! Ayo!" Rima merengek sembari menarik-narik lengan piyama Winda.
Mereka beranjak dan mendatangi kamar Harits di lantai dua. Keduanya mengetuk pintu sambil memanggil-manggil nama lelaki itu. Suara mereka yang ribut membangunkan Bibi yang sedang terlelap di kamarnya.
Bibi beranjak, ia sudah terbiasa dengan kelakuan paman Harits yang tiba-tiba pergi dan menghilang dari rumah.
"Maaf, Non Rima dan Non Winda ... sepertinya Tuan tidak ada di rumah," tegur Bibi.
"Tapi ...."
"Kalau Tuan pergi di tengah malam seperti ini, itu artinya ada sesuatu yang gawat dan tidak bisa ditunda lagi. Non berdua ini jangan terlalu khawatir, Tuan pasti akan menyelesaikan masalah dengan sempurna," terang Bibi sembari mematri tatapan pada mereka berdua untuk meyakinkan bahwa apa yang dia ucapkan itu memang benar adanya.
Winda dan Rima mengangguk. Hati keduanya masih dilanda gelisah dan cemas soal keadaan Nadia. Keduanya kembali ke kamar mereka. Malam itu, mereka tidur bersama di kamar Rima.
Sepanjang malam itu, pikiran mereka dipenuhi oleh Nadia. Keduanya saling menenangkan satu sama lain. Saling menguatkan.
Sementara paman Harits masih mencari jejak Nadia. Ia dan anak buahnya juga polisi menyebar ke segala jalan.
"Di mana kita sekarang?" tanya paman Harits melirik orang yang duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Kita berada di Banten bagian Selatan, Tuan!" jawabnya setelah memperhatikan jalur jalan yang terpampang di layar laptopnya.
"Banten Selatan? Daerah pegunungan?"
"Benar, Tuan!"
Hening, tak ada lagi yang bicara di antara mereka semua. Paman Harits memandang keluar jendela. Deburan ombak di bagian kanan jalan, mengiringi perjalanan mereka. Ombak putih yang menggelung membentuk buih di lautan.
"Cari jalur ke gunung yang paling cepat! Aku sedikit tahu tentang daerah ini," titah paman Harits setelah mengingat-ingat lokasi yang disebutkan orangnya tadi.
Ia mulai kembali bermain dengan laptop di atas pangkuannya. Mencari jalur terdekat untuk sampai lebih cepat ke gunung. Ada pabrik semen di atas gunung tersebut. Ke sanalah tujuan paman Harits.
Iring-iringan mobil mereka mulai memasuki jalanan berliku dan naik turun. Merayap dengan pelan agar tidak terpeleset dan mengakibatkan nyawa mereka sendiri yang melayang.
"Lewati!" titah paman Harits saat mereka melintasi kawasan pabrik tersebut. Bukan itu tujuannya. Ia mengincar sebuah bangunan yang dibangun jauh di belakang pabrik tersebut. Tertutupi pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang. Juga kegelapan malam, yang ikut menyembunyikan keberadaan bangunan tersebut.
"Berpencar!" titah paman Harist setelah di kejauhan nampak bangunan sedikit usang yang berbaur dengan gelapnya malam. Mereka semua menyebar termasuk mobil polisi yang ikut dalam pencarian tersebut.
Mereka mengepung tempat tersebut. Paman Harits memerintahkan semuanya untuk mematikan mesin mobil. Di jarak beberapa kilometer jauhnya. Mereka semua turun, dan mulai berjalan kaki mengelilingi bangunan yang luasnya seperti villa tersebut.
Penjagaan di tempat itu teramat ketat. Mereka harus hati-hati dan bekerja dengan senyap. Paman Harits berada di pintu depan bangunan tersebut. Penjagaan di bagian depan bangunan itu lebih ketat, mereka membawa senjata yang disampirkan di bahu mereka.
Paman Harits memberi kode tetap waspada. Ia akan menerobos masuk untuk mencari keberadaan Nadia. Anak-anak buahnya mencari pengalihan supaya paman Harits bisa masuk ke dalam.
Setelah melihat adanya kesempatan itu, ia bergegas lari masuk ke dalam bersama satu orang polisi yang selalu membantunya memecahkan kasus. Paman Harits dan polisi tersebut berjalan mengendap di dalam bangunan yang mirip sebuah villa itu.
Ada dua lantai yang dihubungkan satu tangga dan dijaga ketat oleh empat orang bertubuh kekar.
__ADS_1
"Argh!"