Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Merelakan


__ADS_3

"Saudara Ikram dan saudari Ain, kalian bisa bebas hari ini. Saudari penuntut mencabut tuntutannya dan memaafkan kalian berdua," ujar pak Polisi sembari membuka kunci jeruji besi yang mengurung mereka berdua.


Ain dan Ikram sama-sama beranjak. Senang bukan main. Sungguh mereka tak menyangka kalau akan secepat ini keluar dari bui.


"Bapak tidak salah? Kami bebas hari ini?" Mata Ain berbinar senang meskipun ia tidak percaya.


"Kalian sungguh beruntung, nona Nadia mencabut tuntutannya dan membebaskan kalian. Seharusnya untuk kesalahan besar seperti yang kalian lakukan itu dihukum mati saja atau dihukum seumur hidup," ketus Sipir tersebut melirik sepasang suami istri itu dengan sinis.


"Aku tidak mengerti, entah kalian yang memang beruntung atau nona Nadia yang terlalu baik hingga dengan mudah mengampuni penjahat seperti kalian." Sipir lain menggelengkan kepala sembari berdecak. Ikram dan Ain tertunduk. Mereka memang bebas dari bui, tapi hukum moral tetap akan mereka terima dari semua kalangan.


"Pak, izinkan kami untuk bertemu dengannya? Apa bisa?" Ikram memohon pada Sipir yang menunggui mereka.


"Maafkan saya, nona Nadia tidak datang ke sini. Dia hanya mengutus pengacaranya saja untuk mengurus semuanya." Ikram kecewa, senyum mencibir dari kedua sipir itu nampak jelas terbentuk.


"Sebaiknya kalian sadar, taubat! Mohon ampun dan menyesali semuanya. Ini kesempatan kalian untuk memperbaiki diri, mungkin yang terakhir," cetus Sipir tersebut benar-benar menyinggung harga diri mereka berdua.


"Kalian itu, 'kan, figur dalam masyarakat. Seharusnya menjadi contoh yang baik untuk semua jamaah kalian. Bukan malah melakukan hal rendahan seperti ini. Kalian seperti tidak punya agama dan Tuhan saja." Lagi, sindiran itu diterima Ikram dan Ain dengan sarkas. Benar-benar menohok palung hati mereka yang terdalam.


"Terima kasih nasihatnya, Pak. Ada yang perlu kami urus sebelum pulang?" Ikram tak berdaya, hukum di masyarakat sungguh teramat berat. Lebih berat dari hukuman bui. Terasa langsung dan memanjang.


"Silahkan ikuti saya!" Mereka berdua mengikuti salah seorang Sipir guna mengurus kebebasan mereka.


"Pak, bagaimana dengan saya? Apa saya tidak dibebaskan?" Suara protes dari Yuni menggema di dalam selnya. Ia berdiri penuh emosi sembari memegangi jeruji besi yang mengurungnya.


"Sidang perdana kamu akan digelar Minggu depan. Tidak ada yang menjamin kebebasan kamu. Nikmati saja masa hukuman kamu di sini!" jawab Sipir membuat Yuni melemas.

__ADS_1


"Itu hukuman yang pantas untuk kamu!" cibir Ain tatkala ia melintasi jeruji di mana Yuni dikurung. Wanita itu mengangkat pandangan, menatap nyalang pada Ain yang tersenyum mengejek.


"Kamu lihat saja, Ain. Aku akak menarik kamu kembali ke dalam penjara ini! Aku bersumpah!" Yuni menggeram. Rahangnya mengeras menahan kesal pada Ain yang tidak bertanggung jawab atas perbuatannya.


"Memangnya apa yang bisa dilakukan seorang tahanan sepertimu? Aku tidak takut pada ancamanmu, Yuni." Ain tak kalah sengit. Ia menantang Yuni untuk menunaikan sumpahnya, dan tantangan ... diterima!


Ikram dan Ain pergi melenggang keluar rutan, setelah beberapa lama tinggal di dalam bui akhirnya mereka dapat menghirup udara segar jua.


"Kita langsung pulang saja, Bi? Bagaimana dengan anak-anak, ya? Umi kangen mereka." Ain berubah sendu, teringat akan ketiga anaknya yang ikut dengan Nadia.


"Ya ... beruntung mereka ikut dengan Nadia, kalau tidak ...." Ikram mendesah, membayangkan ketiga anaknya harus melihat mereka diborgol dan dijebloskan ke dalam penjara. Akan seperti apa jadinya?


"Yah, Abi benar. Mungkin Umi tidak akan berani lagi berhadapan dengan ketiga anak kita, Bi." Ain ikut mendesah. Merasa bersyukur karena ketiga anak itu tidak melihat polisi membawa mereka sebagai penjahat.


Tak ada jemputan, tak ada sambutan, hanya rasa sepi yang menemani perjalanan mereka dari rutan menuju rumah.


"Ekehm ... haus, Bi," keluh Ain sembari mengusap leher depannya yang kekeringan. Bukannya Ikram tak haus, ia juga sedang menahan dahaga yang melilit tenggorokannya.


"Kita ke masjid agung dulu, Mi. Shalat sekalian bisa minum air saat wudlu nanti," ujar Ikram lesu. Ain mengangguk pasrah. Kaki mereka terus melangkah menuju masjid agung yang tak jauh dari rutan tempat mereka mendekam beberapa hari.


Ah ... rasa segar air mengalir di tenggorakan keduanya saat mereka meneguknya beberapa kali. Wajah pucat pasih mereka berangsur membaik. Hanya air, tak apa. Itu pun harus mereka syukuri.


Ikram dan Ain menunaikan ibadah shalat Dzuhur sekalian saja beristirahat melepas penat sebelum melanjutkan langkah menuju rumah.


"Abi tidak punya uang sama sekali, Mi. Semoga saja di rumah ada bahan makanan," cetus Ikram putus asa menatap lalu-lalang manusia yang datang silih berganti ke masjid tersebut.

__ADS_1


Ain mendesah pasrah, ia pun sama sekali tidak memiliki uang. Sama berharapnya seperti Ikram semoga saat di rumah ada bahan makanan yang bisa dimasak. Ia menunduk, menyembunyikan air matanya yang tiba-tiba jatuh.


Ain menyeka air itu, sedih tak terkira. Inilah balasan sesungguhnya untuk kejahatan yang telah ia perbuat. Rasa lapar karena dia pernah memakan hak anak-anak yatim di yayasan. Rasa putus asa karena dia telah tega menyulitkan hidup orang lain.


Ikram merengkuh tubuh Ain saat ia menangkap getar kesedihan dari isak tangis istrinya itu. Semoga saja kali ini mereka benar-benar menyesal dan menyadari semua kesalahannya.


Selepas ashar keduanya kembali melanjutkan langkah, matahari tak lagi terik. Namun, awan mendung yang memayungi bersiap menurunkan airnya kapan saja dia mau.


"Sepertinya mau hujan, Bi," ucap Ain sembari menatap awan hitam di langit. Ikram ikut mendongak.


"Kita harus cepat, Mi supaya tidak kehujanan di jalan," katanya. Ia menggandeng tangan Ain, mempercepat laju kakinya khawatir hujan akan turun, sedangkan jarak rumah masihlah jauh.


Rintik-rintik air dari langit mulai berjatuhan, Ikram membawa Ain berlari semakin cepat.


"Bi, Umi capek. Kita cari saung (gubuk) saja, Bi. Kaki Umi juga sakit," keluh Ain sembari membungkukkan tubuh lelah. Napasnya tersengal-sengal, menimbulkan rasa sesak di dada.


"Itu ada saung, Mi. Ayo, kita ke sana, hujannya sudah deras!" Ikram kembali membawa Ain berlari setelah istrinya itu menegakkan tubuh. Mereka duduk di saung yang dimaksud, berteduh dari guyuran hujan yang deras.


Ain mendekap tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan. Bunyi gemelutuk gigi pun terdengar sangat jelas. Ikram ikut duduk di sampingnya, ia memeluk tubuh menggigil Ain dan mendekapnya erat-erat.


"Dingin, Bi." Ain menjatuhkan kepala di pundak Ikram. Tak cukup, ia membenamkan wajah di dada suaminya itu.


"Kenapa hujannya lama sekali, Bi? Umi sudah tidak tahan," keluh Ain lagi semakin hebat guncangan di tubuhnya.


"Sabar, ya ... mudah-mudahan sebentar lagi reda." Harapan hanya tinggal harapan, hujan tak kunjung reda hingga hari berganti malam.

__ADS_1


__ADS_2