
Kata pepatah Sunda, "Nu mawa obor nu sok nincak tai."
Kalau bahasa Indonesia-nya, "Yang membawa pelita-lah yang keseringan menginjak kotoran."
Ada istilah, "Ya'mur wa laa ya'mal."
Dia yang memerintahkan dia juga yang tidak melaksanakan.
Faham, kan, maksudnya? Faham, ya!
Fahimtum?
Fahimna!
Ok, lanjut!
******
"Uang apa yang sedang kalian bicarakan?"
Suara Ikram menyentak keduanya. Ia datang dengan wajah ingin tahu perihal yang dibicarakan kedua istrinya itu. Baik Ain ataupun Nadia, kedua-duanya bungkam belum menjawab apa yang dipertanyakan Ikram.
"Kenapa diam? Sekali lagi aku tanya uang apa yang kalian bicarakan? Uang anak-anak yatim-piatu?" tegas Ikram sekali lagi.
Ain menundukkan wajahnya dalam-dalam. Nadia memandang Ikram dengan manik yang sulit diartikan. Entah apa yang ada di pikirannya.
Nadia sudah mewanti-wanti Ain untuk tidak berbicara di tempat itu. Niatnya hanya ingin memberi pelajaran, bukan ingin membuka aibnya di depan suami mereka. Namun, lagi-lagi karena keangkuhan yang ada pada diri Ain yang tak ingin beranjak, membuat Ikram dapat mendengarnya. Dari sini Nadia tahu bahwa Ikram tidak pernah tahu soal uang yang dipegang Ain.
"Ada apa, Mas?" Yuni ikut bergabung, ia berdiri di belakang Ikram sambil menatap Nadia dan Ain bergantian.
Nadia yang tak senang ada orang lain juga yang mengetahuinya tak ingin Yuni ikut terlibat dalam pembahasan ini.
__ADS_1
"Maaf, Yun, bisa tinggalkan kami bertiga?" pinta Nadia baik-baik.
Yuni mendengus, ia menatap Ikram yang bergeming memperhatikan Ain yang gelisah.
"Tapi aku juga istri Mas Ikram-"
"Silahkan! Tolong, tinggalkan kami bertiga!" tegas Nadia sembari menunjuk gerbang yayasan.
"Ok, aku akan masuk ke kamar," sungut Yuni lagi dengan wajah kesal.
"Tidak! Tunggulah di yayasan sampai pembicaraan kami selesai. Setelah itu kamu bisa kembali datang," ucap Nadia lagi yang tak ingin dibantah.
Yuni mencebik kesal, ia menghentakkan kakinya saat melangkah meninggalkan mereka bertiga. Nadia terus mengawasi pergerakan Yuni, sampai wanita itu memasuki gerbang yayasan, barulah ia berpaling pada kedua orang di hadapannya.
"Apa kita perlu pindah tempat? Di sini terlalu terbuka, aku khawatir akan ada yang mendengar," ujar Nadia memastikan kedua orang itu.
"Tidak perlu! Di sini saja, jelaskan sekarang juga uang apa yang kalian bicarakan? Siapa yang berani memakai uang anak-anak yatim-piatu? Biadab!" geram Ikram yang berhasil mengundang air mata Ain untuk turun membasahi pipi.
Laki-laki itu menenangkan diri, menarik udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya perlahan. Setelah cukup tenang, Nadia memintanya untuk duduk.
"Duduklah, Mas! Ketika Mas marah dalam keadaan berdiri, duduklah sebentar. Itu biasanya efektif untuk meredakan marah," lanjut Nadia lagi masih dengan nada suara yang lembut.
Ikram menurut, ia duduk di kursi lainnya samping Ain. Ikram menoleh pada Ain yang menunduk dalam keadaan menangis. Lalu, melempar pandangan pada Nadia yang selalu bersikap tenang.
"Baiklah, sekarang katakan apa yang terjadi?" tuntut Ikram setelah lebih tenang lagi.
"Tapi aku mau Mas berjanji untuk tidak marah setelah mendengarnya," pinta Nadia lagi.
"Baik!" sahut Ikram tanpa berpikir. Ia ingin segera tahu apa yang sedang terjadi. Di dalam rumah tadi, ia mendengar soal uang anak-anak yayasan yang hilang.
"Begini, lho, Mas ... aku membuatkan tabungan untuk anak-anak di yayasan. Setiap bulan akan dikirim Rima sebesar sepuluh juta untuk mereka. Niat aku uang yang di dalam tabungan itu akan aku gunakan untuk biaya pendidikan mereka, tapi ...." Nadia menjeda ucapannya. Ia melirik Ain yang masih menundukkan wajah.
__ADS_1
"Saat pembangunan asrama putra dulu, Kak Ain meminjamnya untuk membeli bahan bangunan. Aku percaya padanya dan menyerahkan kartu tersebut pada Kak Ain. Aku tidak pernah menanyakannya, jadi selama ini kartu tersebut ada di tangan Kak Ain. Sekarang aku membutuhkan uang itu untuk biaya masuk kuliah anak-anak, tapi saat aku mau mengambil uang saldo sudah habis," papar Nadia melanjutkan kembali ucapannya yang sempat terjeda.
Ikram memandang Ain tak percaya. Rahangnya mengeras hingga terdengar bunyi gemelutuk gigi yang kentara.
"Mas, kalau Mas ingin membicarakan ini sebaiknya bawa Kak Ain ke dalam kamar. Jangan meninggikan suara Mas saat berbicara karena bagaimanapun ini sudah termasuk aib yang tak seharusnya tersebar. Ingat, Mas! Jangan meninggikan suara Mas. Malu kalau sampai ada yang mendengar," saran Nadia yang diangguki Ikram.
Laki-laki itu menarik Ain masuk ke rumah dan langsung menuju kamar mereka. Nadia sendiri pun beranjak, ia mendatangi yayasan. Yuni sedang duduk menunggu dengan rasa penasaran yang semakin menggunung.
"Kenapa istri Ikram dua-duanya selalu memerintah? Sebal," umpat Yuni sembari menghentak-hentak kaki di lantai aula.
Nadia was-was memikirkan Ain. Bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada kakak madunya itu. Nadia berbalik dan masuk ke rumah Ikram, memastikan bahwa keduanya tidak baku hantam di dalam kamar.
"Apa yang dikatakan Nadia itu benar, Mi? Kenapa Umi melakukan itu?" tanya Ikram dengan pelan. Ia terpikir benar yang dikatakan Nadia, itu adalah aib yang tak seharusnya orang lain tahu.
Ain menangis semakin menjadi. Ia tak menyahut, ia bahkan tak berani mengangkat wajah di hadapan Ikram.
"Apa selama ini uang tabungan yang Umi maksud itu adalah uang anak-anak asuh kita, Mi? Tolong jawab! Sebenarnya Abi sangat marah dan ingin memukul sesuatu, tapi Abi sudah berjanji pada Nadia untuk tidak marah. Sekarang coba katakan, apa selama ini biaya-biaya semuanya itu dari tabungan anak-anak?" tuntut Ikram yang semakin membuat tangis Ain mengeras.
"Jadi bener, ya? Bahkan biaya umrah pun Umi ambil dari uang itu. Pantas saja Allah menghalangi pandangan kita saat itu. Allah menyesatkan kita karena DIA tidak ingin didatangi hamba yang pergi ke rumah-Nya dengan uang haram. Beruntung, saat itu Allah tidak menurunkan azab-Nya kepada kita. Apa Umi pernah berpikir kalau itu bukanlah hak kita? Astaghfirullah al-'adhiim!"
Ikram mengusap wajahnya cukup keras. Ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya pelan-pelan. Tak habis pikir bagaimana lagi menasihati Ain.
"Umi sudah terlalu jauh. Tindakan Umi ini sudah melanggar syari'at. Sekarang bagaimana kita akan mengganti uang itu? Pasti nilainya tidak sedikit uang yang sudah Umi gunakan itu. Astaghfirullah al-'adhiim, ya Allah!"
Lagi-lagi Ikram tak percaya, Ain bisa melakukan itu. Ia tersedu, merasa tidak becus menjadi suami.
"Bagaimana Abi akan menghadap Allah dengan membawa dosa yang menggunung ini? Dosa mendzalimi Nadia, doa mendzalimi anak-anak, sekarang ditambah dosa dari memakan uang anak-anak yatim-piatu. Ya Allah! Kenapa Umi tidak memikirkan akibat dari semua tindakan yang Umi lakukan? Astaghfirullah al-'adhiim, ya Allah!"
Tangis Ikram pecah, Nadia yang menguping mengigit bibir bawahnya menahan tangis. Mendengar suara tangis Ikram, Nadia tahu laki-laki itu amat menyesal. Terlebih saat namanya disinggung. Nadia beranjak tak ingin lagi mendengarkan.
"Maafkan Umi, Bi. Maafkan Umi. Umi memang sudah salah, semua memang karena keegoisan Umi. Tolong maafkan Umi. Semua ini Umi lakukan karena Umi sakit hati pada Nadia. Umi hanya ingin dia juga merasakan sakit yang sama seperti yang Umi rasakan-"
__ADS_1
"Tapi nyatanya Nadia tidak seperti Umi! Ya Allah ... renungkan kesalahan Umi. Semuanya, shalatlah taubat dan mohon ampun pada Allah!" titah Ikram sebelum meninggalkan Ain yang menangis sendirian.