Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kelakuan Yuni


__ADS_3

LELAKI ITU


Seorang anak sedang mendorong kursi roda di selasar Rumah Sakit. Di atasnya seorang wanita cantik berhijab duduk wajahnya pucat bagai mayat. Mereka hendak mencari udara segar di sekitar taman Rumah Sakit. Di bagian paling belakang itu, keduanya dikejutkan oleh suara perdebatan antara seorang perempuan dan laki-laki.


Wanita di atas kursi roda, meminta anak yang mendorongnya untuk berhenti. Awalnya ia berniat kembali, tapi setelah tak sengaja mendengar suara itu, wanita tersebut mengurungkan niatnya. Ia meminta si anak untuk bersembunyi di balik sebuah tembok.


"Ada apa, Bun? Memangnya siapa yang sedang bertengkar di sana?" tanya gadis itu sembari berjongkok di hadapan wanita yang ia panggil Bunda.


"Coba saja kamu dengarkan, nanti juga kamu tahu siapa mereka?" pintanya dengan nada pelan dan lemah. Anak yang tak lain adalah Ruby itu pun menurut. Ia bersembunyi di balik tembok bersama Nadia.


"Bang, aku hamil anak kamu. Anak siapa lagi?" Suara perempuan terdengar menggema di bagian sunyi tersebut.


"Siapa yang mau mengakui? Kamu itu ******, tidur dengan laki-laki mana pun. Aku tidak bisa memastikan kalau itu benar anakku. Bagaimana kalau bukan? Rugi aku," sahut laki-laki tersebut sengit. Ia tak mau mengakui anak yang dikandung wanita itu.


"Tapi cuma sama kamu aku melakukannya tanpa pengaman. Siapa lagi? Bang, bagaimana ini? Kamu tidak akan meninggalkan aku, 'kan, Bang." Wanita itu menangis sesenggukan.


"Bun, sepertinya aku mengenal suara itu." Ruby menatap Nadia sambil berpikir.


"Kamu memang mengenalnya, sayang. Sangat mengenalnya," sahut Nadia, senyum di bibirnya meyakinkan Ruby bahwa dia tidak salah. Keduanya kembali terdiam mendengarkan.


"Kamu itu, 'kan, sekarang sudah punya suami. Untuk apa coba kamu pusing-pusing minta aku tanggung jawab? Kamu bisa akukan itu anak suami kami. Beres," saran laki-laki itu terdengar mengentengkan sebuah perkara.


Lama tak ada sahutan, Ruby dan Nadia masih terdiam di tempat mereka.


"Tapi kalau mereka tahu bagaimana?" Terdengar cemas, tapi ia tidak membantah saran laki-laki itu.


"Mereka tidak akan tahu kalau kamu tidak bicara. Sudah, jangan cari aku lagi. Kamu sudah punya suami, dia pasti juga sudah memakai kamu, 'kan?" Laki-laki itu terdengar tidak suka.

__ADS_1


"Aku memang menikah dengannya, tapi dia tidak pernah menyentuh aku. Dia tidak suka padaku, Bang," katanya lagi dengan nada putus asa.


"Bagaimana dengan rencanamu saat umrah kemarin?" tanya laki-laki itu lagi. Ruby dan Nadia memasang telinga mereka baik-baik.


"Aku sudah melakukannya, entah berhasil atau tidak. Semoga saja Ikram tidak sadar bahwa malam itu memang tidak terjadi apa-apa antara aku dengannya," jawab wanita yang tak lain Yuni itu.


Nadia dan Ruby saling memandang satu sama lain. Busuk sekali rencana Yuni. Menjebak Ikram dengan cara licik.


"Bagaimana kamu melakukannya?"


Keduanya mempertajam pendengaran ketika laki-laki itu kembali bersuara.


"Aku memberinya bius, dia terkejut saat terbangun ada di kamarku tanpa busana," jawab Yuni lagi terdengar gugup.


Hening. Lawan bicara Yuni tak menyahut, Yuni sendiri pun bungkam. Beberapa saat keadaan menjadi sunyi senyap. Hanya terdengar suara gemerasak dedaunan kering yang terkadang terbang diterpa angin.


"Kamu melakukan hal lainnya di sana, bukan? Aku tahu, kamu tidak dapat menyembunyikan apa pun dariku, Yuni."


"Kamu pasti menyewa seseorang di sana, bukan? Tidak mungkin rencanamu berjalan begitu saja tanpa ada yang membantu. Kamu sudah tidak bisa lagi mengelak," ucap si laki-laki tadi terdengar sengit.


Yuni belum menjawab, ia gelisah. Laki-laki di hadapannya itu memang selalu benar dan tepat.


"Katakan, kamu melakukan hubungan intim dengan laki-laki yang kamu sewa itu, bukan?" Pertanyaan itu tak hanya membuat Yuni yang menegang, tapi Ruby dan Nadia pun ikut merasakan ketegangan yang sama saat mendengar itu.


"A-aku ... aku ... dia meminta bayaran itu, mau bagaimana lagi? Dia mengancamku akan mengatakan semuanya pada Ikram jika aku tidak mau menurutinya. Aku terpaksa melakukannya." Yuni menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia menunduk tak berani menatap laki-laki di depannya.


Nadia dan Ruby benar-benar dikejutkan oleh pernyataan itu. Mereka tidak menyangka Yuni berani berbuat hina seperti itu.

__ADS_1


Laki-laki di depannya melangkah, Yuni semakin gugup dan gelisah. Tangan kekar itu mencengkeram dagu Yuni dengan kuat. Mendongakkan kepalanya agar bertatapan dengan maniknya yang merah menyala.


"Kamu sudah mengakui betapa hinanya dirimu ini. Aku sudah lama tidak menyentuhmu, terlebih saat kamu sudah menikah dengan ustadz itu. Bukankah aku sudah tidak lagi menemui kamu? Kenapa sekarang kamu menuntutku dan menyatakan bahwa anak yang kamu kandung itu adalah anakku! Bisa saja itu anak orang lain mengingat kamu tidak pernah bisa menahan nafsumu, sedangkan suamimu tidak pernah menyentuhmu."


Laki-laki itu menghempaskan dagu Yuni dengan kuat. Ia muak dengan semua yang wanita itu lakukan.


"Aku pernah mengajakmu menikah, tapi kamu menolak dengan alasan masih ingin sendiri. Lalu, saat laki-laki beristri dua itu mengajakmu menikah kamu terima begitu saja. Terima saja nasibmu, aku tidak mau mengakui anak itu sebagai anakku. Kamu punya suami, orang-orang tidak akan mengataimu. Jalani saja asal jangan sampai pecah telur yang kamu pegang itu," pungkas laki-laki tadi seraya berbalik dan meninggalkan Yuni.


Ruby beranjak, ia menempel pada dinding takut laki-laki itu akan dapat melihatnya. Dari tempat mereka bersembunyi, keduanya dapat mendengar suara tangisan Yuni. Entah tangis penyesalan, atau tangis karena malu ketahuan.


"Aku tidak boleh menangis, aku harus bisa berpura-pura jangan sampai Ikram tahu kalau anak ini bukanlah anaknya," gumam Yuni seraya membawa langkah meninggalkan tempat tersebut.


"Bunda, apa Bunda mendengar semuanya?" tanya Ruby. Nadia hanya mengangguk. Mereka kembali ke kamar di mana Nadia dirawat. Ini menjadi rahasia Ruby dan Nadia.


*******


"Aku saksi hidup yang mendengar perdebatan mereka. Bersama Bunda yang kala itu sedang dirawat di Rumah Sakit karena tiba-tiba drop. Aku tidak mengarang cerita. Kalau saja aku mengenal laki-laki itu, aku akan membawanya kepada Abi agar Abi bisa bertanya langsung padanya," ucap Ruby mengakhiri ceritanya.


Lemas tubuh Ikram, mendengar cerita itu ia merasa benar-benar tidak dihargai. Kedua istrinya telah menipu dia, sedangkan Nadia sudah tak lagi tersentuh olehnya. Menyesal bukan kepalang. Nasi sudah menjadi bubur. Semuanya hanya dapat ia sesali, tapi tak dapat memperbaiki. Bodoh, benar-benar bodoh.


"Maaf ... maafkan aku ... aku menyesal. Benar-benar menyesal. Maafkan aku ...!" lirih suara Yuni sembari terisak-isak sendiri. Ia menjatuhkan diri di lantai, bersimpuh memohon ampunan.


Ain sama geramnya dengan Ikram. Ia pun merasa tertipu oleh sahabatnya sendiri.


"Aku tidak tahu lagi harus apa? Tapi ... detik ini juga, kamu ... Yuni ... aku talak kamu. Mulai detik ini kamu bukan istriku lagi!"


Yuni mendongak dengan cepat. Ia menggeleng dengan air mata yang meleleh di pipinya. Matanya memohon, mengiba pada Ikram agar tidak menceraikannya.

__ADS_1


"Kamu jahat, Yuni! Kamu membohongi aku selama ini. Aku kecewa sama kamu. Aku menganggapmu seperti saudara, tapi kamu justru mengkhianati aku! Aku tidak sudi lagi melihatmu di rumah ini!" timpal Ain dengan geram. Yuni semakin menjadi.


"Maaf!"


__ADS_2