Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Bagaimana Kalau Berbuat Adil?


__ADS_3

Satu hari, dua hari, menunggu dan menanti tiada henti. Dalam balutan rindu yang terus menumpuk dalam hati. Kabar kepastian tak kunjung muncul menyapa pagi. Malam pun terlewati bersama sepi. Hampa menimbulkan perih yang tak terperi.


"Kenapa ponsel Mas Ikram tidak dapat dihubungi dari kemarin?" Bergumam lisan wanita itu, ia menggigit bibirnya saat sebak menguasai hati.


Di malam yang sunyi ini, rembulan bahkan terus bersembunyi di balik awan. Seolah tak ingin menjadi teman sang bintang. Malam sunyi senyap menabur dingin dalam kegelapan.


Nadia berdiri di dekat jendela, memandangi langit yang kelabu. Sama seperti hatinya yang terasa sesak menahan rindu. Dua hari berlalu, tiada kabar dari Ikram yang pamit sejak hari itu.


Ia menunduk melirik benda pipih di tangan, mengusap layarnya yang dipasangi foto pernikahan. Manis dan hangat penuh dengan bunga kebahagiaan, tapi yang dirasa kini hanya sunyi dan kehampaan.


Tiada lagi sapaan mesra di pagi dan malam yang dilaluinya. Dinginnya udara menembus kulit hingga menusuk tulangnya. Ia mendekap tubuhnya sendiri menepis dingin yang dihantarkan udara malam yang hampa.


"Kenapa Mas Ikram tidak ada menghubungiku? Aku coba telepon Kak Ain sama juga, apa di sana susah signal, ya?" Bibirnya kembali bergumam masih terpaku pada benda di tangan.


Dua nomor telepon dipandanginya dengan sendu. Ia masih bertahan berdiri di dekat jendela hingga udara membuat tubuhnya menggigil tak tertahan. Nadia menutup jendela, merapatkan tirai sebelum beranjak ke peraduan.


Sekali lagi mencoba masih pada posisi yang sama. Tak dapat dihubungi dan selalu berada di luar jangkauan. Nadia berdecak kesal, ia taruh ponsel sebelum menggelung tubuhnya dengan selimut.


Setitik air meniti dari pelupuk. Berbagai pikiran buruk datang menyergap hatinya. Ia tak tahu apakah Ikram benar-benar menikahinya karena keinginannya sendiri atau ada hal lain yang tersembunyi dalam dirinya.


"Kenapa kamu tidak bisa dihubungi, Mas? Apakah kamu tidak mau aku mengganggu kamu?" lirihnya bergetar. Ia mengusap kedua matanya, perasaan terbuang datang dengan tiba-tiba.


"Argh!" Nadia meremas perutnya, rasa nyeri menyerang dengan cepat membuat wajahnya pucat pasih.


"Sakit! Ma-mamah, tolong Nadia!" rintihnya sembari mencengkeram perut dengan kuat. Ia menarik kedua lutut ke atas menekannya pada perut berharap rasa saktinya akan berangsur menghilang.


"Ma-mamah! Ma-mamah!" gumamnya lagi dengan getar memilukan. Air matanya berderai bercampur dengan keringat. Ia meraba nakas di mana ponselnya terletak.


Mengambilnya dan mencari kontak Sarah. Dengan tangan gemetar, ia menelpon mamahnya.


"Ma-mamah! Tolong Nadia ... sakit, Mah!" Nadia menumpahkan tangisan pada Sarah lewat sambungan telepon.


"Cepat, Mah!" pintanya dengan suara yang semakin bergetar, ia letakkan ponsel dengan sembarang. Nadia membelit tubuhnya dengan tangan juga kaki. Meringkuk memeluk lutut sambil menangis yang kian lama kian melemah. Bibirnya mengering, bibir ikut gemetar.

__ADS_1


Menggigil tubuh dalam kemul itu berguncang diiringi suara rintihan memilukan.


"Mah! Mamah!" panggilnya berharap Sarah akan cepat sampai dan membawanya ke Rumah Sakit.


Selang beberapa saat, mobil Sarah menderu di depan rumah Nadia. Anak-anak yang masih belum tidur, bergegas mendekati jendela demi dapat melihat siapa yang datang.


Sarah melesat memasuki rumah Nadia yang belum dikunci.


"Nadia!" Ia berteriak memanggil nama anaknya.


"Mah!" Sahutan lemah dari Nadia yang tak mungkin dapat didengar oleh Sarah saat ia mendengar suara mamahnya.


Brak!


Sarah membuka cepat pintu kamar Nadia.


"Nadia!" Mata hampir tuanya membulat sempurna. Ia berlari mendekati, melempar selimut dan membantu anaknya untuk beranjak.


"Mamah! Sakit!" keluh Nadia sembari mengernyit kesakitan.


"Ya Allah, Nak! Kenapa bisa begini?" Sarah membantu Nadia untuk meninggalkan kamarnya. Ia membawa Nadia masuk ke dalam mobil disaksikan anak-anak yang menatap dengan bingung dua orang itu.


"Ibu, Bunda mau dibawa ke bawa?"


"Apa Bunda sakit?"


"Kenapa Bunda memegangi perutnya?"


Satu per satu dari anak-anak itu bertanya pada Ibu yang mengasuh mereka. Wanita paruh baya itu pun tidak tahu apa yang terjadi pada Nadia.


"Sebentar, ya, Ibu tanya dulu padanya," ucapnya seraya meninggalkan anak-anak dan menemui Sarah.


"Bu, Ibu Sarah! Tunggu!" cegahnya saat melihat Sarah hendak membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Ya, Bu, ada apa?" Sarah menahan kesal di hati karena kondisi Nadia yang sudah kritis.


"Itu Mbak Nadia kenapa? Sakit atau gimana?" tanyanya, ia melirik Nadia yang duduk di dalam mobil sembari memegangi perutnya.


"Oh, itu ... iya, magh-nya sedang kambuh jadi, suka begitu. Ya sudah, Bu. Saya permisi, assalamu'alaikum!" ucap Sarah cepat-cepat. Ia bergegas masuk ke dalam mobil dan menjalankannya. Membawa Nadia ke Rumah Sakit tanpa memberitahu Ikram atau Ain.


Di malam yang sama, di mana Nadia sedang berjuang menahan sakitnya. Ikram dan Ain baru saja menghabiskan waktu bersama putri bungsu mereka dengan berjalan-jalan di kota Tasikmalaya seusai pengajian. Malam terakhir mereka berada di kota tersebut, dan besok siang harus sudah kembali ke rumah.


Ikram duduk di kursi kayu yang ada di dalam penginapan mereka, sementara Ain menidurkan Nafisah di kasur tanpa ranjang. Ia beranjak duduk dan memandang Ikram yang khusuk membaca.


"Bi!"


"Sudah tidur?"


Ain melirik Nafisah diikuti oleh Ikram.


"Bagaimana keadaan anak-anak di rumah?" tanya Ikram sembari melipat kitab yang dibacanya dan meletakannya di atas meja.


"Mereka baik, Nadia merawat mereka dengan baik. Setidaknya itu yang dikatakan Ruby," jawab Ain masih duduk di atas kasur.


Ikram beranjak turun dari kursi dan ikut duduk di atas kasur.


"Mi, kenapa Umi melakukan ini? Mematikan ponsel dan tidak boleh menghidupkannya selama kita di sini," tanya Ikram atas permintaan Ain waktu itu.


Wanita berwajah lembut itu tersenyum, ia menggenggam jemari Ikram sebelum berbicara, "Karena Umi ingin menghabiskan waktu selama tiga hari di sini bersama Abi tanpa gangguan. Kenapa? Apa Abi keberatan melakukannya? Abi memikirkan Nadia? Dia baik-baik saja, itu kata anak-anak."


Ain menilik wajah suaminya yang mematri tatapan padanya. Senyumnya masih terpasang dengan lembut setelah mengatakan itu. Ikram mengeratkan genggaman, ia menunduk sembari menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya sekaligus.


Ditiliknya wajah Ain yang masih menunggu dalam diam. Ia sedang berpikir kenapa Ikram baru menanyakan sekarang alasan dari permintaan Ain kemarin. Apa dia merasa bersalah karena sehari pun tidak memberi kabar pada Nadia.


"Bukan begitu, Abi merasa sudah mengabaikan istri Abi yang lainnya dengan tidak memberi kabar apa pun-" Ikram menjeda ucapan. Menatap langit-langit kamar sebelum kembali menjatuhkan tatapan pada istri pertamanya itu.


"Bagaimana kalau Abi berbuat adil?"

__ADS_1


__ADS_2