
Ikram menyelidik raut wajah Ain yang duduk di depannya. Ia meletakan buku yang dibacanya dan kembali menghadap Ain.
"Ada apa, Mi? Kenapa gelisah begitu?" tanya Ikram setelah menelisik gurat wajah Ain.
Wanita di hadapannya menarik udara dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Mengurai sesak di dada yang mencipta sebak meraja.
Ain duduk dengan gelisah di hadapan Ikram. Matanya berputar ke sana ke mari mencari obyek yang enak dipandang.
"Mi!" tegur Ikram jengah dengan sikap Ain yang sedari tadi hanya diam dan bergerak-gerak gelisah.
"Iya, Bi. Umi sudah memikirkan semuanya." Ikram tersenyum mendengarnya. Ia kira Ain tak akan lagi memaksanya menikah.
"Umi setuju dengan permintaan Abi. Umi tidak akan melarang Abi bertemu dengan Nadia kapan pun Abi mau asal Abi mau menikah dengannya," lanjut Ain dengan tegas.
Ikram menganga tak percaya. Sungguh Ain di luar dugaannya. Dia berubah sejauh ini hanya karena sakit hati dengan kehadiran Nadia.
"Kenapa Umi melakukan itu semua? Apa tidak akan menyakiti hati Umi sendiri?" tanya Ikram setelah mengendalikan keterkejutannya.
"Tidak, Bi. Ini sudah pilihan Umi, berbeda dengan Nadia yang pilihan Abi. Setiap kali melihatnya hati Umi selalu sakit," ungkap Ain yang membuat Ikram mendesah pasrah.
"Terserah Umi."
Tak ada lagi pembicaraan, Ikram beranjak keluar rumah menemui mang Sarif berbincang ringan mengusir kegundahan hatinya.
Sedangkan Nadia, merenung menatapi langit-langit kamar yang hanya dihiasi lampu yang menggantung. Tidak ada rencana untuk keluar hari ini. Namun, ia beranjak seketika saat bayangan Sarah melintas di pelupuk mata.
Nadia memesan taksi online dan bergegas keluar. Ia tidak tahu jika ada Ikram yang sedang mengobrol dengan mang Sarif di pos.
Ikram mengernyit manakala mendengar suara mesin mobil yang berhenti di luar gerbang.
"Mobil siapa, Mang?" tanyanya sambil menatap intens mobil jenis Inova yang terparkir di luar gerbang.
Mang Sarif melongo ke jendela seraya menjawab, "Oh ... itu mobil yang biasa antar jemput mbak Nadia, Bi. Mungkin mbak Nadia mau pergi," sahut mang Sarif yang membuat Ikram beringsut mendekati jendela.
__ADS_1
Ting!
Sebuah pesan masuk ke ponsel Ikram, pesan dari Nadia yang meminta izin menjenguk Sarah.
Ikram bersembunyi ingin tahu supir dari taksi online yang selalu dipesan Nadia. Apakah benar-benar perempuan.
Nadia datang terlihat sedikit tergesa memang. Jendela kaca mobil itu terbuka, Ikram mempertajam indera penglihatannya demi dapat melihat dengan jelas jenis supirnya.
Ia mendesah lega tatkala wajah dan rambut orang yang duduk di kursi kemudi itu adalah sosok seorang perempuan.
"Perempuan, Bi," seru mang Sarif yang diangguki Ikram. Ia tersenyum melepas Nadia pergi meninggalkan rumah.
[Mah, kita ketemu, ya. Nadia mau bicara sama Mamah.]
Nadia mengirim pesan singkat pada Sarah saat di jalan menuju suatu tempat.
[Mamah sedang melihat-lihat Situ Palayangan. Kamu ke sini saja langsung.]
Nadia bergegas turun begitu tiba di danau tersebut. Ia mencari keberadaan Sarah di sekitar Situ. Lambaian tangan dari mamahnya itu membuat Nadia sedikit berlari. Dengan sebuah botol air mineral di tangan ia mendatangi tempat Sarah duduk menunggu.
Sebuah tempat duduk yang terbuat dari anyaman bambu-amben-namanya. Nadia mendaratkan tubuh di tempat duduk tersebut. Menyalami Sarah dan mencium pipi kanan dan kirinya.
"Mamah sudah sehat?" tanya Nadia setelah memperhatikan wajah Sarah yang tak lagi pucat pasih.
Wanita paruh baya itu tersenyum, selalu hangat dan menenangkan. Sarah membelai kepala putrinya dengan lembut.
"Mamah sudah lebih baik, kamu jangan terlalu mengkhawatirkan Mamah. Di sini cuacanya sejuk, angin berhembus lembut. Mamah rasa di sini akan ramai seperti Balong suatu saat ini," sahut Sarah sembari mengedarkan pandangan ke seluruh tempat di sana.
Benar. Suatu saat tempat itu pasti akan ramai seperti Balong. Saat ini sedang dalam tahap pembangunan, lumayan untuk mengajak anak-anak bermain di sore hari. Berkeliling memutari danau dengan pemandangan sejuk sebuah hutan dan padang rumput di bagian lain.
"Mamah benar, di sini cocoknya berjualan jajanan. Bukan bakatku." Nadia terkekeh diikuti senyum Sarah yang mengembang.
"Mamah dengar kamu sedang membuat kerajinan tangan dan akan memasarkannya. Kamu mau membuat toko untuk menjual itu semua?" tanya Sarah saat teringat berita Nadia yang ingin membuka toko bunga buatan.
__ADS_1
"Iya, Mah. Cuma belum nemu tempat yang cocok, Mah. Kalau di pasar memang ramai. Nadia hanya belum menemukan tempat yang sreg saja dengan hati Nadia, Mah," jawab Nadia melayangkan tatapan pada riak air danau yang sebagian ditumbuhi rumput itu.
"Sabar saja ... semoga keinginan kamu bisa tercapai," sambut Sarah yang memberikan sapuan lembut di tangan Nadia.
Ia hanya mengangguk menanggapi perkataan Sarah. Camilan cilok menemani keasikan Ibu dan anak itu. Sarah membelinya dari penjual yang berkeliling di sekitar danau tersebut.
"Ada apa kamu mau bertemu Mamah? Tumben saja mengirimi Mamah pesan. Biasanya langsung datang ke pabrik atau ke butik," tanya Sarah menatap riak wajah Nadia yang berbeda dari biasanya.
Nadia menghela napas, terasa berat hingga membuatnya sesak sesaat. Pandanganya masih tertuju pada air danau yang keruh. Biasanya ada beberapa penduduk yang mencari ikan di danau tersebut dengan menggunakan getek. Sebuah sampan terbuat dari rangakaian bambu yang didorong dengan bambu pula saat ingin menggerakkannya. Namun, hari ini nampak sepi.
Hanya ada beberapa buah perahu dayung yang biasa digunakan berlatih oleh anak-anak sekolah.
"Iya, Mah. Nadia memang ingin membicarakan sesuatu dengan Mamah. Nadia sedang dilanda bingung saat ini, bagaimana harus bersikap. Apakah keputusan yang akan Nadia ambil ini adalah baik untuk Nadia," ucap Nadia yang kali ini menunduk memandangi tangan yang sedang memutar-mutar botol air mineralnya.
"Kamu sedang ada masalah di rumah? Dengan Ikram dan Ain?" tebak Sarah yang membuat Nadia mengangkat wajah dan menatapnya sendu.
Nadia tidak menyahut ataupun menganggukkan kepala. Ia hanya terus memandangi Sarah yang sedang menelisik wajahnya.
"Nadia, kalau ada masalah dengan kalian sebaiknya dibicarakan baik-baik. Kamu datang ke tempat itu dengan baik-baik, dan bersikaplah baik saat berada di lingkungan tersebut. Kamu jangan merasa menjadi orang yang harus dilayani penghuni pesantren itu. Jangan menyuruh orang ini dan itu untuk memenuhi kebutuhan kamu, Nak," nasihat Sarah yang didengarkan dengan baik oleh Nadia.
"Bukan itu, Mah." Ragu Nadia ingin mengutarakan isi hatinya pada Sarah.
"Lalu, apa, sayang?" tanya Sarah lagi tak sabar.
"Nadia butuh dukungan Mamah untuk meyakinkan keputusan Nadia berpisah dengan mas Ikram."
Demi apa pun, mendengar itu riak wajah Sarah berubah drastis.
Situ Palayangan.
Photo : dokumentasi pribadi
__ADS_1