Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Lain Keadaan


__ADS_3

Taman kota selalu ramai di sore hari, lihat saja anak-anak itu begitu asik bermain dengan teman sebayanya. Ada pula balita yang dibiarkan bermain di atas tikar. Wajah mereka nampak berseri, bercahaya dan segar dipandang.


Suara teriakan orang tua ikut meramaikan suasana taman di sore hari. Berkejar-kejaran dengan anak mereka, bermain bola dan sepeda.


"Lihat, Mas, anak-anak yang bermain bola di sana. Mas juga harus mengajak bermain Zahira nanti," ucap Nadia sambil mendorong kereta bayinya di jalanan taman kota.


"Ya, lihat saja nanti, Mas akan ajak dia main bola. Atau bermain sepeda, Ayah yang akan mengajarinya sampai bisa." Lelaki itu mengambil alih dorongan bayi dari tangan istrinya.


Mendorong pelan mengelilingi taman sambil melihat-lihat para pengunjung yang menghabiskan waktu akhir pekan bersama keluarga. Nadia melingkarkan tangan di lengan suaminya. Mereka menjadi keluarga yang bahagia sekarang.


"Mau beli makanan?" tawar suaminya sembari memperhatikan jejeran pedagang yang menjajakan dagangannya di pinggiran taman. Tangannya menunjuk para pedagang yang sibuk melayani pembeli.


Nadia menggelengkan kepala setelah melihat jejeran pedagang itu. "Kita cari tempat duduk, Mas," katanya mulai lelah kedua kaki mengelilingi taman.


Paman Harits mengajak Nadia untuk duduk di tepi danau kecil yang sejuk. Dipayungi pohon beringin yang rindang menambah kesejukan tempat tersebut.


Diambilnya Zahira dari kereta bayi dan memangkunya. Bermain bersama gadis mereka yang begitu mirip ayahnya itu.


"Aku cemburu, kenapa Zahira mirip sekali dengan Mas?" Nadia merajuk. Jika disandingkan maka anak dan ayah itu akan sulit dibedakan. Satu-satunya yang beda hanyalah jenis kelamin mereka.


"Tapi dia cerdas seperti kamu, sayang. Mas berdoa semoga dia memiliki hati yang besar seperti Bundanya." Ungkapan ketulusan hati seorang Ayah. Nadia mengaminkan doa suaminya, ia pun berharap saat dewasa nanti Zahira menjadi anak yang bijak. Ia tak ingin apa yang telah menimpa dirinya, akan terjadi pada putrinya.


"Mas ke toilet dulu, ya," pamit paman Harits sesaat setelah ia merasakan gejolak di dalam perutnya.


"Ke mana, Mas?"


"Ke masjid."


"Jangan lama-lama!"


Ia mengangguk lantas meninggalkan anak dan istrinya usai berpesan. Nadia mengajak Zahira berbicara, menunjukkan segala hal padanya, bentuk dan warna. Bayi itu sungguh menggemaskan, berceloteh tak jelas, tertawa riang, atau menggenggam apa saja yang ditemui tangannya dan memakannya.


Nadia mengangkat pandangan, ia edarkan ke sekitar sambil menyusui bayi Zahira yang ia sembunyikan di dalam hijab. Tersenyum sendiri saat merasakan sentuhan tangan mungil itu pada permukaan kulitnya.

__ADS_1


Dahinya mengernyit ketika melihat seseorang di kejauhan sana berjalan dengan pakaian yang lusuh. Sebelah tangannya menjuntai, mungkin ia hanya memiliki satu tangan saja. Tak lepas pandangan Nadia dari sosoknya, masih menebak siapa yang di sana.


Ia mendatangi setiap orang meminta sedekah dari mereka. Di tangannya sebuah mangkuk dari batok yang disodorkan pada mereka. Semakin dalam kerutan di dahinya, kala sosok itu semakin mendekat ke tempatnya duduk.


"Kenapa aku seperti mengenalnya? Siapa, ya?" Bergumam pelan pada dirinya sendiri.


"Ada apa, sayang?" Paman Harits memeluknya dari belakang dan mencium pelipisnya. Ia lalu berputar kembali duduk di samping Nadia. Wanita itu belum menjawab, ia masih memandang lekat suaminya yang menyibak sedikit hijab miliknya.


"Dia lahap sekali, apa dia lapar?" ucapnya setelah mengintip Zahira yang sedang menyusu. Nadia mengulas senyum dan mencubit pipi suaminya.


"Dia haus. Zahira itu sudah enam bulan, dia sudah makan MP ASI juga," katanya sekali lagi mencubit pipi laki-laki itu.


Paman Harits membulatkan bibir sambil manggut-manggut. Ia menatap beberapa anak yang sedang bermain di tepi danau sembari melipat kedua tangan di perut.


"Mas!" panggil Nadia ketika teringat sosok yang baru saja mengganggu pikirannya.


"Mmm!" Hanya itu jawaban darinya.


"Itu sudah biasa, sayang," sahutnya tak acuh.


"Bukan itu, Mas, tapi sepertinya dia hanya memiliki satu tangan saja." Menekankan keterangannya.


"Itu juga sudah biasa. Mereka hanya berpura-pura saja. Tangannya disembunyikan di balik pakaian yang dia kenakan." Kedua bahu laki-laki itu terangkat. Sudah biasa dengan pemandangan seperti yang diceritakan oleh istrinya itu.


"Tapi, Mas, aku seperti pernah bertemu dengannya, cuma tidak ingat di mana dan kapan tepatnya?" Nadia bergumam sambil memandang rumput yang diinjaknya. Ia menggigit bibir saat sebuah ingatan melintas sekilas.


"Mbak Bella." Bisikan itu berhasil membuat laki-laki di sampingnya bereaksi. Ia menolehkan kepala di saat mendengar gumaman Nadia. Wanita di sampingnya pula ikut memutar kepala ke arahnya.


"Mbak Bella, wanita yang aku lihat itu mantan istri kamu, Mas. Kenapa keadaannya bisa seperti itu?" Ia terkejut sendiri sesaat berhasil mengingat sosok yang dilihatnya.


"Kami yakin?" Suara paman Harits terdengar sangat dalam. Berkerut dahinya bukan karena bingung, tapi karena tak percaya mantan istrinya itu akan muncul di sini.


"Aku yakin, Mas." Nadia menatap tajam suaminya. Meyakinkan lelaki itu bahwa dia tidak salah dalam melihat. Untuk beberapa saat, pandang kedua bergeming saling terpaku satu sama lain.

__ADS_1


Suara paman Harits tertahan dengan bibir yang menganga sedikit, detik berikutnya ia katupkan di saat mendengar suara seseorang yang meminta sedekah padanya.


"Pak, Bu, sedekahnya buat beli makan." Wajah itu tertunduk. Nadia mendongak dan tertegun, ia menelan saliva saat orang yang mereka bicarakan kini justru berdiri di hadapan menyodorkan mangkuk batok pada mereka.


Paman Harits pun ikut memaku tatapan pada sosok kumel di hadapan. Tak ada ekspresi yang ditampilkan, seandainya orang yang di hadapan memandang, sudah pasti akan membuatnya kocar-kacir sendiri melihat ancaman yang dilayangkan lelaki itu.


Nadia tak banyak bicara, ia melirik mangkuk di tangannya tak ada uang selain beberapa koin saja. Ia merogoh saku tasnya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan lima puluh ribuan. Lalu, meletakkannya di dalam mangkuk tersebut.


Membelalak matanya. Sayangnya dia belum juga sadar siapa mereka. "Terima kasih, Bu. Terima kasih. Terima kasih." Berulang-ulang ia ucapkan kata itu masih dengan wajahnya yang menunduk.


"Mbak Bella? Apa yang terjadi pada Mbak?"


Dagdag ... dugdug ...!


Suara detak jantungnya yang terhantam gada berduri berdegup-degup tak beraturan. Gelisah mulai meraba hatinya di saat mendengar suara Nadia yang lembut bertanya. Sementara lelaki itu masih bergeming menatapnya.


"Mbak, kenapa Mbak jadi begini?" tanya Nadia lagi setelah beberapa saat tak ada jawaban.


Bella bergerak-gerak gelisah. Ia tak menjawab, segera memicu kakinya untuk berlari setelah sadar siapa yang dia mintai uang.


"Mbak!" Paman Harits mencekal tangan Nadia di saat ia hendak bangkit mengejar Bella.


"Biarkan saja!" ucapnya datar.


"Tapi, Mas-"


"Biarkan saja. Mungkin dia sedang menuai apa yang dia tanam dulu. Biarkan saja!" tukas paman Harits dengan lembut.


"Aku benar itu Mbak Bella, tapi kenapa tangannya hanya ada sebelah? Dia tidak terlihat sedang menyembunyikan salah satunya. Apa yang terjadi padanya?" Masih tak percaya pada penglihatannya.


"Ya ... itu juga kemungkinan yang harus dia tuai. Mungkin dia mencuri atau berbuat kesalahan lainnya yang menyebabkan tangannya terpotong. Kita tidak tahu, bukan?" Ia mengangkat bahu tak acuh.


Nadia terdiam beberapa saat sebelum ia menghela napas berat.

__ADS_1


__ADS_2