
Paman Harits memicingkan mata, dua orang tua di hadapannya masih belum beranjak juga. Apa lagi yang ditunggu mereka?
"Kenapa kalian belum beranjak juga? Apa lagi yang kalian tunggu? Bukankah aku sudah berikan cek kepada kalian?"
Paman Harits membuang muka, tangannya mengetuk-ngetuk sofa menahan diri supaya tenang. Hatinya bergolak, ingin ia mencabik laki-laki di depannya yang mengaku sebagai Ayah itu.
"Harits-"
"Berhenti memanggil namaku!" Mata paman Harits merah mengancam, "panggil aku Tuan! Ini rumahku, dan kalian hanya tamu di sini!" tukasnya menghardik mereka berdua. Laki-laki itu terdiam, bibirnya gemetar begitu pun dengan kakinya.
Wanita yang menjadi istrinya pun ikut gemetar. Tekad yang ia kumpulkan dari rumah untuk memeras pelaku pemukulan anaknya itu, menciut dan semakin menciut hingga lenyap.
"Pergi! Dan jangan pernah datang lagi! Apa lagi mengaku-ngaku sebagai keluargaku," usir paman Harits pelan. Kepalanya ikut memberi isyarat kepada mereka.
Kedua orang itu saling memandang sebelum pelan-pelan bangun dari duduknya.
"Setidaknya jenguklah ibumu sebelum dia pergi," pinta laki-laki tua itu, ia menatap putranya yang hilang dengan sedih.
"Apa peduliku?" Paman Harits menjatuhkan punggungnya pada sandaran kursi. Kedua tangannya ia lipat di atas perut sembari melayangkan tatapan tak peduli pada keduanya.
"Ibumu terus memanggil namamu, Nak. Dia ingin bertemu dan meminta maaf padamu." Bergetar terdengar di telinga paman Harits, tapi tetap tak membuat hatinya goyah.
"Apa kalian selama ini peduli padaku? Apa kalian selama ini menyayangiku? Apa kalian memperhatikan aku? Aku yakin saat aku pergi dulu, kalian pastinya berpesta untuk merayakan kepergianku. Pergilah!" Paman Harits membuang wajah. Ia lelah, ditambah kedatangan mereka yang semakin membuatnya penat.
"Dia Ayahmu-"
"Lalu, kamu juga ingin aku memanggilmu Ibu? Haha ... jangan konyol! Kedua orang tuaku sudah mati! Aku tidak pernah memilikinya," sarkas paman Harits menolak. Wanita itu membelalak tak percaya, bibirnya berkedut tanpa kata yang terucap.
"Setidaknya datang dan lihat apa yang kamu lakukan terhadap adikmu itu?" Masih berani berucap, paman Harits berdiri tak lagi dapat menahan emosi yang mencuat ke permukaan.
__ADS_1
"Aku seorang anak tunggal, aku tidak pernah memiliki saudara. Pergi! PERGI!" Paman Harits menuding pintu.
Keduanya tersentak mendengar suara tinggi laki-laki itu. Mereka berbalik tanpa kata dan melangkah secara perlahan. Paman Harits ikut beranjak pergi ke bagian belakang bangunan. Ia masuk ke ruangan itu, dan melampiaskan semuanya. Kemarahan, kekecewaan, kepiluan, penderitaan, semua rasa yang bergejolak dalam hatinya.
Rai, adik satu bapak paman Harits. Dia tahu semuanya tentang Rai. Dia tidak peduli sama sekali.
Mendengar suara ribut dari bagian belakang rumah, Nadia dan kedua adiknya saling memandang bingung.
"Kalian tetap di sini, aku akan memeriksanya!" Ia beranjak meninggalkan kamar. Menutup pintunya dengan pelan. Suara-suara ribut itu masih terdengar. Semakin jelas saat kakinya menapak di lantai satu rumah besar itu.
Nadia terus melangkah mendekati sumber suara keributan. Ia mengumpulkan semua keberaniannya, Nadia melirik sebuah tongkat kayu panjang. Ia memungutnya, menjadikannya senjata saat yang ia temui adalah penjahat.
Bugh!
Suara itu cukup keras terdengar, suara beradu benda. Nadia mengintip dari balik celah pintu yang sempit. Ia membelalak saat mendapati paman Harits yang membenturkan kepalanya pada tembok.
"Apa yang Kakak lakukan? Kenapa menyakiti diri sendiri?" bentak Nadia seraya menarik tangan paman Harits dan membawanya keluar ruangan. Ia mendudukkan laki-laki itu di sebuah bangku yang ada di dapur. Tangannya sigap mencari kotak p3k untuk mengobati luka paman Harits.
Ia juga mengambil air hangat guna membersihkan darah yang masih menempel di permukaan kulitnya. Laki-laki itu menatap kosong ke depan, tak ada air mata, tak ada ekspresi. Datar dan dingin terlihat.
"Kenapa Kakak melukai diri sendiri?" Nadia mulai berceramah bla ... bla ... bla ... sembari membersihkan luka di tangan paman Harits.
Ia berdesis, sontak membuat Nadia berhenti membersihkan luka di tangannya.
"Apakah sakit? Sudah tahu sakit kenapa malah menyakiti diri sendiri?" Nadia menenangkan diri, ia kembali mengambil tangan paman Harits dan terus membersihkan lukanya. Nadia memberikan tetesan obat pada luka paman Harits sebelum membalutnya dengan perban.
"Jangan melakukan kebodohan ini lagi? Kalau ada masalah sebaiknya dibicarakan, bukan malah mencari pelampiasan yang melukai diri sendiri," cerocos Nadia sembari terus melilitkan perban di tangan paman Harits.
Paman Harits tersenyum, ia melihat kecemasan di raut wajah cantik itu. Ah ... ingin rasanya ia mendekap tubuh di depannya. Paman Harits terus menatap wajah Nadia sepanjang ia mengobati lukanya.
__ADS_1
Kekhawatiran Nadia menjadi hiburan tersendiri untuknya. Dia senang melihat wajah itu, wajah penuh cinta menurutnya. Itu artinya Nadia mulai memperhatikan dirinya. Apakah dia telah berhasil meluluhkan hatinya?
Paman Harits terkekeh kecil, ia tak sadar jika Nadia telah selesai mengobati lukanya. Kerutan di dahi wanita itu membentuk kebingungan.
"Kakak? Kenapa malah tertawa?" tanyanya curiga. Ia menjaga jarak dengan laki-laki itu takut jika saja paman Harits sedang kesurupan.
"Nadia! Menikahlah denganku!" Paman Harits memohon. Ia bahkan menjatuhkan diri di lantai bersimpuh di hadapan Nadia. Hal itu sontak saja membuat Nadia terkejut, ia sampai menarik kakinya dan memeluknya erat.
Lagi-lagi paman Harits tertawa. Merasa lucu dengan reaksi yang diberikan Nadia.
"Aku hanya melamarmu! Kenapa kamu ketakutan seperti ini? Aku tidak akan melahapmu, Nadia." Paman Harits tertawa lagi.
Nadia menurunkan bahunya, ia merasa tegang tiba-tiba.
"Tunggu masa iddahku habis, Kak. Tinggal dua bulan lagi," ucap Nadia.
Paman Harist menunduk menyembunyikan senyum lebar yang ia bentuk. Itu artinya Nadia menerima lamarannya, hanya tinggal menunggu waktu dua bulan saja lagi dan dia akan dapat memiliki seutuhnya.
"Kak!" tegur Nadia tatkala melihat punggung paman Harits yang berguncang sedikit. Laki-laki itu mendongak, wajah sumringah tak ia dapat ia tutupi.
"Baik, dua bulan lagi. Aku akan menunggu sampai dua bulan lagi. Dua bulan lagi!" Ia beranjak dan pergi begitu saja meninggalkan Nadia yang melongo menatapnya.
"Dua bulan lagi! Hai ... kalian dengar, dua bulan lagi!" katanya bersenandung riang. Nadia tersenyum sembari menggelengkan kepalanya. Ia menurunkan kakinya, menggigit ujung kuku jari telunjuk sembari tersenyum senang. Entah kenapa, mendengar senandung paman Harits hatinya ikut bahagia.
Nadia pun beranjak meninggalkan dapur. Ia terhenti saat melewati jendela kaca besar, tak sengaja matanya menangkap sosok Ruby yang duduk termenung di taman belakang bangunan tempat tinggalnya itu.
Nadia mendekati jendela, memerhatikan Ruby dari kejauhan. Tangannya memegangi tiang jendela, hatinya sakit melihat anak itu terus murung setiap hari.
"Apa aku telah salah melakukan ini? Tanpa sadar aku mengambil kebahagiaan anak-anak itu. Aku mengaku sebagai Ibu mereka, tapi malah menyakiti mereka. Aku memang jahat! Apa bedanya aku dengan mereka?" gumam Nadia yang hanya didengar oleh telinganya sendiri. Ia beranjak berbalik dan pergi tepat saat Ruby menoleh pada tempatnya berdiri tadi.
__ADS_1