
Di ruangan yang tidak seberapa luas itu, ketiga orang dewasa menemani satu orang anak yang masih terbaring dengan sisa-sisa sakit di tubuhnya. Nadia mengupas sebuah mangga yang dibelinya dan menyuapi anak asuhnya makan.
"Bunda!" bisik anak itu sembari mencondongkan tubuhnya pada Nadia.
"Ada apa, sayang?" Nadia ikut mendekatkan tubuhnya.
"Aku tidak suka wanita itu, dari tadi dia selalu membicarakan Bunda. Lagi pula kenapa pakaian dia seperti itu? Tidak seperti Bunda atau Umi," adunya sembari melirik pada Ain dan Yuni yang sedang berbincang akrab.
Nadia pun menjatuhkan lirikan pada mereka. Benar, Ain begitu akrab dengan Yuni. Mereka berdua bahkan tak segan tertawa sembari membuka lembar demi lembar majalah yang ada di ruangan itu.
Ia tersenyum saat kembali melihat anak itu.
"Jangan pernah berburuk sangka pada orang lain, sayang. Kita baru bertemu dengannya, belum tahu seperti apa dia orangnya. Jangan begitu, ya?" sahut Nadia sembari memberi sapuan lembut pada kepalanya.
Anak itu mengangguk patuh, ia melanjutkan menggambarnya, sesekali memakan buah yang disuapkan Nadia pada mulutnya.
Terdengar suara cekikikan dari arah sofa. Nadia melirik keduanya, entah apa yang sedang ditertawakan dua orang itu. Nadia bersikap tak acuh mencoba untuk tidak mempedulikan suara obrolan mereka berdua soal fashion dan merawat diri.
Ia menggeleng, melihat dari tampilannya Nadia sudah dapat menebak seperti apa kehidupan Yuni.
"Ain, aku pamit, ya. Ada urusan yang harus aku selesaikan," pamit Yuni pada Ain. Ia juga berpamitan pada Nadia yang duduk di dekat ranjang anak asuhnya.
"Kamu tidur, ya. Sudah waktunya tidur siang," ucap Nadia membantu anak itu berbaring di ranjangnya.
Ia mengusap-usap dahi si anak, membacakan sholawat yang dia bisa sebagai pengantar tidur. Tak butuh waktu lama, anak itu pun terlelap. Ain tersenyum memperhatikan Nadia.
"Nad!" panggil Ain dengan dengan ramah seperti biasanya.
"Ada apa, Kak?" Nadia ikut menoleh setelah menyelimuti anak asuhnya.
"Oya, Kak. Bagaimana pembangunan asrama? Apa sudah rampung?" tanya Nadia teringat akan cerita Ain kemarin.
Ain tersenyum masih sehangat dulu.
"Alhamdulillah, sudah. Terima kasih, ya. Berkat kamu pembangunan asrama putra akhirnya rampung dan tidak perlu lagi khawatir soal bangunan yang hampir roboh itu," jawab Ain yang sebenarnya.
__ADS_1
"Alhamdulillah kalau begitu, aku ikut senang dengarnya," sahut Nadia benar-benar dari hati.
"Tapi, Nad. Tidak apa-apa, 'kan, kalau Kakak masih pegang kartunya. Soalnya takut masih diperlukan," ucap Ain lagi meskipun tak enak pada Nadia.
Namun, adik madunya itu justru tersenyum dan mengangguk.
"Iya, pegang saja sama Kakak kalau Kakak masih membutuhkannya, tapi sebaiknya disisakan sedikit karena ada anak yang akan masuk perguruan tinggi tahun besok," sahut Nadia mengingatkan.
"Kamu tenang saja, Kakak juga tahu, kok." Ain ikut tersenyum. Entah apa yang ada dalam hatinya, tidak ada yang tahu.
Nadia menyibukkan diri dengan ponselnya. Membuka laman media sosial miliknya membaca berita apa saja yang sedang hangat diperbincangkan.
"Nad, bagaimana kalau misalnya suami kita itu meminta izin kita untuk menikah lagi?" tanya Ain tiba-tiba. Ia menundukkan kepala sembari memainkan jemarinya.
"Kenapa? Apa Kakak takut kalau mas Ikram mau menikah lagi?" tanya balik Nadia sembari mengulas senyum.
Ain mengernyit mendengar pertanyaan dari Nadia. Dan lihat, senyum menyebalkan itu sungguh mengganggu pikiran Ain.
"Apa kamu tidak merasa sakit hati kalau mas Ikram minta izin kamu menikah lagi?" serang Ain berharap wajah Nadia akan beriak dan senyum itu hilang.
"Untuk apa menyimpan rasa sakit di hati, Kak. Mungkin saja mas Ikram memang membutuhkan yang lain untuk menyempurnakan perasaannya. Bukankah laki-laki itu dibolehkan menikah tiga sampai empat kali selama dia mampu berbuat adil terhadap istri-istrinya? Mungkin aku harus introspeksi diri lagi agar menjadi lebih baik lagi ke depannya," jawab Nadia yang lagi-lagi membuat Ain tertegun.
"Hati akan tetap sakit, Kak. Bibir memang bisa tersenyum untuk menyembunyikan hati yang sebenarnya tersayat, tapi untuk apa menyimpan kesakitan di hati kalau hanya akan mendatangkan dendam yang justru menambah dosa. Lebih baik aku mengalah seandainya aku tidak kuasa menjalaninya," ungkap Nadia kembali dengan senyum yang selalu berhasil mengganggu pikiran Ain.
Nadia memutuskan pandangan dari Ain yang masih menatapnya tak berkedip. Ia membereskan buku dan alat tulis yang tadi digunakan anak asuhnya untuk menggambar. Ia juga merapikan bekas buah yang tadi dikupasnya.
Sementara Ain menatapnya dengan saksama. Ribuan pertanyaan yang membutuhkan jawaban bersarang di hatinya. Tak tahu siapa yang akan memberikan jawaban atas semua pertanyaan itu.
Ain yang gelisah memutuskan untuk pulang dan akan menenangkan hatinya di rumah. Ia ingin berbicara dengan Ikram masalah toko pakaian milik mereka.
Suster datang memeriksa, Nadia menitipkan anak itu padanya. Ia harus membeli makan siang untuknya juga untuk anak itu.
"Nadia?" panggil seseorang di lorong Rumah Sakit.
Nadia yang sedang berjalan di serambi gedung itu pun menoleh ke belakang. Ia tersenyum saat mendapati Rai yang berjalan ke arahnya.
__ADS_1
"Kamu masih rutin datang ke Rumah Sakit?" tanya Rai pada Nadia.
"Iya, tapi sekarang salah satu anak aku sakit dan harus dirawat di sini beberapa hari," jawab Nadia sembari meneruskan langkah menuju ruangan anak tersebut.
"Oh, kukira kamu yang sakit. Bagaimana perkembangan sakit kamu, Nad?" Rai bersimpati pada wanita yang berjalan di sampingnya.
"Begitulah, Rai. Kalau aku mau kembali normal aku harus menemukan orang yang mau membagi ginjalnya denganku, tapi itu sangat sulit. Siapa yang rela memberikan organ tubuhnya pada orang lain. Hanya orang bodoh, Rai," jawab Nadia terdengar putus asa akan penyakit yang dideritanya.
"Sabar, Nad. Kalau sudah jalannya, maka Allah akan mendatangkannya untuk kamu. Jangan pernah berputus asa dari Rahmat Allah yang luas. Aku yakin kamu bisa sembuh, kok. Semangat, ya!" dukung Rai sembari mengepalkan tangan pada Nadia dan melambai ketika ia harus berpisah.
Nadia tersenyum, selalu bersyukur setiap kali bertemu dengan Rai. Laki-laki itu saja bisa meraih kembali semangat dalam hidupnya, kenapa dia tidak?
Bugh!
"Aw!"
"Hati-hati kalau jalan, kenapa tidak lihat-lihat, sih? Bagaimana kalau orang lain yang kamu tabrak?" Sebuah suara membuat Nadia mengulas senyum. Nadia tertegun, ia pasti terjatuh jika tidak ada tangan kekar yang merangkulnya.
Wajah tampan mempesona, senyum yang mematikan. Mata tajam, tapi hangat. Dia berhasil menggetarkan hati Nadia, membuat wanita itu jatuh cinta lagi.
"Mas! Maaf, aku sedikit ceroboh sampai tidak sadar jatuh di pelukan Mas," ucap Nadia sembari mendongak menatap wajah damai milik Ikram. Ia memeluk tubuh suaminya.
Dikecupnya dahi itu dengan gemas.
"Iya, beruntung Mas yang kamu tabrak. Coba kalau orang lain, Mas akan hajar habis-habisan orang itu karena telah berani menyentuh milik Mas," ucap Ikram bersungguh-sungguh.
Nadia yang mendengarnya, mengeratkan pelukan tanpa segan.
"Sejak kapan Mas datang? Kenapa aku tidak tahu?" tanya Nadia yang melanjutkan langkah bersama Ikram.
"Iya, baru saja. Mas tadinya mau langsung ke kamar, tapi tidak jadi karena lihat kamu di sini. Siapa tadi?" sahut Ikram sekaligus menanyakan soal Rai pada Nadia.
"Itu Raihan, teman seperjuangan dulu. Kami tidak sengaja bertemu tadi, Mas," jawab Nadia takut Ikram cemburu.
"Mas tahu, kok, Mas lihat tadi. Jaga Marwah kamu sebagai wanita bersuami, Nadia," pinta Ikram sembari mengeratkan rangkulannya di bahu Nadia.
__ADS_1
"Insya Allah, Mas."
Cinta yang dimiliki Ikram untuk Nadia benar-benar tulus. Kehadiran Nadia membuat Ikram dapat merasakan bagaimana rasanya jatuh cinta.