Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Tamu Tiba-tiba


__ADS_3

Berkali-kali napas panjang dihembuskan wanita cantik yang berdiri di dekat jendela. Hampir setiap hari selama dua bulan ini, ia selalu berdiri di sana. Menanti sang kekasih hati datang dari menimba ilmu agama.


Matanya berubah sayu, sedikit sembab mungkin karena luapan rasa rindu atau rasa takut akan kehilangan. Ia menutup tirai dan beranjak meninggalkan jendela. Dengan langkah gontai dan bahu yang melorot jauh, ia merebahkan diri di sofa kamarnya.


Terus seperti itu setiap hari. Helaan napas kembali terdengar berat dan panjang. Nadia memiringkan tubuh menghadap ke ranjang langsung. Senyum nakal paman Harits membayang di mata.


"Kapan Kakak mau pulang? Ini sudah dua bulan lebih, tapi Kakak belum pulang. Sementara ponsel ... aku tidak bisa menghubungi Kakak," gumam Nadia sembari menyusut cairan bening yang jatuh dari sudut matanya.


Nadia beranjak duduk, ia berdiri dan berjalan mendekati ranjang, kemudian menjatuhkan diri di sana. Tangannya menyambar ponsel, dibukanya layar kunci ponsel dan mencari sebuah foto. Yah ... hanya gambarnya saja yang ia pandangi tatkala rindu mencuat ke permukaan.


Nadia memeluk ponselnya sendiri. Ia tidur meringkuk seperti orang yang kedinginan. Hanya itu yang dilakukan Nadia setiap harinya.


Keesokan harinya, Nadia memutuskan untuk turun. Setelah beberapa waktu hanya menghabiskan waktu dengan mengurung diri di kamar, pada akhirnya Nadia mengalah pada waktu. Ia membawa dirinya untuk duduk di sofa, menunggu anak-anak datang bermain di rumahnya.


Helaan napas kembali terdengar, Nadia menjatuhkan dirinya pada sandaran kursi. Ia letakkan kedua tangannya di atas perut dengan jemari yang saling mengait. Ia jatuhkan kepala hingga menghadap langsung pada langit-langit ruangan berwarna putih.


"Diminum, Non!" Bibi meletakkan segelas jus di meja depan Nadia. Wanita itu menggulir kepala tanpa mengangkatnya.


"Terima kasih, Bi." Ia tersenyum padanya.


"Boleh Bibi bicara?" pinta Bibi dengan sopan.


Nadia mengangguk, ia menepuk kursi di sampingnya meminta Bibi untuk duduk di sana. Bibi duduk dengan tenang, Nadia mengangkat kepalanya bersiap mendengarkan.


"Dulu, Tuan adalah orang yang dingin dan mudah sekali marah walaupun beliau jarang di sini karena harus mengurusi bisnisnya yang di Luar Negri. Bibi adalah orang pertama yang bekerja di rumah ini. Tujuan beliau datang ke sini hanyalah untuk menjalankan amanat dari sahabatnya. Itu yang Bibi tahu."


Bibi memandang Nadia dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Nadia mendengarkan dengan saksama.

__ADS_1


"Bibi tidak pernah menyangka, setelah bertemu dengan Non Nadia, Tuan berubah banyak. Tidak lagi dingin, apa lagi menghardik para pekerja. Mungkin itu sifat sesungguhnya dari Tuan. Non, percayalah pada Tuan. Beliau tidak akan mengecewakan Non Nadia, Bibi sangat mengenal bagaimana sifatnya karena semua masalah beliau adukan kepada Bibi." Bibi menggenggam tangan Nadia dengan lembut.


"Apa yang Bibi tahu tentangnya?" Nadia penasaran.


"Semuanya, tapi Bibi tidak berkewajiban membukanya tanpa izin dari Tuan. Bibi hanya bisa menyimpannya sendiri. Hanya percaya pada Tuan, Non. Jangan pernah mendengarkan kata orang. Tuan tidak pernah mengingkari janjinya," ujarnya sambil tersenyum.


Ia beranjak berdiri, "Bibi pamit ke dapur, Non." Pergi setelah membungkuk di depan Nadia.


Kenapa kata-kata Bibi sama persis seperti yang dikatakan Kak Harits?


Nadia bergumam dalam hati sembari terus menatap punggung Bibi yang menjauh dan hilang di balik pintu ruangan tempatnya bekerja.


Nadia merenung, terpikirkan dalam hati tentang sosok paman Harits yang masih misterius baginya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh rumah. Terasa ada yang kurang dari rumah itu.


"Sejak aku menginjakkan kaki di rumah ini, tak satu pun aku menemukan foto keluarganya. Istri atau anaknya, mungkin. Apa Kak Harits menyembunyikan semuanya?" Ia kembali bergumam.


"Mbak Nadia!" Suara memekik dari Winda membuyarkan lamunannya. Ia menoleh pada Winda dengan kerutan di kening.


"Ada apa, Win? Sepertinya berita penting," tanya Nadia terus memandang Winda hingga ia duduk di sofa yang sama dengannya.


"Sidang Yuni sudah digelar, dia divonis hukuman seumur hidup. Bukan itu yang ingin aku sampaikan, dia dan pengacaranya mengajukan banding dan menyeret mantan madu Mbak ke dalam kasus penjualan anak." Winda menggebu-gebu.


Nadia terhenyak mendengarnya. Ia memandang Winda tak percaya, tapi gadis di depannya itu sungguh meyakinkan.


"Dari mana kamu tahu?" tanyanya curiga.


Winda mengeluarkan ponselnya, sebuah video amatir diputarnya. Sidang Yuni dan putusan dari hakim. Ada Ain dan juga Ikram di sana bersama Ruby sebagai saksi, dan ....

__ADS_1


"Kak Harits? Dia di sana?" pekik Nadia tidak percaya. Winda menganggukkan kepalanya. Paman Harits memberi kesaksian sekaligus membeberkan kejahatan Yuni dengan bukti-bukti yang nyata ditambah kesaksian dari laki-laki yang membantunya.


Entah kenapa, Nadia tersenyum bahagia. Meskipun hanya sebuah video, tapi itu cukup mengobati rindunya. Ia melihat paman Harits duduk di sebelah seseorang yang mengenakan pakaian ustadz. Itu bukan ustadz, tapi seorang Habib. Nadia semakin mengagumi sosoknya. Dia belajar langsung pada orang-orang sholeh yang memiliki kaitan dengan nasab Rasulullah Saw.


"Mungkin karena kasus itu Kak Harits jadi terlambat pulang. Seharusnya, 'kan, beliau sudah pulang," celetuk Winda yang dibenarkan hati Nadia.


"Kamu dapat dari mana video itu?" tanya Nadia kepo.


"Ada, deh ... Mbak Nadia kepo, ya ...?" ledek Winda sembari terkekeh saat Nadia merajuk.


"Aku meminta orang di sana untuk menyaksikan sidang Yuni. Aku hanya ingin tahu bagaimana kelanjutan kisah dari seorang siluman ular itu. Ah ... puas banget, Mbak. Memang harus seperti itu biar jera dan orang akan berpikir ulang untuk mengikuti jejaknya," ujar Winda berkomentar.


"Tunggu, Win! Kalau dia ingin menyeret kak Ain ke dalam kasus perdagangan anak, itu artinya dia dan kak Ain bekerjasama dalam hal itu. Hanya saja, waktu itu kebetulan dia tidak di sana. Jadi tidak ada bukti dan saksi yang menguatkan tuntutannya. Apakah bisa, ya?" Nadia berpikir.


"Iya, Mbak. Kok, dia tega, ya, mau menjual anak-anak asuhnya sendiri demi uang. Ih ... ada orang yang seperti itu, ya?" Winda bergidik ngeri.


"Itu, 'kan, dulu. Sekarang mana tahu dia sudah berubah." Winda manggut-manggut mendengar Nadia. Mereka melanjutkan perbincangan dengan riang sambil menikmati keripik singkong yang dibawa Winda tadi.


Bunyi bel rumah menghentikan obrolan mereka. Keduanya saling pandang dengan bahu yang terangkat. Nadia beranjak menuju pintu diikuti Winda yang mengekor di belakangnya. Ia membukakan pintu rumah itu, seorang wanita dengan usia lanjut dan rambut yang hampir memutih semuanya menerobos masuk ke dalam rumah.


"Harits! Harits! Di mana kamu?" Ia berteriak-teriak memanggil nama paman Harits. Gayanya elegan dan terkesan angkuh. Ia bahkan tidak menyapa Nadia juga Winda.


"Siapa dia?"


******


Hampura sadayana ... aku ketiduran semalam, jadi ga up. Terima kasih sudah membaca. Love you all!

__ADS_1


__ADS_2