Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Bermalam Bersama Anak-anak


__ADS_3

Setelah menimbang rasa di kamar sendirian, Ikram memutuskan untuk menginap di rumah Nadia. Mereka yang berada di rumah itu bahkan seolah lupa pada ketiga anak mereka. Berhari-hari Bilal dan Nafisah menginap di rumah Nadia, Ain sama sekali tidak mencari.


Ikram beranjak dari kasurnya, baru saja akan berdiri sebuah pesan masuk ke ponselnya.


[Assalamu'alaikum, Mas. Maaf, malam ini aku menginap di rumah Mamah karena kondisi Mamah yang kembali memburuk. Anak-anak ada di rumah sendirian. Kalau Mas mau menemani, datang saja ke rumah. Kasihan mereka.]


Sederet pesan dari Nadia sontak membuat Ikram lesu. Ia membanting diri di kasur dengan lelah. Berbaring sejenak menatap langit-langit kamar. Niat hati ingin mendatangi Nadia, tapi apalah daya istri keduanya itu tidak ada di tempat.


Perdebatan masih saja terdengar dari mulut kedua istrinya. Memperebutkan Ikram siapa yang akan bermalam dengannya. Yuni ngotot bahwa dia harus mendapatkan perhatian lebih. Ain pun tak ingin mengalah menggunakan kuasanya sebagai istri pertama.


Ikram korban kedua mulut tanpa rem itu. Ia berdiri dan berjalan keluar rumah menuju rumah Nadia. Menemani anak-anak tidur sepertinya lebih menenangkan.


Ikram membuka pintu yang tidak terkunci, ia terus berjalan masuk tanpa disadari ketiga anaknya yang masih asik menonton televisi. Mereka tenang di sini, dapat tertawa dan bercanda tanpa harus mendengar pertengkaran setiap harinya.


"Ekehm! Apa Abi boleh tidur di sini sama kalian?" Suara Ikram menyentak ketiga anak itu. Mereka kompak mendongak dan menatap bingung laki-laki tinggi besar yang berdiri memandang mereka.


"Abi? Tapi Bunda sedang tidak di tempat. Nenek sakit Bunda menginap di sana," lapor Bilal masih di posisi yang sama berbaring dengan kepala mendongak ke belakang.


Ikram mendekat ikut berbaring di antara mereka. Nafisah dan Bilal menggeser tubuh memberi ruang pada Ikram. Lama tak merasakan pelukan abi mereka, membuat ketiga anak itu menempelkan tubuh mereka pada tubuh ikram.


Termasuk Ruby yang ikut berbaring meskipun tak seperti kedua adiknya.


"Abi tahu, Bunda tadi kirim pesan pada Abi. Apa kalian selalu di sini setiap hari? Apa Bunda kalian tidak bosan kalau kalian di rumahnya setiap hari begini?" tanya Ikram dengan pandangan fokus pada televisi.


Bilal dan Nafisah meringkuk di bawah ketiaknya. Dua anak itu benar-benar merindukan orang tua mereka. Namun, mereka malas ke rumah karena ada Yuni di sana.


"Tidak! Bunda justru senang kalau kami di sini. Bunda selalu membuatkan apa saja yang kami pinta. Bunda juga selalu buat puding sebagai teman menonton," jawab Bilal antusias. Nafisah mengangguk membenarkan.


"Benarkah? Kalau begitu, mana pudingnya? Abi juga mau." Ruby gegas beranjak. Ia mengambil puding yang disiapkan Nadia dari lemari es dan membawanya ke depan televisi. Ketiga orang itu duduk serentak.

__ADS_1


Mereka menikmati camilan yang dibuat Nadia dengan suka cita. Sambil sesekali tertawa riang dan bermanja dengan abi mereka. Momen yang tak pernah lagi merasa rasakan semenjak kehadiran Yuni.


"Apa Nadia selalu merasa bahagia seperti ini?" gumamnya dalam hati. Ia berbaring dengan tenang bersama ketiga anaknya. Tanpa ingin tahu bagaimana keadaan dua istrinya di rumah.


"Mas!"


"Abi! Buka pintunya, biarkan Umi masuk!"


"Tidak, Mas! Aku ingin bermalam denganmu, ini bawaan anakmu, lho."


Ain dan Yuni sama-sama berdiri di depan pintu kamar Ikram. Mengetuk dan memohon pada suami mereka agar membukakan pintu dan mengizinkan mereka bermalam dengannya. Sayang, sampai satu jam berdiri Ikram tak kunjung membukakan pintu untuk mereka. Tidak tahu saja, saat ini suami mereka sedang terlelap di rumah Nadia.


"Ini semua gara-gara kamu, sih. Coba saja kamu tidak serakah harusnya malam ini Ikram tidur denganku," ketus Ain menatap sinis Yuni yang berjalan di sampingnya.


"Lho, seharusnya kamu yang mengalah. Sebagai yang tertua harusnya bisa mengayomi yang lebih muda. Ini bawaan bayiku, dia ingin tidur sama Papahnya. Harusnya kamu mengalah saja tadi, bukannya kehamilan ini yang kamu tunggu. Sekarang malah begitu," sungut Yuni mencebik kesal.


Ia berjalan cepat mendahului Ain dan mendaratkan bokong di atas sofa. Ain pun datang ikut mendudukkan tubuhnya di sofa. Ia melipat tangan di perut, menatap keluar jendela enggan bersitatap dengan Yuni.


Melihat itu, Ain pun cemburu. Ia takut Ikram akan semakin dekat dengan Yuni dan menjauh darinya. Itu tidak boleh terjadi! Bagaimanapun tidak ada yang boleh lebih dekat dengan Ikram selain dirinya.


Wanita itu beranjak tak lupa menyematkan senyum yang membuat hati Ain bergolak. Jika ia tak ingat akan Nadia, sudah dibuangnya wanita itu. Ain mendengus. Kesal karena Ikram mengabaikannya, ia pun beranjak masuk ke kamarnya sendiri.


Pagi di rumah Ikram sudah disuguhkan pemandangan panas dari kedua istrinya. Mereka bergelut di dapur bersama alat masak. Berlomba menarik perhatian Ikram dengan membuatkannya sarapan.


"Abi!"


"Mas!"


Ain dan Yuni saling memandang penuh kebencian manakala suara mereka berdua menggema secara serempak.

__ADS_1


"Kenapa kamu ikut memanggilnya?" ketus Ain tak suka dengan sikap Yuni yang mulai berani sekarang.


"Kenapa? Tentu saja karena aku ingin mengajaknya makan bersama," sahut Yuni dengan sengit. Ia mencibir bersedekap dada memandang remeh Kakak madunya.


"Ingat, Yuni! Siapa yang telah membawa kamu ke rumah ini? Aku! Jangan coba-coba menjadi Nyonya di rumahku! Aku tidak akan segan-segan menendangmu dari rumahku dan Ikram ... aku pastikan dia tidak akan membelamu," ancam Ain dengan pandangan serius yang tak ia tutup-tutupi.


Yuni bergeming mendengar ancaman dari Ain, sebenarnya ia tidak takut sama sekali terhadap ancaman Ain. Yuni hanya menganggapnya sebatas isapan jempol semata. Hanya saja, tujuannya belum berhasil. Ia harus mengalah saat ini.


Keduanya bersitegang memasang badan angkuh. Cukup lama, saling diam dengan pandangan yang terpatri pada masing-masing mata.


Kilatan api menyambar dahsyat dari kedua manik itu hingga tanpa sadar Ikram-lah yang mereka buat pusing ketika memasuki rumah dan mendapat kedua istrinya yang berdiri di meja makan seperti dua orang bermusuhan dan bertemu kembali.


"Mas!"


"Abi!"


"Sarapan!"


Kompak, seirama keduanya kembali melempar pandangan setelah saling melirik. Ikram menggaruk pelipisnya yang tak gatal, ia juga mengernyit tak enak pada keduanya.


"Maaf, ya. Sudah sarapan bareng anak-anak tadi. Ruby yang memasak, enak masakannya juga. Maaf," ucap Ikram seraya melengos pergi meninggalkan dua istri yang seperti musuh bebuyutan itu.


"Terus gimana, dong?" keluh Yuni sembari menatap sepiring nasi goreng lengkap dengan telor mata sapinya.


"Ya ... mau bagaimana lagi? Makan saja sendiri," sahut Ain seraya duduk di depan masakannya dan memakannya.


Yuni cemberut, ikut duduk di samping Ain seraya memakan nasi goreng buatannya. Ikram kembali menghampiri mereka, ia akan bermain bersama anak-anak seharian ini.


"Seperti ini terus supaya suami betah di rumah," seloroh Ikram tanpa berniat menemani kedua istrinya makan. Keduanya mendengus melanjutkan makan meskipun tak berselera.

__ADS_1


Pesantren masih dalam suasana berlibur, Ikram berniat mengajak anaknya untuk pergi ke toko sambil berharap pembeli mulai berdatangan lagi. Bersama Bilal dan Nafisah, ia menaiki sepeda motor bututnya yang sudah lama tak dipakai. Terpaksa karena mobil dijual Ain.


__ADS_2