
Kalau kamu berteman dengan orang yang berakhlak rendah, maka kamu dan temanmu adalah sama.
Jika kamu sudah tidak tahu malu, maka lakukan apa saja yang kamu mau.
"Mbak? Apa tidak apa-apa Mbak sendirian di sini?" tanya Ibu pengasuh tak enak pada Nadia.
Senyum yang mengembang di bibir manis Nadia, terasa ringan di mata setiap orang yang melihatnya.
"Tidak apa-apa, Bu. Lagi pula aku tidak ada kegiatan, Mas Ikram juga mau ke sini menemani," sahut Nadia dengan lugas.
"Alhamdulillah kalau begitu. Ibu bisa tenang karena kasihan kalau anak-anak ditinggal," sahut Ibu pengasuh itu dengan lega.
Nadia memberinya uang untuk ongkos dan membeli keperluan anak-anak yayasan. Ia tak beranjak dari ruangan anak itu karena tidak ada yang menunggunya.
Nadia menguap, rasa lelah menggelayut di seluruh otot tubuhnya. Kantuk pun bermanja di pelupuk mata. Ia yang belum beristirahat seusai melakukan cuci darah, memerlukan waktu sejenak untuk tubuhnya kembali mengumpulkan tenaga.
Nadia menjatuhkan kepala di atas ranjang sang anak. Ia menggenggam tangan kecilnya khawatir saat ia tertidur anak itu bangun.
Ia terlelap hingga tak mendengar suara salam Ikram yang datang. Dengan sebuah tas jinjing di tangan berisi pakaian Nadia dan segala keperluannya, Ikram memasuki ruangan. Ia tersenyum begitu matanya menangkap sosok Nadia yang tertidur sambil duduk.
Ikram mengusap kepala istri keduanya itu, dan mengecup pelipisnya.
"Kamu pasti pegal, Nadia. Biar Mas pindahkan," gumam Ikram seraya meletakan tas yang dibawanya di atas meja. Ia memposisikan kedua tangannya di tubuh Nadia hendak mengangkatnya.
"Eh ...!" pekik Nadia sembari menepis tangan Ikram yang menyentuh pahanya. Matanya membulat seketika saat ia melihat wajah Ikram tepat di depan wajahnya.
"M-mas ...?" panggil Nadia dengan wajahnya yang memerah, "ma-maaf, aku kira orang lain. Apa sakit?" lanjut Nadia sembari memegangi tangan Ikram yang ditepisnya.
"Lumayan, kenapa kuat sekali pukulan kamu. Lihat tangan Mas ini sampai merah," rajuk Ikram sembari menunjukkan tangannya yang sedikit memerah.
Nadia meringis tak enak. Ia memandangi Ikram sembari mengambil tangannya. Meletakannya di dada dan mengusap-usapnya pelan. Nadia tersenyum lebar. Dikecupnya tangan Ikram dengan penuh perasaan.
"Sudah tidak sakit, bukan?" tanyanya mengedipkan mata membuat Ikram gemas sendiri.
"Kamu itu, ya ...!"
"Akh!"
Nadia memekik saat Ikram mengangkat tubuhnya dan memindahkannya ke sofa. Refleks ia melingkarkan tangan di leher suaminya itu.
"Tidur di sini lebih baik dari pada di sana. Badan kamu bisa sakit semua," ucap Ikram sembari mengelus pipi Nadia yang kembali merona.
__ADS_1
Laki-laki penuh pesona itu sungguh tak bosan untuk dilihat.
"Bunda!" Anak itu memanggil Nadia dengan suaranya yang parau.
Nadia memandang Ikram seraya beranjak berdiri dan berjalan mendekati ranjang pasien.
"Ada apa, sayang? Kamu mau minum, atau mau makan?" tanya Nadia sembari memegang tangannya yang masih terasa hangat.
Ikram ikut mendekat dan berdiri di samping Nadia.
"Abi!" panggil anak itu sesaat setelah matanya menangkap sosok Ikram.
"Bagaimana kabar kamu? Sudah lebih baik?" Ikram mengusap kepala anak itu dan mencium ubun-ubunnya.
Ia mengangguk pelan. Suhu tubuhnya sudah turun sejak ia dipindahkan ke ruangan.
"Ini, minum dulu! Setelah itu kamu makan, ya. Bunda suapi," ucap Nadia memberikan segelas air padanya dan menyuapinya makan.
Ikram memperhatikan Nadia yang bersikap layaknya seorang Ibu pada anaknya. Ia tersenyum meletakan tangannya di atas kepala Nadia dan mendoakan istrinya dengan segala kebaikan.
Selalu ada yang berdesir ketika Ikram melakukan hal itu. Seluruh bulu di tubuhnya meremang merasakan aliran yang maha dahsyat hingga memacu detak jantungnya dengan lebih cepat.
Malam datang menggantikan siang, Ikram memutuskan menginap di Rumah Sakit menemani Nadia. Ia sudah memberitahu Ain soal itu.
Ain membanting tubuhnya di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang bernuansa biru muda. Berpikir langkah apa yang akan dia ambil untuk selanjutnya.
"Umi? Aku lapar, Umi di mana?" panggil Nafisah dari luar kamar Ain.
"Ya, Nak. Tunggu!" Ain beranjak keluar dan menghampiri anak bungsunya.
Ia mengajak Nafisah dan Bilal makan malam tanpa Ikram. Pikiran Ain mengelana ke ruangan Rumah Sakit di mana Ikram dan Nadia berada.
Apa yang sedang mereka lakukan di sana?
"Umi, Abi ke mana?" Nafisah bertanya, tapi Ain seolah tak mendengar.
"Abi menemani Bunda di Rumah Sakit. Ada anak yang sakit tadi siang dan dirawat di sana," jawab Bilal setelah beberapa saat menunggu, tapi Ain tidak menjawab pertanyaan anaknya itu.
Nafisah memandang kakaknya, lalu kembali memandang Ain. Uminya itu melamun entah apa yang sedang mengganggu pikirannya. Bilal mengangkat bahu ketika Nafisah melempar pandangan padanya. Keduanya kembali makan tanpa ingin mengganggu lamunan Ain.
Semalaman Ain tak dapat tidur memikirkan Nadia dan Ikram yang menginap bersama di Rumah Sakit hingga sang fajar datang menyingsing, ia baru akan terlelap.
__ADS_1
"Mas, pulang dulu. Ada jam pelajaran pagi ini," pamit Ikram pada Nadia.
"Hati-hati, Mas!" ingat Nadia sembari membenarkan koko yang dikenakan Ikram.
"Iya." Ikram mencium dahi Nadia lama. Lama sekali. Ia menyalurkan rasa cintanya pada wanita itu. Cinta yang baru ia rasakan setelah bertemu dengannya.
Ia juga berpamitan pada anak asuhnya. Jadilah Nadia kembali sendiri menunggu anaknya. Ia membacakan buku cerita untuk anak itu sekedar mengusir rasa bosan. Nadia juga memberinya sebuah buku untuknya belajar saat ia harus pergi membeli sesuatu.
"Assalamu'alaikum!" Ain membuka pintu ruangan, tapi tak mendapati siapa pun selain anak itu. Ia masuk bersama Yuni menjenguk anak asuhnya.
"Wa'alaikumussalaam, Umi!" Senyum anak itu mengembang saat melihat Ain.
"Sayang, apa kabar? Di mana Bunda dan Abi?" tanya Ain seraya duduk di kursi samping ranjangnya.
"Alhamdulillah, sudah lebih baik, Umi. Abi sudah pulang dan Bunda sedang keluar katanya mau beli buah," jawabnya.
Selang beberapa saat, Nadia masuk ke ruangan. Ia tersenyum melihat Ain, tapi mengernyit saat melihat Yuni. Dalam pikirannya ia menerka wanita itu, seolah pernah bertemu dengannya.
"Kak!" Nadia menyalami Ain tak lupa berjabat tangan dengan Yuni. Ia masih belum membuka maskernya membuat Yuni penasaran.
"Ini Yuni, teman Kakak. Tadi tidak sengaja bertemu," ucap Ain memperkenalkan Yuni pada Nadia.
Nadia mengangguk, ia membuka maskernya lalu tersenyum.
"Nadia!" ucapnya dengan sopan. Namun, yang dilakukan Yuni adalah termenung menatap sosok Nadia. Ia sedang mengorek-ngorek isi pikirannya mencari satu sosok yang sama rupanya dengan Nadia.
Yuni terhenyak begitu ia menemukan sebuah memori tentang siapa Nadia.
"Mbak Nadia Almira?" ucapnya terbata.
Nadia memandang Ain dan Yuni dengan kedua ujung alis yang berkedut. Ia tidak menyangka temannya kakak madunya itu tahu nama panjangnya.
"Yah, maaf, tapi apa kita saling mengenal?" Kali ini Ain yang mengernyitkan dahi bingung. Melihat reaksi Yuni yang membelalakkan mata, dan Nadia yang bingung, Ain menebak apakah mereka pernah terlibat masa lalu?
"Kalian saling mengenal?" Ain bertanya bingung. Semakin bingung saat melihat Nadia menggeleng.
"Ah ... aku hanya sedikit terkejut. Senang bisa mengenal Mbak Nadia. Mmm ... boleh saya minta fotonya?"
Nadia memicing tak senang mendengar permintaan Yuni. Ada apa dengan wanita itu? Ain pun sama bingungnya, niatnya hanya ingin memperkenalkan mereka berdua. Nyatanya, ada sesuatu di antara mereka.
Ada rahasia apa pada diri Nadia? Kenapa dia selalu memakai masker dan kacamata hitam setiap kali keluar?
__ADS_1
Yuni berjingkrak riang saat ia berhasil berfoto dengan Nadia. Aneh.