Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Proses yang Panjang


__ADS_3

Di selasar rumah sakit, paman Harits duduk bersama Yoga. Keduanya sedang membahas acara meeting yang akan dilakukan beberapa saat lagi. Sementara di dalam sana, Nadia tengah berjuang melawan sakitnya. 


Pandangan ia edarkan mencari sosok lelaki yang seharusnya ada di sisi. Ke mana gerangan suamiku, ya Allah! Batinnya bergumam lirih. Hanya ada Ibu dan kedua adiknya yang sedia melayani apa yang dia butuhkan. 


Desisan dari bibirnya kembali terdengar, di saat itu pula, Winda dan Rima sigap mengusap punggung Nadia dengan pelan. 


"Mas! Di mana Mas Harits? Aku takut!" rintihnya dengan wajah yang mengernyit kesakitan. 


"Biar Ibu yang panggilkan! Sempat-sempatnya istri mau melahirkan dia pergi!" gerutu Ibu kesal dengan putranya yang tiba-tiba menghilang. 


"Win!" Nadia mencengkeram tangan Winda kala rasa panas yang melilit semakin menguat. 


"Tahan, Mbak! Ibu sedang memanggil suami Mbak," ucap Winda sambil terus mengusap punggung Nadia pelan. 


"Rasanya … sakit sekali," keluh Nadia dengan mata terpejam di saat perutnya kembali menegang. 


"Sabar, Mbak. Mbak harus kuat demi anak Mbak." Rima ikut menyemangati tak henti tangannya mengusap bagian punggung Nadia yang lainnya. 


"Mamah!" Air matanya jatuh. Bayangan Sarah tersenyum padanya, hadir di pelupuk mata. Pelukan hangatnya, ia membutuhkan itu di saat seperti ini. 


"Sabar, Mbak!" 


"Yang kuat, Mbak!" 


Winda dan Rima ikut menegang, dan sungguh keduanya dapat merasakan sakit yang sedang dialami Kakaknya tersebut. Kedua tangan Nadia mencengkeram erat sisi ranjang setiap kali anak dalam kandungannya merangsek mencari jalan. 


Ini sudah setengah hari dari sejak dia dilarikan ke rumah sakit, tapi dokter yang menangani masih saja mengatakan belum saatnya. 


Di luar, paman Harits masih sibuk dengan gawai di tangannya. Sepengalaman dia saat Bella melahirkan dulu, wanita itu bahkan tak peduli pada sosoknya. Tidak merasakan sakit yang lebay seperti halnya Nadia. Seandainya kamu lihat istrimu yang kesakitan di dalam sana, Harits! 


"Harits!" Suara Ibu meninggi saat ia menemukan putra yang dicarinya. Mengernyit dahi laki-laki itu tatkala wajah tegang bercampur marah tergurat di wajah tuanya yang keriput. 


"Ada apa, Bu? Sudah lahir?" tanyanya seolah tanpa dosa. 


Bugh!


Tangan Ibu lihai memukul kepala anaknya, rahang yang mengeras membuktikan Ibu sedang marah besar saat ini. 


"Anak bodoh! Istri sedang kesakitan di dalam sana, kamu malah main hp di sini! Kurang ajar! Cepat pergi! Nadia membutuhkan suaminya. Kalau kamu tidak mau menemaninya, Ibu akan mencarikan suami baru untuknya yang mau menemani dia saat melahirkan seperti ini!" Bentakan Ibu mengandung ancaman. 


Paman Harits meneguk ludah, masih loading. Belum memahami situasi yang ada. 

__ADS_1


"Kenapa masih diam?! Cepat pergi!" Ibu mendorong tubuh anaknya agar cepat beranjak dari tempat duduk. 


"Tunggu, Bu! Bukankah prosesnya cepat, ya? Seperti waktu Bella melahirkan. Sama saja, bukan?" Paman Harits masih berpikir antara Nadia dan Bella pastilah tak jauh berbeda. Bukannya melahirkan itu mudah. 


"Jangan samakan Bella dengan Nadia. Cepatlah! Lihat sendiri perjuangan istrimu untuk melahirkan anakmu itu!" Ibu lagi-lagi mendorong tubuh paman Harits. 


"Lupakan meeting! Atau kamu saja yang menggantikannya!" titah Ibu tak peduli pada anaknya yang protes lewat sorotan matanya. 


Paman Harits berlari menuju ruangan di mana Nadia berada. Langkah kakinya tak surut, entah perasaan apa yang sedang dirasakannya. Degup jantungnya menguat kala mendengar suara Nadia memanggil namanya. 


"Mas! Di mana kamu?" Bersambut dengan suara Winda dan Rima yang menenangkannya. 


"Nadia!" Pintu terbuka dengan kasar. Paman Harits membelalak melihat Nadia yang kesakitan di ranjangnya. Langkah kakinya kembali berpacu ingin segera merengkuh tubuh lemah itu. 


"Mas! Jangan pergi! Di sini saja!" pintanya sambil merentangkan tangan memeluk suaminya, "jangan jauh-jauh dari aku, Mas. Aku takut!" lirih Nadia dalam pelukan hangat suaminya. 


"Maafkan Mas, Nadia. Mas tidak tahu kalau kamu akan kesakitan seperti ini. Maafkan Mas." Berulang-ulang laki-laki itu mengucapkan kata maaf sambil mempererat pelukannya. 


Nadia terdiam, ia kembali tenang setelah suaminya ada bersamanya. Mereka mengurai pelukan, tangan laki-laki itu masih melingkari pinggangnya. Sebelah tangannya terangkat mengusap pipi sang istri yang berkeringat. 


"Di mana yang sakit?" Bertanya dengan nada penuh penyesalan. Nadia menggelengkan kepala, ia meminta sang suami untuk duduk di dekatnya. Paman Harits menurut, duduk sambil memeluk Nadia dan menciumi pucuk kepalanya. 


Wanita yang sedang berjuang untuk melahirkan secara normal itu, menjatuhkan kepala di dada lelaki yang sejak tadi dicarinya. Merasakan sentuhan hangatnya yang menenangkan jiwa. 


Namun, yang dialami Nadia sungguh berbeda. Ia kira, akan sama. Ternyata, Nadia memerlukan sosoknya untuk menemani perjuangannya. Dia benar-benar berjuang. 


"Sakit, Mas. Di sini! Diusap-usap, Mas!" Nadia menunjuk pinggangnya yang terasa memanas. Sigap paman Harits menggeser tangan, mengusap bagian yang ditunjuk Nadia. 


"Seperti ini?" 


"Agak keras, Mas!" 


Nadia menggigit bibir. Matanya terpejam erat, tak tega paman Harits melihatnya. 


"Mamah!" Suara bergetar dari bibir istrinya itu membuatnya kalang kabut. Air mata Nadia bercampur dengan peluh yang tak henti mengucur. 


"Apa sangat sakit?" Paman Harits ikut menangis. Memeluk tubuh Nadia lagi setelah ia kembali tenang. Nadia mengangguk dalam pelukan. Tak tega sekali melihatnya kesakitan seperti sekarang. 


"Mau operasi saja? Mas tidak bisa melihat kamu kesakitan seperti ini, sayang," ucap paman Harits sambil mengusap kepala Nadia dan menciumnya. Rambut yang berada di dalam hijab, beberapa helai menyembul keluar. 


"Tidak apa-apa, Mas. Ini proses, bila waktunya keluar nanti tidak akan sakit lagi." Nadia tersenyum saat mengangkat pandangan memandangi wajah tampan suaminya. Sayang, wajah itu kini nampak tegang dan panik. 

__ADS_1


"Kamu yakin kamu kuat? Katakan saja kalau kamu tidak kuat!" pintanya mengecup kedua pipi Nadia yang masih terangkat menatapnya. 


"Aku kuat, Mas. Aku harus kuat!" Nadia mencengkeram kemeja suaminya saat rasa itu kembali menyerang. 


"Jangan pergi, Mas! Aku butuh suamiku. Aku butuh Mas di sini!" Nadia melenguh sedikit kuat ketika rasa sakit yang dibarengi panas yang menjalar itu menyentak segala rasa dalam dirinya. Meruntuhkan seluruh sendi dalam tubuhnya, serasa semua otot di dalam sana rontok seperti daun kering yang berguguran.


Pintu terbuka dan menampakkan dokter wanita yang menangani Nadia masuk sambil mengulas senyum di bibir. 


"Dokter, apa masih lama waktunya?" Paman Harits menyerbu, ia tak beranjak dari tempatnya duduk memeluk Nadia.


"Kita lihat dulu, ya." Dokter itu melirik jam yang menggantung di dinding. Ia meminta paman Harits untuk berdiri dan membaringkan Nadia. 


"Apa yang akan Anda lakukan?" bentak paman Harits panik saat melihat dokter itu mengenakan sarung tangannya dan melebarkan kedua kaki Nadia. 


"Saya hanya akan memeriksa jalan bukaan, Tuan. Tolong tenang!" pintanya. Nadia mengangguk saat lirikan suaminya terjatuh padanya. 


Dokter memeriksa jalan lahir, ia mengangguk. Lalu, mengintruksikan pada suster yang ikut bersamanya untuk menyiapkan semua kebutuhan persalinan. 


"Mari, Tuan! Kita pindahkan Nyonya ke ranjang bersalin," katanya sambil menunjuk sebuah ranjang yang dirancang khusus untuk persalinan. Paman Harits menurut, ia memindahkan Nadia sesuai arahan. 


Tirai ditutup, hanya ada paman Harits di dalam yang menemaninya. Tegang, panik, melihat seringnya Nadia meringis. Tak henti menciumi kepala istrinya dengan air mata yang terus mengalir. 


"Tenang, Tuan. Jangan menangis!" Dokter terkekeh karenanya. Ia menggelengkan kepala sambil melebarkan kedua kaki Nadia. 


"Saat saya bilang dorong, maka Anda harus mengedan, Nyonya. Saat saya bilang stop, Anda harus berhenti dan menarik napas dalam-dalam. Anda mengerti?" Nadia mengangguk setelah dokter memberi arahan. Paman Harits semakin tegang. Diusapnya keringat di dahi Nadia dengan ujung kemeja yang ia kenakan.


"Jangan pejamkan mata Anda, Nyonya. Tetap buka mata Anda selama proses persalinan!" pintanya lagi. 


"Dokter!" Ketuban pecah, dokter menganggukkan kepala setelah melihatnya. 


Mereka tak sadar, laki-laki di kepala Nadia termangu saat suara pecah sesuatu tertangkap indera rungunya. 


Instruksi pun dimulai. Paman Harits tersadar manakala suara mengedan Nadia mulai terdengar. Sesuai yang diajarkan Bibi, ia membaca kalimat tauhid di ubun-ubun istrinya sambil terus meniupi ubun-ubun tersebut. Katanya, hal itu bisa mempermudah kelahiran. 


"Tetap terjaga, Nyonya!" Paman Harits terkejut. 


"Dengarkan Dokter, sayang! Kamu kuat! Lihat, sebentar lagi! Kamu kuat, istriku!" Paman Harits mencium kepala Nadia.


Napas wanita itu hampir habis, tapi si jabang bayi masih berada di dalam tempatnya. 


"Aku tidak kuat, Mas!" 

__ADS_1


"Jangan! Kamu kuat, sayang! Kuat!" Paman Harits menangis histeris, mendekap kepala istrinya sambil terus membacakan kalimat-kalimat thoyibah untuk menguatkan wanita itu yang nampak tak berdaya itu. 


"Nyonya!" 


__ADS_2