
Setelah malam panjang itu, Nadia tidak serta merta terpuruk. Hatinya memang sakit, tapi ia tak ingin menyakitinya lebih dalam lagi. Kini ia tahu bagaimana sakitnya saat suami meminta izin menikah lagi. Ia-nya yang tak sempurna saja merasakan perih yang menyayat hati, apatah lagi Ain yang notabene telah melahirkan tiga orang anak untuk Ikram.
Hampir satu malam penuh, Nadia merenungi nasib dirinya. Ia perlu membicarakan ini pada Sarah. Nadia perlu dukungan untuk keputusan yang akan ia ambil. Demi menghilangkan kegundahan hatinya, Nadia bersama anak-anak di yayasan membuat kerajinan tangan menambah koleksi yang telah ada.
Ain yang tak sengaja melihat mencibirkan bibir kesal. Kenapa Nadia tidak murung seperti dirinya di kala Ikram meminta izin untuk menikah lagi? Kebencian dalam dirinya semakin mendarah daging.
"Sebenarnya terbuat dari apa hati wanita itu. Apakah dari batu? Kenapa dia tidak terlihat sedih setelah pembicaraan semalam itu?" gumam Ain seorang diri.
Ia tak senang melihat Nadia yang masih saja tersenyum setelah melewati perbincangan semalam. Seharusnya Nadia terpuruk, mengurung diri di rumah, menangis seharian, bukan malah tertawa bersama anak-anak itu. Begitu yang ada dalam pikiran Ain.
Lagi-lagi senyum dan suara tawa Nadia sangat mengganggu pikiran Ain. Ia harus berhasil membuat Ikram menikahi Yuni.
"Pokoknya harus!" tekadnya. Tujuannya hanya satu, ia ingin melihat Nadia terpuruk dan bersedih sepanjang hari. Bukan tersenyum dan tertawa seperti saat ini. Bukan!
Ia meninggalkan serambi masjid dan masuk ke rumahnya. Ke toko pun percuma. Setelah beberapa hari ramai dan kewalahan melayani pembeli, kini toko kembali sepi. Ia kesal, masalah toko yang pemasukannya hanya sedikit ditambah Nadia dengan senyumnya yang menjengkelkan.
"Ah ... bukannya Nadia memberiku ATM? Aku pakai sedikit tidak apa-apa, bukan? Isinya lumayan banyak dari pada milik pondok," gumamnya saat teringat akan kartu yang diberikan Nadia padanya.
Ia beranjak berdiri, menyambar tas, dan bergegas keluar. Tidak pamit lagi pada Ikram juga anak-anak yang belum pulang sekolah.
"Aku ingin membeli baju seperti yang Nadia pakai. Di mana dia membelinya, ya?" gumamnya sembari berpikir di mana Nadia membeli baju-baju miliknya.
Ain menghentikan ojek yang ditumpanginya, ia berdiri di depan sebuah gedung bertingkat dua bertuliskan 'Boetik Naira' pada papan nama di bagian tengah gedung tersebut.
Ain melangkah santai memasukinya. Memeriksa pakaian-pakaian di butik itu yang cukup fantastis harganya. Ia tertegun demi melihat deretan angka yang tertera pada setiap label.
"Mahal sekali harga satuannya," celetuknya melepaskan kembali gamis dari tangannya.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu, Bu?" sapa karyawan butik dengan sopan.
"Ah ... saya cari gamis yang polos, tapi elegan. Ada?" tanya Ain padanya.
"Oh ... ini!" Karyawan itu memberikan tiga buah gamis pada Ain. Benar itu persis dengan yang digunakan Nadia.
Apakah dia membeli baju-bajunya di sini. Keterlaluan, pakaiannya saja semahal itu? Pantas saja dia selalu tampil elegan.
Begitulah ... demi menghibur hatinya yang gundah gulana, ia meminjam uang anak-anak untuk membeli beberapa gamis.
Hanya meminjam, nanti aku ganti.
Ikram mendesah pasrah saat pulang ke rumah ia tak mendapati Ain. Anak-anak pun tidak ada. Sudah pasti mereka di yayasan. Ke mana lagi?
Ikram menjatuhkan tubuhnya yang lelah di sofa. Mengusap wajah menghilangkan kepenatan yang mendera tubuhnya.
*****
"Bagaimana, Bi? Bukannya Nadia sudah mengatakan persetujuannya semalam?" tanya Ain saat malam tiba. Ia menggunakan kesempatan untuk berbicara dengan Ikram. Duduk di kursi rias melakukan perawatan wajah seperti biasa.
"Abi tetap tidak mau, Mi," ucap Ikram benar-benar teguh pada keputusannya.
"Kenapa, Bi? Apa begitu besar cinta Abi pada Nadia? Sampai-sampai Abi tidak bisa memenuhi permintaan Umi ini. Ayolah, Bi. Nadia saja bisa Abi nikahi, apalagi dia yang hanya seorang janda dan tak mampu membiayai hidupnya sendiri. Itu lebih bermanfaat untuk Abi dari pada Nadia," ucap Ain lagi semakin gencar merayu Ikram. Ia berbalik menatap Ikram yang berbaring di kasur.
"Sudahlah, Mi. Abi sudah merasa cukup dengan memiliki dua istri saja," sahut Ikram lagi sembari menutup matanya dengan tangan.
"Tidak bisa, Bi. Umi mau Abi menikahi dia. Hanya menikahi saja supaya hidupnya terangkat dan kebutuhannya terpenuhi. Itu saja, Bi!" tekan Ain terkesan memaksa Ikram. Ia memandang keras laki-laki di kasur itu.
__ADS_1
Ikram membuka tangan, memandang Ain dengan mata sayu tak bersemangat.
"Mi, Abi tahu kondisi keuangan kita sedang carut marut. Toko sepi, pemasukan semakin sedikit. Kita bahkan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan anak-anak di yayasan. Kalau saja tidak ada Nadia yang membantu, kita sudah ketar-ketir mencari uang untuk memenuhi kebutuhan mereka semua-"
"Belum lagi Ruby akan lulus kelas Aliyah. Abi ingin anak sulung kita itu melanjutkan pendidikannya hingga perguruan tinggi. Bisa mengejar cita-cita yang diinginkannya tanpa tekanan dari kita," ungkap Ikram mengatakan kegelisahan yang selama ini dipendamnya. Ain mendengus.
"Abi ini seperti yang tidak punya Tuhan saja. Setiap istri itu membawa rezeki, sama seperti seorang anak. Mungkin memang rezeki kita sekarang sedang susah, tapi tidak menutup kemungkinan setelah Abi menikahinya Allah akan melapangkan rezeki Abi ke depannya. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa hadapan. Lagi pula Nadia tidak keberatan sama sekali, toh, tujuan Abi itu baik menolong seorang janda yang kesulitan. Itu perbuatan mulia, Bi. Jangan disia-siakan, Umi sudah rela dan Nadia pun rela. Jadi, apa lagi!" lanjut Ain lagi tidak menyerah membujuk Ikram supaya mau menuruti keinginannya untuk menikah lagi.
Ikram mendesah, tidak tahu lagi harus seperti apa menghadapi Ain. Marah, bukan solusi yang tepat untuk saat ini. Apakah dia harus menyerah saja dan menuruti keinginan istri pertamanya itu?
Allahu ... apa yang harus aku lakukan? Kenapa semuanya jadi begini? Tidak sesuai dengan apa yang aku harapkan.
Ikram tidak habis pikir kenapa Ain begitu memaksa dirinya untuk menikah lagi. Namun, yang lebih membuatnya bingung sikap pasrah Nadia pada keputusan yang diambilnya. Ikram dilema. Istri pertama memaksa untuk menikah, istri kedua pasrah.
"Abi ... bagaimana? Kalau Abi setuju, nanti kita sama-sama ke rumahnya untuk lamaran," tanya Ain lagi begitu antusias.
Ikram mendengus, ia berbalik memunggungi Ain tanpa menjawab ajakannya. Kesal dan marah meluap-luap dalam hatinya.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Ikram.
[Menikahlah, Mas! Mungkin dia bisa menambahkan keturunan Mas. Aku bukanlah wanita sempurna, sampai saat ini pun aku tak kunjung dapat hamil. Menikahlah dengannya, Mas!]
Sebuah pesan singkat yang dikirimkan Nadia seolah tahu bahwa ia sedang berdebat masalah ini dengan Ain. Hatinya berdenyut nyeri tatkala membaca satu pesan itu. Ia menangis tanpa suara. Mendekap ponselnya di dada.
Nadia ... begitu besarnya hatimu!
__ADS_1