Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Membantu Ikram


__ADS_3

Beberapa hari terlewati, Nadia kembali ke rumah. Ia telah mempersiapkan berkas kedua anaknya yang akan masuk ke perguruan tinggi. Nadia tersenyum begitu melihat semua anak-anaknya sedang membuat kerajinan dipimpin dua anak itu dan Ruby.


"Assalamu'alaikum, kesayangan Bunda!" sapa Nadia dengan ceria.


"Wa'alaikumussalaam, Bunda!" Serempak mereka berhambur memeluk Nadia. Diikuti ketiga anak yang beranjak dewasa menyalaminya secara bergantian.


"Ini bagikan!" Nadia memberikan bungkusan kepada mereka. Berisi camilan dan minuman untuk menemani semua anaknya.


Ia menyapa Ibu yang turut menemani anak-anaknya. Memberikan bungkusan lainnya pada wanita paruh baya itu.


"Besok, Bunda akan mengajak kalian mendaftar kuliah. Bunda sudah pilihkan fakultas yang cocok untuk kalian. Ini, pilihlah lagi ke jurusan apa yang kalian inginkan," ucap Nadia sembari menyodorkan dua buah brosur kepada mereka.


"Ruby, sudah persiapan masuk kuliah?" tanya Nadia melirik Ruby yang ikut membaca brosur tersebut.


"Belum tahu, Bun. Aku mau mengabdi dulu satu tahun di pondok. Mengajar. Setelah itu baru memutuskan untuk kuliah," jawab Ruby dengan pasti.


Nadia tersenyum mengerti, apa pun pilihan mereka semoga semua bisa bermanfaat untuk masa depan mereka sendiri.


"Bilal dan Nafisah ke mana? Mau Bunda ajak ke pasar belanja keperluan rumah," ucap Nadia mencari kedua anak itu.


"Mereka selalu ikut Abi ke toko, Bun. Setiap hari," jawab Ruby lagi memberitahu.


Nadia pamit, ia akan ke pasar membeli keperluan dapur yayasan dan juga rumahnya. Di luar Winda sudah menunggu. Kali ini Nadia selalu pergi bersama sekretarisnya itu, permintaan dari Sarah.


"Bagaimana keadaan mamah kamu!" Suara Ain membuat langkah Nadia yang hendak menuju gerbang terhenti. Ia menoleh dan mendapati kakak madunya yang berjalan mendekat.


Nadia tak pernah lupa menyalaminya.


"Alhamdulillah, sudah pulih kembali. Terima kasih atas doanya, Kak," jawab Nadia penuh syukur.


Ain menganggukkan kepala ikut bersyukur dalam hati.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana?" tanyanya lagi setelah memindai tampilan Nadia yang biasa saja.


"Mau beli keperluan rumah, apa mau sekalian aku belikan? Di rumah Kakak masih ada stok sayuran atau apa, begiitu?" tawar Nadia tetap berbaik hati pada orang yang menyakitinya.


Ain berpikir, di rumahnya tak ada apa pun lagi untuk dimasak. Uang yang diberikan Ikram pun sudah mulai menipis. Sampai saat ini ia belum menjalankan rencananya meminta harga miring dari pabrik Nadia karena stok di toko masih menumpuk.


"Mmm ... boleh deh, tapi pakai uang kamu dulu, ya. Soalnya Kakak ada keperluan," katanya setelah berpikir cukup lama. Nadia hanya mengangguk lantas berbalik menuju mobilnya yang terparkir di luar gerbang.


"Enak sekali jadi Nadia. Punya mobil mewah, ada asisten yang siap melayani, aku pun mau seperti dia," gumam Ain menatap iri pada Nadia yang dilayani Winda.


"Iya, aku juga mau. Kapan, ya, kita bisa seperti dia?" sambar Yuni yang tiba-tiba sudah berdiri di dekatnya.


Ain mendengus, ia masih kesal dengan Yuni yang ingin menguasai Ikram. Yuni tak acuh, ia ikut berbalik meninggalkan halaman sambil mengangkat bahu.


Nadia ditemani Winda membeli semua keperluan rumah tangga yang dibutuhkan yayasan juga dapurnya dan Ain meskipun tak banyak, tapi cukup untuk memenuhi makan satu keluarga dalam waktu seminggu.


"Abi? Bukannya itu Bunda?" tunjuk Nafisah pada sosok Nadia yang sedang memilih buah di seberang toko bajunya. Ikram menyipitkan mata memperjelas penglihatannya.


"Benar," sahutnya ragu.


"Nafisah, awas!" teriak Ikram saat sebuah sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi.


Di saat bersamaan Nadia melihat Nafisah, ia berlari sesaat berbarengan dengan Ikram yang juga berlari sambil berteriak. Nadia menarik tangan anak itu dan mendekapnya tepat saat motor yang dikendarai anak muda tadi melintas di bekasnya berdiri.


Brugh!


Suara benda jatuh mengalihkan semua perhatian. Sepeda motor itu menabrak sebuah tiang listrik, beruntung ia tidak cedera. Mungkin karena ingin menghindari Nafisah ia jadi tak seimbang menjalankan laju sepeda motornya. Ia pun ditolong warga.


Ikram yang terkejut, berdiri di tempatnya dengan frustasi. Ia baru bernapas lega setelah melihat Nadia memeluk anaknya. Ia menuntun Nafisah mendekati abinya. Ikram membawanya ke dalam gendongan dan menggandeng tangan Nadia menuju tokonya.


"Minum, sayang. Kamu pasti kaget." Nadia memberikan sebotol air mineral pada Nafisah. Ia juga membantu meminumnya sampai tubuh anak itu berhenti menggigil.

__ADS_1


Ia membenamkan wajah di perut Nadia mendekapnya erat. Nadia menenangkannya dengan mengusap-usap punggung Nafisah hingga tertidur.


"Bagaimana keadaan Mamah?" tanya Ikram, ia memandangi Nadia yang dengan sabar menenangkan Nafisah.


"Alhamdulillah, sudah pulih, Mas. Ini toko Mas? Apa memang selalu sepi seperti ini, ya?" tanya Nadia mengedarkan pandangan ke seluruh toko pakaian milik Ikram.


"Yah ... lagi sepi," jawabnya lesu.


"Baju-baju di sini sudah stok lama. Seharusnya sudah diganti untuk menarik pembeli. Yang lama ini Mas kasih diskon saja ... diobral," ucap Nadia setelah meneliti setiap pakaian yang ada.


"Iya, Mas belum punya uang. Karyawan di sini juga Mas liburkan dulu karena tidak ada pemasukan," keluh Ikram lagi.


"Ya sudah, begini ... ini mumpung masih pagi Mas pinta karyawan Mas itu untuk datang ke sini. Aku akan mengajari mereka cara berjualan yang bisa menarik perhatian pembeli. Untuk semua pakaian di sini, Mas kasih harga diskon. Hitung-hitung mengumpulkan modal kembali untuk membeli pakaian model baru. Mas mengerti, bukan?" pinta Nadia.


Ikram semakin mengangumi sosoknya, tak hanya cantik dan baik, ia juga cerdas dan dapat diandalkan. Hari itu, Nadia membantu Ikram di tokonya menarik pada pembeli setelah meminta Winda pulang lebih dulu mengantarkan belanjaan.


Dibantu Winda yang kembali lagi ke pasar, hari itu toko Ikram akhirnya mendapat pemasukan. Pakaian stok lamanya lumayan terjual banyak. Uang itu akan digunakan Ikram sebagai modal lagi.


"Terima kasih, atas kerja keras kalian hari ini. Semangat!" ucap Nadia sembari mengepalkan tangan ke udara usai menutup toko.


"Semangat!" sambut dua orang karyawan Ikram yang langsung datang ke toko begitu Ikram menelpon mereka.


"Alhamdulillah, toko jadi punya pemasukan lagi. Semua karena bantuan dari kalian," ucap Ikram terharu. Matanya bahkan berkaca-kaca ingin menangis.


"Tidak apa-apa, Mas. Semua ini sudah jalannya dari Allah. Kita hanya harus bersyukur agar rezeki kita selalu ditambah," tutur Nadia pelan.


Mereka sedang berada di dalam mobil menuju rumah. Bilal duduk di bangku samping kemudi bersama Winda yang bertindak sebagai supir. Ikram, Nadia dan Nafisah duduk di kursi bagian tengah.


Mata Ain tertuju pada mobil Nadia yang memasuki gerbang. Ia membulatkan bola mata saat Ikram pun turun dari mobil tersebut. Nadia bahkan menggendong Nafisah mendekati uminya. Namun, anak itu tidak ingin melepas pelukannya dari Nadia.


"Maaf, Kak. Biar Nafisah aku bawa ke rumah saja. Nanti setelah pulih aku akan membawanya pulang," ucap Nadia seraya pergi bersama Nafisah dan Bilal.

__ADS_1


"Enak, ya, jalan-jalan. Tidak ingat sama bini muda yang sedang hamil," singgung Ain dengan pandangan curiga pada Ikram.


Laki-laki itu mendengus sembari mengibaskan tangan. Ia tak ingin menanggapi celotehan Ain yang menurutnya hanya di dasari rasa semburu saja. Ia masuk ke kamar membanting diri di atas kasur sambil membayangkan sosok Nadia yang begitu mempesona saat di toko tadi.


__ADS_2