Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Apakah Ini Hukuman?


__ADS_3

Sebulan telah berlalu, dan selama itu pula Ikram belum menampakkan batang hidung belangnya di rumah Nadia. Sudah tiga malam terlewati yang seharusnya ia menghabiskan waktu bersama suami, tapi laki-laki itu tak kunjung datang.


Malam itu, ia berdiri di balik jendela depan rumahnya. Menatap langsung ke masjid di mana semua penghuni pondok akan berhamburan keluar untuk kembali ke tempat masing-masing.


Ia masih dapat melihat dengan jelas meskipun jaraknya agak jauh, tidak seperti rumah yang ditempati Ain yang lebih dekat dengan masjid. Dengan hati yang merindu, Nadia menatap pintu masjid. Dari sanalah Ikram akan muncul, berharap malam ini ia akan datang ke rumahnya untuk menunaikan nafkah batin pada Nadia sebagai istri keduanya.


Satu per satu mereka mulai bermunculan, ia semakin mendekati jendela untuk mempertegas penglihatannya. Tangan kanannya mencengkeram tiang tingkap dengan erat. Harap-harap cemas menanti Ikram keluar.


"Semoga malam ini, Mas Ikram ingat akan kewajibannya," gumamnya lirih. Ia mengigit bibir bawahnya menahan gugup dan gelisah yang melanda. Besok adalah jadwal untuknya melakukan cuci darah.


Nadia termangu dengan mata berkaca-kaca saat melihat Ikram yang berjalan keluar masjid bersama Ain bergandengan tangan. Mereka tertawa bersama dan terlihat bahagia. Ikram bahkan tak melirik ke arah rumahnya.


Apa Mas Ikram lupa di sini masih ada istrinya yang lain menunggu kedatangannya?


Nadia menutup tirai, berbalik dan bersandar pada tembok menahan perih di hatinya. Ia memejamkan mata, setetes air jatuh membasahi pipinya.


Mungkin ini hukuman dari Mas Ikram karena aku telah pergi tanpa izinnya.


Dengan sebak di dada, ia memutuskan untuk ke kamar mungkin di alam mimpi sana ia bisa melupakan sejenak rasa yang menyengit dalam dada.


Namun, beberapa langkah kakinya mengayun ketukan di pintu berhasil menerbitkan senyumnya dan menabur bunga di hatinya.


"Bunda, assalamu'alaikum! Bunda!" Mendengar suara itu, hatinya kembali mencelos nyeri. Dia kira Ikram yang datang, nyatanya itu adalah salah satu anak dari yayasan.


"Wa'alaikumussalaam!" Dengan lunglai ia kembali mendekati pintu dan membukanya. Mata Nadia membulat seketika saat melihat salah satu anak yang diasuhnya berdiri di depan rumah sambil menangis.


"Lho, sayang, ada apa? Kenapa malam-malam begini kamu keluar. Seharusnya kamu itu sudah tidur bukan keluyuran begini," ucap Nadia sembari berjongkok di depannya. Diusapnya kedua lengan anak itu dengan lembut.


"Bunda ...," Ia berhambur memeluk Nadia. Menangis semakin menjadi dalam pelukannya.


"Cup ... cup ... jangan menangis lagi! Bilang sama Bunda siapa yang menjahili kamu?" kata Nadia sembari mengusap-usap punggung anak itu yang berguncang.

__ADS_1


Ia menggeleng kedua tangannya yang melingkar di leher Nadia, semakin erat terasa. Nadia dapat merasakan ketakutan dalam dirinya.


Ia menggendong anak seusia Bilal itu memasuki rumah. Menutup dan mengunci rumah lalu membawanya ke kamar. Mereka berbaring berdua, anak itu bahkan memeluk Nadia seperti ia memeluk seorang Ibu. Dengan sabar Nadia menenangkan sambil mengusap punggungnya.


Perlahan tangisnya mereda, ia mendongakkan kepala menatap wajah Nadia yang berada di atasnya. Tangan mungilnya terangkat dan ditempelkannya di pipi wanita itu. Nadia tersenyum. Diusap-usapnya pipi Nadia sambil menelisik setiap lekuk wajah wanita yang sudah ia anggap ibunya itu. Seolah-olah ia akan kehilangan sosoknya untuk selamanya.


Nadia mengusap rambutnya, mengecup dahinya, sambil terus tersenyum menenangkannya.


"Ada apa? Apa kamu bermimpi?" tanya Nadia dengan lembut.


"Bunda! Bunda tidak akan meninggalkan kami, 'kan? Bunda akan selalu bersama kami, 'kan?" tanyanya lirih dan bergetar.


Nadia terhenyak mendengarnya.


"Tentu saja, sayang. Kalian anak-anak Bunda, tidak mungkin Bunda pergi meninggalkan kalian," jawab Nadia terus tersenyum karena wajah anak itu masih terlihat cemas.


"Tapi aku berkali-kali bermimpi Bunda sakit dan akan meninggalkan kami. Bunda ... jangan pergi! Jangan meninggalkan kami!" katanya sembari membenamkan wajah di dada Nadia.


"Bunda jangan pergi! Bunda jangan tinggalkan kami!" pintanya lagi kembali menangis dalam pelukan wanita yang keibuan itu.


Nadia tersadar, ia kembali mengusap rambut anak itu dan balas memeluknya. Menciumi kepala anak itu dengan hati yang perih.


Bunda tidak tahu sampai kapan Bunda akan menemani kalian. Satu yang Bunda inginkan, kalian hidup dengan layak dan bahagia. Tak ada lagi harapan selain melihat kalian tersenyum. Anak-anakku!


Perih tak terperi saat bayangan Malaikat Izrail datang mencabut nyawanya, sedang anak-anak yang diasuhnya masih sangat membutuhkan pelukannya. Nadia meneteskan air mata, tapi diusapnya dengan cepat.


"Bunda-"


"Ya, sayang. Bunda akan tetap bersama kalian. Sekarang, kamu harus tidur karena sudah larut," pinta Nadia. Pelukan anak itu sungguh membuatnya dapat merasakan menjadi seorang Ibu.


Seperti inikah rasanya saat kita memiliki seorang anak? Terima kasih, ya Allah. Aku dihadirkan di antara mereka. Mereka anak-anakku.

__ADS_1


Nadia ikut memejamkan mata. Tak peduli lagi pada Ikram yang tak datang berkunjung ke rumahnya. Kehadiran anak itu membuat Nadia sadar ada yang lebih membutuhkannya dan dia juga membutuhkannya dari sekedar nafkah batin Ikram.


Keduanya terlelap hingga fajar datang menyingsing. Nadia dan anak perempuan kecil itu melaksanakan ibadah dua rakaat bersama di rumahnya. Pagi ini ia tidak ke rumah Ikram karena harus mempersiapkan diri untuk melakukan cuci darah.


"Sayang, sarapan dulu! Bunda sudah siapkan," ajak Nadia pada anak yang duduk di depan televisi di rumahnya. Ia mengangguk dan mengikuti Nadia ke meja makan. Nadia mengambilkannya sarapan tepat saat ia hendak duduk seseorang kembali mengetuk pintu rumahnya.


"Assalamu'alaikum! Mbak Nadia! Mbak!" Suara Ibu pengasuh terdengar panik.


"Wa'alaikumussalaam!" Nadia membukakan pintu rumahnya dan disambut raut gelisah dari Ibu pengasuh.


"Ada apa, Bu?" tanya Nadia dengan kedua ujung alis yang bertaut.


"Anu, Mbak. Ada satu anak yang hilang. Dia tidak ada di kamarnya. Kami sudah cari-cari ke mana-mana, tapi dia tidak ada di mana pun. Bagaimana ini, Mbak?" lapor Ibu pengasuh hampir menangis.


Nadia tertawa gemas melihatnya. "Kok, tertawa, Mbak? Ibu, mah, lagi panik ini," katanya tak senang.


"Anak yang Ibu cari sedang sarapan di dalam. Semalam dia datang sambil menangis dan menginap di sini," ucap Nadia menjelaskan.


Ibu pengasuh mengusap dadanya lega. "Alhamdulillah! Dia pasti mimpi lagi. Hampir setiap hari dia bilang sama Ibu kalau dia mimpi Bunda sakit dan akan meninggalkannya. Padahal, itu cuma mimpi," ucap Ibu pengasuh sembari memandang Nadia yang tersenyum.


Anak itu meninggalkan rumah Nadia bersama Ibu pengasuh usai menghabiskan sarapannya. Nadia bersiap pergi ke Rumah Sakit, ia duduk di tepi ranjang memandangi benda pipih di tangan.


[Assalamu'alaikum, Mas! Aku pamit ke pabrik, mohon izinnya.]


Nadia meminta izin Ikram lewat sebuah pesan. Ia tak pernah absen untuk meminta izin laki-laki itu setiap kali akan pergi.


Lagi-lagi Nadia harus menelan pahitnya kekecewaan. Satu menit, dua menit, setengah jam, dan sampai satu jam menunggu Ikram tak kunjung membalas pesannya. Selalu seperti itu. Nadia mendesah, menarik napas panjang dan membuangnya perlahan.


"Sabar, Nadia! Terima saja hukuman kamu ini!" gumamnya menyemangati. Ia memasukkan ponsel ke dalam tas dan bersiap pergi setelah melakukan pemesanan taksi online yang biasa ia gunakan.


Masker dan kacamata tak pernah luput ia pakai saat bepergian. Tak dinyana sepasang mata menatapnya dari balik sebuah jendela.

__ADS_1


__ADS_2