
Hari-hari yang dilalui Ain dan Yuni, dipenuhi dengan rencana-rencana meskipun satu pun belum ada yang terealisasi dengan benar. Setelah hari ini, Ruby dan kedua adiknya mencoba untuk dekat kembali dengan Ain. Berharap Ain akan berhenti melakukan kekonyolan yang hanya akan mempermalukan dirinya sendiri.
Namun, apa yang terjadi? Ruby, Bilal, dan juga Nafisah berdiri di kamar Kakak mereka. Menatap Ain yang sibuk dengan Yuni di ruang tengah. Entah apa yang sedang dilakukannya?
"Kakak, Umi sedang apa di sana?" tanya Nafisah memegangi baju Ruby dan menarik-nariknya.
"Kakak tidak tahu, Umi sedang melihat-lihat kalender dengan tante ular itu," jawab Ruby tanpa mengalihkan pandangan dari sosok Ain yang sibuk mencoret dan menghitung.
"Aku lapar ini sudah siang, tapi Umi belum memasak juga," ucap Bilal sembari memegangi perutnya yang terasa keroncongan.
"Ayo, kita bilang sama Umi kalau ingin makan," rengek Nafisah pula kembali menarik-narik pakaian Ruby.
Anak sulung itu melirik jam di dinding. Benar, ini sudah waktunya makan siang. Ia kembali menjatuhkan pandangan pada sosok Ibu yang selama ini dikaguminya.
"Sebentar, ya. Kakak akan bilang pada Umi," pinta Ruby seraya meninggalkan kamar dan mendekati Ain.
"Mi, Bilal dan Nafisah lapar minta makan. Umi belum masak?" tegur Ruby yang berhasil menyulut emosi dalam diri Yuni ketika beradu pandang dengannya.
"Kamu bisa pesan saja dulu, ya. Umi sedang mengerjakan sesuatu, tanggung," jawab Ain tanpa menoleh pada Ruby yang berdiri di sampingnya.
Yuni tersenyum mencibir manakala pandangannya kembali bertaut dengan Ruby. Remaja itu pun meninggalkan ruangan tersebut dan kembali pada kedua adiknya.
"Kakak, Abi ke mana? Apa Umi tidak mau memasak lagi? Aku bosan makan pesan terus, Kak," rengek Nafisah dengan wajahnya yang sedih.
"Abi sedang ada perkumpulan di luar," jawab Ruby dengan menarik napas dalam-dalam dan membuangnya pelan.
Ia menatap kedua adiknya dengan iba.
"Aku mau ke rumah Bunda saja," putus Bilal pada akhirnya. Ia tak menunggu sahutan Ruby juga tidak pamit pada Ain. Pergi keluar melalui pintu belakang berlari ke rumah Nadia.
Nafisah memandangi Ruby sebelum ikut berlari menyusul Bilal. Yang terakhir adalah Ruby yang harus memastikan kedua adiknya memang benar-benar pergi ke rumah bundanya.
Ia melihat Nadia sedang berjongkok di depan rumah memegangi kedua adiknya. Wajah ayu itu selalu membuatnya ingin tersenyum setiap kali bertemu. Ia mendatangi mereka dan ikut bergabung.
__ADS_1
Makan siang seadanya masakan yang dimasak Nadia sendiri. Lahap, Bilal dan Nafisah menyantap menu sederhana yang disiapkan Nadia. Tak perlu mewah, mereka hanya ingin ditemani dan diperhatikan. Bukan ingin makanan mewah dan berkelas. Itu saja.
Suara sendawa yang dikeluarkan Bilal mengundang gelak tawa dari keempatnya. Tanpa malu lagi, ketiga anak Ikram menghabiskan makanan itu.
Sementara Ain dan Yuni, setelah menyelesaikan urusannya hitung-menghitung. Entah apa yang dihitungnya, tidak ada yang tahu selain rekan di depannya itu.
"Ruby? Sudah pesan makanan belum? Umi juga sudah lapar," panggil Ain sembari menegakkan tubuhnya yang terasa pegal dan kaku.
Tak ada sahutan, ia melihat Yuni yang membalasnya dengan mengangkat bahu. Ain mendesah, terpaksa ia beranjak dan menengok mereka di kamar Ruby. Kosong.
"Mereka tidak ada, kamu lihat mereka tidak?" tanyanya pada Yuni. Rekannya itu menggeleng.
"Bukannya aku sedari tadi di sini bersama kamu, aku tidak tahu ke mana mereka. Mungkin di tempat madumu itu lagi," jawab Yuni asal sebenarnya, tapi berhasil menyulut amarah dalam hati Ain.
Ia membanting diri di tempatnya tadi duduk. Mengusap wajah dengan mata terpejam.
"Kenapa mereka selalu pergi ke rumahnya? Membuatku pusing saja," keluh Ain sembari memijit pelipisnya yang terasa pening.
"Assalamu'alaikum!" Tak lama Ikram datang dengan menenteng dua buah kantong plastik di tangan.
"Wa'alaikumussalaam!" Ain menjawab malas, ia beranjak menyambut suaminya dan menerima bungkusan.
"Alhamdulillah!" serunya berucap syukur ketika dua bungkus nasi diterimanya dari Ikram.
"Di mana anak-anak, Mi? Ajak makan mereka sana. Abi mau istirahat," titah Ikram yang langsung menuju kamar paling belakang. Kamar yang dulu tidak terpakai dibersihkannya seorang diri.
"Mau aku buatkan kopi, Mas?" tawar Yuni yang juga berdiri dari duduk tanpa berani menyalami Ikram.
"Tidak usah!" ketus Ikram tanpa menoleh pada istri ketiganya itu. Yuni kesal, tapi tak dapat melakukan apa-apa selain menggigit bibir bawahnya. Sial!
Ikram tak ingin tertipu lagi. Ia ingat pesan Nadia untuk selalu berhati-hati. Bukanya ia melarang Ikram untuk bermesraan dengan yang lain, hanya saja menurutnya semua itu harus dilakukan atas sadar sama sadar dan suka sama suka.
"Sudahlah, lama kelamaan nanti juga Ikram luluh pada kebaikan kamu. Sekarang kita makan dulu, banyak ini," ucap Ain menyemangati Yuni yang berubah lesu.
__ADS_1
"Aku sudah pesan makanan, siapa yang akan memakannya?" katanya memberitahu. Tak lama seorang kurir datang mengantar pesanan mereka.
Yuni menghadap menerima dan membayar makanan-makanan yang dipesannya. Hanya dua porsi saja yang dipesannya. Ia membawanya ke hadapan Ain. Makanan itu pun dihidangkan bersama nasi yang dibawa Ikram.
"Bi, aku pamit keluar sama Yuni, ya?" pamit Ain sembari mengetuk pintu kamar yang ditinggali Ikram saat ia harus menginap di rumah itu.
Ikram membukakan pintu. Ia memandangi Ain dengan alis yang terangkat.
"Umi mau ke mana, kok, kaya mau kondangan?" tanya Ikram yang membuat Ain mendengus mendengarnya.
"Ih, Abi. Umi mau ke kantor travel," jawabnya. Ikram melipat dahi.
"Memangnya jadi berangkat umrah? Dari mana uangnya, Mi?" tanya Ikram keheranan.
Ain terkekeh sebelum menjawab, "Abi tenang saja. Tidak perlu khawatir. Umi sudah bilang kalau Umi masih punya tabungan." Mengibaskan tangan di udara.
"Dari mana uangnya, Mi? Memangnya sebanyak apa tabungan Umi itu?" selidik Ikram lagi masih dengan heran di wajahnya.
"Abi mau tahu? Umi punya usaha bisnis selama ini, dari situlah uang tabungan Umi. Kita dapat memenuhi kebutuhan kita juga memenuhi biaya pendidikan anak-anak ke depannya. Tidak usah khawatir," katanya lagi dengan gaya bangga saat mengatakannya.
Ikram menelisik, mematri pandangan pada iris Ain yang kini dipenuhi oleh ambisi.
"Ya sudah, Umi pamit dulu. Assalamu'alaikum!" Ain buru-buru menyambar tangan Ikram dan bergegas pergi tak ingin suaminya itu menyelidik lebih jauh tentang uang yang dia punya.
Bersama Yuni, Ain pergi meninggalkan rumah untuk mendaftarkan mereka bertiga pergi umrah. Ikram tak habis pikir, kenapa Ain seperti hilang kendali pada dirinya sendiri. Apalagi ditambah kehadiran Yuni, membuatnya semakin jauh dari sosok hangat dan menenangkan. Ikram tak lagi mengenal Ain.
Sedikit banyaknya ia tahu bagaimana kehidupan Ain di masa lalu. Sebelum menikah dengannya. Banyak gunjingan tentangnya, tapi kala itu Ikram mentulikan telinga, membutakan mata. Ia yakin pilihan Abah adalah yang terbaik untuk hidupnya. Ia pikir akan mencintainya seiring waktu berjalan, tapi hatinya tetap sama.
Semuanya berubah setelah kehadiran Nadia. Sosok bersahaja yang menjelma menjadi penolong untuknya. Ia bersyukur sosok lembut itu ada di sisinya.
Ting!
Sebuah pesan masuk pada ponsel Nadia. Ia membacanya sejenak dan meremas benda pipih itu dengan kuat. Kilatan matanya memerah, detik kemudian Nadia berhasil menenangkan diri.
__ADS_1