Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kabar Burung


__ADS_3

Seperti Rumah Sakit pada umumnya, banyak lalu-lalang manusia di dalamnya. Kegiatan sama setiap harinya, selalu menjadi pemandangan lumrah di tempat tersebut. Ketiga anak Ikram berjalan bergandengan tangan di selasar Rumah Sakit Daerah kota Rangkasbitung.


Senyum di bibir mungil Nafisah bahkan terus tersemat. Senang akan bertemu dengan Nadia meskipun tahu wanita itu belum membuka matanya.


"Tunggu, Nak! Di mana orang tua kalian?" sergah seorang petugas jaga di pintu masuk menuju ruangan Nadia dirawat.


"Bunda kami ada di dalam sana, Pak. Kami ingin menjenguk dan menemaninya," jawab Ruby dengan mata yang menatap sedih pada laki-laki paruh baya tersebut.


"Oh, Baiklah. Silahkan!" Ia membuka pintu dan membiarkan ketiganya masuk. Ruby membawa kedua adiknya menyusuri lorong yang dipenuhi banyak orang. Maklum saja Rumah Sakit di sini kala itu, masih sedikit bebas.


Ruangan VIP, tempat Nadia dirawat berbeda dari ruangan biasa. Di sana sepi, hanya satu dua orang yang diperbolehkan berjaga. Jam besuk pun diatur dan dilarang membesuk pasien selain pada waktunya.


Mereka menghentikan langkah tatkala suara tawa dan obrolan terdengar dari ruangan Nadia.


"Kakak, Bunda sudah bangun?" tanya Bilal sembari mendongak menatap Ruby yang masih bergeming.


"Ayo!" ajaknya. Ruby menarik keduanya mendekati ruangan Nadia. Nafisah berlari dan membuka pintu ruangan itu sekaligus.


"Bunda!" teriaknya cukup keras. Ia tersenyum melihat orang-orang di dalam. Diikuti Ruby dan Bilal yang menyusul di belakangnya.


"Bunda!" Bilal ikut memanggil.


Namun, seketika senyum mereka menghilang. Ketiga mematung di ambang pintu dengan pandangan kosong.


Sementara itu, Ikram menyusuri jalanan kota Rangkasbitung mencari sosok Nadia. Ia mendatangi tempat-tempat yang sering dikunjungi Nadia selama ini. Balong, situ pelayangan, dan berbagai tempat lainnya yang mungkin Nadia jadikan tempatnya bersembunyi.


Ikram tidak tahu kalau Nadia membuka toko kerajinan tangan di tengah kota. Ia bahkan mendatangi pabrik Nadia. Pabrik itu sudah beroperasi seperti biasanya. Ia menunggu di luar pabrik, duduk di depan sebuah warung makan sambil berbincang dengan pemilik warung.


Berkali-kali kepalanya menoleh pada arah pabrik berharap istri keduanya akan muncul dari sana. Ia tidak berani masuk karena merasa malu bila harus bertemu dengan Sarah.

__ADS_1


"Bapak sering lihat pemilik pabrik ini di sini, Pak?" tanya Ikram. Pemilik warung itu sepertinya orang baru karena ia tidak mengenal Ikram.


"Oh ... itu, pabrik ini saja baru beroperasi kemarin, Pak. Tiga hari ditutup karena pemiliknya yang saya dengar sedang koma di Rumah Sakit. Mungkin syok karena ibunya meninggal secara mendadak," jawab pemilik warung tersebut mengingat-ingat kabar yang didengarnya dari mulut ke mulut itu.


"Apa, Pak? Koma? Meninggal? Maksud Bapak bagaimana, ya? Saya tidak mengerti," tanya Ikram dengan degup jantung yang tak dapat ia kendalikan.


"Anu, Pak. Itu ... bagaimana, ya. Saya juga cuma dengar saja. Benar tidaknya saya juga tidak tahu pasti. Cuma kabar angin saja itu, Pak," sahut pemilik warung lagi sembari mengibaskan tangan tak tahu.


Ikram mendesah, cuma kabar angin. Pikirnya, Nadia sengaja menyebarkan berita itu agar Ikram merasa bersalah dengan semua keadaan yang ia ciptakan. Konyol! Ikram tak habis pikir kenapa Nadia menyebarkan gosip itu. Tidak mungkin, bukan dia yang sehat tiba-tiba saja koma. Dan apa itu, sungguh tega Nadia menyebarkan berita kalau ibunya meninggal. Jahat sekali.


Ikram menggelengkan kepala tak habis pikir dengan ide konyol Nadia itu.


"Bapak itu siapa? Saya baru lihat soalnya," tanya pemilik warung tadi pada Ikram.


"Saya cuma penduduk di sini, Pak." Ikram tersenyum.


"Sekarang pemilik pabrik ini sudah diganti katanya, Pak. Dialihkan pada pihak lain karena kabar dari pemilik lama itu lah yang katanya koma," celetuk seseorang yang sedari tadi mendengarkan obrolan mereka.


"Mungkin itu cuma kabar burung karena pemiliknya sedang ada masalah atau apa? Bisa saja, bukan?" Ikram masih tidak ingin mempercayai kabar itu.


"Oh ... kalau urusan itu, sih, kita mana tahu, Pak. Ya karena kita tidak tahu keseharian dia seperti apa di rumah." Ikram membenarkan ucapan pemilik warung. Benar, mereka memang tidak tahu apa-apa soal masalahnya.


Ikram tak lagi bicara, ia berbalik dan memandang pabrik di kejauhan yang nampak lengang dari luar. Hampir seharian Ikram berada di warung depan pabrik Nadia. Ia akan beranjak saat waktu shalat tiba. Lalu, kembali duduk di sana berharap akan melihat Nadia muncul dari arah pabrik.


Namun, hingga waktu Dzuhur datang sosok yang ditunggunya tak kunjung terlihat. Ikram memutuskan untuk pulang. Dengan hati yang diselimuti kekecewaan ia menjalankan motornya menyusuri jalanan kota Rangkasbitung nampak lengang saat siang hari seperti ini.


Ikram menjalankan motor bututnya dengan pikiran yang mengelana. Pandangannya kosong ke depan, menatap hampa dunia di hadapannya.


"Duh, kenapa ini?" gumam Ikram ketika motor yang dikendarainya oleng, "ban bocor!" keluhnya setelah memeriksa ban bagian depan yang kempes. Ia mendorong motornya menuju bengkel terdekat. Melewati Rumah Sakit di mana ketiga anaknya juga baru keluar dari pintu gedung tersebut.

__ADS_1


Ikram duduk di trotoar menunggu motornya di perbaiki. Bengkel tersebut tak jauh dari Rumah Sakit. Tak sengaja matanya menangkap tiga sosok yang begitu ia kenal. Ikram mendongak memastikan bahwa ketiga anak itu adalah anak-anaknya.


"Ruby, Bilal, Nafisah. Sedang apa mereka di sana? Ya Allah!" gumamnya bingung.


Mereka berdiri di tepi jalan, saling berpegangan tangan. Ikram berdiri berniat menghampiri keduanya. Ia bahkan berlari dengan keadaan jantung yang tak karuan. Sayang, ketiga anak itu masuk ke dalam angkot jauh sebelum ia sampai di tempat mereka berdiri tadi.


Ketiga anaknya hilang bersama angkot yang membawa mereka. Ikram tak dapat memastikan karena ia sendiri ragu pada penglihatannya. Ingin memanggil mereka kala angkot tersebut melintas di seberang jalan tempatnya berdiri, tapi ia ragu. Takut salah mengenali. Biarlah, saat tiba di rumah nanti ia akan menanyakannya pada mereka.


Ikram kembali ke bengkel, duduk di tepi jalan sembari memperhatikan lalu-lalang kendaraan dan manusia. Tetap berharap dalam hati ia akan melihat Nadia di antara mereka.


Lagi, matanya menangkap sosok yang tak asing melintas di hadapannya. Ia bergumam, tapi tetap tidak percaya pada indera penglihatannya tersebut. Ia menganggap itu semua hanya halusinasi semata karena terlalu memikirkan Nadia.


Ikram akhirnya menunduk, mengusap wajahnya yang lelah. Jujur saja, ia begitu merindukan sosok Nadia. Wanita yang berwajah manis dan enak dipandang. Tak pernah bermuka masam ketika berhadapan dengannya.


Sementara Ruby dan kedua adiknya menuruni angkot dengan lesu. Wajah ketiganya nampak murung, Nafisah bahkan masih terisak-isak. Ruby menuntun keduanya menuju rumah Nadia. Ia membawa kedua adiknya memasuki rumah tersebut dan mengunci pintunya.


Ibu yang mengintip ketiganya, mengernyit bingung saat melihat wajah-wajah kuyu itu masuk ke dalam rumah Nadia. Ia berniat menghampiri ingin bertanya tentang keadaan Nadia.


"Assalamu'alaikum, Ruby!" ucap Ibu sembari mengetuk pintu rumah Nadia. Tak lama, pintu terbuka dan Ruby langsung berhambur memeluknya.


"Lho, kenapa? Ada apa ini?" tanya Ibu dengan bingung. Ruby tidak menyahut. Ia terus menangis di pelukan wanita hampir tua itu. Ibu memandangi wajah kedua adik Ruby, mereka menunduk. Nafisah masih saja sesenggukan di tempatnya duduk.


"Masuk dulu! Ceritakan pada Ibu apa yang terjadi?" pinta wanita itu sembari membawa Ruby masuk ke rumah dan duduk bersama mereka.


Ibu membuatkan mereka teh hangat dan menyuruh meminumnya. Nafisah menggeleng, ia memeluk tubuh Ibu dan kembali menangis.


"Ada apa ini? Jangan buat Ibu bingung," ucap Ibu panik.


"Bunda pergi, Bu! Bunda sudah pergi, Bunda sudah tidak ada, Ibu. Bunda sudah pergi!" Bilal menangis ketika mendengar Nafisah mengatakan itu.

__ADS_1


"A-apa? Pergi? Ke mana?"


__ADS_2