
"Kak!" cegah Nadia sembari memegang tangan paman Harits dan menatapnya memohon.
Paman Harits memutar bola mata malas, ia mengangkat tangannya meminta para pembawa alat berat itu untuk tidak melakukan penghancuran. Alat-alat berat itu seketika berhenti berderu, diam tak bergerak. Para santri yang histeris pun bisa menarik napas lega.
"Kenapa kamu masih membelanya?" sungut paman Harits tidak senang. Ia berdecak kesal dengan sikap Nadia yang naif menurutnya.
"Coba lihat di sana!" Nadia menunjuk pada segerombol santri yang berdiri ketakutan. Lagi-lagi lidah paman Harits berdecak meski kesal, tapi melihat mata-mata panik para santri ia tidak tega juga. Hembusan nafasnya terdengar berat.
"Mereka sudah keterlaluan, Nadia!" geram paman Harits tak dapat menahan diri. Nadia menggeleng, bukan Ikram yang dia pikirkan, tapi nasib para santri di dalamnya yang akan terkena imbas dari penghancuran tersebut. Mereka tidak bersalah.
"Cukup hukum mereka saja, jangan para santri itu!" pinta Nadia lagi dengan sangat. Paman Harits mengalah.
"Kalian sungguh beruntung, calon istriku ini tidak tega melihat tempat bernaung para santri aku hancurkan. Padahal, mereka telah kehilangan figur orang tua," ucap paman Harits tidak senang. Ia mencebik kesal tatkala Ikram dan Ain melihat ke arahnya. Kedua orang itu meneguk ludah saat bertatapan dengan mata tajam milik paman Harits.
Ikram yang sempat menegang, kembali merasa lega.
"Laporkan saja mereka pada polisi. Kejahatan yang dilakukan wanita itu tidak bisa dimaafkan. Dia memakan hak anak-anak yatim, dia juga membuat menderita seorang wanita yatim yang tak bersalah. Melakukan pemerasan terhadap Ibu dan anak sekaligus. Aku yakin, kamu tidak pernah tahu bahwa istri serakahmu itu telah memanfaatkan perjanjian antara kamu dan Sarah dengan meminta uang padanya, bukan!" Paman Harits tersenyum sinis melihat Ikram yang membelakakkan mata.
"Lalu, sekarang berani sekali dia menjual pabrik milik mereka hanya dengan mengandalkan surat kuasa palsu yang dia bawa. Dia seorang pencuri! Sungguh miris hidupmu, Krom! Diapit dua istri yang licik dan serakah, dan kamu telah membuang berlian berharga ini," sarkas paman Harits sembari menggelengkan kepala tak percaya. Ia mengelus kepala Nadia dengan lembut membakar jiwa Ikram yang membara.
__ADS_1
"Apa urusanmu! Kamu bukanlah siapa-siapa di sini, kamu tidak berhak ikut campur masalah ini! Nadia yang pemiliknya pun diam saja kenapa kamu yang kebakaran jenggot?" hardik Ain masih bisa berbicara omong kosong seperti itu.
"Itu karena aku memberikan kuasa padanya untuk menyelesaikan semua masalahku! Terutama kamu, Ain. Sifat serakahmu telah membuat anak-anak asuhku menderita. Kamu yang mengaku sebagai Ibu mereka justru membuat mereka harus menahan lapar karena ulahmu! Sekarang nikmati saja masa hukumanmu!" Suara Nadia menggema dari dalam mobil.
Ain semakin pucat pasih, wajah tak tahu malunya memutih. Tubuhnya berguncang, Ikram tak peduli lagi padanya hingga suara sirine mobil polisi kembali berdengung. Membuat kedua penjahat itu kembali tegang dan panik berlebih.
Satu buah mobil polisi kembali memasuki halaman rumah Ikram. Paman Harits menegakkan tubuh, menanti kelanjutan cerita dari seorang Ain.
"Selamat siang!"
"Siang, Pak!" sahut laki-laki yang menuntut uangnya, "tangkap mereka, Pak! Mereka telah menipu saya. Kejahatan mereka juga banyak, mereka pantas mendekam di penjara!" lanjut laki-laki tadi menunjuk Ikram dan Ain yang tak berhenti mengucurkan keringat dingin.
Komandan polisi tersebut memberi perintah untuk menangkap kedua orang itu. Mereka menggeledah rumah Ikram dan menemukan sebuah tas yang berisi uang ratusan juta rupiah. Uang DP pabrik yang diberikan laki-laki tersebut pada Ain.
Sedangkan Ikram pasrah pada hukumannya. Ia memang pantas mendekam di penjara untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya di masa lalu. Ia berjalan menunduk digiring dua orang polisi yang memborgol tangannya.
Desas-desus ustadz muda yang ditangkap polisi pun, tersebar. Bukan hanya di kalangan pondok, tapi juga di masyarakat setempat yang membuat mereka berbondong-bondong mendatangi pesantren Al-Masthur. Mereka sungguh tidak menyangka kalau sosok yang mereka hormati itu adalah seorang penjahat.
Ain masih meronta, menolak dibawa pihak berwajib. Seorang polisi mendatangi Nadia yang masih duduk di dalam mobil, ia berhadapan dengan paman Harits, di tangannya membawa dokumen pabrik yang dicuri Ain dari Winda.
__ADS_1
"Kami kembalikan ini pada pemiliknya. Terima kasih sudah bekerjasama dengan pihak berwajib!" ucap polisi tersebut sembari menyerahkan dokumen di tangannya pada paman Harits.
"Terima kasih banyak atas bantuan Bapak dan rekan-rekan. Kami harap mereka mendapat hukuman yang setimpal dari apa yang telah mereka lakukan!" sahut paman Harits. Ia puas, hari ini tiga orang sekaligus ia jebloskan ke dalam penjara.
"Tidak! Jangan bawa aku! Nadia, aku mohon! Ampuni aku, Nadia. Maafkan aku. Aku menyesal ... Nadia! Tolong jangan penjarakan aku, Nadia. Aku benar-benar menyesal. Ampuni aku!" jerit Ain di ujung kalimat saat polisi yang membawanya mendorong tubuhnya untuk segera memasuki mobil.
Nadia bergeming, sama seperti mereka yang tega membuatnya menderita, ia pun tidak peduli pada jeritan dan rintihan Ain yang terdengar memekakkan telinga. Ia tak peduli pada pandangan warga sekitar yang akan mencapnya sebagai wanita jahat. Mereka tidak tahu apa yang terjadi, dan tak seharusnya tahu.
Bagaimana nasib para santri di pondok tersebut? Nadia pun tak ikut campur. Paman Harits memasuki mobil dan mengiringi mobil polisi menuju kantornya. Mereka harus memberikan keterangan terkait masalah pabrik yang diperjual-belikan oleh Ain.
"Kamu lega?" tanya paman Harits pada Nadia yang terdiam sembari memandang jendela mobil.
Ia hanya mengangguk kecil. Tak menjawab dengan kata, lisannya terlalu malas untuk mengucap kata lagi.
"Kita kunjungi makam orang tuamu sepulangnya dari sini. Aku ingin meminta restu sahabatku untuk meminang putrinya." Paman Harits terkekeh sendiri. Ia melirik Nadia yang tetap bungkam tak memberi respon apa pun.
Paman Harits mendesah, ia tahu Nadia masih merasa syok atas kenyataan yang baru saja diterimanya. Kenyataan bahwa laki-laki yang pernah ia gilai itu ternyata adalah pembunuh papahnya.
"Kakak, aku ingin tinggal di sini dulu. Kakak pulanglah lebih dulu ke Jakarta, aku masih ingin di sini," ujar Nadia dengan suara lirih. Ia mengusap sudut matanya yang tiba-tiba berair lagi. Nadia ingin menghabiskan beberapa hari di kota tersebut dengan tinggal di rumah lamanya. Ia merindukan sosok Sarah.
__ADS_1
"Baiklah ... nikmati waktumu. Dua hari lagi aku akan datang menjemput," jawab paman Harits meski ragu. Namun, ia mengerti Nadia membutuhkan waktu untuk menenangkan diri. Mungkin di rumah itu ia akan mendapatkan ketenangan sembari mengenang waktu-waktu yang telah terlewati bersama Sarah.
Mereka tiba di kantor polisi, ketegangan kembali terjadi saat ia melihat Yuni dan seorang laki-laki yang menatap Ikram dan Ain sinis. Ain mengernyit tatkala ia mengenali siapa sosok itu.