Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Berpisah Lagi


__ADS_3

"Dia akan jadi pengganti Nafisah. Dia perempuan."


Nafisah mengangkat wajah menatap Nadia yang seketika bungkam dengan guratan bingung di wajahnya. Ia tersenyum, tapi wanita hamil itu merasakan hal yang janggal pada setiap kata yang terucap di bibirnya.


Ain dan Ruby yang ikut mendengar, menelisik wajah Nadia yang tiba-tiba terdiam. Keduanya merasa baik-baik saja, dan sama sekali tidak ada yang salah dari apa yang diucapkan lisan gadis kecil itu. Namun, berbeda dengan perasaan Nadia.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu? Dia akan menjadi adik Nafisah nantinya, kalian bisa bermain bersama bahkan mungkin akan belajar di sekolah yang sama pula," ucap Nadia setelah sekian lama termangu mencerna ucapan Nafisah.


"Tapi Nafisah tidak tahu, apakah bisa menemani Adik bermain nantinya? Karena dia akan ikut Bunda, sedangkan Nafisah di sini," katanya lagi sedikit terdengar kecewa.


Nadia menggelengkan kepala sambil tersenyum, ia mengusap pipi gembil Nafisah dan sedikit mencubitnya.


"Kalau liburan, Kakak Nafisah bisa main ke sana. Bertemu Adik dan bermain bersama. Bunda dan Adik akan menunggu Kakak datang berkunjung." Senyum di bibir mungil itu terbit usai Nadia mengatakan itu. Ia mengangguk antusias.


"Begitu, dong. Cepat sembuh, ya. Mungkin sore ini Bunda akan kembali ke Jakarta karena Mas Harits ada rapat penting di kantornya," ungkap Nadia penuh sesal. Ia masih ingin berlama-lama di sana, tapi pekerjaan paman Harits pun tak dapat ditinggalkan terlalu lama. Lelaki itu tidak mengizinkan Nadia menetap di kota tersebut tanpa dirinya.


"Kenapa cepat sekali, Bunda?" Nafisah merengek, ia memegangi tangan Nadia masih ingin bersamanya. Nadia melirik Ain juga Ruby, meminta bantuan mereka untuk memberi pengertian pada gadis kecil itu.


Ain mengerjap pelan sambil mengangguk kecil. Ia beranjak ke dekat putrinya itu, memeluknya, dan memberikan kepalanya sebuah kecupan.


"Sayang, di sana Bunda dan suaminya juga memiliki urusan. Nanti kalau kamu sembuh, kita akan pergi sama-sama ke rumah Bunda sekalian menjenguk Adik. Tidak apa-apa, bukan?" ucap Ain sambil mengusap-usap rambut putri bungsunya itu.


Nafisah mengedarkan pandangan, ia menatap Ruby juga Bilal yang keduanya kompak mengangguk. Pandangannya juga terlempar pada paman Harits yang duduk tenang di sofa. Di tangannya memegang gawai yang sibuk ia mainkan.


"Baiklah, tidak apa-apa," katanya.


Nadia tersenyum, begitu pun dengan Ain. Sesaat ia termangu mengingat tabrakan semalam.

__ADS_1


"Oya, Kak. Kakak tahu kalau Yuni keluar dari penjara?" tanya Nadia sembari menatap Ain yang terlihat bingung. Ain melirik Ruby dan Bilal yang sama bingungnya.


"Tidak. Dia masih di penjara saat Kakak keluar, tapi tidak tahu kalau ada yang membebaskan dia karena beberapa hari sebelum Kakak keluar selalu ada yang berkunjung padanya. Kakak tidak tahu siapa orang itu, tapi sepertinya dia bukan dari sini," terang Ain sambil meraba-raba ingatannya.


Nadia mengira mungkin saja orang itu yang membantu Yuni keluar, tapi bukan itu yang ingin dia sampaikan.


"Yuni ... sudah meninggal." Ain terhenyak, ia menutup mulutnya tak percaya. Begitu pula Ruby dan Bilal.


"Biarlah, orang sepertinya memang pantas mati!" sengit Bilal yang langsung ditegur Ruby.


"Bagaimana Bunda tahu?" tanya Ruby mewakili Ain.


"Semalam saat di perjalanan menuju ke rumah kalian, ada kecelakaan. Truk menabrak sepeda motor dan korbannya adalah Yuni. Mas Harits sendiri yang melihatnya. Yuni dan rekannya mati di tempat." Ain makin terbelalak.


"Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji'uun." Kompak Ain dan Ruby mengucapkan kalimat tersebut sambil mengusap dada sendiri dan beristighfar.


Mereka sungguh tak menyangka dan mungkin tak percaya kalau saja bukan Nadia yang berbicara. Berkali-kali laki-laki yang duduk di sofa itu melirik istrinya, sambil terus berbalas pesan dengan seseorang.


"Sayang, kita harus pulang sekarang juga. Yoga memberitahu ada masalah di perkebunan," ungkap paman Harits yang seketika menerbitkan guratan kecewa di wajah pucat Nafisah.


Nadia pun tercengang, tapi mendengar perkebunan. Pastinya itu bukanlah masalah ringan karena perkebunan karet itulah yang sampai saat ini masih diincar kedua kakak iparnya.


Ia lantas mengangguk dan memandang Nafisah. Nadia meraih tangan kecil itu, menggenggamnya dan menepuk-nepuknya dengan pelan.


"Cepat sembuh, ya. Bunda dan Adik menunggu kedatangan Kakak. Jangan menangis, kita berpisah untuk bertemu lagi, 'kan?" Nadia mengusap air mata Nafisah saat menjatuhi pipinya.


Gadis kecil itu berhambur memeluk Nadia. Ingin rasanya ia mencegah, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus mengerti kalau Nadia memiliki aktivitas lain.

__ADS_1


"Makan yang banyak, dan minum obatnya yang teratur supaya cepat sembuh. Ya? Bunda sayang Nafisah, jika saja tidak ada hal yang darurat, mungkin saja Bunda masih bisa di sini." Nafisah mengangguk patuh. Nadia menumpahkan kerinduan sekaligus penyesalan karena harus berpisah. Waktu yang singkat ini, rasanya tak ingin berakhir dengan cepat.


Nadia mengurai pelukan, ia mencium dahi dan kedua pipi Nafisah berkali-kali.


"Bunda pamit, ya?" Gadis kecil itu mengangguk lagi, ia mencium tangan Nadia dan memeluknya lagi. Kemudian, dalam waktu yang singkat mereka kembali berpisah.


Ada kelegaan juga sedikit resah saat kakinya mulai beranjak meninggalkan ruangan Nafisah. Sebenarnya, Ikram di sana. Akan tetapi, ia terlalu malu bertemu dengan Nadia. Jadilah ia mengintip dan menguping dari balik tembok ruangan Nafisah.


Nadia menautkan jemarinya pada jemari suaminya. Menjatuhkan kepala di lengan kekar paman Harits dengan manja. Berkelakar mengusir resah yang mulai menyelubungi hatinya.


Semakin menjauh, semakin terasa dan menyesakkan dada. Namun, paman Harits selalu dapat membuatnya tenang. Keduanya menjauh dari pandangan sendu laki-laki yang berdiri di sebuah pilar rumah sakit.


Semoga kamu bahagia, Nadia. Kamu pantas menjadi ratu dan pantas bahagia. Terima kasih untuk waktu yang kamu berikan dengan sabar kepadaku dan anak-anak meskipun menderita dan sakit, kamu tetap tersenyum dan berbuat kebaikan. Semoga kalian bahagia.


Ikram mengusap matanya, ia sudah mengikhlaskan Nadia bahagia bersama paman Harits. Apalagi yang dia harapkan? Saat laki-laki itu lebih mampu membuat Nadia terus tersenyum daripada dirinya.


Lihat saja tubuhnya yang saat ini lebih berisi, itu salah satu tanda yang Nadia bahagia bersama paman Harits. Tak ada lagi tekanan batin, juga peraturan-peraturan konyol yang bertentangan dengan hatinya.


Ia masih berdiri di sana hingga mobil paman Harits melaju meninggalkan rumah sakit sekaligus meninggalkan kota tersebut.


"ABI!"


******


"Bagaimana perasaan kamu setelah bertemu dengannya?" tanya paman Harits setelah mobil mereka meninggalkan perbatasan kota.


Nadia menjatuhkan kepalanya di lengan paman Harits, ia tersenyum. Sedikit lega dan serasa ada beban berat yang jatuh dari pundaknya. Ia benar-benar lega.

__ADS_1


"Alhamdulillah, Mas. Terima kasih, ya, sayang. Mas tidak keberatan mengantar aku bertemu Nafisah," ungkapnya sungguh-sungguh. Paman Harits merangkul sejenak kepala Nadia dan menciuminya.


"Tidak masalah, sayang, tapi kamu juga harus ingat ada anak kita yang harus lebih dijaga dan diperhatikan." Nadia mengangguk untuk itu, ia mengecup pipi suaminya sebelum kembali menjatuhkan kepala di bahu kekar paman Harits.


__ADS_2