Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Malam Milik Mereka


__ADS_3

Angin malam itu berhembus lembut, selembut lembaran sutera menyentuh kulit. Dinginnya menusuk hingga ke pori-pori menembus langsung ke dalam tulang dan membekukan sumsum di dalamnya. Menggigil tubuh di balik kemul itu. Beberapa orang bahkan mematikan AC karena cuaca lebih dingin dari padanya.


Hujan rintik-rintik malam itu, awet terasa. Panjang dan lama. Semakin menambah gigil pada tubuh dan mengeratkan selimut.


Namun, itu tidak berlaku bagi sepasang insan dalam salah satu kamar di rumah besar itu. Peluh menetes bercampur menjadi satu. Deru napas bercampur erangan terdengar menggiurkan dan membuat rasa dalam jiwa bergejolak. Setelah berkali-kali gagal karena bayi mereka kerap menangis, pada akhirnya dapat juga mencapai puncak.


Kata-kata cinta berdenging di telinga masing-masing menambah kenikmatan dalam ritual yang sedang mereka jalani. Malam dingin itu disulap menjadi panas. Nadia-lah penguasanya.


Setelah menahan diri selama empat puluh hari lamanya, paman Harits tak membiarkan Nadia menjeda permainannya. Malam itu adalah milik mereka. Kata mesra berpadu dengan deru napas dari bibir masing-masing.


Permainan mereka terjeda karena tangis Zahira kembali menggema. Buru-buru Nadia beranjak dari tubuh suaminya dan mendatangi box bayi.


"Kali ini apa lagi?" keluh paman Harits dengan suara parau dan sedikit kesal juga. Apakah dia cemburu? Astaga!


Nadia menimang bayinya, hanya dengan berbalut selimut yang berhasil dia bawa. Duduk di sofa khusus untuk menyusui yang tak jauh dari box bayi tersebut. Ia tersenyum tak enak saat melihat paman Harits beranjak, berjalan mendekat mengenakan sarungnya. Ia berdiri di belakang Nadia, masih ingin melanjutkan permainan yang tertunda tadi.


"Mas!" lirih Nadia terpejam, ia menggigit bibirnya menahan suara yang keluar dari mulut tatkala bibir suaminya bermain di sekitar tengkuk.


"Cepat tidurkan! Mas masih ingin melanjutkan," bisiknya sensual di telinga merah sang istri. Digigitnya daun telinga Nadia sebelum ia beralih ke sofa lainnya. Duduk menunggu sang istri menidurkan kembali bayinya.


Cukup lama, hujan di luar masih turun gemericik air menimpa atap menjadikan suara mereka redam. Tak henti mata lelaki itu melirik pada posisi Nadia yang masih setia menepuk-nepuk bokong bayinya.


Ia menghela napas, beginilah asiknya memiliki bayi. Permainan yang terjeda di saat memuncak. Sesak rasanya. Kini wanita itu bukan hanya miliknya, tapi makhluk lemah itulah penguasanya.

__ADS_1


Ia berpura-pura mengambil majalah hanya untuk mengusir jenuh karena menunggu. Nadia beranjak, ia meletakkan kembali bayinya di dalam box. Berjalan menghampiri suaminya yang menutupi wajah menggunakan majalah.


Nadia mengambil majalah itu dan melemparnya. Malam ini ia terlihat nakal. Nadia duduk di atas pangkuan suaminya, tanpa menunggu ia melahap bibir itu. Decak lidah menggema memenuhi ruangan kamarnya berbaur dengan suara air jatuh menimpa bumi.


Paman Harits berdiri sambil mengangkat Nadia di pangkuannya tanpa melepas pagutan. Ia membawa istrinya menuju ranjang dan meletakkannya perlahan-lahan. Melanjutkan ritual malam pertama yang tertunda.


Dilemparkannya selimut yang menutupi tubuh istrinya, juga sarung yang menghalangi miliknya ke sembarang arah. Di sanalah mereka bersama-sama mencapai puncak permainan. Ambruk tubuh lelaki itu di sebelah sang istri. Dikecupnya dahi berkeringatnya berulang-ulang kali.


"Kamu terlihat berbeda malam ini, tapi Mas suka. Boleh Mas memintanya lagi dan lagi?" ungkap paman Harits berbisik di telinga Nadia. Bersemu wajah itu, rasa hangat menjalar memenuhi kedua pipi hingga ke telinganya.


Ia menelusupkan wajah di ketiak suaminya, memeluk erat tubuh lembab karena keringat itu. Rasanya lelah sekaligus lega dapat menyalurkan hasrat yang terpendam lama. Lelaki itu menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya. Malam masih tersisa separuhnya, cukuplah untuk mereka beristirahat sebelum pagi datang.


"Aku mencintaimu, Nadia Almira, Ibu dari anakku." Bergumam lisan lelaki itu tepat di telinga sang istri. Namun, tak ada sahutan dari wanita yang bergelung di dadanya. Dengkuran halus terdengar dari arahnya, ia telah terlelap.


Malam diguyur gerimis yang tak kunjung surut hingga subuh datang. Sang fajar mulai menampakan diri di ufuk Timur yang jauh meski samar karena terhalang awan hitam yang menyelimuti langit. Adzan subuh berkumandang sahut-menyahuti dari surau ke surau.


Suara gemericik air dari dalam kamar mandi mengusik tidur lelapnya. Ia meraba bagian ranjang di samping tubuh, tak ada lelaki yang semalam mendekapnya. Ia membuka mata tatkala suara pintu kamar mandi terbuka dan tertutup.


"Mas!" panggilnya dengan suara yang serak.


"Mandilah, sayang. Subuh sudah datang. Kita jama'ah bersama-sama. Di luar masih hujan," ucap paman Harits sembari menggelar sajadah dan menunaikan dua raka'at sebelum subuh.


Nadia beranjak turun dari ranjangnya, ia menunjuk kamar mandi menggunakan handuk yang diletakkan suaminya di atas kasur. Shalat subuh jama'ah berdua di dalam kamar, diikuti laju tangis Zahira yang juga ikut terbangun.

__ADS_1


Nadia melepas mukena, diambilnya bayi itu dari boxnya dan menimang pelan sambil mendengarkan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibaca suaminya. Ia menyalami paman Harits saat ia menghampiri. Paman Harits menyibak tirai, langit pagi itu mendung. Hujan semalam masih saja turun meski tak deras.


"Mau aku buatkan kopi, Mas?" Nadia memeluk tubuh suaminya dari belakang. Paman Harits berdiri di dekat jendela memandangi air yang turun. Ia meraba-raba tangan istrinya dan berbalik. Ditatapnya Zahira yang bermain sendiri di atas ranjang, ia anteng dan tenang.


Bibir itu kenapa selalu membuat naluri kelelakiannya ingin terus melahapnya. Dikecupnya berulang-ulang bibir Nadia, gemas sekali rasanya.


"Kopi tanpa gula seperti biasa," katanya sambil memberikan cubitan kecil di hidung bangir sang istri.


"Siap, Bos!" Nadia melepas pelukan, ia sempat mendaratkan kecupan di pipi suaminya sebelum keluar dari kamar. Alangkah bahagianya pagi itu! Paman Harits tersenyum sendiri, wajahnya memerah. Ia menghampiri Zahira yang menggeliat di atas ranjang.


"Hallo, Putri Ayah! Maaf, ya, kalau kamu cemburu tadi malam. Ayah juga butuh Bunda," katanya yang ikut membaringkan diri di samping Zahira yang sibuk bermain sendiri.


Paman Harits memberikan telunjuk besarnya untuk digenggam oleh putrinya itu. Menggerakkannya ke atas dan ke bawah. Senyum di bibirnya tak pudar, kebahagiaan terasa sempurna untuknya kini.


Memiliki istri yang selalu bisa menghilangkan lelahnya saat masalah datang silih berganti. Ditambah putri yang juga menjadi obat bagi rasa letihnya sepulang bekerja.


"Ini kopinya!" Nadia datang membawa nampan. Ia meletakkan nampan itu di atas nakas. Satu cangkir kopi dan segelas susu yang masih mengepulkan asap, berikut roti dan selainya untuk sarapan mereka berdua, ia bawa ke kamarnya.


Paman Harits beranjak duduk di tepi ranjang, berhadapan dengan cangkir kopi milikinya.


"Anak Bunda mandi dulu, ya." Paman Harits melirik istrinya yang membuka satu per satu pakaian Zahira. Nadia terbiasa memandikannya sendiri. Ada bathub bayi di dalam kamar mandinya.


Pagi yang terasa indah walau hujan terus-menerus mengguyur. Itu tak menghilangkan rasa hangat dalam hati orang tua baru itu.

__ADS_1


__ADS_2