Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Terlambat?


__ADS_3

"Mas, sepertinya ada kecelakaan di depan? Truk yang melintas tadi," ucap Nadia selang beberapa saat setelah truk melintasi mobilnya terdengar suara hantaman benda besar tak jauh dari tempat mobilnya melaju.


"Sepertinya, iya. Coba lihat, banyak warga yang berkerumun. Mungkin terbangun karena suara keras tadi," sahut paman Harits memperlambat laju mobilnya.


Kerumunan warga menghalangi jalan utama dan menyebabkan kemacetan. Beberapa kendaraan yang hendak melintas terpaksa harus berhenti, termasuk mobil paman Harits sendiri.


"Kamu tunggu di sini, jangan keluar! Mas mau melihatnya dulu." Rasa penasaran paman Harits membuatnya menepi dan keluar dari mobil. Ia mendatangi kerumunan warga yang terbagi menjadi dua.


Truk itu bahkan terperosok dan menabrak sebuah bangunan tua yang tak terpakai. Paman Harits mendatangai tempat kerumunan sekedar bertanya pada warga.


"Ada apa, Pak?" Basa-basi, padahal sudah tahu.


"Ini, Pak. Truk itu tadi ugal-ugalan terus nabrak sepeda motor. Tadi juga sepeda motornya kebut banget dari arah sana," terang seorang warga sambil menunjuk pada arah datangnya sepeda motor.


Arah yang sama yang akan didatangi paman Harits.


"Lalu, ada korban jiwa, Pak?" Lanjut bertanya penasaran.


"Sepertinya pengendara motor tewas, Pak. Kasihan, apa lagi yang perempuan setengah badannya hancur, Pak." Warga itu bergidik ngeri saat menceritakan hal itu.


"Perempuan?" Ia melongo pada korban yang terpental ke pinggir jalan. Laki-laki.


"Iya, Pak. Yang di motor itu dua orang, laki-laki sama perempuan, tapi kayanya mati dua-duanya. Kalau yang perempuan di tengah jalan sana." Ia menunjuk kerumunan yang menghalangi jalan utama.


"Supir truknya bagaimana, Pak?"


"Sudah diamankan warga."


"Sudah lapor polisi?"


"Sudah, Pak."


Paman Harits meninggalkan tempat tersebut setelah puas bertanya, ia mendatangi korban selanjutnya yang mereka bilang seorang perempuan.


Paman Harits menyibak warga yang menghalangi jalannya. Berdiri di paling depan untuk dapat melihat dengan jelas sosok yang terkapar tanpa nyawa itu.


Mengenaskan! Sebagian tubuhnya hancur, kakinya terpotong mungkin terlindas truk saat terjatuh. Orang yang tak kuat melihat, pasti akan merasa mual saat melihatnya. Darah bersimbah mengalir di jalanan memenuhi sebagian tubuhnya yang lain.


Paman Harits menelisik wajah wanita itu, matanya yang melotot lebar, mulut terbuka dengan lidah yang sedikit terjulur keluar. Mengerikan! Persis seperti seseorang yang sedang ketakutan saat melihat hantu.


Namun, bukan itu yang membuat paman Harits membeliakkan mata, wajah korban yang dipenuhi darah itu yang menguras isi pikirannya.


Aku seperti pernah melihatnya? Tapi di mana, ya? Tunggu sebentar! Sebentar!

__ADS_1


Ia bergumam dalam hati, matanya terfokus pada wajah jasad tak berdaya itu.


"Astaghfirullah!" Tanpa sadar bibirnya menyebut kalimat itu saat sebuah ingatan mencuat ke permukaan. Paman Harits berbalik meninggalkan lokasi kecelakaan.


Ia masuk ke dalam mobil, membanting tubuhnya sambil mengusap wajah.


"Astaghfirullah! Astaghfirullah!" gumamnya perlahan.


"Mas, ada apa?" Nadia mengusap lengannya pelan. Ia mengernyitkan dahi bingung dengan sikap suaminya.


Paman Harits membuka tangannya, ia menatap Nadia dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Ada apa, Mas?" tanya-nya lagi saat lelaki itu tak kunjung membuka mulutnya. Matanya berputar menilik bergantian kedua netra miliki laki-laki di depannya.


"Kamu pasti akan terkejut saat tahu siapa yang menjadi korban kecelakaan maut di sana," ucapnya yang seketika membuat degup jantung Nadia berpacu tak terkendali.


"Jangan menakutiku, Mas!" Ia menggeleng dengan lelehan air mata yang tak perlu izinnya lagi.


Paman Harits menangkup wajah istrinya, Nadia terisak. Ketakutan yang dirasakannya semakin nyata. Ia masih menggeleng sambil menunduk menolak kemungkinan yang ada dalam pikiran buruknya.


"Tenang, sayang. Mas tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Itu bukan mereka, tapi kamu mengenalnya," ucap paman Harits menenangkan.


Perlahan Nadia mengangkat kepala menatap wajah suami yang begitu dekat dengannya itu. "Si-siapa, Mas?" tanyanya terbata. Masih ada orang yang dia kenal, dua anak asuhnya.


"Yuni ... dia Yuni." Nadia membeliak mendengar nama Yuni disebut suaminya.


Paman Harits melepas tangannya, ia bersiap mengemudi melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda. Tinggal beberapa menit lagi saja untuk tiba di tempat tujuan mereka.


Polisi sudah berdatangan dan mengambil alih jalanan.


"Mas juga tidak tahu. Mungkin saja ada yang menjamin kebebasannya, atau apalah. Yah ... namanya hukum hanya tinggal hukum saja," ucap paman Harits sembari menginjak pedal gas melaju perlahan meninggalkan tempat kejadian itu.


"Tapi rasanya janggal saja, dia itu divonis seumur hidup. Lalu, sekarang ada di luaran dan kecelakaan." Nadia berpikir hal yang tak masuk akal menurut-nya.


"Jangan naif, sayang. Hukum itu bisa dibeli. Apa lagi saat kita punya uang banyak, untuk keluar dari tahanan itu mudah." Paman Harits tersenyum mencibir.


Nadia menoleh, mencoba mencerna apa yang dikatakan suaminya tadi. Detik kemudian, ia menghela napas. Benar, tak ada hukum yang adil di dunia ini. Seadil-adilnya hukum hanyalah milik Allah Yang Maha Adil Lagi Bijaksana.


"Kamu tahu tidak? Kondisi Yuni amat mengenaskan-"


"Jangan diceritakan! Aku tidak mau mendengarnya," tolak Nadia menempelkan tangannya di bibir paman Harits.


"Baiklah. Aku tidak akan menceritakan bagian itu. Aku hanya ingin bertanya saja. Wajahnya seperti orang yang sedang melihat hantu." Paman Harits menunjuk wajahnya sendiri, "seperti ini!" Ia mempraktekkan bagaimana wajah Yuni yang sudah tak bernyawa itu.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Na'uudzubillah tsumma na'uudzubillah. Dia suul Khotimah, Mas. Ketakutan saat melihat malaikat maut yang datang menjemputnya," ucap Nadia sambil mengelus dadanya yang berdebar-debar.


"Suul Khotimah? Apa itu?"


"Suul Khotimah itu, kebalikan dari Husnul khatimah, Mas. Kalau Husnul khatimah itu baik, maka suul Khotimah itu buruk. Na'uudzubillah! Semoga kita terhindar dari itu semua. Aamiin!" Nadia mengusap wajahnya.


Doanya diaminkan pula oleh paman Harits. Mobil berbelok memasuki kawasan pesantren. Mereka kembali dikejutkan oleh para warga yang berlarian sambil membawa ember-ember berisi air di tangan mereka.


Panik, Nadia mencengkeram tangan paman Harits sedikit kuat.


"Mas!" Bergetar lisan Nadia saat memanggil suaminya.


"KEBAKARAN!"


"KEBAKARAN!"


Teriakan demi teriakan memenuhi rungu keduanya. Kepulan asap membumbung tinggi di langit, kilatan warna kekuningan menyembur dari balik rumah-rumah warga.


"Kebakaran," gumam paman Harits.


"Mas, itu di pondok, Mas. Kebakaran itu di pondok, Mas. Cepat, Mas!" Nadia semakin panik saat sadar kebakaran itu berasal dari rumah yang dulu ia tempati.


Paman Harits mempercepat laju mobilnya, tak ingin terlambat. Ia dapat melihat orang-orang yang diutusnya, bahu-membahu memadamkan api bersama warga dan para santri.


"Hati-hati, sayang!" teriak paman Harits saat Nadia keluar dan berlari sesaat setelah mobilnya berhenti. Paman Harits menyusul istrinya, ia menangkap pergelangan tangan Nadia dan memintanya untuk tidak berlari.


"Nafisah!"


"Nafisah!"


"Ya Allah, selamatkan anakku, ya Allah!" jerit suara Ain bersambut dengan suara Ruby dan Bilal mengusik telinga Nadia.


"Nafisah!" gemetar kakinya, terseok ia berjalan. Air mata mengucur deras di pipi, paman Harits sigap menangkap tubuhnya saat Nadia terjatuh di tanah yang tak jauh dari Ain dan kedua anaknya berdiri.


Ia dicekal warga, begitu pula dengan Ruby dan Bilal.


Kobaran api menjilat-jilat ke udara, menghanguskan bangunan itu. Tak hanya rumah tempatnya tinggal dulu, tapi asrama bahkan masjid dikelilingi kobaran si jago merah.


"NAFISAH!" jerit Nadia pada api yang sedang melahap bangunan di depannya.


"Bunda!" Ruby dan Bilal menoleh. Pun dengan Ain. Kedua anak itu memberontak, melepaskan diri dari cekalan warga.


"Bunda!" Mereka berlari mendekati Nadia dan menjatuhkan diri di tanah memeluk wanita itu. Menangis bersama, menumpahkan kerinduan juga rasa takut akan kehilangan.

__ADS_1


"Di mana Nafisah?" tanya Nadia pada keduanya.


"Adek, masih di dalam, Bunda. Abi sedang mencarinya ke dalam." Tangis Ruby dan Bilal kembali pecah berbaur dengan jerit penyesalan Nadia. Paman Harits sigap menelpon pemadam kebakaran. Ia ikut membantu warga menyiramkan air pada api yang melahap habis bangunan kokoh tersebut.


__ADS_2