Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Penyesalan


__ADS_3

Side story' Ikram


Berhari-hari aku memikirkan soal wanita itu, apakah dia benar-benar tidak mengenalku? Namun, setelah beberapa kali bertemu dia tetap bersikap seperti biasa. Aku yakin dia tidak mengenalku.


Kucoba lupakan semua, tapi tetap saja bayangan dia menangis di dekat jasad suaminya itu selalu menghantui hari-hariku. Beruntung, sesuatu yang lain mengalihkan pikiranku. Aku yang dirundung gelisah kala itu, dihadiahi seorang jamaah online yang tiba-tiba muncul bertanya ini dan itu tentang hukum-hukum Islam.


Dia cantik, menarik, tapi sayang tidak memakai hijab. Dia kritis, tapi sopan. Cerdas dan pintar, membuatku harus benar-benar hati-hati saat menjawab pertanyaan-pertanyaan darinya.


Setiap hari aku selalu menunggu chat darinya. Dialah pengobat gundahku. Nadia Almira namanya. Dari respon yang dia berikan sepertinya dia selalu puas dengan jawaban-jawaban yang kusampaikan. Dia tidak tahu saja, bahwa aku selalu ditemani buku-buku saat gambarnya muncul di layar ponselku.


Suatu saat aku memintanya, untuk mengenakan hijab.


"Dek, kamu itu cantik lebih cantik lagi kalau pakai jilbab." Kukirimkan pesan tersebut padanya. Dia tidak membalas kupikir dia tersinggung karena merasa terusik privasinya.


Namun, keesokan harinya profil gambarnya berubah. Foto dirinya yang mengenakan hijab. Sangat cantik dan bersinar. Kenapa jantungku tak berhenti berdetak? Apakah aku jatuh cinta?


Akhirnya tiada hari kulewati tanpa menemani dia belajar. Dia mengatakan padaku kalau dia bukanlah gadis baik-baik, belajar agama saja baru kali ini dia lakukan. Aku tersanjung saat dia memujiku.

__ADS_1


"Terima kasih, Ustadz. Setelah mengenal Ustadz saya jadi tahu tentang agama saya."


Kalimat singkat itu membuatku merasa jadi manusia yang berguna. Berkat mengenalku katanya, satu pahala kebaikan telah aku dapatkan. Hari-hari kulewati dengan senyum ceria yang lain dari biasanya. Sampai suatu hari sebuah kenyataan membuat jantungku hampir saja lepas dari tempatnya.


Saat aku datang ke pabrik konveksi itu lagi, gadis itu yang menerimaku. Dia Nadia, dan dia anak dari laki-laki yang aku tabrak waktu itu. Aku membuatnya yatim sebelum dia melihat dunia ini. Ternyata dunia ini memang tak selebar daun kelor. Aku gugup saat bertemu dengannya, tapi kutekan sebisa mungkin. Ingin aku lari saja, tapi dia terlihat bahagia dan antusias saat berbincang denganku.


Hal itu menambah kekagumanku padanya. Tanpa sadar aku tersenyum, dan membayangkan jika dia menjadi istriku. Sikapnya yang manja, membuatku merasa bahagia. Benar. Kata orang jika menikahi gadis, maka kau akan dibuat bahagia oleh sikap manjanya. Rasanya, aku ingin menikahi Nadia. Sebagai tebusan dari rasa bersalah atas dosa yang aku lakukan di masa lalu.


Aku suka saat melihatnya tertawa, tersenyum dengan semu merah di pipinya. Berbeda dengan Ain yang biasa saja di mataku. Apakah dia mau menjadi istri keduaku? Ah ... konyol! Itu hanya hayalanku saja. Tidak mungkin gadis cantik dan cerdas sepertinya mau menjadi istri keduaku. Konyol, benar-benar konyol!


Kutepis hayalanku jauh-jauh. Kulirik Ain yang sibuk dengan rekan pengajiannya. Dia tersenyum kala menoleh padaku, kenapa berbeda sekali dengan Nadia. Saat aku melihat senyumnya, selalu membuat jantungku tak karuan. Berdentam-dentam tak beraturan. Aneh rasanya.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Aku merasa nasibku teramat baik. Takdir baik selalu bersamaku. Siang itu bu Sarah, ibu Nadia mendatangi aku. Kukira dia akan berbicara soal suaminya, aku sudah mewanti-wanti untuk itu. Nyatanya, dia memintaku untuk menjadi suami dari anaknya, Nadia. Rasa tak percaya, tapi itu diucapkan oleh ibunya.


Bu Sarah membuat sebuah perjanjian untuk itu, padahal walaupun tanpa perjanjian aku akan bersedia menikahinya. Ah ... setelah kupikir lagi, perjanjian ini perlu untuk menyelamatkan aku. Jika suatu hari nanti bu Sarah tahu kalau akulah yang membunuh suaminya.


Tak apa, walaupun hanya lima belas persen itu sudah cukup bagiku. Pernikahan itu pun terjadi setelah drama dengan Ain. Kenapa dia malah menghalangiku, seharusnya dia sadar aku butuh sesuatu yang utuh masih tersegel.

__ADS_1


Sayang, malam pertama dengannya harus tertunda. Tak apa karena aku sangat puas malam itu, dia benar-benar masih gadis. Hahaha ... aku benar-benar bahagia malam itu. Namun, kebahagiaan yang aku rasakan ternyata membuat Ain merasa cemburu. Segudang peraturan yang menekan Nadia pun dibuatnya, aku menurut karena tak ingin Ain merasa aku mengucilkannya.


Aku tidak ingin Ain memiliki perasaan bahwa aku akan meninggalkannya. Itu sangat tidak mungkin. Biarlah, kulihat Nadia pun bisa menerima dengan sabar. Dia memang wanita yang luar biasa, tapi satu yang membuatku tidak suka dia sering sekali keluar rumah tanpa izin dariku. Aku merasa tidak dihargai sebagai suami.


Semakin hari semakin rumit, rasa cemburu Ain semakin menjadi. Dia memintaku menikah lagi. Konyol! Bukankah itu hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Bodoh. Namun, karena setiap hari dia mendesakku akhirnya aku turuti dengan syarat yang bertentangan dengan syarat yang dia ajukan dulu. Niatku hanya untuk membuatnya sadar aku tidak ingin menikah.


Nasib sial terus berdatangan setelah Yuni masuk ke dalam rumah tanggaku. Aku tidak tahu siapa dia. Bermacam-macam kejadian aku lewati. Hal-hal yang tidak masuk akal pun aku terima. Apa ini? Apakah ini hukuman karena aku tidak bersikap adil pada Nadia dan lebih mementingkan perasaan Ain.


Semuanya kacau, anak-anakku menjauh. Mereka tidak pernah terlihat di rumah karena Ain selalu sibuk dengan dirinya sendiri. Aku pun meminta ustadz lain menggantikan aku mengajar. Rasanya sudah tidak bisa berpikir lagi. Terlalu pelik. Sikap Nadia semakin membuatku jengah. Bisa-bisanya dia membuat alasan dirawat di Rumah Sakit untuk menutupi kesalahannya.


Namun, kenyataan yang kudengar dari mulut anakku sungguh membuatku tak mampu untuk berkata-kata. Bagaimana Ruby tahu semua itu, terlebih saat dia tahu kalau akulah yang membunuh papah Nadia. Apa karena Ruby selama ini dekat dengan Nadia? Aku tidak tahu dari mana Ruby bisa mengetahui itu semua.


Beribu kata andai selalu mengawali setiap penyesalan. Aku tidak tahu apa-apa soal penyakit Nadia. Rasanya aku tak lagi punya harga diri saat ini saat anakku sendiri menguak semua tabir yang tertutup. Nadia koma, bu Sarah meninggal. Aku tidak peduli lagi soal perjanjian itu karena aku sudah menganggapnya batal. Aku sudah tidak menginginkannya lagi. Rasanya terlalu malu untuk meminta itu saat semua yang kulakukan jauh dari kata layak pada Nadia.


Nadia pergi, bagaimana aku akan meminta maaf padanya. Rasa sesal memang selalu datang di akhir cerita saat semuanya terkuak di waktu yang tidak tepat. Saat semuanya telah pergi meninggalkan aku sendiri. Bu Sarah ... aku bahkan belum sempat meminta maaf padanya, tapi sudah lebih dulu meninggalkan dunia. Aku menyesal, kenapa aku tidak mau mengakui kesalahanku itu ketika dia masih hidup. Mungkin saja aku akan mendapatkan maaf darinya meskipun akan ada resiko yang harus aku tanggung.


Lalu, Nadia pun kini telah pergi. Bagaimana caraku mendapatkan maaf darinya. Anak-anakku ... aku merasa menjadi orang tua yang dzalim. Aku telah berbuat dzalim terhadap anak-anakku sendiri.

__ADS_1


Mereka bahkan tak ingin melihatku. Ain, aku memang kesal padanya saat tahu dia menggunakan uang anak-anak yatim, tapi aku juga bersalah karena membunyikan semua ini darinya. Hal itu pasti sangat membuatnya terpukul. Namun, aku harap Ain akan menyadari kesalahannya dan memperbaiki diri bersamaku. Untuk Yuni, sepertinya dia sudah menyadari semuanya sejak awal. Sebelum semuanya terungkap.


Kembalikan Nadia padaku, Tuhan. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku berjanji akan membuatnya bahagia kali ini. Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Berikan Nadia untukku!


__ADS_2