
Dua Minggu berlalu, hari yang tak sabar dinanti tiga wanita di rumah besar tersebut untuk pergi ke undangan. Mereka ingin memastikan nama yang tertulis dalam surat undangan itu adalah orang yang sama dengan yang mereka tahu.
"Kenapa aku justru tidak rela Ruby menikah dengannya?" gerutu Nadia di depan cermin meja riasnya. Tengah merias diri tampil sederhana? Ia tak ingin untuk kali ini.
Ketiganya bahkan merancang gamis yang seragam. Gamis dengan atasan dobel yang disertai motif sangat ramai terlihat cocok saat melekat di tubuhnya. Ia yang tak pernah mengenakan pakaian yang wah, terlihat biasa saja dan nampak nyaman mengenakannya.
Dipadu padankan dengan pasmina coklat susu menjadikan penampilan Nadia makin mempesona. Sudah dapat dipastikan dialah bintang di pesta Ruby.
Lelaki itu bahkan menunggunya dengan sabar, duduk di tepi ranjang sambil sesekali mengawasi Zahira yang bermain di tempatnya. Ia tersenyum, memperhatikan istrinya yang berubah tampilan, paman Harits beranjak mendekat.
Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Nadia, meremasnya lembut sambil mematri pandangan pada cermin. Ia letakkan dagunya di atas kepala Nadia, mencium ubun-ubun dan kembali pada cermin yang memantulkan bayangan keduanya.
"Kenapa kamu tidak rela? Bukannya dia lelaki yang baik?" Bertanya seolah-olah tak tahu saja apa yang pernah dilakukan laki-laki itu terhadapnya.
Bahu Nadia turun, ia menatap kesal lelaki yang masih bergeming di belakang tubuhnya. Tak berucap Nadia melanjutkan merias wajahnya. Tak acuh pada suaminya yang mulai nakal merayap. Jemari lelaki itu bahkan menelusup ke dalam pakaian yang ia kenakan. Kepalanya diturunkan mengendus tengkuk yang tak tertutupi hijab.
"Mungkin saja dia telah berubah dan memetik pelajaran dari kejadian dulu." Berbisik di telinga istrinya sebelum melanjutkan pekerjaannya mengendus kulit leher Nadia.
Nadia menghendikan bahu merasakan geli yang membuat seluruh bulu di tubuhnya meremang.
"Tetap saja, aku merasa ... dia hanya menjadikan Ruby pelampiasan." Nadia berdesis, ia menggigit bibirnya kuat-kuat di saat kecupan yang diikuti gigitan kecil diterimanya dari lelaki itu.
"Mbak! Ayo, kita berangkat. Ini sudah hampir siang!" Berteriak dua gadis lain dari lantai satu. Padahal, jarum jam masih menunjukkan pukul enam pagi. Sarapan saja belum ada yang memasuki perut mereka.
__ADS_1
"Mas, tidak dengar Rima dan Winda sudah memanggil. Sudah, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku," pinta Nadia sambil mendorong wajah suaminya dari ceruk leher miliknya.
"Ini bahkan masih jam enam pagi, sayang. Masih sangat pagi untuk berangkat. Kenapa terburu-buru sekali?" Suara parau paman Harits mengusik telinga.
"Kita akan menghadiri akad nikahnya, Mas. Jalanan ibukota selalu padat kendaraan, aku takut kita akan terlambat datang." Nadia melanjutkan lagi riasan yang sempat terhenti karena kelakuan suaminya.
Laki-laki itu beranjak, berjalan menjauh dan kembali duduk di tempatnya semula. Menunggu sambil mengulum senyum manis memperhatikan tangan lihai istrinya bekerja merias wajah.
Hijab yang sehari-hari hanya biasa saja, hari ini nampak berbeda. Memperlihatkan lekuk lehernya yang jenjang. Benar-benar Nadia yang sempurna dengan penampilannya yang elegan.
"Kamu sempurna, sayang!" pujinya sambil beranjak berdiri. Nadia tersipu, ia menunduk dan terus mengayun langkah mendekat.
Bukan menghampiri paman Harits, tapi meraih Zahira yang masih asik sendiri bermain. Paman Harits mengambil alih bayinya, ia mengulurkan tangan padanya yang segera disambut Nadia lengkap dengan senyuman.
"Wah ... pengantin baru kita muncul juga. Ayo, Mbak, kita tidak boleh terlambat," ajak Winda dan Rima yang sedari tadi menunggu kakaknya itu turun.
Ucapannya terhenti saat Winda mengangkat tangan dengan roti yang telah ia siapkan. Nadia terkekeh, menyeret suaminya untuk ikut segera melangkah meninggalkan rumah.
Jalanan masih lengang tatkala mobil mereka keluar. Bersama Yoga yang seorang pengemudi handal, mobil menyalip kendaraan lain tanpa hambatan. Perjalanan panjang yang menjenuhkan, tak terasa karena celoteh ceria ketiga wanita di dalam sana yang mengajak Zahira mengoceh.
Semua orang mengisi perut dengan roti yang dibawa Winda. Lumayan untuk mengganjal sampai mereka tiba di lokasi. Mobil terus bertambah kecepatan saat perbatasan kota mulai terlihat.
"Calon suamimu memang benar-benar bisa diandalkan." Nadia menyikut lengan Winda bagian kanan, dan Rima bagian yang lainnya. Tersipu wanita itu karena godaan kedua saudarinya.
__ADS_1
Namun, tidak dengan laki-laki itu. Ia tetap fokus mengemudi tanpa terganggu sama sekali. Dua jam perjalanan ditempuh mereka, itu cukup cepat bahkan cepat sekali.
"Apa dia seorang pembalap? Kenapa hanya dua jam lebih saja kita sudah sampai? Mengagumkan!" Nadia menatap takjub pada Yoga, maniknya berbinar terang membuat lelaki yang duduk di depannya memberengut cemburu.
"Aku bahkan lebih baik darinya. Apa kamu ingin melihatnya?" ketus paman Harits melirik tajam istrinya. Nadia meringis, merasakan atmosfer telah berubah hanya pada dirinya.
"M-mas ...?"
"Aku tidak suka istriku memuji lelaki lain. Hanya aku seorang. Hanya aku!" tegas lelaki itu tak menutupi kecemburuannya dari siapa pun. Ia menoleh dan semakin tajam tatapan matanya itu.
Nadia menggigit bibirnya, ia menimang Zahira di pangkuan. Matanya berputar melirik ke kanan dan kiri mencari-cari pengalihan. Pada akhirnya, ia hanya menarik napas panjang sambil menunduk.
"Maaf, tapi dia hanya Yoga, Mas. Bukan orang lain, dan sebentar lagi dia akan menikah dengan Winda. Jangan cemburu begitu." Nadia memelas. Matanya mengembun senjata paling ampuh meredam amarah suaminya.
"Dia tetap laki-laki dan aku tetap saja tidak suka ... baiklah. Aku memaafkan kali ini, tapi tidak lain kali. Tetap saja kamu akan menerima hukuman karena sudah berani membuatku cemburu!" Sekali lagi lelaki itu menegaskan.
Nadia mengangguk pasrah, ia menghela napas. Menyandarkan punggung pada kursi menahan kesal yang melanda hati. Winda dan Rima mengulum senyum, melihat paman Harits yang cemburu meski di depan orang tersebut. Juga Yoga yang tetap cool tak terusik sama sekali. Sungguh bertolak-belakang antara bos dan asistennya.
Keadaan hening sampai mobil mereka tiba di perbatasan kota Rangkasbitung. Lokasi yang akan mereka datangi sebuah gedung yang disewa Ikram sebagai tempat melangsungkan pesta.
"Apa kamu mengizinkan orang tua itu?" Pertanyaan yang dilemparkan paman Harits secara dingin membuat ketiga wanita itu menatap Yoga bersamaan.
"Sudah, Tuan. Saya memberikan izin mereka untuk dua hari saja, tapi Anda tidak perlu cemas karena saya juga meminta orang untuk mengawasi mereka." Laporan Yoga membuat puas paman Harits.
__ADS_1
Namun, ada yang mengganjal di hatinya yang harus ia utarakan sekarang juga.
"Lepaskan saja mereka, biarkan mereka pergi. Aku sudah tidak ingin mereka bekerja di perkebunan. Berikan mereka uang pesangon yang layak sebagai bekal di hari tuanya." Keputusan paman Harits membuat Nadia tertegun sekaligus merasa senang karena sejujurnya, dia tidak tega melihat mertuanya yang sudah tua harus bekerja di perkebunan. Nadia tersenyum, ia mengelus bahu suaminya bangga.