Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Perhatian Ibu


__ADS_3

Sejak pertemuannya dengan Rai, paman Harits membawa Nadia pulang. Tidak menunda lagi karena wanita itu sudah dapat dipastikan tidak akan menikmati masa liburannya.


"Jadi mampir ke rumah Mamah?" tanya paman Harits memecah keheningan.


Nadia menggeleng, keinginan untuk menetap di kota itu tak ada lagi.


"Kita pulang saja, Mas. Aku capek," jawabnya. Ia menjatuhkan diri pada sandaran kursi mencari tempat nyaman untuknya memejamkan mata.


Paman Harits tak lagi bicara, ia fokus menyetir sembari sesekali melirik Nadia yang memejamkan mata. Paman Harits menghela napas panjang, bulan madu asik malah jadi kacau karena pertemuan tak sengaja dengan laki-laki itu.


Mendengar napas berat dari suaminya, Nadia membuka mata. Ia beranjak dan bergelayut di lengan kokoh itu.


"Kita lanjutkan di kota lain saja. Atau ke Luar Negeri, rasanya sudah lama sekali aku tidak pergi ke sana," ucap Nadia sambil memandang paman Harits yang terdiam menimbang.


"Mmm ... boleh. Kota mana yang ingin kamu tuju?" sahut paman Harits kembali bersemangat.


Nadia berpikir otaknya berputar mencari kota yang ingin dikunjunginya.


"Jangan pantai, bagaimana kalau kita ke puncak saja." Ia melingkarkan tangan di belakang tubuh paman Harits.


"Bukannya mau ke Luar Negeri?" Nadia menggeleng.


"Di Negeri sendiri juga banyak tempat indah untuk dikunjungi." Ia menjatuhkan kepala di bahu suaminya.


"Baik, kita ke puncak."


*****


Suasana sejuk menusuk tulang menyambut kedatangan mereka. Villa yang mereka sewa berada di atas bukit hingga pemandangan hijau dari perkebunan teh nampak indah dilihat dari tempatnya menginap.


Nadia berdiri di balkon kamarnya, dengan jaket tebal yang menyelimuti tubuh ia menatap hamparan bintang di langit.


Sebuah pelukan menghangatkan tubuhnya. Lelaki itu menjatuhkan dagu di pundak kanan sang istri. Ia mengecup pipi wanita itu dengan gemas.


"Kamu dingin, tidak ke dalam saja?" ucapnya. Nadia mengangguk. Malam memang sudah larut keduanya memutuskan untuk beristirahat.

__ADS_1


Tiga hari lamanya, sepasang pengantin baru itu menghabiskan waktu di puncak. Lebih banyaknya di dalam kamar saja.


"Kenapa? Kok, cemberut begitu?" goda paman Harits. Ia duduk di ranjang memandang Nadia yang sedang berkemas.


"Sendiku rontok, urat-urat di tubuhku kaku, tulangku remuk semua. Mas benar-benar, ya, buat aku sampai lesu begini."


Mendengar keluhan Nadia, paman Harits terkekeh. Ia melipat tangan di perut bangga.


"Sekarang kamu tahu, 'kan, kalau suamimu ini sangat perkasa!" Gelak tawa kembali menggema dari arahnya saat Nadia justru mengerucutkan bibirnya.


"Yakin, pulang hari ini?" tanya paman Harits memastikan.


Nadia mengangguk lemah, ia benar-benar terlihat lesu. Paman Harits merasa bersalah, itu semua karena ulahnya yang tak dapat menahan keinginan ketika datang. Ia mengangkat tubuh Nadia ke atas ranjang. Wanita itu ingin memekik, tapi tenaganya telah terkuras habis.


"Istirahat dulu untuk hari ini, besok baru kita akan pulang. Aku akan menahan diri untuk tidak memintanya." Paman Harits mengusap dahinya, ia juga mengecupnya sebelum beranjak.


"Kamu mau apa? Biar aku belikan, ada sesuatu yang harus aku kerjakan di sini," tanya paman Harits sembari mengenakan jaket miliknya.


"Aku mau jus buah, bisa tolong Mas belikan? Juga cilok, sepertinya enak," katanya tersenyum riang.


"Kunci saja pintunya, tetap di dalam kamar dan tidurlah!" katanya mengingatkan. Nadia mengangguk, ia beranjak untuk mengunci pintu sebelum kembali merebahkan diri di ranjang. Nadia tertidur.


Keesokan harinya, mereka kembali ke Jakarta. Kondisi tubuh Nadia jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia nampak lebih segar dan ceria. Nadia membeli banyak oleh-oleh untuk anak-anaknya juga orang-orang di rumah.


Tiba di rumah, mereka disambut dengan meriah. Gelak tawa anak-anak, senda gurau mereka, Nadia sangat merindukannya. Rasa lelah di perjalanan hilang seketika terhibur oleh keceriaan mereka. Anak-anak itu benar-benar hadiah terindah, anugerah terbesar dalam hidupnya.


Satu bulan berlalu, keadaan mereka baik-baik saja. Anak-anak lebih sering bermain-main di rumah Nadia, paman Harits mengizinkannya. Akhir-akhir ini ia pun sering terlambat pulang karena pekerjaannya yang menumpuk.


"Bi, masak apa? Ini bau apa? Kok, tidak enak baunya, Bi," ucap Nadia dengan wajah yang pucat. Ia memegangi perutnya, mual. Nadia berlari ke kamar mandi di dapur, ia memuntahkan isi perutnya di sana.


Bibi yang cemas gegas menghampirinya, ia melihat Nadia yang menunduk kepayahan. Kedua tangannya bertumpu pada wastafel.


"Non?" panggil Bibi dari ambang pintu kamar mandi. Nadia menoleh, wajahnya semakin terlihat pucat.


"Wajah Non Nadia pucat sekali? Apa sakit? Atau jangan-jangan ... sebentar!" Bibi meninggalkan Nadia yang kebingungan di kamar mandi.

__ADS_1


Ia memutuskan kembali ke kamar, selera makannya hilang sudah. Nadia membaringkan tubuhnya di ranjang, ia memejamkan mata merasakan gejolak aneh di dalam perutnya.


"Ada apa, Bi?" tanya Ibu paman Harits ketika melihat Bibi yang terburu-buru.


"Anu, Bu. Non Nadia sepertinya sakit, wajahnya pucat. Bibi mau ke apotik cari obat," jawab Bibi yang diangguki Ibu.


"Nadia sakit?" Ia bergumam sebelum memutuskan untuk melihat Nadia di kamarnya.


Tok ... tok ... tok!


"Nadia, boleh Ibu masuk?" ucap Ibu. Nadia membuka mata, kondisinya yang lemah tak mampu membuatnya bergerak banyak.


"Masuk, Bu. Tidak dikunci," sahutnya lemah. Mendengar suara Nadia yang lemah, Ibu merasa cemas. Cepat-cepat ia membuka pintu dan semakin cemas saat melihat Nadia yang duduk bersandar di kepala ranjang.


"Apa yang kamu rasakan, Nak?" tanya Ibu setelah duduk di tepi ranjang Nadia.


"Tadi hanya sedikit mual, Bu. Sekarang sudah mendingan," jawabnya.


Ibu tersenyum, ia menunduk sejenak sebelum mengangkat wajahnya kembali.


"Dulu, Ibu pun seperti ini ... ada yang ingin kamu makan? Biar Ibu suruh orang carikan," tanyanya penuh perhatian.


Nadia menggigit bibirnya segan. Ia mendudukkan wajah menimbang apakah dia harus mengatakannya.


"Mmm ... tidak ada, Bu, tapi kalau boleh aku ingin makan masakan Ibu," katanya malu-malu. Ia bahkan tidak berani mengangkat wajah teramat segan bertatapan dengan ibu mertuanya itu.


Ibu terkekeh kecil, "Tidak usah segan seperti itu, Ibu akan buatkan makanan untuk kamu. Duduk saja di sini, dan tunggu makanan itu selesai," sahut Ibu sembari memegangi tangan Nadia dengan hangat.


Nadia tersenyum, ia mengangguk. Matanya memanas tatkala sosok Ibu paman Harits mengingatkannya pada Sarah. Ia mengusap air yang tiba-tiba jatuh dari sudut matanya sambil memandang punggung Ibu yang menjauh.


"Eh ... Nyonya, apa yang Anda lakukan? Biar saya saja, Nyonya," pekik Bibi saat kembali ke dapur dari apotik, ia mendapati Ibu yang sedang memasak.


"Menantuku sakit dan dia ingin memakan masakan yang aku buat. Jadi, biar untuk Nadia aku saja yang masak. Kamu bantu di sini, ya," pinta Ibu tersenyum ramah pada Bibi.


Bibi terenyuh, perubahan Ibu sungguh luar biasa. Ia yang semula sombong, kini ramah dan bersahaja.

__ADS_1


__ADS_2