
"Bunda, apa Bunda mau menginap? Menemaniku di sini?" tanya Ruby dengan binar harapan yang nampak jelas di matanya.
"Sayang, 'kan, ada Umi dan Abi yang akan menemani kamu di sini," sambar Ain dengan cepat sebelum Nadia dapat menjawab.
Wanita cantik itu tersenyum, tak apa untuknya. Terpenting sekarang, Ruby sudah baik-baik saja.
"Tidak apa-apa, Bunda akan menginap di hotel saja. Besok pagi Bunda akan kembali ke sini," ucap Nadia sembari mengusap pipi Ruby dengan lembut.
"Kamu mau bermalam dengan laki-laki ajnabi (asing)? Apa seperti ini kelakuanmu yang sebenarnya, Nadia?" ketus Ikram dengan biji manik yang hendak melompat keluar dari tempatnya.
Paman Harits menggelengkan kepala. Bodoh. Itulah penilaiannya terhadap Ikram. Nadia tetap tenang seperti dulu, tak ingin terbawa emosi oleh dua orang yang ingin dia lahap hidup-hidup itu.
"Memangnya kenapa, Mas? 'Kan, sudah bukan lagi urusan Mas. Aku mau menginap dengan siapa, Mas tidak perlu bertanggung jawab lagi," sahut Nadia ketus. Ruby tersenyum mendengarnya, ia tahu itu hanya untuk menggertak Ikram saja. Tak mungkin Nadia melakukan itu, ia sangat mengenal siapa dan bagaimana Nadia.
Selama ini dia hanya diam saat ditindas, maka jika saat ini melawan itu hal yang benar. Lagi pula Nadia sudah tidak memiliki hubungan apa pun lagi dengan abinya.
Ikram tak dapat menyahut, benar. Apa pun yang dilakukan Nadia sekarang memang bukan urusannya. Hanya saja, ia masih memiliki rasa cemburu di hati saat membayangkan Nadia harus bersama laki-laki lain. Ia tidak sudi.
"Sayang, Bunda pamit, ya. Istirahat yang cukup," ucap Nadia mengecup dahi Ruby sebelum mendekati paman Harits.
"Ayo, Kak!" Nadia mengajak paman Harits untuk pergi meninggalkan ruangan Ruby. Ia melambai pada Ruby saat matanya beradu pandang.
"Kami mau ikut Bunda!" teriak Bilal dan Nafisah sebelum Nadia berhasil menggapai pintu ruangan.
"Bilal! Nafisah! Mau ke mana kalian? Kalian tetap di sini sama Umi," sergah Ain sengit.
"Maaf, Kak. Yang saya tahu, anak-anak tidak diizinkan menginap di Rumah Sakit. Biar mereka ikut denganku saja," ucap Nadia dengan lembut.
Kedua tangannya merangkul tubuh mereka sambil tersenyum. Ain semakin terlihat tidak senang.
"Mereka akan pulang bersama Ibu," ketusnya lagi.
"Sudah biarkan saja," ucap Ikram tak acuh.
Nadia pergi bersama mereka, ia akan mengantar Ibu terlebih dahulu ke yayasan sekalian menjenguk anak-anak asuhnya di sana.
"Waw ... mobil Kakak, keren!" seru Bilal begitu melihat mobil milik paman Harits yang akan mereka naiki.
__ADS_1
"Tentu saja!" katanya sombong.
Nadia geli sendiri, rasanya tidak pantas lelaki berumur sepertinya dipanggil Kakak oleh anak-anak kecil.
"Ingat umur, Kak!" katanya sembari terkekeh. Lalu, masuk ke dalam mobil bersama yang lainnya. Ia hanya terkekeh tanpa mau peduli.
Mobil melaju mulus di jalanan kota kecil itu. Melewati berbagi macam pemandangan. Pesawahan, perkebunan, bahkan perhutanan. Paman Harits terkagum-kagum dengan kesejukan kota kecil itu.
"Pantas saja kalian betah di sini, ternyata tempatnya masih sejuk dan asri," ucap paman Harits sembari menghirup udara pedesaan yang menyegarkan paru-parunya.
"Memang, paru-paru Kakak jadi segar kalau tinggal di sini, dan pastinya Kakak akan semakin betah setelah melihat tempat-tempat wisata di kota ini," sahut Nadia yang dibenarkan Bilal dan Nafisah.
Paman Harits menoleh dengan antusias, dia adalah orang yang gemar bepergian apalagi ke tempat-tempat wisata yang disuguhkan alam.
"Wah ... sepertinya aku akan membuat rencana bulan madu di kota ini," celetuk paman Harits asal.
"Bulan madu?" ulang Nadia, Bilal dan Nafisah serempak.
"Memangnya Kakak mau menikah? Siapa calonnya?" tanya Nadia dengan senyum yang mengejek paman Harits.
Laki-laki itu tertawa kecil. Ia menoleh, menilik manik Nadia yang menunggu.
"Bunda?" Bilal dan Nafisah mengerutkan dahi kecil mereka bingung.
"Aku?" Nadia menunjuk hidungnya.
"Iya, kamu. Siapa lagi kalau bukan kamu?" Paman Harits berbelok mengikuti jalanan. Pepohonan yang tumbuh tinggi menjulang, memberikan kesan sejuk di sepanjang jalan menuju pesantren Al-Masthur.
"Jangan asal! Mana boleh seorang Paman menikahi keponakannya. Kakak itu wali aku, pengganti Papah. Haram hukumnya," tegas Nadia sembari memukul lengan paman Harits dengan pelan.
Ia meminta dukungan kedua anak di belakang dan juga Ibu. Mereka kompak mengangguk.
Paman Harits tertawa, tapi tidak menyahut. Ia hanya mengangkat bahu tak acuh. Tak ada lagi pembicaraan, semuanya bungkam dan hanya terdengar celoteh kedua anak itu saja.
"Apa di sana?" Tangan paman Harits menunjuk gerbang pesantren yang nampak usang tak terawat. Suram dan sunyi seperti tak ada penghuni.
"Benar. Kenapa sepi sekali?" gumam Nadia bisanya akan terlihat anak-anak yayasan yang bermain di dekat gerbang.
__ADS_1
"Iya, Mbak. Anak-anak jarang main di luar semenjak Mbak Nadia pergi dari rumah," sahut Ibu memberitahu.
Paman Harits hanya diam mendengarkan. Dan Nadia, sesuatu membuatnya cemas. Bagaimana keadaan anak-anak asuhnya. Ibu pun gelisah, kebohongannya akan terkuak tentang anak-anak asuhnya yang terlantar.
Mang Sarif membuka gerbang begitu Ibu memperlihatkan diri. Ia membiarkan mobil itu memasuki halaman pesantren dan terus masuk ke gerbang yayasan.
Tak hanya mang Sarif yang tak berkedip menatap mobil paman Harits, tapi semua santri dan ustadz yang kebetulan sedang berkumpul di masjid pun terus memandang ingin tahu siapa yang ada di dalam mobil tersebut.
Nadia keluar dengan perlahan, ia hirup udara yang ada di sana. Udara yang sama tempat dulu dia tinggali. Nadia, tersenyum. Ia mengedarkan pandangan ke sekitar dan mengangguk kecil saat mendapati berpasang-pasang mata sedang memperhatikannya.
Nadia melambaikan tangan ketika semua anak di dalam rumah mengintipnya.
"Bunda!" teriak salah satu dari mereka.
"Bunda!"
"Bunda pulang!"
Mereka berhamburan keluar dan mengerubungi Nadia. Hilang sudah sosok itu ditelan anak-anak asuhnya. Ada yang menangis bahagia, ada yang melekat erat di tubuhnya. Mereka semua merindukan sosok itu.
"Bunda, apa Bunda bawa makanan? Kami lapar," tanya salah satu dari mereka setelah cukup lama memeluk Nadia. Nadia terhenyak, ia melepas pelukan dan menatap satu per satu wajah itu.
Nadia meneguk ludah, entah apa yang dirasakannya saat ini. Antara sakit melihat keadaan mereka yang tak terawat dan kecewa karena tidak ada yang memperhatikan mereka.
"Ini, Ayah bawakan kalian makanan enak! Ayo, kita makan!" seru paman Harits yang terbawa situasi hingga ingin menggoda mereka.
"Ayah?" Semua anak terheran karenanya. Termasuk Bilal dan Nafisah.
"Iya ... Ayah? Itu Bunda kalian, dan ini Ayah kalian. Apa salah?" cetus paman Harits tanpa rasa berdosa.
Nadia tersenyum, yang awalnya merasa sedih karena kondisi mereka, tapi mendengar ucapan asal paman Harits membuatnya kembali dapat tersenyum.
"Bunda!" Tatapan itu meminta jawaban dari pernyataan paman Harits tadi.
"Sudah panggil saja dia Ayah, kalau tidak nanti kalian digigitnya. Cepat, ambil makanan itu dan makan sama-sama," ucap Nadia lagi sembari beranjak dari duduknya.
Anak-anak itu mengambil makanan yang dibawa paman Harits. Beruntung, saat di jalan tadi mereka sempat membeli makanan. Nasi dan lauk pauk, juga ada makanan ringan dan minuman.
__ADS_1
Paman Harits dan Ibu duduk di kursi menonton Nadia yang dikelilingi semua anak asuhnya. Ia begitu perhatian dan penuh kasih sayang. Paman Harits semakin kagum padanya. Ia tersenyum, apa lagi saat mendengar cerita Ibu tentang semua yang dilakukan Nadia untuk anak-anak malang itu