
Bertahun telah berlalu, Nadia masih rutin melakukan cuci darah seorang diri untuk menyambung hidupnya. Ain semakin membenahi diri dan menerima takdirnya. Ikram pun dapat berbuat adil meski masih dengan aturan yang sama karena Nadia tetap memilih memegang ucapannya meskipun Ain telah melupakan. Setidaknya itulah yang dikatakannya.
Pada akhirnya kedua istri Ikram dapat saling menerima satu sama lain. Ain sudah tak lagi merepotkan Nadia dalam mengurus anak-anak karena Nadia sudah disibukkan dengan semua anak di yayasan.
Satu yang membuat Nadia sedih, setelah lima tahun pernikahan ia tak kunjung dapat hamil. Namun demikian, Ikram tak pernah menanyakannya. Dengan Nadia dan Ain hidup rukun saja, ia sudah merasa tenang.
"Mas, maafkan aku karena sampai saat ini aku belum bisa kasih kamu keturunan," ungkap Nadia di suatu malam.
Ikram yang sedang fokus membaca kitab di sofa, menoleh pada Nadia yang duduk melantai dengan wajah yang tertunduk.
"Kenapa kamu selalu bahas ini? Mas tidak ingin membahas ini, Nadia. Kamu jangan merasa terbebani dengan itu," sahut Ikram sembari mengambil tangan Nadia yang tergeletak di samping tempatnya duduk.
"Tetap saja, Mas, sebagai wanita aku juga ingin merasakan hamil dan melahirkan. Aku merasa aku bukanlah wanita sempurna," lanjut Nadia yang dibarengi isak tangis.
Ikram meletakkan kitab di sampingnya, ia mengusap kepala Nadia dan membawanya untuk duduk berdampingan. Direngkuhnya tubuh Nadia agar ia bersandar di bahunya.
"Jangan merasa seperti itu, baru lima tahun usia pernikahan kita masih ada harapan untuk ke depannya. Jangan pernah berputus asa dari rahmat Allah, Nadia. Ini ujian buat kita," ucap Ikram mengusap-usap punggung Nadia dengan lembut.
Wanita itu masih terisak dalam pelukan Ikram. Untuk kondisinya yang sekarang ini, ia masih belum bisa hamil. Namun, menunggu orang yang mau mendonorkan ginjalnya pun sungguh seperti punuk yang merindukan bulan. Jauh tak tergapai.
"Sudah, jangan menangis lagi," ucap Ikram lagi.
Nadia mengernyit saat rasa sakit tiba-tiba menghantam perutnya. Ia menahan untuk tidak meringis di dekat Ikram. Nadia mengangkat kepala, wajahnya pucat pasih seketika.
"Mas, aku ke kamar dulu. Mau istirahat," ucapnya seraya beranjak dengan tergesa dan masuk ke dalam kamar. Nadia mencari obatnya di laci dan langsung menenggaknya. Tak kuat menahan beban tubuhnya, Nadia tergolek di atas ranjang.
Selang beberapa saat, Ikram menyusulnya ke kamar. Melihat wajah Nadia yang damai saat tidur, ia tersenyum. Ikram masuk ke kamar mandi mencuci muka sebelum beranjak menaiki ranjang yang sama dengan Nadia.
Ia mengernyit saat matanya tak sengaja menatap sebuah botol obat di tangan Nadia. Baru kali ini Ikram melihat Nadia mengkonsumsi obat-obatan. Ia mengambilnya, dan melihat isinya.
"Obat apa ini?" gumam Ikram setelah menelisik obat di tangannya, "aku akan menanyakannya besok," sambungnya lagi seraya menyimpan obat tersebut di atas nakas.
Ikram yang berbaring di samping Nadia, memperhatikan wajah istri keduanya itu. Perjuangannya untuk hidup rukun bersama Ain bukanlah hal mudah. Ia rela mengikuti mau Ain demi dapat diterima dengan baik.
__ADS_1
Ketika Ain memintanya untuk meninggalkan anak-anak, Nadia dengan suka hati melakukannya. Ikram menyentuh pipi Nadia, membelainya lembut.
"Mas merasa beruntung dapat menikah dengan kamu. Karena kamu Mas jadi tahu bagaimana rasanya merenggut kesucian seorang gadis," gumam Ikram sembari mengulas senyum di bibir. Namun, Nadia tetap terlelap tak mendengarkan.
"Maafkan Mas, Nadia. Kamu harus menderita selama ini karena Mas," lanjutnya sembari meneteskan air mata karena rasa bersalah di hatinya.
Ikram membalik tubuh menghadap langit-langit kamar yang bernuansa putih. Sekelebat kejadian membayang di pelupuk mata membuat air mata Ikram semakin deras berjatuhan. Ia memunggungi Nadia, tak ingin istri keduanya itu melihat dia menangis.
Entah apa yang sedang disesali Ikram, hanya dia seorang yang tahu. Ikram menghapus air matanya, kembali berbalik menghadap Nadia yang masih pulas tertidur. Ikram memeluk tubuh wanita itu, dan mencium dahinya.
"Kamu semakin bertambah kurus saja, Nadia. Apa kamu masih selalu memikirkan soal anak? Sudah Mas katakan, jangan dipikirkan!" ucap Ikram sembari membenamkan wajah Nadia pada dadanya. Namun, wanita itu seolah tak dapat merasakan apa pun. Terus terlelap tanpa terganggu sama sekali.
Pagi datang menjemput bersama sang mentari yang menaburkan rasa hangat pada bumi. Nadia berpamitan pada Ikram seperti biasa. Ia merasa harus mendatangi dokter setelah semalam rasa sakit kembali datang menyerang.
"Tunggu, Nadia!" cegah Ikram setelah Nadia bersalaman dengannya. Nadia yang sudah berada di ambang pintu pun seketika menoleh dengan alis yang berkedut.
"Ada apa, Mas?" sahutnya seraya mendekat kembali pada suaminya. Ikram merogoh saku celana dan mengeluarkan botol obat dari sana.
Nadia terdiam mengingat kejadian semalam.
"I-itu vitamin aku, Mas. Iya ... cuma suplemen aja, kok. Bukan obat," kilah Nadia dengan gugup. Bibirnya tersenyum, tapi gelisah.
"Benar?"
"Benar, Mas. I-itu ... vitamin untuk menyuburkan rahim, Mas," ucap Nadia lagi. Lagi-lagi berbohong.
Ikram mendesah, ia mendekati Nadia dan memeluknya. "Jangan berpikir terlalu dalam!" katanya. Nadia mengangguk mereka pun berpisah karena Ikram harus mengajar hari ini.
Ikram kembali ke rumahnya, ia tersenyum saat melihat Ain mengantar anak-anak sekolah. Tidak dengan Ruby, ia menetap di pondok karena usianya memasuki kelas Menengah Atas. Mereka mendatangi Ikram begitu melihat sosoknya.
"Assalamu'alaikum, Mi!" sapa Ikram mendatangi Ain yang masih berdiri di teras rumah.
"Wa'alaikumussalaam, Abi," sambut Ain dengan hati yang ikhlas.
__ADS_1
Ikram mengecup dahi Ain seraya mengajaknya masuk ke rumah. Kehidupan seperti inilah yang dia inginkan, dua istrinya bisa saling menerima dan tidak saling menekan satu sama lain.
"Umi mau ke toko, Bi. Akhir-akhir ini toko mulai sepi," ucap Ain meminta izin Ikram.
"Iya, Abi harus ngajar. Umi bisa pergi sendiri, 'kan?" sahut Ikram dengan lembut. Keduanya mendaratkan tubuh di kursi ruang tengah. Ain pergi ke dapur membuatkan Ikram secangkir kopi.
"Tidak apa-apa, Bi. Umi bisa pergi sama Nadia saja. Apa dia sudah berangkat?" ucap Ain bertanya.
"Dia masih di rumah, katanya taksi online-nya akan terlambat datang," timpal Ikram lagi.
"Ya sudah, Umi mau siap-siap dulu." Ain beranjak ke kamar mengganti gamis dan kerudung juga mengambil tas.
Ikram pun melakukan hal yang sama, berganti pakaian dan mengambil kitab. Keluar rumah bersama-sama dengan tujuan masing-masing.
Nadia sudah menunggu Ain sembari mengobrol dengan mang Sarif. Seperti biasa, istri kedua Ikram itu selalu mengenakan masker dan kacamata hitam saat akan bepergian.
"Kami pergi dulu, Bi," pamit Ain seraya menyalami Ikram.
"Pergi dulu, Mas." Nadia pula ikut berpamitan setelah Ain. Taksi online yang dipesannya sudah datang. Nadia dan Ain masuk bersamaan dan duduk berdampingan.
"Ke mana dulu!" tanya sang supir pada mereka berdua.
"Ke pasar dulu, ya. Antar Kakak saya," ucap Nadia sembari menaikkan kacamatanya ke atas kepala.
Mobil itu membawa mereka ke pasar sebelum berbelok dan berputar arah ke Rumah Sakit. Ain selalu merasa iri saat berdekatan dengan Nadia, pasalnya adik madunya itu selalu tercium harum meskipun ia mengatakan tak pernah memakai parfum.
Sementara Nadia, bersikap biasa saja. Ia kerap mengajak Ain berbincang pasal apa saja.
"Bagaimana kondisi toko pakaian Kakak?" tanya Nadia sembari menoleh pada Ain.
Ia mendesah panjang sebelum menjawab, "Masih sepi pembeli, mungkin karena bukan waktunya saja, ya. Biasanya kalau menjelang lebaran nanti akan banyak pembeli yang datang," jawab Ain tanpa mengalihkan tatapan dari jalanan di depan.
"Iya, pabrik juga biasanya memproduksi banyak pakaian saat menjelang lebaran," timpal Nadia. Keduanya berbincang menghilangkan rasa jenuh dan canggung yang akan datang setiap kali mereka berdekatan. Ain pamit saat mobil tiba di pasar, dan Nadia meminta supir untuk berbelok arah menuju Rumah Sakit.
__ADS_1