
"Bunda! Apa Bunda akan liburan? Kami boleh ikut?" Anak-anak asuh Nadia yang kebetulan bermain-main di sekitar rumah itu memekik ketika melihat Nadia menyeret koper keluar. Ia mematung menatap mata-mata kecil di depannya yang berbinar penuh harap.
"Letakkan saja koper itu! Kenapa kamu bawa?" Suara tinggi paman Harits menyentak tubuh Nadia yang masih mematung di ambang pintu. Ia menoleh ketika sebuah sentuhan ia rasakan di tangannya.
Pandang mereka beradu, dekat sekali. Hal tak terduga pun terjadi membuat wajah Nadia memerah.
"Kenapa menciumku? Mas tidak lihat di sana!" Nadia membuang wajah malu ke dalam rumah. Suara cekikikan yang banyak semakin menambah semu di pipinya.
Sedikit terkejut, tapi paman Harits bersikap biasa saja.
"Ada apa? Kenapa kalian berkumpul di sini?" Ia berjalan mendekati segerombolan anak yang berdiri di bawah teras rumahnya.
"Ayah, apa Ayah dan Bunda akan pergi berlibur? Kami ingin berlibur juga," ucap salah satu dari mereka dengan senyum lebar hingga deretan giginya yang hitam nampak semuanya.
Paman Harits tersenyum, ia berjongkok di depan mereka semua. Dipegangnya tangan anak itu dan diciumnya seperti pada anaknya sendiri. Nadia yang melihat itu hatinya menghangat seketika.
"Kalian tidak bisa ikut dengan Ayah dan Bunda karena kami akan membuatkan kalian adik. Jadi, kalian bisa pergi dengan Tante Winda dan laki-laki yang di sana itu!" Paman Harits menunjuk arah di mana Winda dan asistennya sedang berbincang.
Semua anak termasuk Nadia ikut melihat ke arah yang ditunjuk paman Harits.
Winda dan laki-laki di dekatnya, serempak menoleh saat desiran angin tertuju ke arah mereka. Semu merah tercetak di pipi Winda apa lagi saat melihat Nadia tersenyum menggoda ia langsung menunduk dan pergi.
Paman Harits melambaikan tangan meminta asistennya yang pendiam untuk mendekat.
"Ya, Tuan!" Ia membungkuk membuat anak-anak itu mengerutkan dahi kecil mereka.
"Bawa anak-anak ini pergi berlibur. Ajak Winda dan juga Rima bersamamu, jangan lupa Ibu mereka. Hari ini semua pekerja aku liburkan," titah paman Harits padanya.
"Baik, Tuan!" Ia kembali menunduk menyambut perintah tuannya.
"Ayah, kenapa Om itu menunduk pada Ayah?" celetuk salah satu anak sembari menyentuh bahu paman Harits.
__ADS_1
Tangan besar itu mengusap kepala si anak sambil bibirnya tersenyum hangat.
"Kalian bisa menanyakan itu padanya. Cepat bersiap! Beritahu Ibu bahwa kalian akan berlibur hari ini!" katanya yang disambut sorakan mereka semua. Paman Harits berbalik, senyum Nadia menyambut.
Ia beranjak dan kembali mendekati Nadia. Menyeret koper yang dibawa Nadia sembari menggandeng tangan wanita itu.
Perjalanan dimulai, membentuk Harits kecil di dalam kantungnya.
"Terima kasih, Mas." Suara Nadia memecah keheningan. Ia memandang paman Harits tersenyum manis.
"Untuk apa?" Laki-laki itu menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada jalanan.
"Untuk rasa sayang yang Mas berikan pada anak-anak asuhku," ungkap Nadia.
Paman Harits meraih tangan istrinya, menggenggamnya, dan meletakkannya di dada bagian kiri.
"Mereka juga anak-anakku." Ia mengecup tangan itu dengan lembut tanpa memalingkan pandangannya dari jalanan di depan. Nadia tersenyum, ia mendekat dan menjatuhkan kepala di pundak laki-laki yang telah berstatus suaminya itu.
"Mmm ... aku ingin makan ketoprak, Mas. Sudah lama tidak memakannya." Nadia mengangkat kepala dan menjatuhkan dagu di bahu itu.
"Baiklah, kita akan mencarinya." Paman Harits melambatkan laju mobil mencari gerobak ketoprak yang dijejerkan para pedagang di pinggir jalan.
Ia menepi ketika sudah menemukannya. Mengantri seperti pelanggan lain, dan ikut duduk di kursi yang sama dengan mereka tanpa segan.
Walau sedikit risih karena tak sedikit dari mereka yang meminta foto Nadia saat mengenali siapa wanita yang duduk di sana.
"Maaf, Ibu-ibu, biarkan Nyonya Harits makan dengan tenang!" pinta paman Harits ketika menghampiri dengan dua piring ketoprak di tangan. Mereka membubarkan diri dengan tertib. Desas-desus terdengar, tapi paman Harits tak acuh. Makan dengan tenang bersama Nadia.
"Mas, tidak masalah makan di pinggir jalan seperti ini?" tanya Nadia setelah beberapa suapan masuk ke mulutnya.
"Kenapa? Aku berasal dari bawah, jadi tidak masalah bagiku makan di mana pun." Paman Harits mengangkat bahu sambil terus mengunyah makanan di mulut. Tak ada lagi pembicaraan hingga mereka menghabiskannya.
__ADS_1
Perjalanan kembali berlanjut, mobil memasuki tol. Nadia mengernyit sedikit mengenal ke mana arah perjalanan. Namun, ia diam tak bertanya.
"Dari sekian banyak tempat indah untuk dikunjungi ... kenapa Mas memilih kota itu? Kota yang tak ingin aku kunjungi lagi," tanya Nadia menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong setelah memastikan ke mana laju mobil itu akan pergi.
Paman Harits tersenyum, ia tahu bagaimana hati Nadia, tapi bagaimanapun kota itu juga berjasa terhadapnya. Banyak kenangan terukir di kota kecil tersebut.
"Bukan kota ini yang tidak ingin kamu kunjungi, tapi tempat itu saja yang enggan kamu datangi. Kita tidak akan pergi ke sana, aku juga tidak ingin menginjakkan kaki di tempat tersebut," sahut paman Harits memastikan.
Nadia menghela napas, ia menunduk sebentar sebelum tersenyum.
"Mas benar, bukan kota ini, tapi tempat itu. Jadi, kita akan ke mana?" Nadia kembali riang. Mengingat banyak tempat wisata yang indah untuk mereka kunjungi.
"Mmm ... ke mana, ya? Ada rekomendasi?" tanya paman Harits bingung sendiri.
Nadia berpikir, lintasan tempat wisata berseliweran di pikirannya. Memilah dan memilih mana yang akan mereka kunjungi.
"Sawarna, Tanjung lesung, Pulau Umang, Kebun teh, Gunung Luhur, dan masih banyak lagi. Mas mau ke mana?"
"Sawarna? Ada apa di sana?" tanyanya.
"Banyak. Pantai, wisata goa, berselancar juga bisa. Banyak villa disewakan di sana. Ada banyak tempat juga yang bisa kita kunjungi. Misalnya, Tanjung Layar, Karang Taraje, dan masih banyak lagi." Nadia menjelaskan dengan bersemangat.
Paman Harits menganggukkan kepala, "Baiklah. Kita ke sana. Berapa jam perjalanan?"
"Jauh sekali, Mas, tapi sekarang jadi singkat setelah tol Rangkasbitung diresmikan presiden baru-baru ini. Kita hanya perlu terus berada di jalan tol, ikuti petunjuknya, Mas!" Nadia memberitahu.
Setelah menentukan pilihan tempat, mereka berbincang ringan membahas apa saja untuk mengusir rasa bosan yang hadir.
"Mas, boleh tidak kita menginap di rumah Mamah? Sepulang dari sana, aku kangen rumah, Mas." Nadia menunduk, rasa sedih dari ruang rindu dalam hatinya seketika datang menyelimuti kala ia mengingat semua hal tentang Sarah.
Paman Harits mengusap kepala Nadia dan menjatuhkannya di dada. Mengecup singkat ujung kepalanya yang tertutupi hijab.
__ADS_1
"Kita akan menginap di sana. Jangan pernah bersedih lagi, selagi permintaanmu itu tidak merugikan diri kamu sendiri, aku akan berusaha mewujudkannya." Nadia memeluk tubuh suaminya erat mendengar kalimat hangat yang terucap dari bibirnya.