Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Saudara


__ADS_3

Suasana ruangan yang ditempati Nafisah, terasa hangat dengan kehadiran Nadia yang menambah keceriaan pada gadis kecil itu. Ia selalu tersenyum dan sesekali tertawa meskipun keadaannya masih lemah dan wajah yang pucat pasih.


Namun, itu lebih baik dari pada Nafisah yang sempat kehilangan keceriaannya beberapa hari lalu. Bilal yang tahu bagaimana kondisi sebenarnya sang adik, hatinya diliputi rasa syukur yang dalam.


"Bunda tahu, beberapa hari kemarin Nafisah bahkan tak pernah tersenyum. Hari ini, senyumnya bahkan terlihat cantik sekali. Aku benar, bukan, Bunda?" ungkap Bilal sambil menyematkan senyum manis di bibirnya untuk sang adik.


Nadia menelisik wajah keduanya, ia menemukan kebenaran dari apa yang diucapkan Bilal barusan. Nadia mengangguk setuju.


"Kakak benar, Nafisah hari ini cantik sekali. Bersinar terang. Cepat sembuh, ya. Bunda tidak ingin wajah cantik ini hilang," katanya sambil mencubit pelan kedua pipi gembilnya.


Ia mengangguk lemah, bibir pucatnya membentuk garis lengkung yang nampak manis dan cantik.


"Bunda, aku mau Bunda bacakan sebuah kisah," pintanya sambil menggenggam tangan Nadia. Ia memohon lewat sorot mata yang tak dapat ditolak Nadia.


Tangannya mengusap lembut rambut gadis kecil itu, ia mengangguk menyanggupi permintaan darinya.


"Sebentar, ya. Bunda cari kisahnya dulu di sini." Ia menggoyangkan ponselnya, "... karena, 'kan, tidak ada buku cerita di sini. Jadi, kita cari dari alat canggih ini saja," katanya lagi mulai mencari cerita apa yang akan dibacakan untuk Nafisah.


Sebuah kisah tentang Uwais al-Qarni, pemuda biasa yang tidak terkenal di bumi, tapi amat dikenal penduduk langit karena baktinya pada sang Ibu. Kisah inspiratif untuk menggugah para jiwa muda umat Islam.


Di balik pintu, paman Harits yang hendak masuk ke ruangan urung ia lakukan. Menguping sepertinya lebih asik. Ia ikut mendengarkan kisah yang dibacakan istrinya dengan penuh penghayatan.


Meresapi setiap kata yang tertuang dalam kisah Uwais al-Qarni, juga pelajaran yang amat berharga sebagai motivasi dalam hidup. Paman Harits memejamkan mata, teringat akan dosa durhakanya pada Ibu. Dalam hati tak henti mengucap istighfar, memohon ampunan dari semua dosa yang telah ia perbuat.


"Nah, selesai. Jadi, pelajaran apa yang bisa diambil dari kisah ini?" Nadia menyudahi cerita. Ia menatap bergantian dua anak yang duduk di ranjang itu.


"Selalu ada cara jika kita memiliki kemauan yang kuat!" Nadia mengangkat jempolnya tepat di hadapan Bilal saat ia menjawab.


"Uwais al-Qarni kuat sekali, dia mampu menggendong ibunya berminggu-minggu lamanya untuk bertemu dengan Rasulullah. Kalau Kakak, bisa tidak nanti gendong aku ke tempat tidurku?" Nafisah menyambut dengan senyum manis tersemat di bibir.

__ADS_1


Lagi-lagi kalimat itu terdengar janggal di telinga Nadia. Namun, ia tetap tak mengacuhkan mungkin itu hanya keinginan kecil Nafisah yang belum tertuang dari dalam hatinya.


Nadia mengusap rambut anak itu, sambil tersenyum haru.


"Tentu saja, Kakak sanggup menggendongmu ke tempat tidur setiap malam kalau kamu mau." Bilal memainkan alisnya naik-turun menggoda sang adik.


Nafisah menggeleng, sedikit tergelak melihat tingkah Bilal.


"Hanya satu kali saja, Kakak. Nafisah tidak yakin Kakak akan bisa menggendong Nafisah setiap malam." Ia menggeleng lagi saat mata kecil Bilal membeliak.


"Kamu meragukan Kakakmu?!" Tidak terima. Ia memandang Nadia meminta dukungan dari Bundanya itu. Sayang, Nadia hanya mengangkat bahu seolah ia tak yakin Bilal bisa melakukannya.


Helaan napas terdengar dari arahnya, ia menunduk. Kecewa karena dianggap tak mampu melakukan itu. Nadia mengusap kepala hingga ke dagunya, mengangkat wajah tertunduk itu hingga mereka saling bertatap.


"Bunda yakin, Bilal pasti bisa melakukannya. Bilal anak yang kuat dan hebat! Buktikan saja nanti pada adik cantik ini." Ia tersenyum memberi dukungan juga semangat pada anak laki-laki itu.


"Kamu harus berlatih seperti Uwais, yang meskipun ditertawakan karena setiap hari mengendong kambing naik-turun gunung, dia tidak menyerah! Berlatihnya sepertinya, dengan menggendong adikmu itu sebelum nanti menggendong istrimu yang sedang hamil seperti Bunda," sambar paman Harits sambil melangkah memasuki ruangan tersebut.


Nadia terenyuh, satu kecupan dilayangkan paman Harits di dahinya. Keduanya menatap Bilal dan Nafisah yang sibuk membuka makanan dari paman Harits.


"Wah ... cake!" seru Bilal, ia membaginya dengan Nafisah, "terima kasih, Kakak. Ini enak!" lanjutnya lagi sambil mengunyah cake di mulutnya.


Paman Harits mengulas senyum, bahagia melihat keduanya tersenyum.


"Mas, bagaimana keadaan yang lain? Para santri itu?" tanya Nadia menoleh sedikit ke belakang tubuhnya.


"Sebagian ada yang sudah diperbolehkan pulang, dan sebagian lagi masih memerlukan perawatan," jawabnya.


Ia mengajak Nadia untuk duduk di sofa saat pintu ruangan terbuka dan menampakan Ain bersama Ruby yang melangkah masuk.

__ADS_1


"Umi!" panggil Nafisah bersama Bilal. Ain tersenyum, ia melirik Nadia yang duduk bersama suaminya di sofa. Ada rasa malu di hatinya, tapi mungkin ini jalan dari Allah untuknya meminta maaf.


Ain mendatanginya Nafisah, memeluk gadis kecilnya dengan hangat. Ruko lantai duanya, telah disulap menjadi tempat tinggal untuk mereka.


"Bagaimana keadaan kamu, sayang?" tanyanya sambil memberikan kecupan di pelipis anak bungsunya.


"Sudah lebih baik, Umi. Lihat, Kakak Harits membelikan kami kue ini, enak." Nafisah memasukkan kue tersebut ke dalam mulutnya lagi. Ain mengusap rambutnya. Ruby ikut duduk di ranjang adik bungsunya itu.


Ia beralih pada Nadia, mata mereka bertemu beberapa saat lamanya.


"Nadia, mungkin ini jalan dari Allah untukku bertemu dengan kamu. Ini kesempatan dari Allah untukku meminta maaf padamu. Aku meminta maaf padamu atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan. Aku sudah menyadari semua dan menyesalinya. Maafkan aku, Nadia." Ain tertunduk usai mengatakan itu. Ia mengusap matanya yang berair.


Nadia tersenyum, sudah lama ia melupakan semuanya. Ia tak pernah lagi mengingat semua yang telah terjadi dalam hidupnya. Tak ingin lagi menguak rasa sakit yang telah ia kubur dalam-dalam.


"Tidak apa-apa, Kak. Aku bahkan sudah melupakan semua itu. Sekarang, bisa kita menjadi saudara? Kakak bisa datang ke rumah kapan pun Kakak mau. Jangan mengingat lagi semua yang terjadi di masa lalu, yang harus kita perhatikan adalah masa depan untuk kita semua," sahut Nadia dengan tenang.


Ain melangkahkan kaki perlahan, mendekat ke arah Nadia. Wanita hamil itu berdiri, menyambut pelukan hangat yang dilakukan Ain padanya.


"Maafkan aku."


"Sudah, jangan meminta maaf lagi."


Ruby dan kedua adiknya ikut merasa bahagia, senyum ketiganya penuh rasa syukur pada akhirnya Bunda dan Umi mereka bisa saling memaafkan dan saling menerima bahwa di antara mereka pernah terlibat suatu hubungan.


Di dalam ruangan itu, gelak tawa juga obrolan terdengar akrab dan hangat. Nadia mendekat pada Nafisah, ia duduk di ranjangnya. Perut yang membuncit itu Nafisah ingin merabanya.


Ia meminta izin pada Nadia agar diperbolehkan mengusap perut itu. Nadia mengambil tangan kecil Nafisah, ia menempatkannya di permukaan kulit. Gerakan janin menyentak Nafisah, membeliak mata kecil itu dengan mulut yang sedikit terbuka.


"Dia menyapa." Nadia memberitahu. Nafisah tersenyum.

__ADS_1


"Dia akan jadi pengganti Nafisah. Dia perempuan."


__ADS_2