
Brak!
Pintu kamar Nadia terbuka kasar menampakkan paman Harits yang berdiri dengan tangan terkepal. Nadia tersenyum padanya, begitu pun dengan Ibu. Wanita tua itu menoleh dan memberikan senyumnya pada lelaki yang berdiri di ambang pintu tersebut.
Namun, di mata paman Harits yang memiliki kenangan buruk tentang wanita yang bersama istrinya itu, senyum yang diukir Ibu lebih terlihat seperti seringai seorang penjahat yang mengancam korbannya.
Paman Harits berjalan cepat menghampiri, "Apa yang kamu lakukan pada istriku?!" Ia menarik tangan Ibu dan menghempaskannya dengan kasar.
Tubuh wanita tua itu jatuh terjerembab membentur lantai bersama piring yang terlepas dari genggaman, dan juga makanan yang berserakan. Nadia memekik, matanya membulat sempurna.
"Mas! Apa yang kamu lakukan?" Ia turun mendekati Ibu dan memeluknya, "Ibu tidak apa-apa?" lanjutnya bertanya pada wanita yang tengah menangis tertunduk itu.
Pinggangnya sakit, tapi hatinya lebih sakit ketika mendapat perlakuan buruk seperti tadi dari anaknya. Ia menganggukkan kepala menjawab pertanyaan Nadia.
Wanita itu mendongak menatap suaminya yang masih diliputi amarah. Entah apa yang menyebabkannya marah kali ini.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? Kenapa kamu menarik Ibu kasar seperti tadi?" tanya Nadia dengan nada tinggi tak tertahan. Wajahnya memerah ikut membara seperti paman Harits. Rencananya ingin memberitahu lelaki itu tentang kehamilannya, surut dengan sikap paman Harits yang berbuat kasar pada Ibu.
Lelaki itu masih bungkam, mulutnya terkunci rapat dengan dada yang naik-turun karena emosi.
"Kamu tahu, Mas, Ibu tadi sedang menyuapiku makan. Kami makan bersama, tapi kamu malah menarik Ibu dengan kasar. Lihat, semua makanannya jadi berserakan, piring juga hancur berantakan karena kamu, Mas!" Nadia menunjuk nasi dan lauk pauk yang terhampar di lantai juga piring yang pecah dan berserakan.
Paman Harits ikut memperhatikan lantai yang ia pijak. Tak ada ekspresi apa pun yang ditampilkan wajahnya, baik menyesal atau rasa bersalah sedikit saja. Tidak sama sekali.
"Dia memberimu makan?" Tatapan matanya curiga melirik wanita yang masih tergugu tertunduk.
Nadia tertawa hambar, menertawakan paman Harits yang konyol menurutnya.
__ADS_1
"Apa Mas curiga pada Ibu kandung sendiri?" Ia memicingkan mata pada suaminya.
"Mungkin saja dia menaruh racun di dalam makanan itu untuk-"
"MAS!" hardik Nadia sembari beranjak berdiri dan berhadapan dengan paman Harits, "kalau Ibu memang meracuni makanan itu, maka yang akan terkena dampaknya lebih dulu tentu saja Ibu karena kami memakannya bersama-sama. Tega kamu, Mas, menuduh Ibu sendiri. Mungkin saja Ibu pernah berbuat buruk di masa lalu, tapi tidak menutup kemungkian Ibu sudah menyadarinya dan sedang memperbaiki semuanya." Naik-turun nada suara yang keluar dari bibirnya. Tubuhnya gemetar hebat.
"Apa Mas mau kelak anak Mas sendiri memperlakukan orang tuanya seperti yang Mas lalukan sekarang?" Nadia kembali berjongkok, paman Harits termangu dengan ucapan Nadia barusan.
Wanita itu membantu Ibu beranjak dan meninggalkan kamarnya.
"Nadia!" Paman Harits mencekal tangan istrinya, matanya sendu memohon. Menyesal, tapi lisan tak mampu berucap.
"Lepaskan tanganku! Aku tidak mau berbicara dengan Mas sebelum Mas meminta maaf pada Ibu." Nadia menepis tangan suaminya dan memapah Ibu keluar.
"Argh!" Paman Harits menjambak rambutnya frustasi. Ia tidak tahu harus apa. Apakah harus percaya pada Ibu demi Nadia, atau bertahan pada pikirannya dan saling mendiamkan.
Paman Harits mendekat, ia membungkuk meraih benda tadi dan memperhatikannya dengan seksama.
Detak jantungnya tak beraturan ketika ia melihat dua garis merah pada benda itu. Senang bukan main, ia tersenyum-senyum sendiri. Pada akhirnya, ia akan menjadi ayah lagi.
"Nadia hamil? Alhamdulillah!" gumamnya pelan sembari menggigit bibir menahan gejolak rasa di hatinya.
Paman Harits mencium benda itu tanpa merasa risih sama sekali. Pantas saja sikap Nadia tidak seperti biasanya, ternyata Harits Junior-lah penyebabnya. Senang bukan kepalang. Ia terlupa bahwa Nadia masih marah padanya.
Paman Harits berlari keluar kamar dan mencari Nadia. Tak sengaja ia mendengar suara tangisan dari arah kamar tamu yang ada di lantai satu. Ia mendekat, dan berdiri di dekat pintu. Dilihatnya Nadia sedang menenangkan Ibu yang menumpahkan tangisannya.
"Maafkan aku, Bu. Maafkan Mas Harits juga atas sikapnya tadi. Mungkin Mas Harits sedang banyak kerjaan dan ada masalah di kantor. Jadi, tidak bisa mengontrol diri saat sampai di rumah," ucap Nadia sembari memeluk tubuh Ibu yang berguncang.
__ADS_1
"Mungkin ini hukuman untuk Ibu karena perbuatan Ibu dulu yang tak pernah peduli padanya. Tidak apa-apa, Nak. Ibu menerimanya, Ibu akan menerima bagaimanapun perlakuan Harits pada Ibu. Tidak usah merasa bersalah. Ibu-lah yang salah di sini." Ia melepas pelukan, mengusap pipi Nadia yang basah dan tersenyum.
Paman Harits beranjak menyandarkan tubuhnya di tembok. Ia memejamkan mata merasai hatinya yang sakit melihat kedua wanita di dalam kamar itu menangis bersama.
Ia menggenggam erat alat tes kehamilan tadi, air matanya ikut menetes kala ucapan Nadia mengiang di telinga. Tidak! Ia menggelengkan kepala menolak apa pun hal buruk yang akan terjadi.
"Ibu tidak marah padanya juga pada kamu, Nak. Harist anak yang baik, hanya saja dia sedikit pendiam dan tidak memiliki rasa percaya diri di saat kecil. Ibu melakukan itu hanya ingin dia membuka matanya bahwa dunia itu tidak hanya berada di lingkungan rumah saja. Ibu ingin dia memiliki keberanian dan kepercayaan diri. Tidak apa-apa, jangan menangis. Ibu tidak apa-apa," ungkapnya sembari mendekap tubuh Nadia yang justru tersedu-sedu.
Paman Harits yang mendengar, mengepalkan kedua tangan menahan gejolak lain dari rasa dalam dirinya.
Tangisan kedua wanita itu, sungguh merobohkan pertahanannya. Ia tak bisa lagi bersembunyi, apa lagi saat teringat pada benda di tangannya. Paman Harits memasukkan benda tersebut ke dalam saku celananya sebelum memasuki kamar Ibu.
"Ibu?" Kedua wanita yang sedang berpelukan itu, melepaskan diri dan menoleh pada sumber suara.
Nadia cepat-cepat memalingkan wajah dari suaminya. Amarahnya belum reda untuk lelaki itu.
"Untuk apa Mas datang ke sini? Kalau hanya untuk menyakiti Ibu, maka Mas harus melewatiku dulu!" ketus Nadia melirik tajam paman Harits yang masih berdiri di ambang pintu.
Biji matanya bergulir, melirik Nadia yang membuang muka darinya. Ia menatap Ibu yang tengah memandanginya dengan mata tua nan rabun miliknya itu.
Paman Harits melangkah, Nadia waspada. Ia menggenggam tangan Ibu bersiap melindunginya jikalau saja lelaki itu berniat buruk padanya.
Nadia terperanjat hingga tubuhnya termundur dengan kedua kaki yang terangkat saat paman Harits menjatuhkan diri bersimpuh di kaki Ibu. Mulutnya menganga, matanya berkedip tak percaya.
Lama paman Harits pada posisi itu. Bukan hanya Nadia yang terkejut, tapi Ibu juga hampir bereaksi yang sama seperti Nadia.
"Ibu ...."
__ADS_1