Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Maaf!


__ADS_3

Di tengah keriuhan pesta, ada anak-anak melengkapi tawa dan canda. Anak-anak bersama Ibu pengasuh mereka pun tak tertinggal dalam pesta. Mereka datang menyusul diantar supir yang disiapkan paman Harits.


Kebahagiaan terasa lebih pekat melihat senyum-senyum ceria dari setiap orang. Di antara mereka, satu orang berwajah masam. Di sampingnya duduk laki-laki yang memperhatikan setiap orang sambil bermain dengan putrinya.


Nadia melipat tangan sekaligus menekuk wajah. Di keramaian pesta, ia sendiri merasa bosan. Melihat Rima yang asik bercengkerama dengan tamu lain. Melihat Winda yang sibuk potret sana potret sini dengan pengantin.


"Mas, aku cuma mau foto. Boleh, ya?" rengeknya untuk yang ke sekian kali. Tatapan lelaki itu masih sama, tajam dan dingin. Menyiratkan ketegasan dalam larangannya.


Nadia melengos, ia memukul lengan suaminya itu cukup kuat hingga terdengar suara memekik lelaki itu.


"Salah kamu kenapa dandan sempurna seperti ini? Aku tidak rela kecantikan kamu itu dilihat banyak orang. Apalagi mantan kamu yang di sana itu, beberapa kali tertangkap basah melirik ke arah kamu. Berhenti merengek kalau kamu masih mau di sini!" Nadia mendengus. Menyebalkan.


Ia iri melihat Winda yang bebas bermain dan bercanda dengan Ruby juga teman-temannya.


"Mas, Yoga juga biasa saja, lho. Lihat, Winda bahkan terus di panggung ikut menyalami para tamu." Mencari-cari alasan supaya dapat diizinkan untuk bergabung bersama Winda dan Ruby.


"Mereka belum menikah, coba saja nanti kalau sudah menikah. Yoga bahkan lebih ketat dari pada aku, dia memiliki peraturannya sendiri. Kamu tahu siapa dia?" Kedua alis laki-laki itu terangkat menilik istrinya intens.


"Dia asisten Mas?" Kepalanya menggeleng.


"Dia mantan tentara. Jadi sudah biasa hidup dengan disiplin yang ketat. Kamu mau aku membuat segudang peraturan untuk menjerat kamu?" Senyum sinis dan mengancam tercetak tanpa ragu di wajahnya.


"Duduk saja di sini." Nadia mengangguk meskipun enggan. Zahira mengangkat kedua tangan sambil mengoceh menggunakan bahasa yang tak dapat diterjemahkan.


"Kamu mau mimi?" Ia mencium tangan bayi itu yang meminta haknya.

__ADS_1


"Mas, Zahira mau menyusu. Bisa temani aku ke sana?" Nadia menunjuk ruangan yang digunakan untuk mengganti pakaian pengantin.


Paman Harits mengikuti langkahnya di belakang. Ia bisa sedikit lega karena tempat itu sepi. Tak banyak orang di sana. Nadia membawa masuk paman Harits dan meminta izin pada mereka yang ada untuk menggunakannya sejenak.


Di kebahagiaan pesta itu, tiga orang tengah berbincang serius. Dihadapan Yoga laki-laki beruban itu tertunduk dalam. Di sampingnya seorang wanita yang sama menunduknya.


"Apa kalian tahu apa kesalahan kalian?" Suara Yoga bertanya dingin menusuk.


"Tahu, Tuan. Kami menyadari itu semua," sahut wanita itu tanpa ragu.


"Bagus. Kalau kalian menyadari, apa yang akan kalian lakukan untuk selanjutnya?" Bertanya lagi memastikan keselamatan tuannya untuk ke depannya.


"Kami berjanji tidak akan mengulangi kesalahan, dan kami berjanji tak akan pernah berbuat jahat lagi." Lagi-lagi wanita itu yang menjawab. Tangannya saling meremas, lembab terasa karena keringat yang membasahi.


"Saya sudah tua, dan tak ingin lagi menumpuk dosa. Saya hanya ingin melihat anak-anak saya bahagia, saya tidak ingin lagi menyakiti mereka. Terutama Harits. Tolong katakan padanya, saya meminta maaf. Memohon ampun atas kesalahan yang seumur hidup saya lakukan terhadapnya. Sampaikan permintaan maaf saya. Saya juga akan bekerja dengan benar mulai sekarang di perkebunan. Mungkin dengan begitu, dia akan memaafkan saya." Lelaki tua itu berucap lirih dan gemetar.


Wanita di sampingnya menggenggam tangan tua miliknya. Menguatkannya untuk mengatakan keputusan yang telah mereka ambil.


Bekerja di perkebunan, mungkin itu sudah jalan hidup mereka yang digariskan Tuhan untuk menebus dosa-dosa yang telah mereka lakukan terhadap paman Harits dan keluarganya. Keduanya saling pandang, mengangguk kecil saling menguatkan.


Di saat seseorang memiliki niatan yang baik pada yang lain, maka Allah menggerakkan hatinya untuk memiliki niat yang baik pula. Di saat paman Harits telah memaafkan dengan suka rela, mereka pun telah menerima dengan suka rela pula.


Yoga tersenyum dalam hati, tapi tak tergambar di bibirnya. Luar biasa kuatnya sebuah ikatan darah. Tak perlu terucap, tapi terasa dan terdetik dalam hati.


"Bagus!" sambut Yoga dengan puas. Kepala sepasang suami istri itu terangkat menatapnya.

__ADS_1


"Mulai hari ini, kalian tak perlu lagi datang ke perkebunan. Tuan sudah tidak ingin melihat kalian lagi. Kalian bisa pergi ke mana pun kalian suka-"


"Ta-tapi ... bagaimana dengan Harits sendiri? Saya tidak ingin pergi sampai dia memaafkan saya. Saya akan tetap berkerja di perkebunan sampai dia benar-benar memaafkan saya. Saya tidak ingin menanggung dosa di akhir hidup saya. Biarkan saya menjalani hukuman yang dia berikan sampai dia merasa puas membalas dendamnya." Tangis lelaki tua itu pecah.


Hati Yoga teriris pilu. Dia rela dipekerjakan putranya sendiri hanya untuk membuat puas dirinya dalam membalas dendam. Lelaki tua itu rupanya telah menyadari kesalahan.


Yoga menelisik keduanya, tak ada gestur mencurigakan yang ditonjolkan mereka. Apa yang dilihatnya saat ini adalah nyata. Kedua orang itu benar-benar menyesal.


"Baik, kalau itu yang kalian inginkan ... aku tidak bisa memaksa, tapi tetap saja Tuan tidak ingin kalian bekerja lagi di perkebunan. Tuan telah memaafkan kalian dan membebaskan kalian dari hukuman. Saya harap kalian bisa memegang janji kalian untuk tidak melakukan kesalahan lagi."


Yoga tersenyum tatkala dua pasang manik di hadapannya sama-sama menyorot padanya. Ada rasa tak percaya, juga rasa lega dalam pancaran mata mereka.


"Iya, Tuan sudah memaafkan kalian. Mulai hari ini kalian tidak bekerja lagi di perkebunan. Tuan bahkan memberi uang yang cukup untuk kalian sebagai bekal di hari tua. Manfaatkan sebaik mungkin, dan jangan lakukan kesalahan lagi. Ingat, Tuan. Usia Anda sudah tidak lagi muda, inilah saatnya Anda memupuk amal ibadah dan mengurangi dosa." Yoga melembut.


Manik tua di hadapannya mengembun, tak lama menyusul air yang turun setetes demi setetes. Rasa haru dan bahagia memenuhi hatinya.


"A-apa saya tidak salah dengar? Ha-harits sudah memaafkan saya? Benar-benar memaafkan saya?" Bertanya karena rasa tak percaya masih meraja di hatinya.


Yoga mengangguk mengaskan. "Benar, Tuan. Tuan sudah memaafkan Anda. Saya harap Anda tidak mengecewakan Tuan lagi." Yoga menunduk, ia menunjukkan sejumlah uang yang dikirimkan pada rekeningnya.


Tersedu lelaki tua itu setelah melihatnya. Rasanya malu sekali, anak yang dia sia-siakan justru membekalinya uang yang cukup banyak.


"Terima kasih. Sampaikan padanya saya berterimakasih padanya dan memohon maaf atas semuanya. Terima kasih," ucapnya berulangkali.


"Akan saya sampaikan."

__ADS_1


__ADS_2