Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ayah dan Anak


__ADS_3

Zahira yang tertidur, ia tidurkan di atas sofa. Nadia sendiri duduk bersandar menjaganya bersama suaminya yang manja. Ia tak dapat beranjak karena lelaki itu menjatuhkan kepalanya di pangkuan Nadia. Disapunya rambut lembab itu, sesekali menyisirnya dengan jari.


"Aw! Kamu mau mencabut rambut Mas? Pelan-pelan, sayang!" sergah paman Harits ketika Nadia iseng menarik kuat rambutnya. Ia terkekeh, suatu hiburan tersendiri untuknya yang merasa bosan.


Laki-laki itu kembali memejamkan mata dengan tenang. Kedua tangan dilipat di dada, kaki panjang menjuntai ke lantai.


"Mau mimi, Mas? Eh ... tapi tidak ada mimi buat bayi besar berjanggut. Maaf!" goda Nadia disusul tawa kecil yang mengesalkan. Laki-laki itu tak terganggu sama sekali. Hanya bibirnya saja yang membentuk senyum tipis. Nadia jenuh kembali.


"Mas, nanti kita foto sebelum pulang, ya?" pinta Nadia. Lagi-lagi tak ada kata yang terucap, hanya bahasa isyarat lewat sebuah anggukan.


Tok-tok-tok!


"Tuan!"


Suara ketukan menyusul suara Yoga membuat Nadia dan paman Harits sama-sama melirik ke arah pintu. Hening. Yoga menunggu tuannya menyahut, dan lelaki yang ditunggunya justru bungkam mengunci mulut.


"Yoga, Mas," beritahu Nadia di saat suaminya itu termangu pada pintu.


"Aku tahu." Singkat ia menjawab sebelum akhirnya beranjak duduk.


"Masuk!" Pintu terbuka setelah sahutan darinya terdengar. Yoga melangkah masuk, hanya beberapa langkah saja dari ambang pintu.


"Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Ada yang ingin bertemu dengan Anda. Dia memaksa untuk bertemu," ucap Yoga menunduk tanpa berani mengangkat wajah.


Paman Harits bergeming, mematri tatapan pada pemuda di hadapannya itu. Masih belum menyahut, berdebar jantung Yoga menunggu jawaban.


"Baik. Aku tahu siapa orangnya." Terdengar dingin. Nadia yang duduk di sampingnya meremang seketika. Ia melirik suaminya, menunggu penasaran siapa orang yang ingin bertemu dengan suaminya itu.


Yoga membungkuk sebelum kembali keluar dan masuk bersama tiga orang yang tak asing bagi mereka. Dahi Nadia mengernyit, tapi tak melalukan apa pun. Keduanya menunggu apa yang akan dikatakan mereka bertiga.

__ADS_1


Paman Harits mengangkat sebelah kakinya, ia letakkan kaki itu di atas kakinya yang lain. Kedua tangannya membentang pada sandaran kursi, sebelah ia gunakan untuk merangkul bahu Nadia, dan yang lain dibiarkan bebas begitu saja.


Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sofa mengusir rasa jemu karena ketiga orang itu tak kunjung berucap. Mereka mengunci mulut dengan kepala yang tertunduk.


"Baiklah!" Paman Harits menurunkan kakinya, "jika tidak ada yang ingin disampaikan maka aku harus pergi." Ia bersiap pergi meninggalkan ruangan.


Gelagapan ketiga orang itu dibuatnya. Mereka saling pandang satu sama lain tanpa menghiraukan paman Harits yang jengah. Wajah ketiganya memerah, perasaan panik dan gelisah jelas nampak di wajah mereka.


"Ah ... Tu-tuan, tu-tunggu!" Paman Harits menatap bingung, dahinya berkerut hingga pangkal alisnya saling bertaut satu sama lain.


Ia yang sudah mengangkat bokong, kembali duduk setelah suara wanita itu terdengar. Kembali ke posisi semula, menunggu mereka berbicara.


"Baik. Cepat katakan! Waktuku hanya sedikit," ujarnya sambil melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan.


"Ha-harits ... Ayah tahu, dosa-dosa yang telah Ayah lakukan tak akan termaafkan. Mungkin sampai mati pun, dosa-dosa itu akan tetap ada menghantui dan menjadi siksa kubur paling mengerikan bagi Ayah. Namun, setidaknya Ayah masih diberi kesempatan untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Ayah tahu betapa tidak tahu malunya lelaki tua ini, datang memohon ampunan setelah semua yang dia lakukan-"


Ia menjatuhkan diri berlutut di hadapan putra yang ia dhalimi semasa hidupnya. Kedua orang di belakangnya pun ikut berlutut. Tangis mereka mengiringi air mata yang terus menderas.


Lelaki di hadapan mereka bergeming, tatapannya tak ia palingkan dari ketiga manusia yang berlutut memohon ampunan.


"Tapi aku bukan Tuhan! Tak seharusnya kalian memohon ampunan dariku. Aku hanya manusia dan tidak memiliki sifat memaafkan seperti Tuhan. Hanya saja, seseorang berkata jika Tuhan saja mau memaafkan kenapa aku tidak?"


Ucapannya terjeda, ia melipat kedua tangan. Helaan napasnya terbuang berat, menumpahkan seluruh beban yang bergelayut di pundak.


Ketiganya tak bereaksi, diam tak menyahut. Hanya isakan mereka saja yang terdengar menggema. Nadia tak ikut campur, ia diam memperhatikan.


"Tapi ... apa kalian tahu bagaimana caranya agar aku lupa perlakuan kalian terhadapku setelah aku maafkan?" Wajah lelaki tua itu terangkat. Maniknya yang basah bertemu dengan milik putranya itu.


Benda bulat menonjol di lehernya bergerak naik-turun, tak dapat menyahut apa yang ditanyakan paman Harits.

__ADS_1


"Jika salah satu dari kalian tahu, tolong beritahu aku bagaimana caranya? Agar aku benar-benar melupakan semuanya, benar-benar ikhlas menerima dan memaafkan semuanya." Ia berucap lagi masih dengan manik yang menghujam lelaki tua di hadapannya.


"Lukaku, luka Ibuku, luka istriku ... bagaimana caranya menghapus itu semua? Apakah hanya dengan meminta maaf dan memaafkan semuanya akan terlupakan? Kurasa tidak? Jawab aku, Ayah! Apakah aku dapat melupakan semua itu setelah aku memaafkan kalian?"


Masih melempar pertanyaan yang sama padanya. Lidah lelaki tua itu kelu, tak dapat menjawab. Jawaban seperti apa yang diinginkan laki-laki itu? Tidak ada yang tahu karena luka di masa lalu yang membekas, selamanya akan tersimpan dalam ingatan.


Nadia melirik suaminya, ia tahu di hatinya, lelaki itu menyimpan kesedihan. Tangannya bergerak sendiri, menelusupkan jemarinya pada jari jemari suaminya. Digenggamnya langsung tangan itu tanpa memalingkan wajah pada istrinya.


"Ayah tahu, semua itu tak akan terlupakan. Semua itu akan selalu membekas dalam ingatan. Untuk itu, Ayah akan pergi jauh dan tidak akan pernah lagi menampakan diri di hadapanmu, Nak. Dengan itu, kamu tak akan pernah lagi melihat Ayah. Ayah memang pantas mendapat hukuman, apa pun asal kamu mau memaafkan Ayah," ungkap lelaki tua itu setelah sekian lama bungkam.


Ia tundukkan lagi kepalanya, tangisnya kian menjadi. Paman Harits tak berkedip menatapnya. Bukan itu yang dia inginkan.


"Apakah dengan Ayah pergi, lukaku dapat disembuhkan? Apakah dengan Ayah tak lagi menampakan diri, ingatan burukku akan terhapuskan? Semua itu tidak menjamin, Ayah ... tetaplah di sini, dan tunjukkan padaku kalau Ayah sudah benar-benar berubah. Bagaimana? Apa Ayah bisa melakukannya?" ucap paman Harits mengungkapkan isi hatinya.


Lelaki tua itu tertegun, termangu dengan rasa tak percaya yang sangat.


"A-apa itu artinya, kamu menerima Ayah?" tanyanya terbata, harapan mulai timbul di hatinya. Berkumpul kembali bersama keluarga yang telah berserakan.


"Belum. Tergantung apakah Ayah memenuhi apa yang aku inginkan atau tidak?" Ia menyandarkan tubuh di kursi, merangkul Nadia dan menariknya agar menempel.


"Ayah berjanji akan melakukan apa pun yang membuat kamu bisa menerima Ayah. Terima kasih, Nak. Terima kasih!" Berbinar manik tuanya.


Senyum wanita itu menyambut ketika suaminya menoleh. Bangga dan bahagia tentunya.


"Kemarilah, Ayah. Apa Ayah tidak ingin menyapa menantu dan cucu Ayah?" pinta paman Harits yang telah beranjak. Lelaki tua itu pun berdiri, keduanya mendekat dan tanpa sungkan paman Harits memeluknya.


"Maafkan aku, Ayah." Tangis lelaki itu pecah dalam pelukan ayahnya sendiri. Sapuan Nadia menenangkan di punggungnya.


Ia melepas pelukan, dan membiarkannya menyapa Nadia juga putri mereka. Sesuatu yang amat berharga di dunia ini adalah memiliki keluarga yang utuh dan saling menerima satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2