Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Kebusukan Yuni


__ADS_3

HUKUMAN MENANTI


Dua anak yang dibawa Yuni, terus menangis. Namun, mereka tak dapat melakukan apa-apa selain berdiri di dekat tembok di ppjokan. Di bawah tatapan mata mengancam Yuni, mereka menundukkan kepala sambil terus terisak pilu. Baik Yuni maupun sepasang pejabat itu, sama sekali tidak mempedulikan tangisan mereka. Sungguh tak punya hati! Jika nafsu sudah menguasai, nurani lenyap dan pergi.


"Silahkan, Pak, Bu, ini anak-anak yang saya maksud," ucap Yuni menunjuk pada dua anak yang sesenggukan saling berpegangan tangan.


"Anak-anak di sini sehat dan terawat, saya suka. Pah, kita ambil saja dua-duanya. Tidak masalah, 'kan?" Mata Yuni berbinar saat mendengar istri dari pejabat itu merengek meminta keduanya diadopsi.


Rezeki nomplok.


Yuni bersorak dalam hatinya, transaksi ini akan ia rahasiakan dari Ain. Salah siapa dia pergi begitu saja meninggalkan pertemuan.


"Bagaimana kalau saya ambil dua-duanya, apa pihak panti mengizinkannya?" tanya lelaki pejabat itu menuruti kemauan istrinya.


"B-bisa, Pak ... bisa," jawab Yuni cepat. Ia sampai gugup saking senangnya.


Uang ... uang ... uang!


Lelaki penjabat itu kembali melirik ke arah dua anak yang masih menangis. Ia tersenyum, apa lagi saat istrinya terlihat bahagia. Sudah hampir lima tahun mereka menikah, tapi belum juga dikaruniai anak.


"Jadi, berapa rupiah yang harus saya keluarkan untuk menebus mereka berdua?" tanya pejabat itu lagi dengan sikap tenangnya.


Yuni mulai menghitung dalam hati, hujan duit turun juga dari langit menimpa dirinya yang haus berbelanja. Ah ... sudah lama sekali rasanya ia tidak berbelanja. Hari ini, dia bersumpah akan langsung pergi berbelanja membeli semua yang diinginkannya selama ini.


"Sesuai yang sudah saya katakan sebelumnya, tinggal dikalikan saja. Itu jumlah yang harus dibayarkan. Maklum lah, Pak, sekarang apa-apa serba mahal. Itu juga akan saya gunakan untuk biaya pendidikan anak-anak yang masih disini. Syukur kalau yang lain pun bisa dapat orang tua seperti mereka. Jadi, hidupnya lebih terjamin," tutur Yuni dengan wajah yang dibuat semenyedihkan mungkin.


Pejabat itu manggut-manggut. Yuni menunggu, dia sudah berakting sebisanya. Sekarang, tinggal menunggu uang datang.

__ADS_1


Uang ... oh, uang!


"Mmm ... baiklah, apa kami perlu mengisi sesuatu untuk membuat sah kedua anak itu?" tanya pejabat tadi tak sabar.


Yuni mengambil sebuah berkas yang sudah ia siapkan sebelumnya bersama Ain. Ia mengeluarkan dua lembar kertas dan memberikannya pada pejabat tersebut.


"Ini, silahkan Bapak baca terlebih dahulu sebelum mengisinya," ucap Yuni sembari menunjuk bagian mana saja yang harus diisi. Ia mengangguk mengerti.


Ia mulai menorehkan apa saja di atas kertas tersebut. Yuni menunggu tidak sabar.


Uang ... oh, uang! Cepat-cepatlah datang.


"Silahkan, dilihat lagi!" katanya seraya memberikan kertas tadi kepada Yuni. Wanita itu tersenyum puas. Ia melirik laki-laki tadi yang sedang menulis sebuah cek untuknya.


"Apa-apaan ini!"


Suara sepatu dari pemilik suara itu sudah seperti suara gesekan pedang Malaikat Maut yang siap menebas lehernya. Sosok itu mengeluarkan aura dingin merubah atmosfer yang ada. Suhu ruangan bahkan turun secara drastis membuat tubuh Yuni semakin menggigil ketakutan.


Yuni terancam saat mata mereka beradu pandang. Ia segera menundukkan wajah, takut untuk bertatapan dengan pemilik biji manik yang mengancam itu.


Mata tajam itu melirik kertas di tangan Yuni dan juga tangan di pejabat. Mata istri pejabat itu melotot lebar. Direbutnya kertas di tangan Yuni dan dibacanya dengan teliti. Ia menggeram, meremas kertas di tangan, dan merobeknya tanpa perasaan.


"Siapa yang mengizinkan kamu menjual anak-anakku! Anakku tidak ada yang akan pergi dengan siapa pun. Tidak satu pun!" hardik Nadia sembari melangkah semakin mendekati Yuni.


Plak!


Suara tamparan yang cukup keras membuat muka Yuni terbuang ke samping. Ia meringis, tangannya mengusap-usap pipi yang tertinggal bekas tangan Nadia.

__ADS_1


"Sudah aku beri hati, tapi kalian masih meminta jantung lagi. Sungguh tidak tahu malu. Selama ini aku diam, bukan karena aku lemah dan tak dapat melakukan apa-apa. Aku hanya berharap kalian akan sadar dan menyesali perbuatan kalian. Nyatanya kalian semakin menjadi dan semakin keterlaluan-"


"Sekarang kamu juga ingin menjual anak-anakku! Tak akan aku biarkan!" Nadia membentangkan kedua tangannya. Matanya menatap lembut kedua anak yang masih menangis di pojokan.


"Bunda!" Keduanya berlari dan memeluk Nadia. Menangis tersedu dalam pelukan Ibu mereka.


"Kami tidak mau ikut mereka, Bunda! Kami tidak mau!" rengek keduanya dengan laju tangis semakin menjadi.


Yuni melirik dengan tajam. Sepasang suami istri itu hanya diam saja mendengarkan. Istri pejabat tersebut bahkan merangkul lengan suaminya dengan erat.


"Tenang, sayang. Bunda di sini. Tidak ada yang bisa membawa kalian dari sini. Bunda sudah datang. Jangan menangis lagi, pergi pada Ibu di sana!" Nadia mengecup dahi mereka sebelum membiarkan mereka keluar menemui Ibu.


Nadia kembali beranjak, tatapan tajam ia layangkan untuk wanita yang masih memegangi pipinya itu.


"Sebaiknya kalian pergi saja! Anak-anakku bukan untuk diadopsi orang lain. Aku masih sangat mampu untuk membiayai hidup mereka. Aku tidak akan memberikan mereka pada siapa pun sekali pun pada seorang pejabat seperti kalian!" tegas Nadia tanpa rasa takut sedikit pun yang ia perlihatkan.


"Mereka juga bukan anak-anak kamu. Mereka hanya anak-anak jalanan yang dipungut dan diasuh di yayasan ini. Apa salahnya jika ada orang yang mau mengadopsi mereka? Hidup mereka akan lebih terjamin bersama orang tua angkat mereka." Yuni bersuara. Ia memberanikan diri untuk menatap Nadia walaupun hatinya merasa cemas.


"Mereka mempunyai Ibu, dan aku Ibu mereka. Jangan lupakan, selama ini hidup mereka juga terjamin. Pendidikan mereka terjamin, semua kebutuhan mereka terpenuhi saat kalian tidak merecoki keuangan mereka. Kalian manusia biadab yang dengan suka hati memakan uang anak-anak yatim-piatu." Nadia tak lagi menahan diri untuk meluapkan emosi dalam dirinya.


"Kamu bukan Ibu kandung mereka-"


"Aku memang tidak melahirkan mereka, tapi aku yang selama lima tahun ini merawat dan mengasuh mereka dengan tanganku sendiri. Mereka tetap anak-anakku. Aku ... tidak akan membiarkan manusia rakus sepertimu memanfaatkan kehadiran mereka untuk kepentingan pribadimu sendiri!" tukas Nadia dengan cepat.


Yuni bungkam tak menyahut. Nadia bukan lagi wanita lemah yang bisa mereka tindas dengan mudah. Ia bukan lagi wanita yang mudah mereka bodohi, Nadia tak lagi diam saat ia diperlakukan dengan tidak adil oleh mereka.


"Kenapa tidak anakmu saja yang tidak jelas siapa bapaknya itu kamu jual kepada mereka!"

__ADS_1


"Apa!"


__ADS_2