
"Nadia! Sayang! Bangun, sholat, yuk!" Suara bisikan di telinganya membuat Nadia mengernyit.
"Nadia!" Suara itu semakin jelas, guncangan di tubuhnya juga kian terasa. Nadia yang lelah, terkantuk hebat. Ia menggelung tubuhnya dengan selimut hingga menutupi kepala.
Paman Harits menggeleng, dia tidak menyerah. Membangunkan istrinya lagi untuk melaksanakan shalat malam. Teringat akan ajaran gurunya, suami yang romantis itu yang mengajak istrinya untuk mendirikan shalat sunnah di seperempat terakhir dari malam.
Paman Harits menarik selimut, ia lupa kalau Nadia tidak mengenakan apa pun. Paman Harits meneguk ludah basi, matanya sedikit melebar tatkala melihat lekuk tubuh istrinya yang tak tertutupi sehelai benang pun.
Fantasi liar mulai merayapi pikirannya. Teringat akan permainannya semalam, paman Harits yang telah memakai pakaian shalat pun membuka kancing kokonya satu demi satu. Ia melemparnya sembarang, dan mulai merayap ke atas tubuh Nadia.
Nadia melenguh kala bibir paman Harits menyesap kulit bagian lehernya. Ia menggeliat saat sebuah tangan menjamah bagian sensitif tubuhnya. Nadia menggigit bibir dengan mata yang masih terpejam merasakan sensasi luar biasa yang dihantarkan suaminya.
Ia menggelinjang, tangannya meremas bahu lelaki yang kembali akan menggagahinya itu.
"Salahmu tidak mau bangun." Ia berbisik sensual di telinga istrinya. Paman Harits mengigit kecil daun telinga Nadia dilanjutkan dengan memainkan lidah di area itu.
"Mas!" rintih Nadia diikuti suara lenguhan menggoda yang membuat paman Harits semakin berbuat liar.
Ia menjeda permainan, memandang Nadia yang masih terpejam dengan napas sedikit memburu. Paman Harits menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah cantik istrinya itu.
Nadia membuka mata perlahan, ia tersenyum saat paman Harits mengecup singkat bibirnya.
"Lagi?" tanya-nya. Tak ada sahutan, aksi selanjutnya dari paman Harits membuat Nadia tak mampu menahan suaranya.
Lidah mereka saling mencecap, bertukar rasa dengan intens. Tangannya tak tinggal diam, merayap, meraba benda kesukaannya. Memainkannya dengan lembut tanpa melepas pagutan.
__ADS_1
Tak puas rasanya, wajahnya turun menyusuri leher jenjang Nadia yang terangkat karena ulahnya. Nadia benar-benar membuatnya gila. Rasa kantuk yang tadi hilang tergantikan oleh gelenyar rasa yang membuat seluruh sendinya menegang.
"Mas!"
"Aku mencintaimu, Nadia," ucapnya seraya mengecup dahi istrinya sebelum memasuki inti permainan.
Keduanya larut dalam rasa nikmat yang menerbangkan mereka hingga ke nirwana. Begitu kata orang. Paman Harits terlupa tujuannya membangunkan Nadia. Disuguhkan pemandangan yang menggiurkan, imannya melemah. Lupa pada niat awalnya, malah hanyut dalam permainan liarnya sendiri.
"Terima kasih, sayang." Ia menciumi wajah Nadia membuatnya kegelian. Paman Harits terkekeh, ia menegakkan tubuh dan memandang puas bagian atas tubuh Nadia yang dipenuhi lukisan bibirnya.
Paman Harits beranjak, Nadia pun ikut duduk sembari menarik selimut. Lelaki itu memungut sarung dan mengenakannya di depan Nadia.
"Kalau tidak salah ingat, tadi ada yang mengajakku sholat malam. Apa aku salah dengar?" singgung Nadia tersenyum tipis melihat paman Harits yang mematung sebentar sebelum tertawa.
"Aku lupa karena tergiur tubuhmu itu. Lain kali jangan menggoda keimananku begitu. Aku belum bisa menahan diri untuk tidak memakanmu," sahutnya sembari memainkan alisnya.
Paman Harits tertawa kecil, ia menyambar handuk dan melangkah ke kamar mandi. Lampu kamar yang dimatikan mengurangi pandangan Nadia dari semua hal. Namun, saat paman Harits melangkah ke kamar mandi, sesuatu menggugah Nadia dan membuatnya ingin menyusul.
"Mas, tunggu!" sergahnya menahan pintu kamar mandi hanya dengan balutan handuk di tubuhnya.
"Ada apa? Mau mandi sama-sama?" Paman Harits memainkan alisnya naik-turun. Nakal, itulah satu gambaran untuk paman Harits saat ini.
Nadia menggeleng, ia membuka pintu lebih lebar dan membawa dirinya masuk. Nadia memeluk paman Harits, tangannya meraba-raba bagian punggung laki-laki itu.
"Ada apa di punggung Mas?" tanyanya dengan kepala yang mendongak menatap paman Harits. Laki-laki itu melirik ke belakang tubuhnya, ia tahu apa yang dimaksud Nadia.
__ADS_1
Paman Harits melepas pelukan dan membalik tubuhnya. Beberapa baris bekas luka yang memanjang membuat Nadia muram. Ia meraba garis-garis itu perlahan seolah-olah bekas luka itu masih meninggalkan rasa sakit di tubuh lelaki yang kini menjadi suaminya itu.
"Apa ini bekas luka cambukan?" tanyanya masih meraba-raba semua bekas luka di punggung paman Harits. Anggukan lelaki itu semakin membuat Nadia bersedih. Ia memeluk tubuh paman Harits dari belakang.
Kini, ia tahu sekeras apa kehidupan paman Harits saat melewati masa kecilnya. Bekas luka di tubuhnya, menjadi bukti bagaimana perjuangan paman Harits dalam mempertahankan haknya untuk hidup.
Lelaki itu bergeming, ia terpejam saat cairan hangat menyentuh kulit punggungnya. Paman Harits berbalik, ia mendorong pelan Nadia hingga membentur tembok. Paman Harits mencium bibir wanita itu dengan liar, ia bahkan tak memberi kesempatan pada Nadia untuk mengambil udara.
Paman Harits melempar handuk yang dikenakan Nadia, ia membalik tubuh itu dan melakukannya lagi. Sudahlah jangan dibayangkan, ya.
Pergulatan panas itu terjadi lagi di dalam kamar mandi yang tak tertutup pintunya. Satu per satu dari mereka keluar, wajah puas menghiasi laki-laki itu. Ia mengambil botol air dan menenggaknya. Dehidrasi karena baru saja menguras tangki air dalam tubuhnya.
Ia tersenyum sendiri menunggu Nadia yang belum juga keluar. Gema adzan subuh berkumandang, paman Harits menggelar sajadah bersiap shalat berjamaah. Nadia keluar dengan rona merah di pipinya.
Paman Harits mengulum senyum melihat tingkah malu-malu dari istrinya itu.
"Mas, keterlaluan, ih ... masa lagi-lagi terus." Nadia merajuk, bibirnya mengerucut antara kesal dan senang juga tentunya. Laki-laki itu terkekeh ia tak acuh.
Menunggu Nadia di atas hamparan sajadah miliknya. Nadia mengenakkan gamis dan mukena, menjadi makmum suaminya. Kebahagiaan dan kenikmatan saat berhubungan dengan suami sekarang ini dapat ia rasakan. Sungguh berbeda rasanya ketika ia bersama Ikram.
Tidak ada kebebasan melakukan kemesraan, semuanya harus serba dibatasi dan tentunya dengan pemikiran yang matang pula. Itulah resiko dari menjadi istri kedua, apa lagi saat harus tinggal di lingkungan yang sama dengan kakak madunya. Nadia harus benar-benar tahu batasan sendiri.
Namun, sekarang lelaki itu miliknya seorang. Tak ada lagi yang membatasi keinginannya untuk melakukan hal-hal sepele di depan khalayak ramai. Bergandengan tangan, berpelukan mesra, mencium ringan, di depan umum pun tak akan ada yang tersakiti dari apa yang ia lakukan.
Kenapa dulu dia mau dijadikan istri kedua, kalau suami sendiri lebih asik untuk dinikmati.
__ADS_1
Ia mencium takzim punggung tangan suaminya seusai shalat dan melangitkan doa juga segala harapan yang ada. Rasa syukur yang dalam, tak lupa diucapkan Nadia. Ia benar-benar dapat menikmati hubungan suami istri itu saat ini. Semoga tak ada masalah apa pun yang terjadi untuk ke depannya.