Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Ingin Bertemu


__ADS_3

Pertemuan yang tak disangka malam itu, mengembalikan keharmonisan dalam keluarga kecil milik Ikram.


"Bi, kenapa kita tinggal di sini?" tanya Ain pada Ikram yang berbaring di sampingnya. Ia memeluk tubuh suaminya, sambil menatap langit-langit kamar yang pernah menjadi tempat tidur Nadia.


Ikram mengusap rambut istrinya yang sedikit kusut, ia sendiri tidur terlentang menghadap langit-langit kamar. Matanya telah terpejam bersiap untuk tidur.


"Di sini jauh dari keramaian, Mi. Lagi pula kalau kita tinggal di sini, para wali santri yang ingin menjenguk anaknya tidak akan melihat kita. Abi hanya takut mereka berubah pikiran dan memindahkan anaknya dari sini saat harus bertemu lagi dengan kita." Ikram melirik kepala Ain yang mengangguk kecil. Memberikannya ciuman hangat pada ubun-ubun milik wanita itu.


"Sudah, tidur. Umi pasti lelah." Ia mengeratkan pelukan. Ain tak menampik ia merindukan masa-masa seperti ini dalam hidupnya.


Menyesali semua yang terjadi pun, tiada guna. Itu semua tak akan mengembalikan keadaan seperti semula. Cerita di masa lalu jadikan pelajaran dan ambil hikmah yang terkandung di dalamnya.


Hening menyapa keduanya. Tak ada suara yang terdengar kecuali napas mereka sendiri yang bersambut dengan suara jangkrik di samping rumah sederhana itu.


"Rasanya, Umi ingin bertemu Nadia. Ingin meminta maaf padanya, dan mendengar sendiri dia memaafkan Umi," lirih Ain dalam dekapan. Ia tidak bisa memejamkan mata teringat akan dosa-dosanya pada Nadia.


Ikram yang mulai terpejam pun, membuka matanya kembali. Ia meremas lengan Ain dengan lembut. Sadar sendiri akan kesalahan yang ia lakukan. Semua itu terjadi karena dirinya yang menikahi Nadia. Seandainya ia tak membuat kesepakatan dengan Sarah, mungkin keluarga kecilnya tidak akan berantakan.


"Nadia sudah berbahagia-"


"Untuk itu Umi takut akan mengganggunya," tukas Ain cepat mengerti arah pembicaraan suaminya.


"Jadi, apa yang akan Umi lakukan?" tanya Ikram menjatuhkan lirikan pada kepala istrinya itu.


"Umi tidak tahu."


"Sudahlah, tidur dulu saja. Nanti kita pikirkan lagi bagaimana baiknya." Ikram beranjak menyamping. Ia mendekap tubuh Ain agar tertidur dengan segera.


*****


Kehangatan di pagi hari yang mereka rindukan, mulai hari itu mereka dapatkan kembali. Suara penggorengan beradu dengan spatula menghiasi subuh di rumah itu.


Ikram dan Bilal pergi menunaikan shalat di masjid, Ruby membantu Ain menyiapkan sarapan. Hanya si bungsu Nafisah yang belum bertemu dengan Ibunya.

__ADS_1


"Umi?" Panggilan serak dari arah pintu dapur itu membuat Ain menolehkan kepalanya. Ia tersenyum, dan membawa kakinya mendekati Nafisah yang menangis.


"Sayang!"


"Umi!" Nafisah memeluk leher Ain ketika wanita itu berjongkok di hadapannya. Laju tangisnya menjadi menumpahkan kerinduan yang ia pendam selama beberapa bulan ini.


"Umi! Aku kangen Umi, kenapa Umi lama sekali perginya?" ucapnya tersendat-sendat. Ain sendiri tak kuasa menahan tangisnya. Ia tak memiliki jawaban apa pun untuk saat ini.


"Maafkan Umi, Nak. Maafkan Umi!" Hanya itu yang mampu diucapkan lisannya. Ia membawa Nafisah ke dalam gendongan dan mendudukkannya di kursi. Ain duduk bersimpuh di hadapan putri bungsunya. Ia genggam tangan kecil itu, dan menatap manik polos milik Nafisah.


"Sekarang Umi di sini, Nafisah mau apa?" tanyanya sambil mengusap air mata Nafisah yang masih jatuh berderai.


Gadis kecil itu menggelengkan kepala, masih sesenggukan. Ia kembali memeluk leher Uminya. Rindu kehangatan tubuh dari wanita yang telah melahirkannya itu.


"Nafisah cuma mau Umi. Umi jangan pergi-pergi lagi, jangan tinggalin Nafisah lagi. Nafisah tidak mau Umi pergi lagi, tidak mau!" Terenyuh, hati Ain. Ia kembali meneteskan air mata, tapi segera disapunya. Diusap-usapnya punggung berguncang Nafisah dengan lembut, kepalanya menggeleng tiada henti.


Ia cium pucuk kepala anak itu, dan mendekapnya lembut.


"Umi tidak akan ke mana-mana, Umi tidak akan pergi lagi. Umi akan tetap di sini menemani Nafisah, jangan menangis lagi." Ain bergetar.


Ruby yang berdiri tak jauh dari mereka pun, ikut merasa terharu. Ia mengusap sudut matanya yang turut berair. Ia sendiri tak menampik, hatinya pun merindu sosok Ain yang lama pergi meninggalkan mereka.


Dalam hati terbersit rasa sesal pernah membangkang pada Uminya itu. Padahal, itu semua dilakukan karena rasa sakit di hatinya yang diduakan Ikram. Dari semua kejadian, ia telah banyak mengambil pelajaran. Seikhlasnya perempuan menerima nasibnya dalam hal berbagi cinta, tetap saja hatinya merasakan sakit.


Rasa cemburu buta, rasa ketidakadilan dari sikap suami, rasa sakit hati saat melihat madunya tersenyum, sedangkan hatinya sendiri menderita. Semua itu yang menyebabkannya tidak bisa menerima takdir diduakan oleh Ikram.


Satu hal yang Ruby sesali, Ain mengambil jalan yang salah dengan meminta Ikram menikahi Yuni hanya untuk membuat Nadia merasakan sakit yang sama dengannya. Kebodohan terbesar dalam hidup Ain yang ia sendiri pun amat menyesalinya.


"Assalamu'alaikum!" Suara salam Ikram dan Bilal menghentikan keharuan di dapur. Ain beranjak setelah mencium kening Nafisah.


"Wa'alaikumussalaam!" Ia menyambut Ikram dengan suka cita. Dihidangkannya makanan di atas meja, tak lupa ia membuatkan kopi untuk suaminya tercinta.


"Abi, Umi sudah datang. Apa Abi sudah bertemu? Apa Abi sudah memeluk Umi?" Pertanyaan polos dari Nafisah menghantarkan perasaan lain dalam hati Ikram.

__ADS_1


Apa Abi sudah memeluk Umi?


Gadis kecil itu ingin kedua orang tuanya kembali harmonis seperti dulu.


"Abi harus peluk dan cium Umi supaya Umi tidak pergi-pergi lagi dari rumah. Abi mau, 'kan, melakukannya?" Pertanyaan lanjutan dari anak bungsunya itu cukup mengoyak semua rasa dalam dirinya.


Gadis kecil itu ingin hanya Ain yang ada dalam kehidupan Abinya. Jangan ada yang lain yang akan membuat keluarga kecil mereka kembali terpecah.


Ain melirik Ikram yang bergeming di tempatnya, pandangan lelaki itu terpaku pada putri bungsu mereka yang mulai menyuapkan sarapannya. Sangat polos dan suci. Tak ada kebohongan juga iri dan dengki. Nafisah masih benar-benar murni, keinginannya hanya sederhana saja.


"Abi akan melakukan apa yang Nafisah pinta. Abi tidak akan membuat Umi pergi lagi dari hidup kita. Tidak akan!" katanya menahan getaran di lisan kala mengucapkan itu.


"Laki-laki harus menepati janjinya!" Bilal menyambar berbicara sebagai laki-laki. Ikram memutar kepala, maniknya beradu dengan milik putranya itu yang terlihat berani. Bilal bukan pengecut seperti dirinya.


"Kamu benar, jika kerbau yang dipegang talinya maka, manusia adalah ucapannya. Abi akan menepati janji Abi. Kita semua sudah belajar dari masa lalu." Bilal tersenyum, itu senyum pertama yang dilihat Ikram setelah bertahun-tahun ia tak melihatnya.


Kehangatan penuh bunga-bunga yang menabur kebahagiaan pun memenuhi rongga hati mereka. Semoga kali ini Ikram benar-benar memegang janjinya.


"Bagaimana dengan Yuni sendiri, Mi?" tanya Ikram setelah semua anak-anak pergi dan hanya ada mereka berdua saja di rumah. Ain yang baru saja selesai membereskan piring bekas mereka makan, menjatuhkan diri di samping Ikram duduk.


"Apa Abi masih peduli padanya? Baru saja berjanji pada Bilal, sekarang sudah mulai lagi," sungut Ain tidak terima. Ia masih memiliki rasa cemburu di hatinya.


Ikram mendesah, ia meletakkan buku yang dibacanya di atas meja. Tubuhnya menyamping menghadap Ain yang membelakangi. Ikram menarik tubuh istrinya ke dalam pelukan. Mengecup puncak kepalanya sangat lama.


"Bukannya peduli, Mi. Abi hanya ingin tahu saja, apakah dia dibebaskan bersyarat sama seperti Umi?" Ikram merayu, ia tak ingin ada masalah lagi untuk ke depannya.


Ain menghela napas dalam dan membuangnya dengan kasar.


"Itulah kebodohan Umi, Bi. Umi mengambil keputusan dengan serampangan tanpa berpikir akibat yang akan datang. Yuni tidak akan mendapatkan kebebasannya, Bi. Pasal tentang pembunuhan berencana yang menjeratnya sangat memberatkan hukuman Yuni." Ain sedikit menjauh dari Ikram dan menatap suaminya itu.


Hanya ingin tahu bagaimana reaksi lelaki itu mendengar cerita tentang madunya dulu. Ikram tak menanggapi karena ia tak menganggapnya penting.


"Oya, Bi, anak Yuni itu di mana sekarang? Dia bukan anak Abi, lho, Yuni sudah hamil saat Abi nikahi." Teringat akan bayi yang baru beberapa bulan dilahirkan Yuni. Ia merasa iba, bayi itu tidaklah bersalah, tapi harus menanggung dosa yang dilakukan Ibunya.

__ADS_1


"Pengasuhnya membawa bayi itu ke panti asuhan, dia menitipkannya di sana karena harus mencari pekerjaan lain," jawab Ikram.


Ain manggut-manggut mengerti. Ia merebahkan diri di dada Ikram, mengaitkan tangan mereka, dan mulai membentuk kemesraan yang pernah hilang dari hidup mereka. Semoga ke depannya tak akan lagi ada masalah seperti yang sudah terlewati.


__ADS_2