Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Dalam Kelemahan Nadia


__ADS_3

Beberapa hari berlalu, Ain dan Yuni tengah sibuk mempersiapkan semua keperluan yang akan mereka bawa pada saat umrah nanti. Perjalanan yang dipaksakan.


"Umi? Umi mau ke mana? Apa kami juga akan ikut?" tanya Bilal yang kala itu melihat Ain memasukkan baju-baju miliknya ke dalam koper.


"Tidak, sayang. Kamu di rumah dulu sama Kakak dan Adik, ya. Umi sama Abi pergi umrah dulu," jawab Ain menoleh sekilas lalu sibuk lagi menata barang-barang miliknya.


"Kenapa kami tidak diajak, Mi?" Nafisah ikut bertanya saat mendengar percakapan Kakak dan uminya. Ain menoleh dan mengambil tubuh anaknya setelah selesai merapikan semuanya.


"Iya, sayang. Maaf, ya kalian harus di rumah dulu. Umi dan Abi mau menunaikan umrah dulu, beribadah dengan khusyuk memohon kepada Allah supaya anak-anak Umi diberi kesehatan dan rezeki yang melimpah. Kalian mengerti, bukan?" ucap Ain menatapi kedua anaknya yang masih terdiam.


Ia membawa Bilal dan Nafisah keluar berkumpul dengan Yuni menunggu Ikram yang belum selesai.


"Umi jadi berangkat? Apa Tante ini juga ikut?" tanya Ruby ketika masuk ke rumah mendapati dua koper besar di dekat pintu.


"Iya, sayang. Kamu bisa jaga adik-adik kamu, bukan? Umi titipkan sama kamu, ya," ucap Ain sembari mengulas senyum penuh makna pada Ruby.


"Umi tenang saja, 'kan, ada Bunda di sini," sahut Ruby dengan enteng memudarkan senyum Ain yang sedari ia pertahankan.


"Abi sudah siap? Kenapa kalian tidak mengajak Bunda sekalian saja?" protes Ruby tak terima Nadia ditinggal begitu saja saat melihat Ikram keluar dengan koper di tangan.


Ikram tak dapat menyahut, Ain dan Yuni saling memandang sebelum melempar ucapan pada Ruby, "Karena kalau semua pergi siapa yang akan menjaga pondok. Bagaimana kalau ada tamu yang datang dan tuan rumahnya pergi semua? Bunda juga bisa menjaga kalian selama kami pergi." Ain mencoba untuk sabar.


"Baiklah ... Bunda sudah menunggu kalian di depan, sepertinya ada yang ingin Bunda berikan sebagi bekal di sana," kata Ruby dengan senyum di bibir berhasil membuat Yuni merinding, dan Ain mengernyit. Ikram terdiam tak tahu harus apa.


Ruby mengajak kedua adiknya keluar menemui Nadia. Mereka berbaris di depan Nadia dengan formasi Nafisah berada di tengah tepat di depan Nadia. Bilal di sisi kiri dan Ruby di sisi kanan.


Di tangannya Nadia memegang sebuah amplop yang akan ia berikan pada Ikram. Ketiga orang tak tahu malu itu, menghampirinya. Nadia tersenyum, ia memberikan amplop tersebut pada Ikram.


"Mas, aku titip ini untuk disumbangkan kepada mereka yang berhak di sana. Mas bisa menjaganya, bukan?" ucap Nadia sembari memberikan amplop tersebut.


Ikram menerimanya, di bawah tatapan elang kedua istrinya yang lain.


"Insya Allah, amanah ini akan Mas jalankan dengan baik," sambut Ikram dengan sebenar-benarnya.


"Jaga diri Mas baik-baik dan juga kedua istri Mas yang di sana, kami akan menunggu di sini. Jangan khawatir, anak-anak akan baik-baik saja di rumah," ucap Nadia lagi tersenyum penuh arti kepada Ikram.


"Terima kasih, jaga diri kalian," ucap Ikram lagi. Mereka menyalami ketiganya. Disaksikan oleh penghuni pondok juga anak-anak di yayasan yang ikut melepas kepergian mereka.

__ADS_1


Pandangan semua orang fokus pada Nadia yang justru terus tersenyum, ia bahkan melambaikan tangan saat mobil Ikram melaju meninggalkan pondok. Semua saling memandang berbicara lewat tatapan mata soal Nadia yang terlihat tegar dan baik-baik saja ditinggal suami juga kedua madunya pergi ke tanah suci.


Mereka baru membubarkan diri setelah wanita itu kembali ke rumahnya. Cantik dan auranya memancar dengan penuh pesona. Mereka tidak pernah berhadapan langsung dengan sosok istri kedua Ikram, tapi mereka tahu sosok itulah yang diam-diam selalu membantu meskipun tak pernah menampakkan diri.


Ini kesempatan langka bagi mereka, melihat dari dekat sosok yang mereka anggap sebagai seorang pelakor dalam rumah tangga Ain dan Ikram. Pandangan mereka berubah sejak hari itu. Hari di mana Nadia ditinggalkan seorang diri ke tanah suci oleh suami dan kedua madunya.


"Kenapa kalian murung? Apa kalian sedih karena Umi dan Abi pergi?" tanya Nadia setelah mereka sampai di rumahnya.


Kedua anak Ikram menundukkan wajah sedih, Nafisah bahkan mengusap matanya sudah menangis.


"Lho, kamu kenapa menangis? Apa Nafisah tidak suka ditinggal bersama Bunda? Mau ke Ibu saja?" tanya Nadia seraya duduk di samping anak bungsu Ikram yang menunduk.


Kepala gadis kecil itu menggeleng, ia memeluk tubuh Nadia diikuti kedua saudaranya yang lain.


"Kenapa Abi pergi tidak mengajak Bunda juga? Apa Bunda tidak bersedih ditinggal sendirian?" ucap Bilal bertanya sambil menatap wajah Nadia.


Tangan Nadia mengusap kepalanya, ia juga tersenyum tak ingin membuat ketiga anak itu semakin bersedih.


"Bunda tidak apa-apa, sayang. Bunda baik-baik saja. Ah ... bagaimana kalau kita pergi berlibur!" ucap Nadia yang ceria di ujung kalimat.


"Berlibur? Ke mana, Bun?" tanya Ruby melepas pelukan dan menatap heran Nadia.


"Mau, Bun!"


"Mau!"


"Bun, negeri di atas awan yang di Citorek itu, ya, Bun?" tanya Ruby antusias.


Nadia menganggukkan kepala yakin.


"Mau, Bun! Kapan kita berangkat?" Ketiganya bersorak gembira tak sabar.


"Nanti siang, ya. Kita akan menginap di sana supaya di pagi harinya bisa melihat indahnya negeri di atas awan itu," jawab Nadia yang disambut ketiganya dengan sorakan.


Jika Ain bisa mengajak Ikram pergi untuk membuatnya merasa panas dan cemburu, Nadia punya cara tersendiri untuk mengobatinya. Tak apa ia tak bisa merengkuh Ikram, anak-anak mereka menjadi ganti hiburan untuknya.


Saat siang tiba, sebuah mobil berjenis alphard memasuki area pondok. Mang Sarif membukakan pintu, ia kira itu tamu. Nyatanya, itu Winda sekretaris Nadia bersama bendaharanya yang diminta Nadia sendiri untuk membawakan mobilnya sekaligus mengemudikannya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum! Maaf, rumahnya Mbak Nadia di mana, ya?" tanya Winda pada mang Sarif yang berdiri di depan pos.


"Oh, Mbak berdua ini mau cari Mbak Nadia? Itu masuk ke gerbang di sana, rumah Mbak Nadia ada di paling ujung," ucap mang Sarif menunjuk gerbang yayasan.


"Terima kasih, Pak." Winda dan rekannya mengikuti arah petunjuk mang Sarif. Masuk ke dalam gerbang dan menuju rumah paling ujung.


"Nah, itu jemputannya sudah datang?" ucap Nadia saat melihat sekretaris dan bendaharanya mendekati rumah.


"Assalamu'alaikum, Mbak. Selamat siang!" sapa keduanya dengan sopan.


"Wa'alaikumussalaam! Ayo, sapa kedua teman Bunda. Ini Tante Winda dan ini Tante Rima," ucap Nadia sembari memperkenalkan kedua bawahannya sebagai teman kepada mereka bertiga.


Setelah berbasa-basi, Winda dengan sigap mengambil alih tas Nadia dan Rima membawakan tas anak-anak. Keduanya ikut berjalan mengiringi Nadia menuju mobil. Kacamata hitam dan masker tak luput ia kenakan. Berjalan penuh wibawa, sepertinya pelan-pelan Nadia akan menunjukkan siapa sebenarnya dirinya.


Diperlakukan seperti orang penting, membuat berpasang-pasang mata yang melihat bertanya-tanya dalam hati siapakah sosok Nadia? Terlebih, saat Winda membukakan pintu mobil untuknya dan berlari ke dalam bertindak sebagai supir dengan Rima di sampingnya.


Nadia membuka kaca jendela mobil, berpamitan pada mang Sarif. Ia juga sudah berpamitan pada Ibu pengasuh kalau dia akan membawa anak-anak Ikram berlibur agar tidak bersedih.


"Bunda, apa Bunda sudah meminta izin ustadz? Aku tidak enak karena meskipun sudah tidak ada pelajaran, ada kegiatan lain yang dilakukan kelas akhir," tanya Ruby tak enak. Ia meminta Nadia untuk izin pada ustadz.


"Sudah," sahutnya.


"Bagaimana, Bunda? Semua ustadz di sana ingin sekali melihat Bunda, sepertinya mereka semua terpesona tadi dengan kedatangan Bunda. Aku bisa melihat mereka tidak berkedip memandangi Bunda," seru Ruby sembari tertawa kecil saat menceritakannya.


"Benarkah? Astaghfirullah! Tanpa sadar Bunda telah berbuat dosa. Astaghfirullah al-'adhiim!" ucap Nadia berulang-ulang.


Mereka berceloteh riang, riak sedih di wajah ketiganya kini hilang dan digantikan dengan keceriaan.


Catatan:



Negeri di atas awan Gunung Luhur, Citorek, kec. Cibeber, kab. Lebak.


Sumber google.


__ADS_1


Kebun teh Cikuya. Kampung Cikuya, desa Hegarmanah, kec. Cibeber, kab. Lebak.


Sumber google.


__ADS_2