Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Semakin Terbakar


__ADS_3

Malam tiba, usai makan malam di sebuah kedai mereka kembali ke tenda. Di puncak Gunung Luhur Citorek sana, jika ingin melihat keindahan negri di atas awan harus mendirikan tenda sebagai tempat tidur. Bukan hanya mereka, banyak tenda-tenda lainnya juga yang didirikan di sana.


Nadia, Winda, dan Rima duduk di depan tenda berhadapan dengan api unggun yang mereka buat sendiri. Sementara Ruby dan kedua adiknya telah terlelap di dalam tenda.


"Mbak, keputusan Mbak memindahkan uang itu ke rekening lain sepertinya sudah tepat. Aku tidak percaya saat pertama kali mendapat notifikasi dari bank soal tabungan itu. Makanya waktu itu aku langsung hubungin Mbak memastikan saja apakah yang memakainya itu beneran Mbak. Eh ... ternyata ...." Winda menggeleng setelah berceloteh soal uang tabungan anak-anak yayasan.


Nadia tersenyum miris. Yah ... selama ini bukannya Nadia tidak tahu, ia hanya ingin melihat sejauh mana Ain berani menggunakan uang yang dia simpan untuk anak-anak asuhnya itu.


"Iya, Mbak. Aku, lho, yang pertama kali dihubungi sama pihak butik. Dia bilang, ada yang transaksi atas nama Mbak Nadia, tapi orangnya bukan. Aku langsung cek, ternyata benar dan jumlahnya itu tidak sedikit. Wow ...!" seru Rima semakin membuat heboh suasana. Nadia masih tersenyum.


Ia masih ingat hari itu dia dihubungi Rima dan Winda soal transaksi gelap atas nama dirinya, rekening tabungan anak-anak di yayasan. Nadia sempat ingin menegurnya, tapi dia memiliki cara lain dari pada melakukan itu.


"Maka dari itu, aku langsung meminta kalian membuatkan tiga rekening baru dan memindahkan uang itu ke rekening tersebut. Itu hak anak-anak asuhku, tidak boleh ada yang memakainya untuk kepentingan pribadi," ucap Nadia dengan ringan.


Waktu itu, saat Ain berbelanja di Boetik Naira ia membayar semua pakaian yang dibelinya menggunakan kartu milik Nadia. Itu adalah pertama kalinya ia menggunakan uang tersebut untuk kepentingan pribadi. Saat ada laporan tentang pembelian bahan-bahan bangunan, Nadia tidak mempermasalahkan itu.


"Mbak, ada laporan masuk dari pihak bank tentang pengeluaran di butik. Manager butik juga menghubungi kami perihal adanya pembayaran atas nama Mbak. Bagaimana, Mbak? Itu dari tabungan untuk anak-anak di yayasan."


Laporan Winda dan Rima kala itu langsung membuat Nadia tertegun. Ia tak percaya jika saja orang yang melaporkan bukanlah mereka. Tabungan anak-anak yayasan dipegang Ain. Apakah kakak madunya itu menggunakan uang tersebut untuk kepentingan dirinya sendiri?


Waktu itu pun Nadia langsung menghubungi managernya di butik. Mengkonfirmasi tentang laporan tersebut, dan dia membenarkan. Hancur sudah kepercayaan Nadia pada sosok Ain. Ia berpikir bagaimana caranya menegur dengan halus.


Setelah cukup lama, ia menghubungi Winda.


"Win, buatkan rekening atas tiga nama. Jangan tanya alasannya, cukup buat saja aku akan mengirimkan datanya," titah Nadia waktu itu.

__ADS_1


Ia pun menghubungi Rima selaku bendaharanya yang bertugas membagi uang keuntungan dan modal.


"Rim, putus transferan ke rekening yayasan atas namaku. Jangan banyak bertanya, lakukan saja!"


"Baik, Mbak!"


"Eh ... tunggu! Jangan diputus, kirimkan saja sepuluh persen dari biasanya. Lalu, sisanya kirim ketiga rekening yang disiapkan Winda. Aku mengandalkan kalian."


Itulah sebabnya, Nadia bersikap biasa saja tatkala Ikram menunjukkan perasaannya di tempat umum. Ia tak lagi bersimpati pada Ain, justru merasa kasihan pada hidupnya. Selama ini, ia pikir Ain tak akan menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi karena menurut pikiran Nadia Ain lebih faham agama dari pada dirinya.


Laporan kedua masuk, tentang pembelanjaan di butik lagi. Ketiga tentang resepsi pernikahan penarikan yang tak sedikit. Dan terakhir pembayaran umrah untuk tiga orang, Nadia tahu lebih awal tanpa diberitahu. Ia yakin, tabungan itu akan terus digunakan Ain untuk memenuhi ambisinya.


Tak ingin dibodohi, Nadia mengurangi jatahnya. Tak apa, hitung-hitung sedekah juga. Ia ingin tahu, apa reaksi Ain saat kartu itu tiba-tiba tak dapat digunakan karena tak ada lagi sisa uang di dalamnya. Nadia pun tahu uang itu sudah banyak berkurang dan sekarang hanya tinggal sedikit saja.


Besok saat mereka pulang, ia akan memberi kejutan pada mereka.


"Mbak, apa yang memakai uang itu istri pertama suami Mbak?" tanya Rima kepo. Nadia tak menyahut, hanya tersenyum menatap pada kegelapan malam. Ia tak ingin menggunjing orang, terlebih Ain adalah seseorang yang dipandang ilmu agamanya.


"Jadi benar, ya?" Ia menjawab sendiri sembari ikut menatap kegelapan yang tiada batas.


"Aku tidak menyangka dia itu, 'kan, ustadzah. Kok, bisa, ya ...?" sambut Winda pula, ikut memeluk lutut memandangi hamparan gulita yang pekat. Di sekitar mereka, riuh rendah suara anak-anak muda yang bernyanyi, berceloteh, tertawa riang tanpa beban.


"Hus! Sudah, jangan membicarakannya lagi. Tidak baik, bisa-bisa pahala kita hilang," sergah Nadia yang tak ingin berkelanjutan membicarakan soal Ain yang memakai uang yayasan.


"Eh, iya. Aduh ... astaghfirullah!" tukas Rima cepat sambil menutup mulutnya. Begitu juga Winda. Ketiganya masuk ke dalam tenda, berbaring bersama ketiga anak Ikram. Nafisah berbalik saat seseorang ia rasakan tidur di sampingnya. Ia memeluk Nadia mencari kehangatan setelah hidungnya mengendus bau wanita itu. Terlelap bersama seperti anak dan ibu.

__ADS_1


Nadia membangunkan ketiganya saat subuh tiba. Menunaikan kewajiban dua rakaat sebelum menikmati keindahan negri di atas awan.


"Wah ... jadi seperti ini negeri di atas awan itu?" seru Ruby diikuti Bilal dan Nafisah. Jaket tebal melilit tubuh mereka menghalau dinginnya udara pegunungan di subuh hari.


"Bunda, aku mau foto! Kita foto sama-sama, ya!" teriak Ruby antusias. Nadia mengangguk, bebagai pose mereka lakukan dengan background awan-awan yang berterbangan di belakang mereka.


Keceriaan, kebahagiaan, jelas terlihat di manik anak-anak itu.


"Bunda, bisa buka masker sama kacamatanya? Masa, fotonya semua wajah Bunda ditutupi," pinta Ruby yang tak tahu apa alasannya.


"Baiklah, tapi hanya satu, ya!" Nadia memberikan syarat. Satu foto dengan Nadia yang membuka penutup wajahnya.


Di kala Ain yang memamerkan keberadaannya di tanah suci bersama Ikram dan Yuni, Ruby memposting foto-foto mereka di lama medis sosialnya. Dengan caption, "Bersama Bundaku yang cantik dan baik hati."


"Ain, coba buka akun media sosial anak sulungmu!" pinta Yuni tatkala ia tak sengaja menemukan foto-foto Ruby dan kedua adiknya bersama Nadia juga dua orang wanita lainnya berseliweran di laman media sosial. Ia bahkan melihat video mereka yang sedang berada di negeri atas awan.


Sakit hati Ain, seharusnya adik madunya itu sedang terpuruk dan menangis di sudut kamar. Bukannya berbahagia dan bergembira bersama ketiga anaknya. Bukan Nadia yang mempostingnya, tapi Ruby sendiri yang melakukan. Ikram tersenyum melihat keceriaan ketiga anak yang dia tinggalkan.


"Dia benar-benar tidak bisa disakiti," komentar Yuni setelah beberapa hari menjadi madu Nadia.


"Kamu harus berhasil membuatnya menangis, Yuni!" ucap Ain tanpa perasaan.


"Anak-anak sepertinya bahagia, ya, Mi?" Suara Ikram menambah gejolak dalam hati Ain.


Semakin terbakar tatkala Ruby memposting foto-foto mereka yang berada di perkebunan teh. Suasana yang sejuk dan pemandangan yang hijau menghampar begitu indah mempesona.

__ADS_1


Ain merasa iri, ia pun ingin pergi ke sana. Menikmati keindahan yang disuguhkan alam.


"Anak sulung kita cantik, ya, Mi." Suara Ikram kembali terdengar menambah membara api dalam hatinya. Yang dikomentari Ikram adalah foto Ruby yang berpose bersama Nadia.


__ADS_2