Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Menyadari


__ADS_3

Perjalanan yang melegakan ketika hati mendapatkan kepuasannya. Tak ada lagi beban yang menggelayuti pundaknya. Semua telah tumpah ruah menyadarkan diri yang hanyut dalam arus gelombang perasaan.


"Bagaimana perasaanmu? Apa kamu merasa lega sekarang?" tanya laki-laki yang duduk di sampingnya. Ia tak henti bermain dengan bayi di pangkuan istrinya itu.


Wanita itu mendongakkan kepala menatap suaminya yang juga memperhatikan dirinya. Bibir mereka bertemu untuk sekian detik, tapi tak ada apa pun yang terjadi. Mereka saling menarik diri sedikit menjauh, malu karena di depan mereka Yoga sedang mengemudi.


"Alhamdulillah lega sekali, Mas. Tak ada beban rasanya yang menggelayuti pundakku. Semua terasa plong," ungkap Nadia dengan senyum yang terulas ceria.


Paman Harits merangkul kepalannya, mendaratkan ciuman di atasnya. Semoga setelah ini tak ada badai lagi yang datang menghantam bahteranya. Mobil terus melaju meninggalkan kota kecil itu bersama segala kenangan yang Nadia tanggalkan dengan sebenarnya.


Tak ingin lagi berurusan dengan mereka, dimulai hari itu ia hanya ingin fokus pada keluarganya saja.


"Maafkan aku, Mas. Aku sadar selama ini aku belum sepenuhnya melepaskan diri dari belenggu masa lalu. Rasa yang tertanam dalam diriku terkadang membuatku lupa kalau aku sudah memiliki keluarga yang lebih berhak atas aku. Maafkan aku, Mas. Mulai hari ini aku hanya akan fokus pada keluargaku saja. Mengurusi suami dan anakku. Terima kasih karena telah bersabar sampai aku tiba di titik ini," ungkap Nadia sambil menatap dalam manik hitam suaminya tanpa cela.


Tertegun lelaki itu mendengar penuturan yang baru saja ia ucapkan. Sungguh tak menduga bahwa sang istri akan memahami juga isi hati yang tak pernah terungkap lisannya itu. Bibirnya tersenyum, sarat akan makna. Dikecupnya dahi Nadia lama sekali.


"Terima kasih, kalau kamu pada akhirnya sadar apa yang Mas inginkan. Ke depannya hanya pikirkan saja keluarga kita, utamanya anak kita yang lebih membutuhkan perhatian dan kasih sayang kamu sebagai ibunya. Mas sayang kamu." Kecupan di dahi Nadia kembali diterimanya.


Lelaki itu selama ini menahan perasaannya, menunggu waktu menyadarkan istrinya dari belenggu masa lalu. Semua itu tak lagi menjadi urusannya. Mereka sudah bukan siapa-siapa lagi semenjak talak perpisahan terjadi antara Nadia dan Ikram.

__ADS_1


Inilah hari yang ditunggu paman Harits sejak lama. Hari di mana istrinya melepaskan diri dari semua perasaan yang mengikat dirinya, dan mulai menerima kehidupannya yang baru bersama suami dan anak yang dilahirkannya.


Waktu terus berjalan, tiga mobil milik mereka berhenti di halaman rumah besar paman Harits. Berhamburan semua orang dari dalam kereta itu, menuju tempat masing-masing di mana mereka ingin mengistirahatkan tubuh.


Nadia pun amat lelah, ia lebih memilih pergi ke kamarnya bersama Zahira. Tak lagi menempati kamar di lantai satu, ia telah mengisi kamarnya yang semula di lantai dua. Ia letakkan perlahan bayi itu di atas ranjang. Tertidur pulas setelah kenyang menyusu selama perjalanan.


Nadia membuka hijab, ia buka jendela lebar-lebar membiarkan angin dari luar sana berhembus masuk ke dalam kamarnya. Tak ada yang ingin ia lakukan, selain berbaring menemani putrinya itu.


Sepoi angin yang menerpa, menyentuh lembut tubuhnya. Serasa disapu sebuah tangan hangat yang ia rindukan. Lambat laun memberatkan kelopak matanya. Ia menguap, kantuk menyerangnya dengan cepat. Memang, semenjak kehadiran Zahira jam terbangnya bertambah di waktu malam.


Ia harus rela terjaga saat bayi itu menangis meminta susu, atau meminta diganti popok. Bergantian dengan suaminya yang mulai belajar ikut andil dalam hal mengurusi Zahira. Sekecil apa pun. Ia tak ingin istrinya terlalu lelah.


"Tidak, Mas. Aku bisa mengurusi sendiri. Aku tidak mau ada campur tangan orang lain dalam pengasuhan anakku." Selalu itu yang menjadi jawabannya. Bertentangan dengan paman Harits yang selama ini serba mudah tak pernah melakukan apa pun sendiri.


Nadia melenguh dalam tidurnya saat ada yang bermain-main di sekitar lehernya. Sesuatu yang basah menyentuh lembut dan pelan di permukaan kulitnya.


"Mas!" Nadia membuka mata cepat, saat kepala suaminya berada tepat di atas kepalanya. Paman Harits menarik garis melengkung ke atas menyambut mata istrinya yang membeliak.


"Apa yang Mas lalukan?" Ia kembali memekik tertahan sambil menahan dada suaminya agar tidak semakin turun.

__ADS_1


"Mas mau buka puasa, Nadia. Boleh tidak? Sudah empat puluh hari lebih Mas berpuasa dengan sabar. Sekarang, Mas ingin berbuka. Boleh, sayang?" mohon-nya dengan wajah yang menggemaskan.


Terhenyak Nadia mendengar penuturan suaminya. Nada suara lembut menggoda itu, menghipnotis dirinya untuk beberapa saat. Ia mengerjap, setelah mencerna apa yang dikatakan oleh suaminya.


"Mas, tapi ini masih siang, lho. Malam saja bagaimana? Aku masih lelah sehabis perjalanan tadi," pinta Nadia sambil mengusap dagu suaminya yang mulai ditumbuhi jambang.


Namun, lelaki itu justru memagut bibir istrinya cukup lama dan intens sebelum melepas dan menjauhkan diri dari tubuh Nadia. Ia mengusap kepala Nadia dan mengecup keningnya.


"Tidur saja, Mas juga mau memeriksa perkebunan," ucap paman Harits sambil mendaratkan ciuman di dahinya lagi, "Mas tunggu servis dari kamu nanti malam. Jangan lupa, ya." Ia menyeringai usai mengatakan itu.


Mengedipkan sebelah matanya, sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Nadia terkekeh sendiri, membayangkan apa yang akan dia lakukan nanti malam pada suaminya. Ia menggeleng sendiri, malu. Rona di pipi telah berganti merah. Entahlah, baru membayangkannya saja sudah membuatnya malu seperti itu.


Ia memejamkan mata saat suaminya itu keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk saja. Lelaki itu memilah dan memilih baju apa akan ia kenakan. Ia mengambil satu set pakaian kasual dari almarinya, mengenakannya sebelum menemui Nadia untuk berpamitan. Tak lupa pada putri kecil mereka yang masih terlelap.


Ia bersiul senang sambil membawa dirinya keluar dari kamar. Membayangkan apa yang akan dilakukan Nadia nanti malam, sudah membuatnya seperti orang gila. Tertawa sendiri, bergumam sendiri.


Langkahnya terus berlanjut, menyusuri anak tangga untuk tiba di lantai satu. Raut kebahagiaan ia bagikan pada semua orang yang ia temui di rumah tersebut. Mereka hanya menggelengkan kepala pada pengantin lama yang akan kembali memulai ritual malam pertama setelah berpuasa selama empat puluh hari lebih lamanya.


"Bahagia sekali kamu, Nak!" tegur Ibu sambil memperhatikan gaya dan cara berjalan putranya yang sengaja dibuat-buat. Kacamata hitam bertengger di hidungnya. Ia membukanya sedikit, dan mengedipkan matanya nakal pada sang Ibu.

__ADS_1


Terkekeh wanita tua itu.


__ADS_2