Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Selalu Ada Rahasia


__ADS_3

Kebutuhan manusia itu tak pernah usai, selalu muncul dan bertambah. Sepulangnya dari taman, Nadia masih saja memikirkan tentang Bella yang ia jumpai di taman sore tadi. 


Kesalahan apa yang dilakukan Bella sampai dia harus mendapatkan hukuman seperti itu. Helaan napas berulang-ulang ia keluarkan. Berhenti memikirkannya, Nadia! Hatinya terus memberi peringatan untuk tidak memikirkan tentang Bella. 


Namun, tetap saja, pikirannya dijejali oleh sosok wanita tanpa sebelah tangannya itu. 


"Ada apa? Apa yang kamu pikirkan?" Paman Harits memeluk pinggangnya dari belakang. Mengecup pundak Nadia yang tak ditutupi hijab itu. 


Nadia menggigit kuku jarinya, bimbang apakah dia perlu menanyakan tentang Bella pada suaminya itu. Rasanya sudah puluhan kali ia bertanya dan jawabannya tetap saja, jangan memikirkan hal yang tidak perlu. 


Nadia membuang napas panjang, ia berbalik menghadap suaminya dan merangkulkan lengan di lehernya. 


"Tidak ada apa-apa. Aku hanya berpikir bagaimana kalau kita berlibur. Bukankah pekerjaan Mas sudah selsai? Dan besok adalah hari Minggu. Tak perlu jauh, kita ke villa saja membawa Zahira," ucap Nadia. Mungkin dengan berlibur rasa penasaran akan Bella bisa ia lupakan. 


Paman Harits menelisik manik hazel milik istrinya, mencari sesuatu yang disembunyikan wanita itu darinya. Namun, tak ada apa pun di sana. Hanya murni sebuah ajakan karena rasa jenuh saja. 


"Baiklah, kita berangkat malam ini juga. Jangan lupa bawa jaket tebal dan selimut tebal untuk anak kita," sahut paman Harits sambil menggamit hidung Nadia dengan dua jari. 


"Siap!" katanya sambil memperagakan gaya hormat sebagai kesiapannya. 


"Eits!" Paman Harits menahan tubuh Nadia saat hendak ia lepaskan. Menunjukkan yang tertinggal pada dirinya. 


Nadia terkekeh sebelum mendaratkan sebuah ciuman di pipi dan bibir suaminya. Ia meninggalkan paman Harits dan menyiapkan semua keperluan yang akan dibawanya. 


Usai makan malam mereka bersiap pergi. Bertiga bersama anak mereka. Ini untuk pertama kalinya Zahira ikut diajak berlibur. Bayi itu terlelap di pangkuan Ibunya. Dibalut selimut tebal dan bertambah hangat berada dalam dekapan sang inang. 


Cukup jauh jarak yang harus ditempuh, tapi karena jalanan sepi kendaraan mereka tiba lebih cepat di villa. Disambut pekerja villa, mereka dituntun menuju kamar utama yang telah dibersihkan terlebih dahulu. 

__ADS_1


"Dia nyenyak sekali?" celetuk paman Harits di saat melirik Zahira yang direbahkan Nadia di atas ranjangnya sendiri. Bayi itu tertidur sepanjang perjalanan, ia tak terusik sama sekali.


"Mungkin dia tahu bahwa sedang diajak berlibur," gumam Nadia menyahuti ucapan suaminya itu.


Paman Harits merebahkan diri di ranjang, ia menepuk bagian kosong di sampingnya meminta Nadia untuk ikut merebahkan diri juga.


"Aku cuci muka dulu, Mas. Rasanya lengket," katanya sambil melangkah masuk ke kamar mandi mencuci muka.


Lelaki itu berdecak, ia memiringkan tubuh menghadap ranjang bayinya. Menorehkan tulisan-tulisan abstrak yang entah apa bacaannya. Hanya hatinya sendiri yang tau.


Nadia tersenyum, ia menghampiri ranjang, menaikinya dan mendekap tubuh yang memunggungi itu dengan hangat. Kecupan-kecupan singkat ia tinggalkan di lengan atas suaminya.


Tanpa aba-aba, lelaki itu menarik tubuh Nadia dan membawanya ke hadapan tubuh. Bergumul sambil bercanda, tertawa riang bahagia hingga berakhir pada pergulatan panas antara mereka meskipun harus tertunda beberapa kali karena Zahira yang terbangun.


Cahaya matahari menelusup melalui celah tirai kamar utama tersebut. Kedua manusia itu masih berada di dalam selimut. Sepertinya, pergulatan antara mereka berlangsung hingga menjelang subuh dan tanpa sadar terlelap hingga matahari sedikit beranjak.


"Mmm ... ya, sayang," gumamnya pelan. Ia membuka mata seketika membelalak melihat fajar di jendela sudah menyingsing.


"Astaghfirullah! Mas, bangun, Mas! Kesiangan. Ya Allah. Mas, bangun!" Panik. Nadia mengguncang tubuh suaminya yang juga masih betah berada di alam mimpi.


Tangisan Zahira semakin menambah kepanikan. Nadia mendekati ranjang bayinya, ia memberikan mainan pada anak itu supaya ia tenang.


"Tunggu di sini, ya, sayang. Bunda mau mandi dulu," ucap Nadia sebelum masuk ke kamar mandi diikuti paman Harits yang juga hendak membersihkan diri.


Kesibukan di pagi hari karena bangun yang terlalu siang. Beruntung Zahira asik bermain dengan mainannya hingga mereka selesai dengan kewajiban meskipun telat.


Keduanya terkekeh mengingat bangun tidur tadi langsung disambut panik. Mereka keluar kamar setelah Zahira rapi dan harum. Menuju meja sarapan sebelum berkeliling di perkebunan karet.

__ADS_1


"Mas, hari ini sedang panen, ya?" tanya Nadia sambil memperhatikan karyawan perkebunan yang sedang mengambil lateks yang telah membeku dari mangkok-mangkok sadapan.


"Iya, mereka selalu memeriksanya setiap hari. Jika sudah banyak akan diambil, lalu buat yang baru dan mengumpulkannya lagi," jawab paman Harits sambil mendorong kereta bayi Zahira. Beberapa karyawan membungkuk saat berpapasan dengan mereka. Menyapa dengan ramah bos mereka itu.


"Pekerja di sini ramah-ramah, ya, Mas?" Nadia melirik suaminya sambil tersenyum. Laki-laki itu hanya mengangguk, matanya memindai sekitar mencari dua sosok yang selalu membuat onar di tempat tersebut.


Tak lama terdengar suara keributan yang tak jauh dari mereka, adu mulut antara mandor dan pekerja yang terdengar sengit. Nadia melirik suaminya, laki-laki itu bergeming beberapa saat sebelum mengajak Nadia berbalik meninggalkan tempat tersebut.


"Lho? Kenapa bawa aku pergi, Mas? Kita harus menyelesaikan pertengkaran mereka, Mas," ucap Nadia yang terseok-seok karena paman Harits menarik tangannya dengan cepat.


"Antar Nyonya ke tempat beristirahat!" titahnya pada seorang pekerja wanita. Ia membungkuk sopan menerima tugas dari tuannya.


"Aku tidak mau!" tolak Nadia keukeuh.


"Sayang, kamu harus ikut dengannya, ya. Mas akan menyelesaikan pertengkaran mereka. Mas tidak ingin kamu dan anak kita jadi sasaran kemarahan mereka. Jadi, ikutlah dengannya dan tunggu Mas di sana," pinta paman Harits lagi dengan lembut.


Akhirnya, dengan alasan untuk keamanan bayinya, Nadia mengikuti langkah pekerja tersebut menuju ke sebuah tempat seperti gubuk. Tempat pertemuan saat ada rekan bisnis yang mendatanginya


Ia mengambil Zahira dari kereta bayi dan membiarkannya bermain di atas tikar sendiri.


"Apa sering terjadi pertengkaran seperti ini?" tanyanya pada penjaga gubuk tersebut.


"Sering, sih, tidak. Yah ... begitulah, mungkin salah senggal salah senggol. Terus, tidak terima." Ia mengangkat bahu tak tahu. Wanita yang usianya diperkirakan sama itu dengan Nadia. Ia menemani Nadia dan mengajaknya berbincang tentang segala hal.


Selalu ada rahasia yang harus disimpan baik-baik dan tidak sampai pecah keluar. Nadia larut bersama wanita seusianya itu bermain bersama Zahira sejenak membuatnya lupa akan kejadian barusan.


Gelak tawa Zahira bukan hanya membuatnya senang, tapi orang-orang di sekitarnya juga ikut merasakan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2