
"Bagaimana kalau Rima kita jodohkan?" Ibu mengeluarkan sarannya. Nadia terdiam bersama suaminya. Matanya melirik laki-laki yang sedang memangku Zahira di sampingnya itu.
"Dengan siapa?" Bertanya setelah cukup lama berpikir. Lelaki itu sepertinya tidak tertarik dengan obrolan mereka. Ia tak acuh dan terus saja asik bermain boneka bersama anaknya.
"Sebentar ... sepertinya Ibu punya kenalan, Ibu akan mencari tahunya dulu." Ibu melengos pergi setelah mengatakan itu, entah apa yang akan wanita tua itu lakukan. Namun, wajahnya nampak berseri hari ini. Dia langsung berbalik begitu saja tanpa mendengar sahutan Nadia.
"Mas, kira-kira siapa yang akan dijodohkan Ibu dengan Rima? Mas tahu tidak?" Ia beringsut mendekati suaminya dan menempelkan pipi di lengannya.
"Mmm ... mungkin anak tetangga sebelah, Mas sering lihat Ibu berbincang dengannya. Katanya, anaknya tentara yang sedang ditugaskan di luar kota. Sembilan bulan nanti dia akan kembali." Ia bahkan tidak menoleh sama sekali terus saja memainkan boneka milik Zahira.
Nadia merenung, menimbang bagaimana seorang tentara itu. "Ada apa?" Paman Harits merangkul kepalannya, menyembunyikannya di ketiak. Nadia meronta dan melepaskan diri.
Ia menatap tajam suaminya, terkekeh lelaki itu merasa lucu dengan ekspresi wajah istrinya.
"Kasihan Rima kalau menikah dengannya, tentara itu sering pergi dan jarang ada di rumah. Bagaimana nanti kalau dia ditinggalkan, pasti akan sendirian. Terlebih saat nanti hamil, dia tidak akan bisa menemani Rima saat melahirkan ketika harus memenuhi panggilan tugas," ungkap Nadia.
Ia menggigit jarinya, memikirkan soal kriteria laki-laki untuk Rima. Mungkin dia cocok. Rima yang lemah akan terlindungi olehnya, tapi kembali pada tugas seorang tentara yang jarang menetap di rumah. Rima akan sering sendirian, kesepian akan menjadi temannya setiap hari.
"Bisa saja dia selingkuh atau menikah lagi mungkin di tempat tugasnya. Aku tidak ingin semua itu terjadi pada adikku. Dia harus mempunyai suami yang setia dan tidak boleh menduakannya. Rima harus jadi istri satu-satunya untuk suaminya. Mas, kenapa aku merasa gelisah soal Rima, ya? Dia polos." Nadia menumpahkan segala perasaan yang terdetik dalam hatinya.
Nadia. Belum apa-apa sudah ke mana-mana pikirannya. Wanita itu meninju pelan lengan suaminya saat suara kekehan terdengar menggelikan. Ia mendengus kesal. Namun, lelaki itu justru memeluknya gemas.
"Kamu itu, mereka bertemu saja belum sudah berpikir yang tidak-tidak. Belum tentu juga mereka setuju, 'kan? Jangan terlalu membebaninya, kalau mereka setuju untuk menikah, biarkan saja. Mereka bisa menilai sendiri apa yang terbaik untuk mereka," ucap paman Harits memberi tanggapan.
__ADS_1
Nadia terdiam, dia sudah terlampau emosi mendengar kabar tersebut. Menginginkan yang terbaik untuk kedua adiknya itu. Termasuk dalam hal memilih jodoh.
Suara ketukan pintu utama menyita perhatian keduanya.
"Biar aku saja!" tukas paman Harits saat melihat Nadia yang hendak beranjak. Ia berdiri setelah meletakkan Zahira di lantai, menghampiri pintu utama. Namun, didahului oleh Bibi yang sigap membukakan pintu ketika mendengar ketukan.
Melihat Tuannya, Bibi membawa langkah mendekati. Di tangannya sebuah benda pipih ia genggam.
"Apa itu, Bi?" tanya paman Harits setelah berdiri berhadapan dengan Bibi. Wanita sepuh itu menilik apa yang di tangannya.
"Ada kiriman surat, Tuan. Penjaga gerbang yang membawanya." Bibi menyerahkan surat di tangannya. Ia gegas berbalik dan kembali ke belakang.
Ditiliknya surat di tangan, terbungkus rapi dengan kertas berwarna cokelat. Di depannya tertulis Tuan Harits dari Ikram di Rangkasbitung. Ia tersenyum, tapi dahinya mengernyit. Kenapa laki-laki itu mengiriminya surat cinta?
"Siapa, Mas? Apa itu?" Beruntun Nadia bertanya pada suaminya. Ia menerima amplop coklat dari paman Harits dan membukanya perlahan setelah membaca siapa pengirimnya.
"Untuk apa lagi dia mengirim surat pada Mas? Apa di antara kalian ada sesuatu yang aku tidak tahu?" Matanya memicing curiga menusuk suaminya yang kembali bermain dengan Zahira.
"Buka saja, sayang. Kenapa curiga sama suami sendiri?" kilah paman Harits sebentar saja melirik istrinya. Tangan Nadia sibuk membuka surat tersebut. Penasaran ingin tahu apa yang dikatakan laki-laki itu dalam surat tersebut pada suaminya.
"Apa dia butuh bantuan dana lagi? Kenapa masih saja menyusahkan. Padahal, aku sudah tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga mereka. Kenapa malah mengirim surat?" Nadia menggerutu sepanjang membuka surat itu.
Kerutan di dahinya membentuk saat sedikit demi sedikit kertas coklat tersebut memperlihatkan apa yang dibungkusnya.
__ADS_1
"Pink? Undangan?" Ia membalik surat tersebut membaca nama mempelai yang tertera di atasnya. Nadia menutup mulutnya menggunakan tangan, matanya membelalak tak percaya pada nama yang sedang dibacanya.
"Ada apa? Pernikahan siapa? Apa Ruby?" cecar paman Harits ketika melihat ekspresi Nadia yang terkejutnya bukan main. Wanita itu memutar kepala tanpa melepas tangan dari mulutnya. Ia mengangguk pelan masih dengan ekspresi yang sama.
"Kenapa kamu terkejut begitu? Memangnya apa yang salah? Dia sudah dewasa, wajar saja kalau menikah," ujar paman Harits yang terheran-heran melihat reaksi istrinya.
Nadia tak menyahut, ia menurunkan tangan perlahan, memberikan surat undangan itu pada suaminya. Dahi lelaki itu berkerut saat melihatnya.
"Waw ... ini luar biasa. Mau datang? Mas terserah kamu saja. Kalau kamu mau pergi, kita pergi. Mas terkejut sekali," ucapnya sambil terkekeh.
Namun, tidak dengan Nadia. Entah apa yang dia rasakan, yang pasti hatinya tidak bisa merelakan. Kembali lagi pada takdir, semua itu bukan kehendak manusia. Yang memegang kendali atas hidup semua makhluk, Dia Yang Maha Kuasa yang takdirnya tak dapat diubah jika sudah terjadi.
"Ya ... karena kita diundang maka, kita harus datang. Aku hanya ingin melihat seperti apa mereka sekarang," putus Nadia setelah menimbang dalam hati. Rupanya penasaran juga hatinya ingin mengetahui keadaan mereka.
Dia sudah melupakan gadis kecilnya, malaikat itu telah berada di tempatnya dengan tenang. Dia menjadi salah satu bunga di dalam surga, menunggu kedua orang tuanya di pintu surga untuk dapat berkumpul kembali.
"Siap!" seru paman Harits sambil mengangkat tangan Zahira ke atas.
"Mas, aku ingin ke makam Mamah dan Papah. Sudah lama kita tidak mengunjungi mereka. Mumpung Mas di rumah, kita pergi ke sana, yuk!" Nadia memelas. Hatinya tiba-tiba merasa rindu pada mendiang Sarah.
Lelaki itu mengusap kepala istrinya yang menunduk, ia beranjak dan menarik tangan Nadia untuk segera bergerak. Nadia tersenyum, berdiri penuh semangat, mengambil alih Zahira dari gendongan ayahnya. Ada apa di sana? Kenapa dia ingin sekali datang ke makam itu?
Siang menjelang sore, cuaca tak begitu panas. Sedikit sejuk karena matahari sudah tak lagi di puncak. Mobil melambat saat memasuki area pemakaman, keduanya turun dan berjalan di bawah naungan payung yang dipegang laki-laki itu.
__ADS_1
Namun, langkah keduanya terhenti saat mendapati satu sosok yang sedang khusyuk berjongkok di antara makam keduanya. Bukan itu yang membuat mereka tertegun, tapi apa yang dia gumamkan langsung menggetarkan hati Nadia.