Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Gadis Pendonor


__ADS_3

Di bawah indahnya lembayung senja, warna jingga bertabur di langit, matahari perlahan pamit, kembali ke peraduannya. Gelap mulai merayap menyelimuti bumi, menyembunyikan siang hari, menutupi sang mentari.


Namun, dua gadis itu masih bersitegang di pemakaman. Saling berhadapan mematri pandangan. Gadis berpakaian serba hitam di sana, menundukkan wajah dalam-dalam. Menyembunyikan kegundahan yang tengah dirasakan hatinya.


Ia memainkannya jemarinya, terkadang menggigit bibirnya sendiri menekan rasa gugup dan takut yang menghantui. Sementara gadis lainnya, memaku pandangan dengan wajahnya yang merah padam. Kedua tangan dikepalkan, seluruh rasa dalam dadanya bergejolak meluap-luap.


Ia bungkam tengah menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia ajukan tadi. Tak berkedip matanya pada sosok di hadapan.


"Ke-kenapa ka-kamu di sini?" Setelah beberapa saat hening, gadis berbaju hitam mengeluarkan suaranya. Ia memberanikan diri mengangkat wajah bertatapan dengannya.


"Kenapa? Kamu tanya kenapa? Yang berbaring di sana juga ibuku! Wanita yang sudah merawatku, kamu tanya kenapa aku ada di sini? Sama seperti kamu, mengunjunginya." Berapi-api gadis itu menyahut. Saking bersemangatnya, cairan dari mulutnya bahkan menyembur keluar dan menciprati wajah gadis di hadapannya.


Ia terpejam dan kembali menunduk, pertanyaan yang salah. Dadanya berdebar-debar tak karuan. Ia menggerakkan kakinya hendak pergi, tapi tangan gadis yang baru sampai itu cepat mencekalnya.


"Katakan! Kenapa kamu melakukan itu?" Pertanyaan yang tak terjawab sebelumnya, ia tanyakan lagi. Ditariknya gadis berpakaian hitam itu hingga kembali berhadapan.


Manik mereka bertemu, bukan kemarahan, tapi kekecewaan dan kesedihan juga penyesalan yang nampak di matanya.


"A-apa ka-kamu mendengarnya?" Bukannya menjawab, ia justru bertanya mengulur waktu.


"Aku mendengarnya, aku mendengar semuanya. Aku mendengar dengan jelas apa yang kamu katakan tadi. Kenapa kamu melakukan itu?" Suaranya melemah, air mulai menetes dari tempatnya menjatuhi pipi.


Gadis berpakaian serba hitam kembali menunduk, ia menghela napas panjang menekan rasa dalam hatinya.


"Kalau kamu mendengarnya, aku mohon jangan bilang sama mbak Nadia. Jangan sampai Mbak tahu aku yang melakukannya. Aku takut Mbak membenciku, aku takut Mbak marah padaku. Aku tidak mau Mbak sampai tahu kalau aku yang mendonorkan ginjal untuknya. Kumohon, jangan bilang sama Mbak." Ia menggenggam kedua tangan saudarinya.


Matanya menyorot memohon agar ia menjaga rahasia yang selama ini dia pendam sendirian. Gadis itu bergeming, tak lama ia berhambur memeluknya. Menangis di bawah guyuran warna jingga langit sore itu.


"Setidaknya kamu bilang sama aku, jangan menyimpannya sendirian. Ibu memang melarang kita, tapi aku juga tidak bisa melihat Mbak sekarat." Bergetar suaranya. Ia mengeratkan pelukan, menumpahkan luapan rasa yang dirasakan hatinya.

__ADS_1


"Kalau aku bilang sama kamu, sudah pasti kamu yang akan melakukannya, bukan? Kamu selalu menganggapku lemah. Padahal, aku tidak merasa begitu. Aku baik-baik saja sampai sekarang," ungkapnya tak kalah gemetar.


Tangis keduanya pecah mengiringi hilangnya sang mentari dari singgasana. Cukup lama keduanya saling berpelukan, menumpahkan setiap rasa yang menggetarkan hati mereka hingga tidak sadar kegelapan telah datang menelan cahaya.


Keduanya melepas pelukan, saling melempar senyum sebelum sama-sama berpaling pada dua makam yang sering mereka kunjungi.


"Kami pamit, Ibu, Ayah. Assalamu'alaikum!" Kaki mereka berayun bersama-sama meninggalkan pemakaman untuk kembali pulang ke rumah.


"Kamu ingin merahasiakan ini dari Mbak sampai kapan? Dia juga harus tahu." Salah satu di antara mereka membuka pembahasan.


Helaan napas ia hembuskan sangat panjang dan berulang-ulang. Pandangan ia alihkan pada jendela mobil, lampu-lampu di jalanan menari-nari dengan indah.


"Aku tidak tahu, yang aku ingin Mbak tidak tahu soal ini seumur hidupnya. Biarlah Mbak tidak tahu kalau ginjalku ada di tubuhnya," sahutnya lirih. Menopang dagu dengan tangannya, memandangi deretan pertokoan yang dihiasi kerlipan lampu.


"Baiklah, tapi ... bagaimana kalau Mbak sudah tahu soal ini? Apa kamu akan mengaku?" Bertanya lagi membaca kemungkinan. Lagi-lagi hembusan napas panjang terdengar dari arahnya.


Ia memutuskan pandangan, berpaling ke hadapan sambil menyandarkan kepala pada kursi.


Gadis itu tersenyum, ini akan menjadi rahasia mereka berdua saja. Jika pun, suatu saat nanti Nadia tahu soal ini, maka itu memang sudah haknya untuk tahu siapa pendonor yang telah rela memberikan ginjalnya.


"Baiklah, aku akan mendukung saja. Aku akan membantumu kalau Mbak marah nanti." Ia tersenyum disambut senyum yang sama olehnya.


Mobil melaju dengan normal, meninggalkan jejak di tengah hiruk-pikuk para manusia yang gemar menikmati dunia malam.


"Mau makan dulu? Kita bisa mampir di warung makan biasa kita makan," tawar si pengemudi padanya.


"Mmm ... boleh, kebetulan aku juga sudah lapar. Menangis lama di dekat Ibu membuatku rindu masakan Ibu." Tersenyum bibirnya meskipun hatinya sakit menahan rindu. Namun, seberat apa pun rindu, tetap tidak akan terobati karena dia telah pergi dari dunia ini.


Mobil mereka menepi di parkiran sebuah warung makan, mengisi perut sejenak sebelum pulang ke rumah.

__ADS_1


Sementara di rumah, Nadia menunggu tak sabar kedua adiknya pulang. Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu utama rumah. Zahira telah terlelap sebelum ia memutuskan turun untuk menunggu keduanya.


"Lama sekali mereka!" Lidahnya berdecak berulang-ulang. Kedua tangan terkepal dan saling dipukulkan satu sama lain. Berganti posisi berkali-kali, bertolak pinggang, menggigit kuku jari sambil bolak-balik seperti setrikaan.


"Sayang! Duduklah, tenangkan hati kamu dulu. Mereka pasti pulang, lagipula ini belum jam biasa mereka pulang, 'kan?" Paman Harits menoleh, lelah sendiri melihat tingkah sang istri yang tak bisa diam sedari tadi.


"Tidak bisa, Mas. Seharusnya mereka sudah pulang. Apa mereka tidak tahu aku menunggu mereka? Kenapa tidak tutup saja butiknya dan langsung pulang." Menggerutu lagi dan lagi. Kesal bukan main, ingin menangis tak bisa.


Paman Harits menghela napas, ia bergeming di tempatnya duduk sambil memperhatikan tingkah istrinya.


"Jangan memarahinya, mungkin dia punya alasan kenapa melakukan itu? Dia sangat menyayangimu, Nadia," ingat paman Harits memberitahu.


"Aku tahu, Mas. Yang aku tidak habis pikir kenapa-"


Kata-katanya terhenti saat deru mobil terdengar di halaman rumah. Tak lama, gelak tawa ikut menyeruak samar ke dalam telinga.


"Itu mereka!" Nadia bersiap di depan pintu dengan kedua tangan berkacak di pinggang. Paman Harits pun bersiaga, mengawasi apa yang akan dilakukan istrinya.


Pintu terbuka secara perlahan, lebar dan tak membatasi mereka. Kedua gadis itu tertegun tatkala kepala mereka terangkat, wajah merah padam Nadia yang menyambut.


Rima dan Winda saling menoleh, keduanya meneguk saliva meski sulit dilakukan. Berpikir, apa kesalahan mereka kali ini.


"M-mbak-"


"Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu melakukan itu? Kenapa kamu menyembunyikannya dari Mbak?!" Berapi-api wanita beranak satu itu meluapkan emosinya. Ia berjalan cepat menghampiri salah satunya. Memukul lengan adiknya itu kesal, tapi pelan. Tak bermaksud menyakiti mereka.


"Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu melakukannya?" Pecah tangis Nadia, tubuhnya melemah, memeluk salah satu adiknya itu.


"Mbak?"

__ADS_1


"Kenapa kamu melakukannya? Kenapa kamu melakukannya?" Tangisnya semakin menjadi, tapi lisannya justru kelu.


Paman Harits beranjak mendekat.


__ADS_2