Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Masalah Perkebunan


__ADS_3

Kecemasan yang dia rasakan, tanpa sadar membuat semua orang ikut jua merasakan. Ia tak pernah tahu seperti apa paniknya mereka yang menunggu di rumah, tatkala melihat berita tentang sebuah kebakaran hebat yang menampakkan dirinya tengah terduduk di tanah.


Nadia menggigit bibir melihat semua orang berdiri di teras rumah menunggunya. Ia melirik paman Harits yang tetap tenang pada posisinya. Cukup bertanya saja salam hati kenapa mereka semua ada di sana?


"Mereka mengkhawatirkan kamu." Laki-laki itu membantu melepaskan sabuk pengaman yang dikenakan istrinya.


Nadia masih bergeming di tempat duduk sambil menatap deretan manusia yang berbaris menunggunya.


"Ayo, sayang!" Laki-laki itu membukakan pintu untuknya, sejenak ia tertegun sebelum ikut melangkahkan kaki keluar dari mobilnya.


Nadia tersenyum canggung saat Ibu mulai melangkah menuruni tangga teras dan memeluknya. Rasa hangat yang hilang kini bisa ia dapatkan dari sosok wanita yang tengah memeluknya. Rasa hangatnya sama seperti yang dihantarkan Sarah pada hatinya. Mungkinkah semua Ibu itu memiliki kasih sayang yang sama?


Sebagian orang tua mengatakan bahwa tidak pernah ada mantan mertua. Sama seperti orang tua.


"Kamu tidak apa, Nak? Kenapa pergi tidak bilang-bilang?" Ibu menangkup wajah Nadia. Kulitnya hangat terasah saat menempel di pipinya. Nadia menelisik wajah tua di hadapannya, kekhawatiran jelas tergaris di wajah keriputnya.


"Maaf, Bu. Semalam terburu-buru jadi tidak sempat pamit. Aku baik-baik saja." Nadia terenyuh, sikap Ibu sungguh membuat kerinduannya pada sosok Sarah terobati.


"Kamu tahu, Winda dan Rima uring-uringan dari semalam." Nadia melirik belakang tubuh Ibu untuk dapat melihat kedua adiknya itu. Winda dan Rima berdiri sambil berpegangan tangan.


"Kenapa tidak menelpon?" Ia kembali menjatuhkan tatapan pada Ibu.


"Ibu yang melarang mereka karena Bibi sudah memberitahu, tapi saat berita tentang kebakaran ... Ibu melihat kamu dan Harits-"


"Kita masuk dulu, Bu," tukas paman Harits seraya mencium punggung tangan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ah ... ya, kalian pasti capek." Ibu menggandeng tangan Nadia memasuki rumah. Segera Winda dan Rima mengapit Kakak mereka. Menumpahkan kekhawatiran dan kekesalan karena Nadia pergi tanpa pamit.


Namun, semua orang merasa lega saat ia kembali ke rumah. Duduk melingkar di ruang tengah, Bibi sigap membuatkan minuman dan meletakkan potongan buah di atas meja.

__ADS_1


Paman Harits tak ikut, ada yang harus dia kerjakan. Ia gegas menuju kamar, membersihkan diri, berganti pakaian sebelum melakukan perjalanan yang menegangkan.


"Oh, ternyata begitu. Lalu, bagaimana keadaan Nafisah?" tanya Winda setelah mendengar cerita Nadia.


"Dia baik-baik saja. Makanya Mbak bisa tenang kembali ke rumah," katanya sambil tersenyum.


"Syukurlah kalau semua baik-baik saja." Ibu ikut menimpali. Mereka berbincang ringan seputar berita kebakaran yang menghanguskan bangunan pondok pesantren di Rangkasbitung.


Nadia tak pernah tahu jika ada media yang meliput kejadian nahas tersebut. Apa pun, yang terpenting sekarang ... semuanya baik-baik saja.


"Bunda!" Anak-anak asuh Nadia berlarian memasuki rumah. Ibu yang juga merasa cemas membawa mereka untuk melihat Nadia. Winda dan Rima menyingkir tatkala anak-anak itu merangsek memeluk Nadia.


"Sayang! Bunda tidak apa-apa." Nadia mengusap kepala beberapa anak yang menangis. Entah apa yang mereka tangisi.


"Kami melihat Bunda di TV, Bunda ada di tempat kebakaran itu, 'kan?" adunya sambil terus terisak saat membayangkan Nadia yang duduk di depan kobaran api.


"Bunda tidak apa-apa, sayang. Lihat, Bunda sudah pulang sekarang," katanya sambil tersenyum. Kebahagiaan tak hanya ia dapatkan dari cinta dan kasih sayang suaminya saja. Anak-anak ini, ikut menambah bebungaan yang bermekaran dalam hatinya.


Hatinya bergumam sambil menciumi kepala anak-anak itu. Nadia tak mengizinkan siapa pun mengambil alih asuhan mereka selama ia masih mampu untuk menghidupi semuanya.


"Lalu, bagaimana keadaan Abi dan Umi, Mbak?" tanya Ibu yang lisannya tak pernah lupa menyebut panggilan untuk mereka.


"Semuanya baik-baik, Bu. Selamat," jawabnya.


Ibu mengelus dada lega. Ia ikut duduk di samping Winda dan melihat semua anak-anak bercengkerama dengan Nadia. Sehari saja ditinggalkan, mereka sudah mencari-cari sosoknya.


Tak ada yang lebih membahagiakan di dunia ini selain dari melihat senyum-senyum ceria terkembang di bibir orang yang disayangi. Nadia yang selama lima tahun menahan segala tekanan, sama sekali tidak membuat dia menjadi pribadi yang pendendam.


Segala bentuk kebaikan yang dilakukan manusia sekecil apa pun, akan tetap mendapat balas yang setimpal. Pun dengan kejahatan yang dilakukan manusia itu sendiri, akan mendapat balas yang setimpal pula.

__ADS_1


Orang yang terlihat lemah dan selalu diam menerima, tak selalu bodoh. Mereka memperhatikan dengan jeli, menimbang dengan bijak, memutuskan langkah apa yang akan diambilnya dengan penuh keyakinan.


Mungkin Yuni sudah mendapatkan ganjaran atas kejahatan yang dia perbuat secara langsung di dunia. Entah kenapa saat terpikirkan Yuni, ia menduga wanita itulah yang membakar pondok pesantren Al-Masthur. Dengan motif tersendiri, atau dendam karena Ikram tak pernah mencintainya. Entahlah.


"Mas, mau ke mana? Baru sampai, Lho. Kenapa sudah rapi saja?" Nadia beranjak saat melihat suaminya menuruni anak tangga dengan pakaian rapi. Ibu dan yang lainnya pun ikut menoleh padanya.


"Mas harus pergi, ada yang berbuat ulah di perkebunan. Mas sendiri yang harus menyelesaikan semuanya." Paman Harits mencium dahi istrinya yang masih mengernyit.


Kenapa rasanya tak rela membiarkan suaminya pergi?


"Mas, apa tidak bisa nanti saja? Mas pasti capek, apalagi mengemudi sendiri," rengek Nadia. Ia menjatuhkan kepala di dada suaminya sambil melingkarkan kedua tangan di tubuh laki-laki itu.


"Siapa bilang Mas pergi sendiri? Yoga menjemput Mas, sayang." Paman Harits menunjuk pintu. Nadia ikut berpaling, di sana Yoga telah berdiri menunggu Tuannya.


Nadia membulatkan mulut, ia melepas pelukan dan menggandeng tangan suaminya mendekati Yoga.


"Mas pergi, ya." Paman Harits mencium puncak kepala Nadia dan memberikan tangannya pada wanita itu.


"Hati-hati, Mas!" Nadia mencium tangan itu dan melambai melepas kepergian suaminya.


Ia menghela napas berat, tahu betul suaminya itu lelah, tapi karena ada masalah di perkebunan terpaksa harus pergi. Ia kembali duduk bersama semuanya, membaur mengurai rasa kesal karena ditinggal suaminya pergi.


"Kedua Kakak Harits masih ingin mengambil perkebunan itu. Mungkin mereka berbuat ulah di sana," celetuk Ibu memberitahu Nadia.


Wanita itu mengangkat wajah yang tertunduk menatap Ibu yang baru saja berbicara.


"Kenapa tidak dibagi saja, Bu? Supaya semuanya tenang dan tidak saling berebut seperti sekarang?" tanya Nadia. Ia memang tidak tahu apa-apa soal perkebunan itu.


Ibu menggeleng, tidak semudah itu.

__ADS_1


"Itu hak suamimu, Nak. Perkebunan itu diberikan langsung Ayah Ibu pada Harits. Yang lain tidak berhak sama sekali dan itu tidak bisa dibagi karena mereka berdua sudah mengambil semua yang Ibu punya. Semuanya hingga tak tersisa lagi selain perkebunan itu saja." Awan mendung nampak jelas di wajah tuanya.


Nadia mengerti sekarang. Itulah kenapa paman Harits benar-benar menjaga ketat perkebunan itu setiap kali ia datang menginap di villa.


__ADS_2