
Satu bulan lamanya, Ikram mendiamkan Ain dan tak acuh pada Yuni. Ia bahkan jarang berada di rumah selain untuk mengganti pakaian saja.
Nadia secara rutin mengunjungi Sarah karena kondisi wanita itu tak menentu. Ikram selalu menunggu kesempatan untuk dapat bermalam dengan Nadia, tapi istri keduanya itu seolah-olah menghindar darinya. Jadilah Ikram pun tak acuh padanya.
Yuni yang setiap hari menggunakan kesempatan untuk dapat berduaan dengan Ikram, mulai mendapat respon dari laki-laki itu. Ia lebih cepat dan lebih gesit dari Ain dalam menyiapkan kebutuhan Ikram setiap paginya.
Ain cemburu, hatinya terbakar. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini tidak boleh terjadi. Ain bertekad harus kembali menguasai Ikram.
"Bi! Apa Abi mau seperti ini terus pada Umi? Umi sudah menyadari semuanya, tolong maafkan Umi, Bi," pinta Ain di malam itu.
Ia memapak langkah Ikram yang hendak memasuki kamar. Pandangannya jelas tersirat penyesalan dan kerinduan yang teramat. Ain memandangi Ikram dengan matanya yang sayu lagi sembab.
Melihat keadaan Ain yang memburuk, Ikram tak tega dibuatnya. Ia memeluk tubuh Ain dan membawanya masuk ke kamar. Untuk pertama kalinya setelah kejadian itu, Ikram menyentuhnya.
Ain menangis sambil memeluk suaminya. Menumpahkan segala sesal dan kerinduan yang selama ini meraja di hatinya.
"Sudah, jangan menangis lagi! Abi hanya ingin Umi menyadari semuanya kalau yang Umi lakukan itu salah walaupun sakit hati, tapi kita tetap tidak boleh berlebihan. Apa Umi mengerti?" Ain menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Teringat akan nasihat Nadia, yang meminta Ikram untuk tidak berlarut mendiamkan Ain. Ikram melemahkan hatinya.
"Sudah, sebaliknya Umi tidur di sini. Abi juga kangen sama Umi," ucap Ikram lagi sembari mengelus punggung istri pertamanya itu.
Yuni yang menguping mendengus kesal. Ia mengumpat dengan geram. Kedua tangannya terkepal. Yuni membawa langkahnya masuk ke kamarnya sendiri. Ia yang setiap hari mencuri perhatian Ikram, tak dilirik sama sekali oleh laki-laki itu. Kurang ajar!
Beberapa bulan berlalu, kandungan Yuni semakin membesar. Ain dan Ikram kembali damai dan toko mereka pun berjalan stabil. Sedikit tak apa, yang penting berkah. Tadinya begitu.
"Ain, bagaimana ini? Aku belum membeli keperluan bayi, lho. Sebentar lagi juga mau lahiran. Apa kamu punya tabungan?" lapor Yuni dengan cemas mengingat kondisi perutnya yang semakin membesar.
__ADS_1
"Untuk saat ini, sih, masih sedikit. Itu juga buat persiapan Ruby kuliah. Kamu juga boros kalau dikasih uang, berapa pun selalu habis lebih cepat," sahut Ain yang tak suka pada aduan Yuni.
Yuni menggigit bibirnya, kesal pada Ain yang begitu mudahnya menyalahkan.
"Terus bagaimana? Apa Ikram tidak punya uang lagi?" desak Yuni lagi.
"Nanti aku bicarakan pada Ikram." Ain meninggalkan Yuni di teras. Ia masuk ke rumah mencari kedua anaknya.
"Pasti di rumah Nadia lagi. Kenapa mereka betah di sana?" kesal Ain sembari memandang ruang keluarga tempat bermain anak-anaknya.
Ia membanting diri di atas kursi, lelah. Malam harinya, Ain mencoba berbicara dengan Ikram.
"Bi, apa Abi punya tabungan? Perut Yuni semakin membesar, Ruby sebentar lagi masuk kuliah. Umi belum ada tabungan," ucap Yuni membuka perbincangan.
Ikram yang membaca buku, menutupnya dan meletakan buku tersebut di sampingnya duduk. Ia memandang Ain yang menunggu jawabannya.
Wanita itu menunduk, melipat bibir, mencari jalan keluar bagaimana caranya memiliki uang.
"Bi, kenapa kita tidak meminta uang saja pada bu Sarah?" usul Ain yang membuat ikram mengernyit tidak suka mendengarnya.
"Kenapa kita harus meminta uang darinya? Jangan konyol, Mi. Abi malu," sahut Ikram tak enak pada ibu dan anak itu.
"Kenapa harus malu, Bi? Bukanya Abi dan bu Sarah itu terikat perjanjian? Sudah sewajarnya Abi meminta hak Abi. Kenapa harus malu?" ucap Ain lagi dengan menggebu-gebu.
Ikram mulai goyah, ia teringat saat Sarah mendatanginya dulu dan menawarkan pernikahan dengan Nadia. Ia membuat kesepakatan bersama.
"Nak Ikram, kalau Nak Ikram bersedia menerima Nadia menjadi istri keduanya dan dapat memperlakukan anak saya dengan baik apa lagi sampai memiliki anak maka, sebagian aset pabrik atas nama saya akan menjadi milik kamu. Akan tetapi, kalau Nadia tidak mendapatkan perlakuan yang baik darimu dan semua orang di dalamnya apa lagi sampai bercerai maka, semua itu akan saya ambil kembali," ucap Sarah kala itu.
__ADS_1
"Tapi bagaimana kalau Nadia sendiri yang tak mampu menjalani rumah tangga bersama saya dan dia menggugat cerai saya? Saya ingin jaminan untuk itu semua," sahut Ikram lagi pada saat itu.
"Bukan apa-apa, saya hanya akan menganggap itu sebagai iwad (ganti) yang harus dibayar Nadia ketika dia menjatuhkan khulu' kepada saya," sahut Ikram lagi dengan lugas.
"Yah ... baiklah, saya akan memberikan lima belas persen dari milik saya untuk kamu." Sarah dan Ikram pun terlibat sebuah perjanjian yang sebenarnya adalah Ikram akan tetap menikahi Nadia meskipun tak ada perjanjian tersebut untuk satu alasan.
Mengingat itu, Ikram membenarkan. Selama ini ia belum pernah mendapat keuntungan dari Sarah. Akan tetapi, ia juga malu untuk meminta uang pada ibu Nadia itu. Anaknya sudah mereka peras, ibunya pun kini menjadi sasarannya.
"Bagaimana, Bi? Kita butuh uang untuk lahiran Yuni juga untuk biaya masuk sekolah Ruby. Apa lagi, kalau Abi tidak mau biar Umi yang pergi," ucap Ain lagi.
Ikram terdiam, ia bimbang.
"Tapi Abi sudah menganggap itu semua batal, Mi. Lagi pula, Nadia sudah banyak membantu kita selama ini. Rasanya terlalu serakah kalau kita masih meminta lagi pada ibunya. Sudah, ya, Mi jangan mempermalukan diri sendiri," sahut Ikram memberitahu Ain.
Wanita itu pun mencebik kesal. Dengan atau tanpa izin Ikram dia akan tetap pergi menemui Sarah menagih janji antara dirinya dan suaminya.
"Mi, dengar tidak? Jangan melakukan hal-hal nekad lagi. Pikirkan dulu akibatnya sebelum Umi mengambil tindakan. Pikirkan juga dampaknya, baik-kah ... buruk-kah? Semuanya harus benar-benar dipertimbangkan secara matang. Jangan terlalu menuruti hawa nafsu karena itu tak akan pernah ada habisnya," lanjut Ikram lagi sembari merebahkan diri di kasur dengan lelah.
Ain terdiam, merenungkan sikapnya selama ini pada Nadia. Namun, tetap saja. Setiap kali teringat wajahnya, setiap itu juga sakit di hatinya mencuat. Luka yang ia tutupi selalu kembali menganga saat ingat bahwa wanita itulah yang mendatangkan rasa sakit di hatinya. Sakit karena dimadu, sakit karena merasa tak diacuhkan.
Ia ikut membaringkan tubuh di samping Ikram. Sambil menyusun apa saja yang akan dia lakukan untuk esok hari. Yang pasti Ain tetap akan mendatangi Sarah. Itu hal yang mutlak dilakukan.
Sementara Yuni pun sedang menyusun rencananya sendiri. Dan Nadia sama seperti malam-malam sebelumnya tak pernah berburuk sangka pada siapa pun. Ia tetap berpikir positif untuk menyambut hari esok.
Esok hari yang ditunggu pun datang membawa harapan untuk Ain dan Yuni juga Nadia tentunya. Ketiga wanita yang berbeda tujuan menyambut datangnya hari.
Nadia sudah membuka toko kerajinan tangan untuk anak-anaknya. Dua toko bersebelahan, dengan masing-masing satu pembimbing untuk selalu mengawasi dan mengajari keduanya bagaimana cara mengelola bisnis dengan benar.
__ADS_1
Ia selalu menyempatkan diri untuk datang meskipun hanya sekedar melihat. Tubuhnya semakin lemah, bergerak terlalu sering membuat Nadia terlalu mudah lelah. Wajahnya yang semakin hari semakin pucat, tubuhnya pun semakin kurus terlihat. Ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Sarah dari pada di yayasan. Kondisinya memburuk dari hari ke hari.