Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua

Berbagi Cinta: Derita Istri Kedua
Perjalanan


__ADS_3

Matahari telah berada di puncaknya, terik sinarnya menyengat kulit. Deburan ombak di sepanjang jalan, menjadi musik pengiring bagi dua insan yang sedang berbahagia. Desiran angin pun begitu menyejukkan saat menerpa kulit.


Jalanan tepi pantai, selalu memberikan kesan tersendiri bagi setiap orang yang melintasinya.


"Apa masih jauh?" tanya paman Harits untuk ke sekian kalinya. Hampir empat jam dia mengemudi, tapi belum sampai juga.


"Sebentar lagi-"


"Dari tadi kamu bilang sebentar lagi ... sebentar lagi, tapi tidak sampai-sampai," keluhnya terdengar lelah.


Nadia terkekeh lucu, ia menggelengkan kepala tidak menanggapi keluhan paman Harits.


"Tenang saja, Mas. Sampai di sana, Mas akan puas pokoknya," ucapnya setelah beberapa saat memperhatikan mimik wajah lesu paman Harits.


"Benarkah? Aku ingin setiap saat merasa puas." Paman Harits menyeringai, membuat Nadia bergidik.


"Apa, sih!" Nadia memukul lengan suaminya. Gelak tawa pun pecah darinya. Ia bersemu memalingkan wajah dari paman Harits yang masih saja terkekeh.


"Mas, kita cari makan dulu. Aku lapar," pinta Nadia yang diangguki laki-laki pengemudi itu.


Mobil menepi di sebuah rumah makan terbuka. Pemandangan persawahan, juga hutan yang mengelilinginya, nampak segar dalam pandangan.


"Ah ... akhirnya pinggangku ... duh ...!" keluh paman Harits lagi sembari menggerakkan pinggangnya ke kanan dan kiri.


"Mmm ... baru segitu saja sudah mengeluh, bagaimana nanti tempur denganku, hmm ...." Nadia menggelengkan kepala sambil melipat kedua tangan di perut. Mengejek paman Harits yang tadi mengeluhkan pinggangnya.


Mata lelaki itu melebar mendengar kata-kata indah dari wanita cantik yang berdiri di badan mobilnya.


"A ... a ... kamu meremehkan suamimu ini, sayang. Kamu belum tahu siapa lelaki ini dan sudah mengejek ... ck, ck ... kamu akan menerima akibatnya nanti!" Paman Harits menggerakkan telunjuknya di depan wajah Nadia dan berakhir dengan menggamit hidung mancung istrinya itu.


Dia gemas. Memeluk Nadia erat membuatnya sesak.


"Sesak, Mas!" Paman Harits terkekeh seraya melepaskan pelukan. Nadia memukul manja dada suaminya, bibirnya mengerucut lucu. Paman Harits merangkul bahu Nadia dan mengajaknya masuk ke dalam rumah makan tersebut.

__ADS_1


Mereka duduk di sebuah gazebo panjang, menghadap langsung ke pesawahan. Ada beberapa pengunjung juga di sana dengan tujuan yang sama seperti yang mereka.


"Mau makan apa?" Paman Harits memperlihatkan buku menu pada istrinya.


Nadia memperhatikan setiap menu yang tertulis.


"Ikan bakar, ya. Sepertinya enak," ucapnya memberikan buku itu kembali pada paman Harits. Ia memanggil pelayan dan memesan makanan.


"Kalau kita membuat rumah di tengah sawah seperti ini, rasanya hidup akan tenang dan damai." Paman Harits menumpu tubuhnya pada kedua tangan yang ia tekanan di belakang tubuh. Kakinya menjuntai ke bawah, dengan mata yang tertuju pada hamparan sawah yang mulai menguning.


"Hmm ... boleh juga. Lalu, Mas akan bekerja di ladang seperti mereka. Aku akan setia mengantarkan makanan untuk Mas di siang hari dan membantu di ladang sampai kita pulang. Akang, makan dulu, atuh ... sudah siang. Ini Neng bawakan nasi merah, gogodoh ikan asin (ikan asin ditepungin), dan sambal terasi, enak." Nadia terkekeh memperagakan gaya bicara wanita di tanah Pasundan.


Tangannya menunjuk pada sekelompok Ibu-ibu dan Bapak-bapak yang sedang berteduh di bawah pohon kelapa, tengah beristirahat dari kegiatan meladang mereka.


Paman Harist ikut tertawa, bahasan sederhana itu saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga.


"Mereka seperti para pendekar wanita di serial film kolosal. Benar, 'kan?" celetuknya setelah tawa berakhir.


"Mmm ... Mas benar." Nadia menimpali setelah melihat mereka mulai beranjak lagi. Obrolan itu terhenti saat pesanan mereka tiba. Harum aroma khas ikan panggang menyeruak ke dalam indera pembau mereka hingga membangunkan cacing-cacing di dalam perut.


"Berapa lama lagi perjalanan kita?" tanya paman Harits lagi setelah duduk di kursi kemudi.


"Mmm ... sekitar setengah jam lagi. Ayo, Mas! Tancap gas!" seru Nadia bersemangat. Perjalanan dilanjutkan. Memasuki daerah Sawarna, pemandangan laut luas kembali menjadi teman mereka. Melewati sebuah gunung, dan juga hutan yang masih alami. Ada banyak monyet bergelantungan di dahan pohon.


"Pulau Manuk. Disebut begitu karena bentuknya seperti burung." Nadia berucap menjelaskan saat mereka melintasi sebuah tempat wisata.


Paman Harits manggut-manggut.


"Di sini banyak wisata goa, ada goa Langir, goa seribu candi, dan masih banyak lagi." Nadia kembali memberitahu ketika mobil mereka melintasi sebuah gerbang wisata, "sebentar lagi tujuan kita. Tempat yang menjadi ikon dari pantai Sawarna ini, Tanjung Layar," sambungnya sembari tersenyum.


Melintasi sebuah jembatan, sayang mobil tak dapat memasuki area pantai lebih jauh. Paman Harist harus memarkir mobil sedikit lebih jauh dari pantai.


"Di mana yang kamu sebut Tanjung Layar itu?" tanya paman Harits tak sabar.

__ADS_1


"Sabar, kita harus mencari penginapan dulu. Di dekat sana saja, ya. Supaya lebih dekat saja," jawab Nadia yang diangguki suaminya. Paman Harist menyeret koper, sementara Nadia merangkulkan tangannya di lengan lelaki itu sembari menjelaskan apa saja yang bisa mereka nikmati di sekitar pantai ini.


"Kita akan menginap di sini?" tanya-nya lagi saat Nadia menghentikan langkahnya di depan sebuah penginapan yang nampak lebih nyaman dari yang lainnya.


"Iya, ayo masuk!" Seorang laki-laki tua menyambut kedatangan mereka kala langkah kaki keduanya melewati pagar yang terbuat dari besi itu.


Ia menjelaskan detail penginapan tersebut, dan memperlihatkan isinya. Hanya ada satu buah kamar dengan balkon yang menghadap laut. Juga kamar mandi di dalamnya. Semuanya nampak bersih dan rapi meskipun sempit.


Paman Harits membayar uang sewa dan lelaki tua itu menyerahkan kunci padanya. Nadia membanting dirinya yang lelah ke atas kasur yang terhampar di lantai. Sederhana, tapi indah bila bersama orang yang kita cintai.


"Mas mandi dulu, ya. Gerah." Nadia mengangguk, ia mengeluarkan handuk dari dalam koper dan memberikannya pada paman Harits.


Nadia berjalan ke balkon, berdiri sambil menatap lautan luas di kejauhan. Deburan ombaknya terdengar hingga ke tempatnya berdiri.


Ada sebuah kursi yang terbuat dari rotan, ia duduki dan menikmati waktu santainya.


Ting!


Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Nadia membukanya, pesan dari Winda dan Rima.


[Buatkan kami keponakan kembar!]


Nadia tersenyum membaca pesan itu.


[Memangnya Mbak sedang membuat adonan kue.]


Ia membalas, diam menunggu balasan.


[Memang benar, 'kan ... Mbak mau buat adonan sama Kak Harits. Jangan lupa berdoa, dan jangan pakai pengaman.]


Ikon tertawa terbahak-bahak melengkapi pesan dari Winda. Nadia terhibur, rasa lelahnya hilang seketika dengan berbalas pesan bersama kedua adik angkatnya. Ia menyandarkan tubuh menikmati sepoi angin yang menyapa tubuhnya.


__ADS_1


Tanjung Layar, Sawarna, Bayah, Lebak, Banten.


Photo: dokumentasi pribadi.


__ADS_2