
Pesta telah usai, semua tamu undangan telah kembali ke kediaman masing-masing. Tepat pukul sepuluh malam semuanya berakhir. Berakhir pula pertemuan Nadia dengan ketiga anak itu.
Mereka kembali setelah pesta dibubarkan meskipun harus memaksa, pada akhirnya Ikram setuju juga diantar pulang orang paman Harits.
Malam melelahkan bagi sepasang insan yang baru saja menyandang status resmi sebagai suami istri. Nadia duduk di depan meja rias, menatapi dua buah buku yang ia ditandatangani oleh paman Harits tadi siang. Bibirnya membentuk senyuman, haru sekaligus bahagia pernikahannya kali ini tercatat secara hukum negara.
Nadia tersenyum bersamaan dengan air matanya yang meleleh, ia mengusapnya pelan. Matanya masih fokus pada foto dirinya dan paman Harits di dalam buku tersebut.
Ia terlalu larut dalam keharuan hingga pintu terbuka pun tak dapat ditangkap telinganya. Paman Harits tersenyum, kemudian mengernyit manakala melihat Nadia yang terdiam memegangi dua buku nikah mereka.
Gaun pengantin masih melekat di tubuhnya bahkan riasan pun belum dibersihkan. Semuanya masih menempel di tubuh Nadia. Kamar utama ini tak akan ia sendiri yang menempatinya, melainkan bertambah personil yang akan menjadi guling hidup untuk ia peluk.
Paman Harits mendekat, ia berdiri di belakang Nadia. Tanpa izin dari istrinya ia memeluk tubuh Nadia dan mengecup pipi kanannya. Meski sempat terkejut, Nadia segera tersenyum saat manik mereka beradu.
Harum maskulin yang menguar dari tubuh paman Harits membentuk semu di pipi Nadia.
"Apa yang kamu lihat?" tanyanya dengan hembusan napas yang begitu hangat menerpa pipinya.
"Hanya ini, akhirnya aku punya ini," jawabnya menunjukkan buku nikah pada paman Harits. Tangan laki-laki itu mengusap kepala Nadia, ia juga memberikan kecupan di ubun-ubun wanita itu.
"Itu artinya kita menikah resmi secara agama dan negara. Anak yang akan kamu lahirkan pun akan diakui negara nantinya." Nadia tersenyum, ia menyimpan buku tersebut di dalam laci meja riasnya. Tubuhnya berbalik menghadap paman Harits.
Matanya sayu menatap, guratan lelah jelas nampak di wajahnya. Maniknya memohon agar paman Harits tidak meminta haknya malam ini.
Seolah mengerti, paman Harits terkekeh. Ia menggamit hidung Nadia dengan gemas.
"Aku tidak akan meminta hak malam ini, kamu tenang saja. Namun, alangkah lebih baiknya jika kamu cepat menanggalkan itu semua. Aku sendiri merasakan bebannya. Minta bantuan Winda atau Rima, aku mau mandi dulu." Paman Harits mengecup keningnya sebelum ia beranjak masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Winda dan Rima datang setelah Nadia mengiriminya pesan. Keduanya membantu Nadia melepas semua yang melekat di tubuhnya dengan cepat sebelum paman Harist keluar.
"Terima kasih. Tidurlah yang cepat kalian pasti lelah. Malam sudah larut," ucap Nadia usai semuanya terlepas.
"Iya, Mbak. Selamat menikmati malam pertama, ya. Kami sayang Mbak," ungkap Rima diakhiri kecupan di pipi Nadia.
Ia-nya tersenyum dan mengangguk. Tidak seperti biasanya Rima melakukan itu, tapi tak apa. Nadia menyukainya. Ia mengangguk kala kedua wanita itu tersenyum di ambang pintu sebelum menutupnya.
Nadia mengambil piyamanya, ia menunggu paman Harits selesai sembari memeriksa ponselnya. Seharian ini benda pipih itu tak ia sentuh. Ada banyak ucapan selamat dari semua orang yang ia kenal. Termasuk pegawai butiknya.
Nadia memberi mereka cuti selama tiga hari untuk bersama keluarga. Ia juga memberikan bonus kepada semua karyawan sebagai tambahan untuk mereka berlibur. Kemungkinan, ia akan fokus mengambangkan butik dan juga keahliannya merancang busana.
Nadia mendongak kala pintu kamar mandi terbuka. Ia termangu pada sosok tegap yang melangkah keluar tanpa pakaian atasnya. Nadia meneguk ludah basi, timbul gelenyar aneh yang merambat di tubuhnya. Ia tak menampik sebagai wanita yang pernah merasakan itu sebuah hasrat bergolak panas dalam dirinya.
Paman Harist tersenyum tipis hampir tak kentara. Ia tak acuh dan terus saja melewati Nadia.
"Mas! Tunggu!" Paman Harist berhenti ia menengok Nadia yang beranjak mendekat dengan bertumpu pada kedua lutut. Tangannya meraba dada paman Harist pelan, gejolak dalam diri laki-laki itu tak tertahan, dahinya berkerut menahannya.
Ia menangkap tangan Nadia dan menggenggamnya.
"Ada apa?" tanya-nya sembari menatap Nadia dengan alis yang dimainkan.
"Apa ini bekas luka? Kenapa?" tanya Nadia, matanya memancarkan rasa ingin tahu yang teramat. Paman Harits melirik tanda itu dan tersenyum kecil.
"Oh ... hanya bekas luka kecil. Tanda aku pernah bodoh bersaing dengan kedua kakakku hanya untuk mendapatkan perhatian Ayah dan Ibu. Tidak apa-apa, ini sudah tidak sakit. Hanya bekasnya saja," ungkap paman Harist, ia tersenyum getir saat membayangkan kejadian itu.
Nadia kembali menatap luka itu, memperhatikan bekas luka apa.
__ADS_1
"Ini bekas luka apa, Mas?" Nadia kembali merabanya, memang menonjol. Bekas jahitan sepertinya.
"Luka yang hampir membuatku merenggang nyawa waktu itu. Tusukan pisau dapur yang dilakukan kakak keduaku." Nadia memeluk tubuh paman Harits dan mengecup luka itu.
"Jangan diteruskan! Aku takut mendengarnya. Maaf," sergahnya mempererat pelukan di tubuh paman Harits.
Bibir laki-laki itu membentuk senyuman, ia membalas pelukan Nadia yang terasa hangat di kulitnya. Mengecup kepalanya lagi, bahagia.
"Kamu mau seperti ini terus? Kalau begini terus, aku tidak yakin aku bisa menahan diri," goda paman Harits lagi yang membuat mata Nadia membelalak.
Ia melepas pelukan, dan pergi dengan cepat memasuki kamar mandi. Ia berendam, rona merah di pipinya sampai ke telinga mendapat godaan maut dari suami keduanya itu.
Sementara paman Harits mendekat pada cermin, ditatapnya bekas luka itu. Memang masih kentara meskipun sedikit memudar. Ia juga memiringkan tubuh untuk dapat melihat dengan jelas bagian punggungnya itu.
Paman Harist tersenyum getir. Ia bergegas memakai piyamanya dan menyimpan handuk ke tempatnya. Paman Harits meninggalkan kamar dan berdiri di balkon dengan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.
Paman Harits tersenyum kala sosok Nadia semakin dekat. Nadia berdiri di hadapannya menatap mata laki-laki yang bersandar di pagar balkon. Ia duduk di sofa, kemudian berbaring menghadap langit malam.
Paman Harits beranjak duduk di bawahnya, sama-sama merenung apa yang akan mereka lakukan untuk ke depannya nanti.
"Besok berkemas, kita pergi." Nadia melirik, ia menatap tangannya yang digenggam paman Harits.
"Ke mana?"
"Ke mana saja, asal tidak di sini. Aku butuh ketenangan dan ingin menikmati waktu berdua denganmu." Ia menoleh dan tersenyum. Paman Harits meletakkan tangan Nadia di pipinya.
"Baik." Nadia tersenyum menimpali ajakan suaminya.
__ADS_1
"Ayo, masuk! Angin malam tidak bagus untuk kesehatan." Nadia mengangguk dan masuk ke kamar mereka. Tidur.