
"Dia mengancam kamu?" tanya paman Harits setelah duduk di dekat Nadia. Wanita yang memakan jajanan itu terkekeh kecil sebelum ia menoleh pada suaminya dan mencubit gemas hidung bangir milik paman Harits.
"Tidak ada yang berani mengancamku kalau Mas suami aku. Lihat saja! Mereka bahkan selalu waspada dalam menjagaku," ucapnya kembali memakan jajanan di tangannya. Ia memperhatikan sekeliling, ada banyak orang-orang yang mencurigakan di sekitarnya kala ia berada di luar rumah.
Lelaki di sampingnya mendesah, Nadia wanita yang kuat mental. Tak mudah terbawa emosi meskipun ia pernah mengalami trauma.
"Kamu menyadarinya?"
"Baru hari ini."
"Aku kira kamu tidak akan menyadarinya."
"Aku istrimu, Mas. Tidak mungkin aku tidak mengenalmu setelah sekian lama kita bersama." Nadia meliriknya kembali.
"Memangnya dia siapa, Mas?" Bertanya padahal sudah tahu siapa wanita tadi.
Paman Harits meliriknya, Nadia yang biasa saja terus melahap sedikit demi sedikit jajanan di tangannya hingga habis tak tersisa.
"Mantan Istriku." Singkat.
Nadia manggut-manggut. Tak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua.
Paman Harits menjatuhkan diri berbaring di pangkuan istrinya. Ia merubah posisi tidurnya, menghadap perut rata Nadia. Menciumnya, menggesekkan hidungnya di perut istrinya itu.
"Aku ingin dia cepat besar di sini, ingin merasakan geraknya. Apa kamu tahu, aku sudah menyiapkan nama untuk anak kita kelak." Paman Harits mendongak sebentar, tersenyum, dan kembali berbicara sendiri di depan perut Nadia.
"Mas, katanya di saat kehamilan memasuki bulan keempat, kita harus sering-sering mengajaknya berbicara." Nadia mengusap rambut suaminya sesekali akan menyisirnya dengan jari.
__ADS_1
"Kenapa? Apa artinya sekarang ini aku belum boleh mengajaknya berbicara?" Tidak senang, merasa dilarang bermain dengan anaknya yang masih sebesar biji kecambah.
"Bukannya begitu, Mas. Di usianya yang sudah memasuki bulan ke empat, ruh ditiupkan ke dalam janin. Dia sudah bisa berinteraksi, mendengar dan merasakan apa yang Ibunya rasa. Jadi saat usianya nanti tiba, Mas harus sering-sering mengajaknya berbicara seperti sekarang." Nadia tersenyum kala suaminya itu mengangkat kepala bertatapan dengannya.
"Baik ... baik." Ia kembali menjatuhkan kepalanya, merentangkan tangan memeluk pinggang istrinya.
Hampir seharian mereka asik berada di taman. Ditemani hiruk-pikuk manusia yang berseliweran, juga kendaraan yang berlalu-lalang.
"Kita pulang." Nadia mengangguk. Mobil mereka tiba di rumah saat adzan ashar berkumandang. Gegas keduanya memasuki rumah, membersihkan diri dan menunaikan ibadah shalat ashar.
******
Berbulan berlalu, kehamilan Nadia terus berkembang. Tak terasa bulan ini sudah menginjak bulan ke empat. Acara syukuran digelar. Semua itu atas permintaan Ibu yang ingin berbagi dengan orang-orang di lingkungan tersebut.
Semua persiapan acara pun ia dan Bibi bersama Ibu pengasuh yang menyiapkannya. Nadia dilarang mereka untuk mengerjakan ini dan itu. Ditambah paman Harits yang juga ikut andil dalam hal tersebut.
"Aku tidak ingin kamu dan anak kita kenapa-napa, sayang." Paman Harits datang dari arah belakangnya. Ia mencium ubun-ubun Nadia sebelum mendaratkan bokong di sampingnya.
Nadia meraih tangan suaminya dan menciumnya takzim. Ia membantu melepas jas lelaki itu dan meletakkannya di sandaran kursi.
"Bagaimana pekerjaan Mas?" tanyanya seraya menyingkirkan sepatu yang dikenakan lelaki itu dan menggantikannya dengan sandal rumahan.
"Alhamdulillah, semuanya lancar jaya. Semua berkat doa kalian, kamu, Ibu, dan semua anak-anak kita. Termasuk rezeki yang masih di dalam sini." Paman Harits membungkuk. Mengecup perut istrinya yang sedikit menyembul.
"Hallo, anak Ayah! Apa kabarmu hari ini? Kamu baik-baik saja, bukan?" Paman Harits mengecup perut itu lagi sambil mengusapnya. Ia menempelkan telinga padanya, seolah-olah sedang mendengarkan jawaban dari si jabang bayi.
"Dia bilang, dia baik-baik saja." Tersenyum lelaki itu ketika ia mendongak melihat istrinya. Nadia mengusap rambut suaminya yang lembab sembari ikut tersenyum. Rasa bosan yang tadi hilang begitu saja.
__ADS_1
"Aku buatkan kopi, Mas." Paman Harits menahan Nadia saat ia hendak beranjak. Ia mendudukkannya kembali dan membaringkan dirinya di atas pangkuan sang istri.
"Aku tidak mau kopi, aku mau kalian saja." Ia berbalik menghadap perut Nadia. Melingkarkan tangannya di pinggang berisi wanita itu dan menggesekkan hidung pada perut buncitnya.
"Mas, memang acaranya akan besar-besaran?" tanya Nadia setelah ia memperhatikan segala kesibukan yang dilakukan orang-orang di rumah itu.
"Aku tidak tahu, semua Ibu yang mengatur, tapi kamu tahu tidak? Dulu, saat mantan Istriku hamil tidak ada acara seperti ini. Ibu tak acuh saja, dan bahkan tidak akrab dengannya. Berbeda sekali denganmu, kamu memang pandai mengambil hati Ibu." Ia tersenyum lagi dan mengeratkan pelukannya.
"Ini, Bibi buatkan yang spesial. Dimakan mumpung masih panas," ucap Bibi meletakkan semangkuk sayur yang masih mengepulkan asap.
"Terima kasih, Bi." Bibi berbalik, paman Harits juga berbalik. Harus aroma jeruk nipis menguar dari kepulan asap tersebut.
"Soto?" Nadia mengangguk saat mata lelaki itu bertanya. Ia beranjak duduk dan mengendus aroma khas dari soto itu.
"Ayo, makan! Mas suapin!" Paman Harits mengangkat mangkok dan mulai menyuapi istrinya. Ditiup-tiupnya kuah yang masih mengepul itu sebelum memasukkannya ke mulut Nadia. Kesederhanaan di sore hari yang menabur bunga-bunga indah di hati mereka.
****
Esok hari yang dinanti, pada acara syukuran tersebut, banyak tamu undangan yang hadir. Termasuk para tetangga, dan anak-anak jalanan yang dibawa Winda dan Rima atas perintah Ibu. Halaman depan rumah besar itu penuh sesak, tapi senyum dan tawa mereka menandakan bahwa mereka turut berbahagia atas kehamilan Nadia.
Mereka menyapa ramah setiap tamu, ada juga yang meminta foto bersama. Setiap orang akan mendapatkan souvernir dari butik Naira langsung. Sebuah hijab untuk Ibu-ibu dan koko untuk Bapak-bapak. Tak lupa untuk anak-anak dengan hadiah beragam.
Acara doa bersama dipimpin guru besar yang pernah membimbing paman Harits selama dua bulan belajar agama. Lelaki itu benar-benar menghormati siapa saja yang bergelar guru. Baginya, menjadi apa pun seseorang di masa depannya, tetap saja ada peran guru di dalamnya.
Tepat setelah acara selesai, dan dilanjutkan dengan acara makan-makan, dua buah mobil memasuki halaman rumah paman Harits yang sengaja dibuka untuk umum pada hari itu.
Baik Ibu, Nadia, dan paman Harits sendiri menunggu dengan dahi yang mengernyit. Tamu tak diundang itu siapa kira-kira. Mobil berhenti di parkiran, hiruk-pikuk para tamu undangan masih memeriahkan acara. Rombongan guru paman Harits telah kembali karena masih ada acara lain yang harus dia isi.
__ADS_1
Pintu mobil terbuka, dua orang lelaki turun diikuti dua wanita lainnya yang turut menginjakkan kaki di halaman rumah paman Harits. Mata dua orang itu membelalak tak percaya. Nadia sendiri yang bingung dengan ekspresi Ibu mertua dan suaminya.