
"Mi, dari mana? Abi perhatikan akhir-akhir ini sering sekali keluar. Memangnya ada apa di luar?" tanya Ikram yang sengaja menunggu kedatangan Ain di ruang tengah rumah.
Ia melirik kedua tangan Ain yang dipenuhi kantong plastik entah isinya apa. Ain melangkah santai menghampiri Ikram. Ia meletakkan kantung yang dibawanya ke atas meja sebelum mengambil tangan Ikram dan menciumnya.
"Umi punya bisnis kecil-kecilan di luar, Bi. Yah ... lumayan lah, buat memenuhi kebutuhan dapur. Toko Abi, 'kan, bangkrut. Jadi Umi harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kita," jawab Ain seraya mendaratkan bokong di sofa.
Ikram masih bergeming, menatap curiga pada istri pertamanya itu.
"Jangan melakukan hal yang macam-macam, Mi! Umi tahu apa yang bisa Abi lakukan dengan itu," geram Ikram dengan mata yang merah menyala.
"Abi tenang saja, Umi tidak melakukan hal yang macam-macam, kok. Ini Umi belikan makanan, hari ini lumayan dapat uang walaupun sedikit," sahut Ain tak mau peduli pada Ikram yang melotot padanya. Ia membuka bungkusan, ada enam bungkus nasi padang yang dibelinya.
Ain bersikap lebih tenang hari ini. Damai seperti dulu, tapi tetap saja mencurigakan bagi Ikram.
"Umi tahu dan Umi sadar sikap Umi selama ini sudah sangat keterlaluan. Untuk itu Umi minta maaf kepada Abi, Umi harap Abi bisa memaafkan semua kesalahan yang sudah Umi lakukan. Kalau perlu Umi akan menebusnya dengan cara apa pun."
Ain memandang Ikram dari tempatnya duduk, laki-laki itu bahkan tak memalingkan wajahnya sedetik pun dari istrinya itu.
"Kenapa? Apa Abi tidak percaya kalau Umi sudah menyadari semua dan menyesali kesalahan yang telah Umi lakukan-"
"Ah ... tidak apa-apa, mungkin Umi memang tidak pantas untuk dimaafkan. Tidak apa-apa, Umi mengerti," lanjut Ain seraya beranjak berdiri hendak meninggalkan tempat itu.
Ia berjalan menunduk, di wajahnya tergambar jelas segala bentuk penyesalan. Ikram menelisik setiap sisi Ain. Wanita itu, dia yang sabar menjalani setiap ujian hidup di awal-awal pernikahan. Ia juga tidak pernah mengeluh meskipun keadaan jauh dari kata cukup saat itu. Bagaimana mungkin Ikram tega membuangnya?
"Mi!" panggilnya dengan nada lirih dan hampir berbisik. Ain menghentikan langkah, tapi belum berbalik dari memunggungi Ikram.
"Apa yang Umi katakan tadi sungguh-sungguh dari hati Umi? Atau hanya tipuan Umi saja?" tanya Ikram yang menohok jantung Ain dengan kejamnya.
Bahu wanita itu naik, lalu turun lagi. Helaan napas panjang terdengar berat di telinga Ikram.
"Kalau Abi tidak mau mempercayainya, tidak apa-apa. Umi juga mengerti. Umi akan menunggu sampai Abi membuka hati untuk memaafkan Umi," ucap Ain seraya melanjutkan langkah dengan pelan.
Ikram gegas menarik tangan Ain, dan membawanya duduk kembali di sofa. Ain tertunduk, sesekali menyeka air yang tiba-tiba keluar dari matanya.
"Bagaimana cara Umi menyesalinya?" tanya Ikram ingin melihat sejauh mana kesungguhan Ain dalam meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Umi akan meminta maaf pada Nadia, untuk itu Umi akan mendukung Abi mencari Nadia. Kalau perlu, kita sama-sama pergi mencarinya," jawab Ain memandang Ikram dengan matanya yang mengembun.
Ikram terenyuh, ia tersenyum mendengar ucapan Ain yang begitu menyejukkan.
"Baiklah kalau begitu, Abi harap ini bukan hanya akal-akalan Umi saja, tapi benar-benar tulus dari hati Umi." Ikram berharap Ain benar-benar menyesali semua tindakannya yang salah selama ini.
Ain menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Ya sudah, Bi. Ini dimakan, untuk Yuni juga." Ain membuka bungkusan dan memberikan satu pada Ikram, "Yun! Makan sini, aku belikan makan siang untuk kamu," lanjutnya memanggil Yuni yang sedang berada di kamarnya.
Tanpa menyahut, wanita yang sedang menyusui itu keluar kamar dan mendekati mereka.
"Banyak sekali, Kak! Untuk siapa saja?" tanya Yuni dengan mata yang berbinar melihat bungkusan nasi padang di meja.
"Iya, ini untuk anak-anak juga," jawab Ain seraya memberikan satu bungkus untuk Yuni.
"Terima kasih," sahutnya. Yuni duduk bersama mereka, membuka nasi bagiannya dan memakannya bersama suami juga kakak madunya itu. Terasa damai jika saja Ain bersikap seperti ini dari sejak awal. Mungkin saja Nadia tidak akan pergi dan kehidupan mereka akan harmonis dan penuh cinta.
Sementara di rumah Nadia, ketiga anak Ikram masih saja murung. Wajah-wajah duka nampak jelas tergambar. Perginya Nadia tanpa pamit, membuat mereka terpukul. Seharusnya, ia meninggalkan jejak. Minimal sebuah surat.
"Bilal, Nafisah, makan dulu nanti kalian sakit," ucap Ruby selaku anak tertua. Ia membawa dua piring nasi goreng ke tempat mereka berada.
"Aku tidak lapar, Kak." Bilal menarik kaki dan memeluk lututnya. Ia menjatuhkan dagu di atas lutut tanpa melirik nasi yang dibawa Ruby.
Ruby menghela napas.
"Selalu seperti itu, setiap diminta makan kamu selalu menjawab aku belum lapar, aku masih kenyang. Kalau Bunda ada di sini, sudah pasti Bunda akan bersedih karena kamu tidak ingin memakan makanan yang dibuatkannya," ucap Ruby mengingatkan Bilal pada sosok wanita yang memiliki jiwa seorang Ibu yang luar biasa.
"Kalau masakan Bunda aku akan menghabiskannya dengan cepat. Aku rindu Bunda, aku ingin memakan masakannya. Bunda ... di mana Bunda sekarang? Apa Bunda sudah tidak ingin bersama kami lagi? Apa Bunda tidak menyayangi kami lagi."
Tangis Bilal pecah tak tertahan. Ia membenamkan wajah di atas lutut sambil terisak. Tubuhnya berguncang hebat manakala tangis kerinduan ia tumpahkan jua.
Ruby meletakan piring di atas meja. Ia mendekati Bilal dan memeluk tubuh adik laki-lakinya itu.
"Sabar, ya. Mungkin benar kata Ibu, Bunda sedang mendapatkan perawatan terbaik di sana. Kita doakan saja semoga Bunda cepat sembuh supaya bisa berkumpul bersama kita lagi. Atau kita pergi saja ikut Bunda." Ruby ikut menangis. Suaranya gemetar beriringan dengan air mata yang kian menganak sungai.
__ADS_1
Bilal menjatuhkan dirinya dalam pelukan Ruby. Memeluk tubuh kakaknya itu masih dengan suara tangis yang tersedu. Nafisah pun tak luput dari kesedihan hatinya. Ia ikut menangis tergugu sembari mengusap-usap matanya.
"Bunda! Aku mau tidur dengan Bunda. Cepat pulang, Bun!" rengek Nafisah yang menyayat hati Ruby.
"Nafisah!" Suara Ruby tercekat di tenggorokan. Ia melirik adik bungsunya dan meraih tubuh kecil itu. Memeluk keduanya dengan pilu.
"Kalian tunggu di sini, Kakak akan ke rumah dulu mengambil pakaian ganti," pamit Ruby pada keduanya setelah mereka cukup tenang. Ia meninggalkan kedua adiknya dan pergi ke rumah orang tuanya.
"Mas, bagaimana hasil pencarian Mas? Apa sudah ada titik terang soal keberadaan mbak Nadia?" Suara Yuni bertanya berhasil menghentikan langkah Ruby yang hendak memasuki rumah.
"Belum," sahut Ikram lesu.
"Besok kita cari sama-sama, Bi," sahut Ain pula menimpali.
Ruby menggeram. Permainan apa yang sedang mereka lakonkan. Memuakkan.
"Oya, Mas. Kenapa tidak mencoba mencari tahu ke rumah bu Sarah. Siapa tahu mbak Nadia ada di sana selama ini. Tidak apa-apa, kita jujur saja apa yang terjadi agar tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita," saran Yuni yang terdengar tulus.
Terdengar helaan napas dari Ikram. Lama ia terdiam mungkin saja sedang menimbang.
"Baiklah, kalau begitu besok aku akan pergi ke rumah bu Sarah. Semoga memang Nadia di sana," putus Ikram pada akhirnya.
"Drama apa yang sedang kalian mainkan? Apakah drama seorang penjahat yang berpura-pura tidak tahu apa-apa? Ataukah kalian ingin menertawakan dia yang sudah pergi?" Suara Ruby menyentak ketiga orang yang sedang asik menyantap makan siang mereka itu.
"Ruby, Nak!" Ain berbinar melihat putri sulungnya itu pulang. Ia berlari mendekati dengan senyum bahagia di wajahnya.
"Jangan menyentuhku!" tolak Ruby saat tangan Ain hendak menggapainya.
"Kenapa?" Ain tak habis pikir dengan sikap Ruby.
Remaja itu melirik sinis Ain tanpa ingin menyahut. Ikram dan Yuni menatap Ruby dengan bingung.
"Apa kalian benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada Nenek dan Bunda? Atau kalian hanya berpura-pura tidak tahu soal itu," ketus Ruby yang sekuat tenaga menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Apa maksudmu, Ruby? Memangnya apa yang terjadi pada mereka? Abi akan ke rumah Nenek besok, apa kamu mau ikut? Kita jemput Bunda kamu sama-sama," ucap Ikram berharap akan memperbaiki hubungannya dengan putri sulungnya itu.
__ADS_1
"Siapa yang ingin Abi temui? Nenek? Nenek sudah meninggal."
"Jangan bermain-main dengan kematian, Ruby!"