
"Uhuk ... uhuk!" Nadia yang sedang lelap tertidur, secara tiba-tiba terbatuk. Batuk yang menjengkelkan begitu menggelitik tenggorokan. Ia beranjak turun dari ranjang, dan mengambil minum yang disediakan suaminya di atas nakas.
Nadia melirik jam, lalu melihat ke arah kasur. Tak ada paman Harits di sana.
"Ke mana Mas Harits tengah malam begini?" Ia bergumam sembari melangkah keluar kamar. Ruangan pertama yang ia tuju adalah ruang kerja suaminya.
Namun, langkahnya terhenti saat melihat sesosok bayangan bergaun hitam melintas di lantai satu. Ia berjalan sempoyongan, menuju sebuah kamar. Nadia penasaran, ia ingin tahu sosok siapa dan apa yang baru saja melintas di lantai satu rumahnya itu.
Lampu rumah yang dimatikan, membuat penglihatannya berkurang. Ia tak dapat melihat dengan jelas bayangan itu.
Satu langkah kakinya mulai menapak di anak tangga, dua anak tangga, tiga anak tangga. Lalu ....
"Sayang? Kenapa ada di sini larut malam seperti ini?" Sepasang tangan melingkar di perutnya yang membuncit. Nadia termangu di tempatnya. Ia menoleh ke samping, kesempatan itu tak disia-siakan lelaki yang mendekapnya. Dengan cepat ia menyambar bibir istrinya, menyesapnya sebentar.
"Mas-"
"Ada apa?" ulang paman Harits bertanya di saat Nadia menjeda ucapannya.
"Anu ... itu, tadi ada yang lewat di bawah sana pakai jubah hitam. Aku ingin memastikan saja." Nadia menunjuk lantai bawah di mana baru saja matanya menangkap sesosok bayangan yang melintas.
"Kamu yakin?" Ia mengangguk pasti saat pandangan paman Harits meragukan keterangannya.
"Berjalanlah di belakangku!" Ia menggenggam tangan istrinya dan menuruni anak tangga dengan perlahan. Berjalan mengendap nyaris tanpa suara. Keheningan di malam itu, hanya memperdengarkan deru napas mereka saja.
"Ke arah mana?" bisik paman Harits setelah kaki mereka menapak di lantai satu. Nadia tak menyahut, ia menunjuk arah ke mana bayangan itu berjalan.
Ruang tamu.
"Yakin?" Nadia mengangguk lagi. Paman Harits mulai melangkah lagi mendekati ruang tamu yang tak jauh dari kamar Ibu. Tak lupa ia menyalakan lampu terlebih dahulu sebelum merayap ke ruangan tersebut.
"Tak ada apa pun di sini, mungkin mata kamu salah melihat, sayang, karena baru terbangun. Kita kembali saja, ya. Pagi masih lama datang." Paman Harits merengkuh tubuh Nadia yang masih penasaran dengan apa yang dilihatnya.
Kedua kakinya enggan beranjak meninggalkan ruang tamu tersebut.
"Tapi, Mas-"
"Tidak ada apa-apa di sini, sayang. Kita kembali saja, ya. Besok kita akan mencari tahu lagi." Paman Harits menolak rengekan Nadia. Ia membawa tubuh istrinya kembali ke kamar mereka.
Nadia pasrah untuk malam ini, tak apa meskipun rasa penasaran membuatnya setengah mati ingin tahu. Berkali-kali helaan napas ia keluarkan untuk mengurai rasa aneh dalam dadanya. Namun, tetap saja, rasa ingin tahunya enggan pergi beranjak.
__ADS_1
Di atas ranjang itu, ia tak dapat memejamkan mata walaupun berada dalam dekapan hangat suaminya.
Siapa sosok yang aku lihat tadi? Tak mungkin aku salah melihat. Jelas-jelas kulihat dia berjalan ke ruang tamu.
Hatinya masih terpikir tentang bayangan tadi. Kalaupun hantu, itu tidak masalah. Ia sendiri tahu manusia hidup berdampingan dengan mereka dalam dunia yang berbeda.
"Tidur, sayang. Jangan dipikirkan, mungkin itu bayangan orang melintas di luar yang terkena sinar lampu. Bisa jadi, bukan?" Paman Harits bergumam saat merasakan kegelisahan Nadia.
Benar juga. Untuk malam itu, biarlah ia menganggapnya seperti itu saja.
Itu hanya bayangan orang dari luar, Nadia. Ia memberi sugesti positif pada dirinya sendiri. Mencoba untuk tenang dan terlelap dibuai alam mimpi.
****
"Mas, hari ini tidak ke kantor?" tanya Nadia saat melihat suaminya yang kembali masuk ke dalam selimut setelah mendirikan shalat subuh.
"Dingin, sayang. Mas hari ini tidak masuk kantor, ingin di rumah saja menemani kamu seharian ini," sahutnya dari dalam selimut.
Nadia menggeleng. "Mau aku buatkan kopi?" tawarnya mencoba menggugah keinginan paman Harits. Ia duduk di tepi ranjang, sambil menyisir rambutnya yang masih sedikit lembab.
Tangan paman Harits merayap, merengkuh pinggang Nadia.
"Kamu gemuk, sayang, tapi aku suka. Seksi. Aku tidak mau kopi," katanya sembari memberikan kecupan di bagian belakang tubuh Nadia.
Tangan paman Harits mengusap perut Nadia yang sudah semakin besar.
"Hei, dia bergerak!" pekik paman Harits dengan binar di matanya yang memancar. Nadia tersenyum, ia mengusap rambut suaminya yang menempelkan pipi di perutnya tersebut.
"Dia sedang dalam masa aktif, Mas. Tujuh bulan itu bayi akan aktif. Mas lihat, kulitku sampai menyembul seperti itu. Begini rasanya menjadi wanita hamil, aku jadi ingat Mamah. Mamah berjuang sendiri di puncak kehamilannya." Nadia menyusut air yang menggenangi sudut matanya.
Itulah kenapa, surga berada di bawah telapak kaki Ibu. Perjuangan sembilan bulan mengandung, bukanlah perkara mudah. Banyak fase yang harus dilalui untuk mencapai puncak. Ini baru mengandung, belum lagi melahirkan yang kata orang bertaruh nyawa demi si buah hati.
"Itu sudah takdir Mamah. Kamu tidak akan mengalami nasib yang sama dengan Mamah. Aku akan menemani kamu saat anak kita lahir nanti," hibur paman Harits sembari mengecup bagian menyembul dari kulit perut Nadia.
Nadia tersenyum, ia percaya karena selama ini pun paman Harits selalu ada saat ia membutuhkan. Sekalipun Nadia menginginkan hal-hal aneh dalam masa kehamilannya, paman Harits selalu berusaha mewujudkan selagi dia mampu tentunya.
"Mamah dan Papah pasti bahagia di tempat mereka saat ini melihat anaknya yang manja ini sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu." Paman Harits mendongak saat mengatakannya. Nadia mengangguk, tapi air dari matanya tak dapat ia tahan.
Paman Harits beranjak duduk.
__ADS_1
"Kuharap ini air mata bahagia, bukan kesedihan yang kamu pendam. Aku akan sangat merasa bersalah kalau kamu masih menangis karena merasa sedih." Paman Harits menangkup wakah Nadia dengan kedua tangannya.
Dikecupnya mata indah itu kala Nadia mengangguk sambil terpejam. Tak kuasa menahan gejolak, paman Harits tidak berhenti sampai di sana. Ia mencecap bibir Nadia yang semakin lama semakin dalam juga pagutannya.
"Mas!" Nadia melepas pagutan tiba-tiba saat keriuhan di lantai satu tertangkap indera rungunya. Mereka saling memandang melontarkan pertanyaan yang sama. Ada apa pagi begini ribut?
"Mungkin sosok semalam itu benar adanya," tebak Nadia teringat kembali akan bayangan yang ia lihat semalam.
Paman Harits terdiam, berpikir untuk beberapa saat. Ia memandang Nadia, wanita itu masih menatapnya antusias. Seolah-seolah yakin bahwa keributan di lantai bawah itu karena bayangan semalam yang ia lihat.
"Pasti karena itu, Mas. Kita turun!" Paman Harits mencekal tangan Nadia, ia menggeleng saat manik hazel milik istrinya itu mengarah padanya.
"Tunggu sebentar! Jangan ke mana pun. Mas akan melihatnya dulu!" katanya seraya melempar selimut yang menggelung tubuhnya. Ia memakai sandalnya dan gegas keluar kamar.
Nadia menunggu, ia tahu apa yang dilakukan suaminya itu untuk kebaikannya juga.
Nadia mengambil ponselnya, mencoba untuk menghubungi Winda atau Rima. Namun, kedua gadis itu bahkan tidak mengangkat teleponnya. Rasa penasaran yang semalam ia kubur pun kembali berkumpul di hatinya.
Ia tak bisa menunggu, Nadia menggigit bibirnya. Menimbang keinginan beranjak dari tempat tidur. Namun, sebelah hatinya yang lain melarang dan selalu mengingatkan akan larangan paman Harits.
Gamang sendiri di dalam kamar. Namun, rasa penasaran dalam hatinya berhasil mengalahkan sifat penurut Nadia. Ia beranjak turun dari ranjang dan melangkah pelan menggapai pintu.
"Hmm ... mulai bandel, ya!" Nadia menampakan deretan giginya yang putih bersih saat paman Harits sendiri yang membuka pintu kamar tersebut.
"Aku penasaran, Mas. Ada apa di bawah?" tanyanya sembari mendekati paman Harits yang masih bergeming di ambang pintu.
"Kamu mau tahu?" Ia mengangguk dengan wajah menggemaskan, "kamu pasti akan terkejut," sambungnya lagi seraya menggandeng tangan Nadia untuk bersama-sama menuruni lantai dua.
"Kenapa banyak sekali orang, Mas?" tanyanya bingung saat melihat para tetangga yang hilir mudik keluar masuk rumahnya.
"Nanti kamu tahu," katanya rahasia. Nadia menahan rasa ingin tahunya sampai seorang tetangga menegurnya.
"Ini dia pengantin kita. Wah ... nampaknya Anda dan bayi Anda sehat, Nyonya. Semoga sehat selalu sampai waktunya si jabang bayi keluar."
"Aamiin!"
Ucapan yang mengandung doa itu diaminkan Nadia dan paman Harits. Namun, ia masih bingung dengan keadaan rumahnya. Bergantian para tetangga Nadia menyapa dan mendoakannya.
"Ibu? Ini ada acara apa? Kenapa semua tetangga datang ke rumah kita?" tanya Nadia keheranan saat melihat Ibu yang mendekat.
__ADS_1
"Lho, Harits tidak memberitahu kamu? Ini, 'kan, acara tujuh bulanan kehamilan kamu, sayang. Ibu sengaja mengundang para tetangga untuk sekedar makan-makan di rumah. Nanti malam disambung ustadz yang akan memimpin dzikir," terang Ibu dengan wajah sumringah yang tak ditutupi.
"Maa syaa Allah. Terima kasih banyak, Bu. Aku tidak tahu kalau masih ada acara seperti ini. Padahal, kita sudah selametan empat bulanan lalu." Nadia tersenyum, ia tak menampik hatinya ikut merasa bahagia melihat wajah berseri Ibu.